Hikayat Kalijodo

Surya Perkasa    •    22 Februari 2016 22:13 WIB
Hikayat Kalijodo
Suasana kawasan Kalijodo, Penjaringan, Jakarta Utara. (foto: MI/Panca Syaukani)

Metrotvnews.com, Jakarta: Kalijodo banyak disebut sebagai sebuah kawasan prostitusi kelas bawah ternama Ibukota. Setelah penghapusan lokalisasi Kramat Tunggak di Koja, Jakarta Utara, nama Kalijodo semakin disorot dan dicari pemburu syahwat.
 
Namun alkisah, Kalijodo yang terbentang sepanjang ratusan meter di sisi Kali Angke ini dahulunya tidaklah segemerlap masa kini.
 
“Kalijodo dulu bukanlah kawasan prostitusi,” tutur Sejarawan Rushdy Hoesein ketika berbincang dengan metrotvnews.com, Jakarta, Selasa (16/2/2016).
 
Kawasan Kalijodo, Rushdy berkisah, awalnya tidaklah sepadat masa sekarang. Kawasan ini pun merupakan dulu hanya berbentuk area hijau yang tidak dirawat.
 
Namun, nama Kalijodo itu sendiri disematkan karena kebiasaan masyarakat di kawasan ini yang dominan keturunan Tionghoa.
 
Tempat mencari cinta



Masyarakat Tionghoa sejak jaman Belanda telah banyak mendiami kawasan Angke, Jakarta Utara. Beberapa tempat di kawasan ini pun ternama karena menjadi tempat muda-mudi bercengkrama menghabiskan waktu.
 
Mulai dari bioskop Orion yang memutar film Hongkong, Jembatan Jassem (kini Jembatan Batu), hingga tepi-tepi kali di kawasan Jakarta Utara. Tak terkecuali Kali Angke yang sering dituju.
 
Istilah Kalijodo pun disematkan ke Kali Angke karena kebiasaan orang Jakarta menamakan tempat berdasarkan peristiwa dan kebiasaan masyarakat di kawasan tersebut. Kalijodo yang berasal dari kata Kali (sungai) dan Jodo (jodoh dalam logat betawi) diberikan ke Angke, karena di sepanjang pematang kali inilah muda-mudi keturunan Tionghoa dan pribumi bercengkrama dan banyak menemukan jodohnya.
 
“Jadi dulu tempat ini tempat mudi-mudi berpacar-pacaran,” kata Rushdy.
 
Selain mencari suasana sungai kecil yang ditemani oleh rindangnya pepohonan, perayaan demi perayaan yang dilakukan tiap Imlek pun berkontribusi ke banyaknya muda-mudi berdatanganan. Salah satunya adalah hari perayaan Peh Coen (Pehcun) hare ke-100 Imlek.
 
Laki-laki dan perempuan menaiki perahu yang berlayar di atas Kalijodo. Pemuda pemudi yang saling suka akan sama-sama melemparkan kue dari perahu masing-masing. Tradisi ini merupakan rangkaian dari beragam acara seperti atraksi musik dan tarian, barongsai, dan arak-arakan Tahun Baru Tionghoa yang tercatat sejak  masa Gubernur Jenderal Van der Parra (1771-1775).
 
Hingga masa-masa menjelang kemerdekaan, Kalijodo hanya menjadi sebuah istilah ke Kali Angke yang banyak mempertemukan dua insan bila berjodoh. Namun, perlahan Kalijodo justru melekat dengan pandangan tempat pelampiasan hawa nafsu kelas bawah.
 
Urbanisasi besar-besaran terjadi pasca kemerdekaan Indonesia menjadi dalang. Kawasan Jakarta yang awalnya hanya dikonsep sebagai kota pelabuhan semakin berkembang setelah ditetapkan sebagai Ibukota Indonesia.
 
Kawasan-kawasan hijau dan pertanian di sekeliling Jakarta pun semakin sedikit. Sawah-sawah dan lahan hijau pun dialihfungsikan menjadi pemukiman dan kantor-kantor.
 
Tak terkecuali kawasan Kalijodo yang awalnya hanya lahan hijau tepi Kali Angke nan rindang. Perlahan pohon-pohon berganti menjadi bangunan semi permanen untuk warga pendatang dan warga Ibukota yang ingin bercengkrama dengan belahan hatinya.
 
Kalijodo perlahan mengganti wajah hijaunya menjadi warung-warung dan kediaman warga pendatang. Warga-warga yang banyak berasal dari barat kota Jakarta ini pun berusaha mencari peruntungan di Ibukota. Dengan menjajakan makanan dan minuman, hingga ke jasa.
 
“Perlahan muncullah penjaja jasa kencan satu malam,” kata Rushdy.
 
Pertumbuhan prostitusi Permintaan akan penjaja seks ini pun semakin meningkat karena masa ekonomi yang sulit memaksa masyarakat mencari pelampiasan. Salah satunya dengan pelampiasan hasrat.
 
“Kawasan prostitusi di Ibukota pun semakin besar dan banyak bermunculan yang baru,” kata Johan
 
Di Jakarta Pusat ada kawasan Senen yang terkenal dengan wanita-wanita malam asal Karawang, Indramayu dan kota-kota lain. Kawasan ini menjadi pilihan karena harganya nan murah. Uniknya, para kupu-kupu malam biasa menjajakan diri di atas becak sepanjang jalan Bungur dan jalan Stasiun Senen kini.
 
Rumah-rumah kecil di sekitar kawasan ini pun disulap menjadi “lapangan tembak” bagi wanita penjual diri dan pria hidung belang yang telah sepakat harga. Namun kawasan Senen yang terkenal ini hanya mampu bertahan hingga akhir 1950-an karena penggusuran. Para muncikari bersama wanita nakal di kawasan Senen pun menyebar.
 
Di utara Jakarta, kawasan Kota menjadi salah satu kawasan prostitusi yang ternama. Namun keberadaan prostitusi yang banyak berkedok tempat panti pijat dan penginapan murah ditutupi bayangan Kramat Tunggak.
 
Kramat Tunggak sendiri awalnya hanya Lokasi Rehabilitasi Sosial (Lokres), namun kemudian berubah menjadi kawasan prostitusi baru. Kawasan ini pun kemudian ditetapkan oleh Gubernur Ali Sadikin sebagai kawasan lokalisasi prostitusi.
 
Kramat Tunggak akhirnya menjadi lokalisasi terbesar di Asia Tenggara. “Siapa yang tidak kenal Kramat Tunggak zaman itu,” kata Johan.
 
Kramat Tunggak, Koja menjadi tujuan pelepasan hasrat favorit. Kawasan yang sebenarnya telah dikenal sejak jaman kolonial ini sendiri memang menjadi tujuan para pelaut yang tengah melabuh. Selama 20 tahun lebih menjadi lokalisasi prostitusi, Kramat Tunggak pun menjadi kawasan dengan 2.000 lebih pramuria.
 
Sementara itu kawasan timur dan selatan ada Boker, Cijantung yang menjadi pilihan pencari kupu-kupu malam. Masih banyak tempat prostitusi yang muncul, walau hanya Kramat Tunggak yang diakui sebagai lokalisasi.
 
Prostitusi dengan tarif beragam dan bermacam wanita yang dijajakan tak berhenti tumbuh. “Bahkan dibeberapa tempat juga ada yang menyediakan wanita elit untuk kalangan pejabat,” kata Rushdy.
 
Kalijodo, kata Rushdy, bukanlah kawasan prostitusi yang ternama atau menjadi pilihan utama di-era itu. Namun perlahan nama Kalijodo semakin besar dalam 20 tahun belakangan karena pertumbuhan permintaan akan PSK yang semakin tinggi.

Melejitnya Kalijodo
 
Peningkatan aktivitas di Kalijodo berubah pada akhir 1950-an. Hal ini menyusul penggusuran kawasan hiburan malam di Senen yang dirombak menjadi Pasar Senen. Akhirnya banyak pemburu wanita yang mencari tempat baru.
 
“Kalijodo pun mulai dilirik,” kata sejarawan Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarata Syarif Hidayatullah, Joha Wahyudi kepada metrotvnews.com, Selasa (16/2/2015).
 
Wisma-wisma penyedia “ayam” pun semakin menjamur. Namun Kalijodo belum menjadi pilihan utama karena posisinya yang kalah strategis ketimbang lokasi-lokasi prostitusi lain. Apalagi, Kalijodo masih belum memiliki nama.
 
“Saat itu masih menjadi tempat main orang keturunan Tionghoa. Pribumi yang datang langsung ketawan,” kata Rushdy setengah bergurau.
 
Selain itu lokasi Kalijodo juga tidaklah mudah diakses. Hanya ada satu jalan buntu untuk menuju Kalijodo yang telah bermetamorfosis dari kawasan berburu burung hutan menjadi kawasan “berburu” wanita.
 
Pada era pemerintah Gubernur Ali Sadikin memang prostitusi menjadi bisnis abu-abu. Walau ilegal, kawasan prostitusi di luar Kramat Tunggak tidak diberantas tuntas.
 
Kalijodo juga semakin berkembang walau beberapa kali bergeser posisi. Akhirnya pembangunan jalan tembus dari arah Grogol menuju Pluit ditambah pembangunan jalan inspeksi Kali Angke dan Banjir Kanal Barat (BKB) membuat Kalijodo semakin besar.
 
Kawasan ini juga semakin menjadi rujukan karena tarif yang ramah ke kantong. Bermodalkan angka puluhan ribu pria-pria hidung belang dapat melampiaskan birahi. Bahkan dengan nilai uang saat ini, pencari kenikmatan hanyaperlu merogoh kocek Rp150 ribu hingga Rp200 ribu rupiah.
 
Menurut Rushdy, penutupan lokalisasi dan penggusuran kawasan Kramat Tunggak oleh Gubernur Sutiyoso pada tahun 1999 juga memberi andil kepada pertumbuhan Kalijodo. Lokasi yang berubah gemerlap pada saat mentari terbenam pun menjadi kawasan tujuan pencari pramuria bertarif sederhana.
 
Namun, kini Kalijodo diambang penutupan karena Gubernur Ahok telah meradang. Kalijodo yang berdiri di atas lahan hijau sudah terlalu lama dibiarkan. Saatnya kupu-kupu malam Kalijodo dipulangkan, bangunan liar dan pemilik kafe ditertibkan, preman nakal diamankan, dan gambaran Kalijodo masa lalu dikembalikan.
 


(ADM)