Pasang Surut Gus Dur di Kancah Politik

Surya Perkasa    •    05 Desember 2016 19:58 WIB
Pasang Surut  Gus Dur di Kancah Politik
Kuasa Hukum keluarga Gus Dur Pasang Haro Rajagukguk saat jumpa pers menggugat Ketum PKB Muhaimin Iskandar ke Bawaslu karena menggunakan foto Presiden RI ke-4 tersebut tanpa ijin dari pihak keluarga. (ANTARA/Prasetyo Utomo)

Metrotvnews.com, Jakarta: Cerdik berpolitik, pandai bergaul, tak pernah ambil pusing meski tengah dilanda prahara. Ia selalu membuat gurauan dalam situasi apa saja dan bisa memandang segala permasalahan dari sudut yang jenaka. Itulah Gus Dur, sapaan akrab KH Abdurrahman Wahid.
 
“Bagi Gus Dur, politik itu bukan harga mati. Tapi jadi guyonan juga,” ucap politisi senior Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Mahfud MD kepada metrotvnews.com di Jakarta, Rabu (30/11/2016).
 
Menteri Pertahanan era Kabinet Persatuan Indonesia itu berkisah, ia pernah menjadi garapan Gus Dur yang ingin bercanda saat hubungan parlemen dan kepala negara sedang menegang, suhu politik nasional pun jadi memanas. Pewarta-pewarta di Istana Presiden kala itu selalu berupaya mengorek perkembangan komunikasi dalam rangka berdamai di antara kedua lembaga negara. Awak media tahu bahwa Gus Dur berselisih dengan Ketua MPR Amien Rais.
 
Dalam suatu waktu, Gus Dur seakan jemu ditanya soal itu terus oleh para jurnalis. Maka, demi memuaskan rasa penasaran si reporter yang bertanya mengenai masalah ini lagi, Gus Dur spontan saja menjawab bahwa Mahfud MD sudah berembuk dengan Amien Rais untuk membahas masalah keamanan negara.
 
Mahfud yang ketika itu mendampingi Gus Dur menemui wartawan usai rapat di Istana, tentu kaget. Sama sekali tak mengira Gus Dur bakal bicara begitu. Ini akan jadi isu heboh pemberitaan. Meski tahu Gus Dur senang bergurau, tapi menurut dia ini tetap sulit dipahami. Apalagi, belum pernah ada pembicaraan apa-apa dengan Amien Rais seperti yang disebut Gus Dur itu.
 
“Tidak lama, saya ditelepon langsung oleh Pak Amien. Dengan nada heran, beliau tanya, kapan kita pernah ketemu? Nah, kena deh saya,” tutur Mahfud sembari tergelak.
 
Kelakar dan humor Gus Dur banyak yang membekas bagi orang-orang dekatnya. Kalimat “gitu aja kok repot” yang dilontarkan Gus Dur manjadi ciri khas yang dikenal publik. Walau berlatar belakang tokoh Nahdlatul Ulama, Gus Dur memilih untuk menggiring PKB sebagai partai yang tak sepenuhnya menjadi perpanjangan NU di kancah politik.
 
Dinamika partai
 
PKB lahir paska terbuka lebarnya akses politik bagi setiap ideologi keagamaan. Sebulan setelah Orde Baru tumbang, tepatnya pada 23 Juli 1998,  kelompok ulama, terutama dari NU berkumpul dan bersepakat mendirikan partai dengan lambang bola dunia.
 
Modal basis massa NU  berhasil menjadikan PKB turut bertengger dalam lima besar partai pemenang Pemilu 1999. Kala itu, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan) memuncaki perolehan suara dengan jumlah 33,7 persen.
 
Golongan Karya (Golkar) setelah kejatuhan sang ikon rupanya masih sanggup memeroleh suara banyak. Ia masih bisa menguasai perolehan suara di 13 provinsi dan meraih 22,3 persen suara. Sementara PKB,  meraup 12,6 persen suara nasional dengan lumbung suara di Jawa Timur.
 
Mahfud sebagai salah satu tokoh nasional yang besar di PKB mengakui platform keterbukaan terhadap perbedaan turut menjadi pendongkrak suara. Oleh Gus Dur, PKB dinyatakan tidak semata-mata didirikan untuk kepentingan umat Islam belaka.
 
“Sejak awal Gus Dur itu merancang PKB sebagai partai terbuka. Bukan Partai Islam,” kata Mahfud.
 
Gus Dur begitu sadar akan fakta kemajemukan masyarakat Indonesia. Hal ini serasi dengan  hasil pengamatan sosiolog Universitas Indonesia (UI) Thamrin Amal Tomagola. Menurutnya, gagasan pemikiran Gus Dur dan PKB kala itu sulit dipisahkan. “Dari segi penamaan saja sudah dapat dilihat keterbukaan partainya,” kata Thamrin.
 
Melalui PKB, Gus Dur didorong koalisi partai Islam untuk maju sebagai kandidat Presiden pada Sidang Istimewa 1999. Pengaruh Amin Rais dalam kelompok bernama poros tengah itu menjadi maksimal setelah Akbar Tandjung melalui Golkarnya turut menyerahkan dukungan. Gus Dur terpilih sebagai orang nomor satu Indonesia melalui pemilihan di parlemen dengan jumlah 373 suara. Sementara sang penantang, Megawati Soekarnoputri hanya mendulang 313 suara.
 
Laksana ucapan Perdana Menteri Inggris Winston Churchill, dalam politik tak ada kawan  atau musuh abadi. Gus Dur yang naik dari kesepakatan politik itu diturunkan pula oleh koalisi partai yang mengusungnya. Majelis Perwakilan Rakyat (MPR) secara resmi mencopot Gus Dur, lantas melantik Megawati Sukarnoputri sebagai Presiden RI pada 23 Juli 2001.
 
Suara PKB sempat terbelah pengambilan suara MPR. Sebagian besar politikus PKB bersepakat tidak hadir dalam sidang pelengseran Gus Dur. Sementara sang ketua umum kala itu, Matori Abdul Djalil, tetap memilih hadir lantaran menjabat juga sebagai Wakil Ketua MPR.
 
Sebagian simpatisan PKB mengungkapkan kekecewaan atas tindakan Matori. Bahkan ada yang menyebutnya sebagai penghianat. Tak lama, muncullah istilah PKB Kuningan yang mendukung Gus Dur. Sementara kelompok Matori dikenal dengan sebutan PKB Batutulis.
 
Mahfud MD menganggap proses politik yang pernah dialami Gus Dur dalam PKB adalah hal biasa. Kondisi dualisme suatu partai misalnya, kata Mahfud, sangat lazim terdapat juga dalam partai lain. Tiap kelompok mencari cara untuk mendapatkan pengaruh dan memimpin partai.
 
“Pecat-pecat dalam partai itu biasa,” kata Mahfud. Ia tak ingin berbicara banyak tentang dinamika yang pernah terjadi di PKB.
 
Tak hanya pertentangan dengan Matori. PKB juga menemukan pertentangan baru antara Gus Dur dan Alwi Shihab. Pengganti Matori itu dipecat Gus Dur lantaran masuk ke Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) di bawah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tanpa melakukan konsultasi lebih dulu dengan Dewan Syuro.



Periode berikutnya,  PKB makin tampak dinamis. Dominasi Gus Dur makin disorot. Jabatannya sebagai Ketua Dewan Syuro rupanya melahirkan kesan matahari kembar. Muhaimin Iskandar yang juga terpilih menjadi ketua umum dalam Muktamar PKB di Semarang pada 2005 itu pada akhirnya turut berpolemik dengan Gus Dur. Konflik pun berlanjut berupa pertentangan Gus Dur yang diwakili putrinya, Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid alias Yenny Wahid. Faktanya, forum tetap memenangkan Muhaimin melalui Muktamar Luar Biasa di Ancol pada 2008
 
Gus Dur sebagai salah satu tokoh PKB berpengaruh mau tidak mau terseret ke dalam prahara politik yang terjadi. “Gus Dur saat itu mendukung salah satu pihak yang berlawanan dengan Muhaimin. Muhaimin sebagai orang yang terpilih di dalam muktamar, melakukan perlawanan. Biasa itu,” kata Mahfud.
 
Konflik panjang ini terus berlangsung. Adu argumen dan pengakuan lewat jalur hukum ini juga sempat disebut-sebut sebagai alasan turunnya kesehatan Gus Dur. Namun, sampai sekarang platform PKB yang turut dibesarkan Gus Dur masih bertahan. Walau teknis dan taktisnya saja yang berbeda.
 
Ketokohan
 
KH Mustofa Bisri, yang akrab disapa Gus Mus, pernah menyebut Gus Dur itu mengajarkan Indonesia agar pandai berbeda dengan yang lain. Gus Dur banyak mengeluarkan perkataan dan sikap kontroversial. Namun dengan cara Gus Dur itu orang Indonesia belajar berbeda dengan orang lain.
 
Paska pengakuan Muhaimin sebagai pemimpin sah PKB,  partai ini tak pernah bisa kembali besar. PKB tak pernah bisa kembali meraih suara melebihi 10 persen setelah Pemilu 2004. Mahfud tidak membantah hilangnya sosok Gus Dur menjadi salah satu alasan.
 
“Gus Dur itu adalah ikon, menurunnya suara ada pengaruh,” kata Mahfud.
 
Namun hingga kini ketokohan Gus Dur masih menjadi lambang bagi PKB. PKB sebagai partai yang terbuka bagi bangsa Indonesia.
 
PKB masih memasang sosok Gus Dur di baliho walau telah dilengserkan sebelum Pemilu 2009. Kelompok Muhaimin yang masih memakai ketokohan Gus Dur pun membuat pihak keluarga berang.
 
“Muhaimin dan jajaran supaya tidak menggunakan atribut Gus Dur tanpa izin," kata pengacara keluarga Gus Dur, Pasang Haro Rajagukguk, saat menggelar jumpa pers jelang Pemilu 2014 di Jakarta Selatan, Selasa 8 April 2014.
 
Baca: Keluarga Gus Dur Geram soal Isu Sandiwara Konflik PKB
 
Terlepas dari beragam konflik yang terjadi, Gus Dur yang banyak memberi pelajaran politik bagi masyarakat. Terutama dalam mendidik masyarakat menerima perbedaan. Di era kepemimpinan Gus Dur, kelompok minoritas dapat bebas berekspresi. Saat dia memimpin pula Bhineka Tunggal Ika tak sekedar menjadi slogan.
 
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun segan memperkenalkan Gus Dur sebagai Bapak Pluralisme Indonesia. Gus Dur, seorang ulama yang menerima dan memberi teladan menyikapi perbedaan.
 

 


(ADM)