MRT Saja Tidak Cukup

Coki Lubis    •    28 November 2016 15:44 WIB
MRT Saja Tidak Cukup
Sejumlah angkutan umum menunggu penumpang di Terminal Bus Blok M, Jakarta. (ANTARA/Rivan Awal Lingga)

Metrotvnews.com, Jakarta: Sudah 14 bulan Antareja beraksi dengan kesaktian "ambles bumi". Dia sudah berjalan sepanjang 2.040 meter di dalam bumi, mengemban misi peradaban. Ya. Dia ditugaskan dalam misi penting di ibu kota yang sedang terancam kelumpuhan adimarga.



Antareja adalah tokoh dalam dunia pewayangan Jawa. Dia adalah kakak dari Gatutkaca, yang juga putra dari Bima dan Nagagini. Namun, Antareja dan kesaktian ambles bumi yang kita bicarakan ini bukan cerita wayang. Antareja yang ini adalah sebuah mesin bor bawah tanah pembuat terowongan atau tunnel boring machine (TBM). TBM itu berdiameter 6,7 meter, panjang 43 meter, dan berbobot 323 ton. Mesin ini mampu mengebor dengan kecepatan 8 meter per hari. Mesin ini adalah mesin bor bawah tanah pertama yang diandalkan dalam pembuatan jalur bawah tanah Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta. Presiden Joko Widodo (Jokowi) menamakannya Antareja. Untuk TBM kedua, dinamakan Antareja II.

Apa alasan Jokowi menamakannya dengan tokoh wayang Antareja? "Yang jago ambles bumi ya Antareja itu," kata Jokowi seusai peresmian mesin bor bawah tanah tersebut di bundaran Senayan, Jakarta, Senin, 21 September 2015.

Dalam cerita wayang, Antareja memiliki cincin sakti Mustikabumi pemberian ibunya. Nama Mustikabumi pun disematkan untuk mesin bor bawah tanah yang ketiga dan keempat. Bersama Antareja, Mustikabumi mengemban misi peradaban baru transportasi ibu kota.

Berdasarkan pantauan Metrotvnews.com pada Senin, 21 November 2016 kemarin, Antareja sedang berada di sekitar stasiun MRT Bendungan Hilir. Antareja telah mengenakan tiga Temporary Ring. Sedang dilakukan persiapan pekerjaan cutting D-Wall untuk pengeboran menuju Stasiun Setiabudi. Sedangkan Antareja II dalam persiapan relaunching menuju Setiabudi.

Para pekerja di sekitar Antareja juga tampak sibuk di lokasi Stasiun Bendungan Hilir. Mereka sedang mempersiapkan pembuatan terowongan Bendungan Hilir-Setiabudi. "Masih pekerjaan backfilling juga," ucap seorang pekerja.



Sementara di area Stasiun Dukuh Atas, sedang berlangsung pembuatan terowongan sepanjang 1.176 meter dari arah Stasiun Bundaran HI. Di area ini tampak Mustikabumi I sedang beraksi melakukan penggalian. Sedangkan Mustikabumi II telah berangkat dari Stasiun Dukuh Atas dan sedang melakukan penggalian menuju Stasiun Setiabudi, dengan jarak 732 meter.

Ya. Antareja, Mustikabumi, dan ribuan pekerja berhelm putih di bawah jalan protokol Jakarta itu sedang mengemban misi penting: mengembangkan peradaban baru transportasi Ibu Kota, yakni, MRT.

Enggan beralih

Hampir semua kalangan sepakat, salah satu jawaban penyelesaian masalah kemacetan di DKI Jakarta adalah transportasi umum. Ya. ibu kota harus mengejar ketertinggalannya dalam sistem transportasi perkotaan yang baik dan terpadu.

Saat ini, dua jaringan besar angkutan umum yang diandalkan adalah Kereta Rel Listrik (KRL/Commuter Line) dan Bus Rapid Transit (BRT) Jakarta atau lebih dikenal dengan Busway. Untuk menyempurnakannya, terobosan dan lompatan baru pun diambil, yakni MRT dan LRT (Light Rail Transit). Dua jaringan besar baru ini diharapkan bisa membantu mengurai benang kusut kemacetan Ibu Kota.

Targetnya, pada 2029 nanti 60 persen orang menggunakan angkutan umum, sedangkan pengguna kendaraan pribadi hanya 40 persen saja. Sementara hari ini, berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi DKI Jakarta pada 2015, kondisi lalu lintas Jakarta masih didominasi pengguna sepeda motor (74,66%) dan mobil penumpang (18,64%).

Secara keseluruhan, jumlah kendaraan yang melintas terus mengalami peningkatan, dengan rata-rata peningkatan sebesar 9,93% per tahun dalam kurun 2010-2015. Penyumbang tertinggi adalah sepeda motor dengan rata-rata peningkatan per tahun sebesar 10,54%, diikuti dengan peningkatan persentase mobil penumpang yaitu 8,75%.

Angka tersebut tentu berbeda jauh dengan pertumbuhan jumlah angkutan umum yang pada tahun 2013-2014 hanya mengalami peningkatan sebesar 1,74%.

Fakta ini seperti menegaskan bahwa masyarakat masih “nyaman” menikmati kemacetan daripada harus beralih ke transportasi umum yang telah disediakan.

Menurut Ketua Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) Ellen Tangkadung, target 2029 itu terlalu optimis. Apalagi bila perencanaan yang dilakukan selalu jangka pendek. Contohnya, kata Ellen, Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta belum memiliki rencana pengumpan yang matang dan visioner untuk MRT. Padahal MRT-nya sendiri ditargetkan beroperasi awal 2019.

"Harusnya sudah ada pengelolaan trayek untuk feeder-nya. Hingga hari ini belum ada," kata Ellen saat berbincang dengan metrotvnews.com, Kamis (24/11/2016).

Baca: Ini Lokasi Stasiun `Raksasa` Terintegrasi di Ibu Kota

Ya. 400 ribu orang bisa diangkut oleh MRT. Namun, sambung Ellen, penggunanya tidak datang dari sekitar Lebak Bulus saja. Ada stasiun lain tempat pengguna akan naik maupun turun. Lantas, siapa yang bertugas menjemput atau mengantar?

Dalam rekomendasi DTKJ, Dishub Pemprov DKI Jakarta diharapkan mengevaluasi permasalahan hari ini sebagai bahan perencanaan ke depan. Pasalnya, dua jaringan besar yang saat ini diandalkan, KRL dan Busway, masih menyimpan permasalahan, yakni, persoalan transit.

Ketika penumpang keluar dari stasiun atau halte, masih lebih banyak memilih ojek. Padahal, kata Ellen, ojek itu termasuk kendaraan yang seharusnya bisa berkurang di jalan raya. Begitupula taksi pribadi. Bila ini masih mendominasi, artinya jaringan angkutan umum di Jakarta belum beres.

Bila tidak dievaluasi, bisa-bisa MRT akan mengulang kesalahan di kawasan Tanah Abang. "Ojek mengerubung. Lalu bagaimana integrasinya dengan jalur busway? seberapa mengatur trayeknya? Itu yang kurang," ucapnya.

Bagi Ellen, transit adalah problem hari ini yang membuat banyak orang masih enggan beralih ke kendaraan umum. "Idealnya, seorang penumpang paling banyak satu kali pindah angkutan umum untuk tiba ke tempat tujuannya," ujar mantan Ketua Laboratorium Transportasi Universitas Indonesia itu.


(ADM)