Lagi-lagi AS Angkat Kaki

Sobih AW Adnan, Sigit A Nugroho    •    01 Februari 2016 22:28 WIB
Lagi-lagi AS Angkat Kaki
Logo Ford (foto: AP/Alan Diaz)

Metrotvnews.com, Jakarta: Hidup adalah serangkaian pengalaman, setiap pengalaman membuat kita lebih besar, meski terkadang tidak menyadarinya. Kurang lebih seperti inilah gaya Henry Ford dalam memahami hidup. Bagi si empu perusahaan mobil raksasa di negeri Paman Sam ini, pengalaman dan hal-hal lebih besar lain semisal sejarah, rupanya dianggap sebagai harta paling berharga di sepanjang ikhtiarnya dalam membesarkan nama Ford Motor Company.



Di Detroit, Michigan, Amerika Serikat (AS), Henry membangun Greenfield Village, sebuah desa kecil yang menguatkan kesan ketergilaannya terhadap sejarah. Sebagai kolektor sejarah yang antusias, Henry Ford menjadikan desa itu sebagai ruang tampung artefak dari berbagai penjuru dunia hingga tidak sedikit menguras kekayaan yang dimilikinya. Di kampung inilah, wisatawan bisa dengan leluasa menemukan rumah masa kecil Noah Webster, sang penulis kamus terkenal itu. Atau, laboratorium Thomas Edison, ada pula toko sepeda milik Wright bersaudara sebelum mereka menerbangkan pesawat pertama. “Dengan hati-hati ia (Henry Ford) mencari, mengangkut ke atas kereta gandeng, lalu membawanya ke Detroit untuk kemudian diletakkan di desa tradisionalnya,” tulis J.R. Brigss dalam When God Says Jump.

Penghargaan Henry Ford terhadap pengalaman dan sejarah tampaknya menjadi semacam kesadaran dini atas apa yang akan dialami perusahaannya dari masa ke masa. Ford Motor Company, termasuk salah satu badan usaha tua yang memiliki segudang pengalaman. Semenjak didirikan pada 1901, perusahaan yang dikenal dengan akronim FoMoCo ini banyak mengecap asam-garam di dunia pasar otomotif dunia. Kabar terakhir, Presiden Ford Motor Asia Pasifik, Dave Schoch pada Senin 25 Januari 2016, menyatakan tidak ada lagi peluang untuk menghasilkan keuntungan di Indonesia dan Jepang.

Direktur Komunikasi PT Ford Motor Indonesia (FMI), Lea Kartika Indra menegaskan faktor penyebab penghentian operasional Ford di Indonesia hanya sebatas pada raihan angka penjualan yang semakin melempem.

“Setelah mempelajari secara saksama setiap opsi yang memungkinkan, jelas bagi kami bahwa tidak ada jalur menuju keuntungan yang bersinambungan bagi kami di Indonesia,” kata Lea kepada metrotvnews.com di Jakarta.

Meski operasional bisnis Ford dihentikan, Lea menyatakan pihaknya berharap agar pelanggan tetap bisa mendapatkan dukungan penjualan, servis, dan garansi.

“Sekarang setelah keputusan untuk keluar dari pasar ini dibuat, kami akan menyusun finalisasi rencana untuk menyediakan kesinambungan dukungan servis dan garansi setelah kepergian kami dan akan menginformasikan kepada pelanggan kami tentang pengaturan yang baru sebelum transisi terjadi,” kata dia.

Langkah menyerah yang dilakukan Ford ini seperti meniru rival senegaranya, yaitu General Motors yang merupakan perusahaan otomotif multinasional yang bermarkas di Renaissance Center di Detroit, Michigan, Amerika Serikat. GM mempunyai bisnis di 157 negara di seluruh dunia dan mempunyai pabrik di 31 negara. Saat ini, GM termasuk produsen mobil terbesar di dunia.

Reputasi GM terkenal dengan berbagai merek mobil. Antara lain Baojun, Buick, Cadillac, Chevrolet, GMC,Jiefang, Holden, Opel,Wuling, dan Vauxhall.

PT General Motors Indonesia, anak perusahaan General Motors menutup pabriknya di Bekasi pada akhir Juni 2015. Wakil Presiden Eksekutif GM dan Presiden GM International, Stefan Jacoby, dalam siaran pers pada 26 Februari 2015 menyatakan bahwa transformasi yang dilakukan perusahaan berorientasi pada penguatan bisnis dan jaringan pemasaran dengan fokus pada pengembangan merek Chevrolet serta menghadirkan produk-produk berkualitas tinggi yang kompetitif untuk memenuhi kebutuhan pelanggan di Indonesia.

Ada beberapa faktor yang turut menentukan keputusan GM ini. Antara lain biaya material yang tinggi dan semakin berkurangnya potensi dalam pemanfaatan keberadaan pemasok dalam negeri dikarenakan skala produksi yang terbatas. Dengan kata lain, kemampuan penjualan belum bisa mendukung kemampuan produksi untuk memenuhi skala ekonomi yang dibutuhkan.

Kabar penutupan pabrik GM di Indonesia ini cukup mengagetkan. Karena sebelumnya GM baru saja mengumumkan rencana pembangunan pabrik perakitan di Indonesia. Proyek pembangunan pabrik ini disebut merupakan kerja sama dengan mitra bisnisnya di Tiongkok, SAIC Motor Corp. Pabrik ini disebut-sebut sebagai pusat produksi mobil merek Wuling untuk pasar di wilayah Asia Tenggara.

Wuling merupakan merek yang sudah cukup mapan di Negeri Panda. Demi melebarkan sayap ke regional Asia Tenggara, mereka bakal merogoh kocek USD700 juta (Rp8,9 triliun) untuk bangun basis produksi di Indonesia.

Bahkan GM dan SAIC dikabarkan telah mengambil langkah untuk membeli properti di distrik industri di pinggiran Jakarta.

Mengutip Reuters, Minggu 1 Februari 2015, GM dan SAIC, berencana untuk memulai pembangunan pabrik perakitan Wuling pada Agustus 2015. Ditargetkan pabrik berkapasitas 150.000 unit itu bisa mulai produksi pada tahun 2017.

GM mengatakan kongsi SAIC-GM-Wuling, akan memiliki 80 persen saham dari perusahaan baru di Indonesia ini. Sementara sisanya, akan dikuasai oleh SAIC.

Dalam kongsi SAIC-GM-Wuling komposisi sahamnya terdiri dari 44 persen saham milik GM, 51,1 persen milik SAIC, dan Wuling memiliki 5,9 persen. Dengan begitu, saham GM di pabrik yang ada di Indonesia itu akan efektif menjadi 35 persen.

Ini jadi langkah besar pabrikan asal Paman Sam itu di Indonesia. Sebab, sebelumnya, GM sudah menancapkan pondasinya di Tanah Air. Pada 2013 lalu, GM telah menyatakan kesiapan operasional pabriknya yang ada di Bekasi, Jawa Barat.

Pabrik itu didedikasikan untuk memproduksi mobil Chevrolet Spin. Target produksinya, 40 ribu unit per tahun. Pabrik di atas lahan seluas 58.000 meter persegi itu, memakan investasi sekira USD150 juta.

Orang GM cukup bangga atas pendirian pabrik itu. Sebab, penjualan Chevrolet setahun sebelum peresmian pabrik, tumbuh hingga 17 persen dibanding tahun 2011.

Ternyata rencana itu kandas. Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), sepanjang 2014 penjualan mobil Chevrolet hanya mencapai 10.018 unit mobil. Penjualan terbesar terjadi pada Januari sebanyak 1.463 unit dan terendah pada Desember, yaitu 508 unit.

Setelah mengumumkan secara resmi tentang penghentian pabrik secara total pada akhir Juni 2015 General Motors Indonesia pun bertransisi untuk menjadi sebuah perusahaan distribusi (National Sales Company) di Indonesia. Langkah ini sebagai bagian dari fokus yang berkelanjutan dalam rangka memperkokoh kinerja operasi secara global.  Dalam kaitan ini GM akan tetap berada di Indonesia dengan produk produk unggulan seperti Chevrolet Orlando, Captiva dan Trailblazer yang dapat diperoleh melalui jaringan dealer resmi Chevrolet.

Cengkeraman Jepang

Sejarah mencatat bahwa Jepang mengungguli AS di pasar otomotif. Jika Ford dan GM tak berhasil dalam investasi pabrik di Nusantara, merek-merek asal Jepang justru sebaliknya. Para produsen Jepang semakin gemilang memperluas bisnisnya di Tanah Air. Jangan dulu bicarakan Toyota dan Daihatsu yang menguasai separuh lebih pasar mobil penumpang di Indonesia.

Coba lihat Nissan. Pada 8 Mei 2014 lalu, perusahaan otomotif yang berkantor pusat di Yokohama, Jepang ini meresmikan pendirian pabrik keduanya di Purwakarta. Pabrik seluas 60.000 meter persegi ini memiliki fasilitas perakitan body, pengecatan, trim dan chassis. Investasinya senilai 33 miliar yen.

Dengan adanya pabrik ini, Nissan mampu meningkatkan kapasitas produksinya di Indonesia dari 100.000 unit menjadi 250.000 unit per tahun. Pada awal produksi, pabrik baru ini akan didedikasikan untuk merakit mobil-mobil Datsun bagi konsumen di Indonesia.

Tren penambahan kapasitas produksi juga dilakukan oleh Honda, Mitsubishi, dan tentu saja pabrik-pabrik yang berafiliasi dengan PT Astra International: Toyota, Daihatsu, dan Izusu.

Awal tahun 2015, Honda berhasil membangun pabrik untuk meningkatkan kapsitas produksi dari 80 ribu menjadi 200 ribu unit per tahun. Pabrik di Karawang itu menelan investasi Rp3,1 triliun.

Pada pertengahan September 2014, Mitsubishi mengumumkan investasi Rp7,2 triliun. Duit itu digunakan untuk meningkatkan kapasitas produksi jadi 160 ribu unit per tahun. Dan, bakal terus ditingkatkan jadi 240 ribu unit per tahun.

PT Isuzu Astra Motor Indonesia (IAMI) pada awal tahun 2015 punya pabrik dengan kapasitas awal 52.000 unit per tahun.

Jauh sebelum itu, di 2013 Toyota Group melalui PT Toyota Astra Motor (TAM) dan PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) menggelontorkan dana tak kurang dari Rp13 triliun (untuk lima tahun). Itu untuk penambahan kapasitas produksi pabrik I dan II di Karawang dari 110 ribu menjadi 130 ribu unit per tahun.

Total kapasitas produksi kedua pabrik ini akan menjadi 250 ribu unit pada awal 2014 dan bakal ditingkatkan menjadi 300.000 unit per tahun.

Melalui PT Astra Daihatsu Motor (ADM), Toyota Group juga sudah membangun berbagai fasilitas produksi dan research and development (R&D) untuk meningkatkan kapasitas produksi. Pabrik memiliki kapasitas produksi hingga 120 ribu unit per tahun dan akan ditambah hingga mencapai 460 unit per tahun.

Wajar jika Astra meningkatkan produksinya. Sebab, tiap tahun produksi beberapa merek yang diproduksi di Indonesia cukup laku di negara luar. Seperti Kijang Inova yang terserap pasar Afrika Selatan hingga Pakistan. Merek lain yang diekspor TMMIN misalnya Lite Ace, Toyota Vios, SUV Toyota Rush, Toyota Agya, dan Toyota Yaris. Situs resminya menyebut ada sekitar 70 negara tujuan ekspor.

Bisa dipahami bahwa investasi itu jelas bakal menyerap tenaga kerja. Artinya, bakal memutar roda perekonomian. Namun, patut dipertanyakan akankah produsen mobil itu mau mentransfer teknologi mesin mutakhir ke anak bangsa? Jangan-jangan, kita hanya akan dijadikan pasar semata oleh mereka. Wallahu'alm.


(ADM)