Hedonisme dan Gemerlap 'Crew Nite'

Coki Lubis, Lis Pratiwi    •    22 Desember 2017 22:01 WIB
Hedonisme dan Gemerlap 'Crew Nite'
Ilustrasi: Medcom

Jakarta: Persoalan narkoba tidak hanya menjerat sejumlah pilot dan kopilot. Pramugari pun bisa terjerumus di lubang yang sama.
 
Faktanya, pada 20 Desember 2015, Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Kepolisian menangkap tiga awak pesawat Lion Air sedang mengonsumsi narkoba jenis sabu di sebuah apartemen di Tangerang Selatan. Satu di antaranya adalah SR, seorang pramugari.
 
Pula sebelumnya, pada April 2011, petugas menangkap seorang pramugari Lion Air berinisial WR di tempat kostnya di Jakarta. Paket sabu ditemukan di dalam pakaiannya.
 
Banyak kalangan menduga, perselingkuhan kru pesawat dengan narkotika tak lepas dari gaya hidup 'malam' yang membudaya dalam dunia penerbang.
 
Kebiasaan itu pernah diungkap dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Fakultas Psikologi Universitas Esa Unggul, Jakarta pada 2014 silam.
 
Penelitian itu berjudul "Pengaruh Gaya Hidup Hedonisme Terhadap Perilaku Konsumtif Pada Pramugari Maskapai Penerbangan 'X'". Dalam prosesnya, peneliti mewawancarai 39 pramugari sebagai sampel.
 
Seorang pramugari berinisial WL mengakui, gaya hidup glamor yang berorientasi pada kesenangan, menjadi bagian dari kehidupan hampir semua pramugari.
 
Merujuk kamus Collins Gem (1993), gaya hidup semacam itu bisa disejajarkan dengan paham hedonisme. Bagi kru pesawat, hedonisme tadi dianggap sebagai upaya melepaskan lelah usai bekerja.
 
Menurut WL, melancong ke tempat hiburan malam tidak hanya terjadi pada saat kru pesawat menginap disuatu daerah saja (layover). Dalam kehidupan sehari-hari pun demikian.
 
Dia juga mengungkapkan bahwa sesama kru pesawat, meski berbeda maskapai, biasanya saling mengenal. Tidak jarang pula melakukan pesta (clubbing) bersama di tempat hiburan malam.
 
"Biasa mereka beri sebutan Crew Nite. Dalam acara Crew Nite ini biasanya diikuti oleh pramugari dan air crew dari berbagai airline," ungkap WL seperti dinukil dari jurnal penelitian tersebut.
 
Ya. Kebiasaan senang-senang dan clubbing seperti menjadi gaya hidup Pramugari. Faktor lain yang menjadikannya bak budaya adalah kentalnya senioritas di dunia penerbangan.
 
Alhasil, para junior mengikuti gaya hidup seniornya. Lantas, gaya hidup yang diwariskan itu bisa jadi bersemayam di kehidupan pribadi kru pesawat.
 
Fakta-fakta itu seperti menguatkan pengakuan Diva, seorang mantan pramugari maskapai swasta saat diwawancara Tempo pada 8 Februari 2012 lalu.
 
Diva membeberkan eratnya kehidupan penerbang dengan hiburan malam, alkohol, dan narkoba.
 
“Dari 2008 sampai 2012 (masa kerjanya), kebiasaan senang-senang dan clubbing mereka tetap sama,” jelasnya.
 
Menyoal crew nite yang disebut-sebut WL, kami pun mencoba menggalinya lebih dalam kepada seorang pilot di sebuah maskapai nasional.
 
"Crew Nite, tidak tahu. Tapi kalau pesta atau hiburan itu ada. Hal-hal kayak gini bisa saja di-create beberapa orang atau EO (event organizer)," ucap pria itu saat kami hubungi, Rabu, 20 Desember 2017.
 
Gaya hidup ini tentu didukung dengan penghasilan tinggi seorang kru pesawat. Di Indonesia, rata-rata gaji pokok seorang kopilot berada di kisaran Rp20 juta, sementara kapten di kisaran Rp45 juta. Ditambah tunjangan, masing-masing dapat mengantongi hampir Rp50 juta dan Rp90 juta per bulannya.
 
Sementara seorang pramugara atau pramugari bisa mengantongi gaji mulai Rp10-20 juta perbulannya.
 
Ihwal gemerlap dunia penerbangan tentu bukan sesuatu yang salah di mata hukum. Apalagi menyoal hedonisme.
 
Pendapat mengenai urusan pribadi; berada pada wilayah privasi seseorang; tidak merugikan orang lain; tidak perlu diperdebatkan, dan lain-lain, bisa dipastikan akan muncul dalam perdebatannya.
 
Namun yang menjadi soal adalah; ketika para kru mengonsumsi narkoba, apalagi bila dilakukan menjelang tugasnya. Selain persoalan hukum, tanggungjawab keselamatan para penumpang pun bisa terancam.





Oknum
 
Ketua Ikatan Pilot Indonesia (IPI) Bambang Adisurya Angkasa turut angkat bicara mengenai citra buruk penerbangan ini.
 
Kapten Pilot Garuda Indonesia itu menolak bila pandangan tersebut ditujukan kepada seluruh kru penerbangan. Persepsi hedonisme dan 'dunia malam', kata Bambang, tidak sesuai dengan pengalamannya.
 
Kendati demikian, dia tidak membantah bila ada penerbang yang berlaku seperti ungkapan para pengaku.
 
Menurutnya, stereotip itu disebabkan pola hidup kru pesawat yang kerap bekerja hingga larut malam.
 
“Nah kalau sudah begini (pilot menggunakan narkotika) namanya oknum,” tegas Bambang saat berbincang dengan Medcom.id, Rabu, 20 Desember 2017.
 
Karena oknum, sambung Bambang, akhirnya situasi semacam ini bisa dianggap wajar, sebab terjadi di berbagai profesi. Tidak hanya di kalangan penerbang.
 


(COK)