Legenda Kampung Arab di Tepi Kali Krukut

Wanda Indana    •    12 Juni 2017 20:26 WIB
Legenda Kampung Arab di Tepi Kali Krukut
Anak - anak bermain dengan kambing dengan memberi makan kambing di Kali Krukut, Jakarta. (MI/Galih Pradipta)

Metrotvnews.com, Jakarta: Bau prengus sontak menusuk hidung kala melewati Jalan Pekojan Raya, Tambora, Jakarta Barat. Sumbernya ada di pedagang kambing yang berjejer pada sepanjang tepian kali Krukut, tepat di ujung jalan ini.



Bagi beberapa orang, mengendus anyir dan prengus seperti ini mungkin merupakan suatu ketidaknyamanan. Namun, pasar kambing ini menyimpan kisah panjang sejarah kawasan Pekojan sebagai salah satu kampung tua di Jakarta. Inilah yang masih tersisa dari kisah perkampungan ini sejak lebih dari tiga abad silam. Semula, pada abad ke-16 kawasan ini merupakan kampung yang dihuni oleh para imigran India. Sebagian besar dari mereka adalah muslim pedagang dari Bengali. Pemerintah Hindia-Belanda yang berkuasa di Batavia kala itu menandai warga kampung ini dengan sebutan “Khoja” untuk mengenali penduduk dari etnis India yang beragama Islam.

Seiring waktu, dalam perkembangannya masyarakat pribumi berinteraksi dengan orang-orang di kampung ini dalam urusan dagang dan syiar Islam. Lambat laun, orang menamakan kampung ini sebagai Pekojan, berasal dari kata khoja yang dilafalkan menjadi koja oleh penduduk pribumi.

Kemudian pada abad ke-18, pemerintah kolonial menetapkan Pekojan sebagai pemukiman khusus bagi imigran dari Hadramaut, Yaman Selatan. Setiap pendatang dari jazirah Arab yang masuk Batavia diwajibkan singgah di Pekojan terlebih dulu, sebelum pindah ke daerah lain, menyebar ke berbagai pelosok Nusantara.

Pembukaan terusan Suez kian memudahkan perjalanan kapal laut dari Timur Tengah ke berbagai penjuru dunia. Maka, sejurus dengan itu, arus hijrah orang Hadramaut ke Batavia pun makin deras. Dengan disertai gelombang penumpang yang besar pula.

Kebanyakan pendatang dari Hadramaut itu adalah laki-laki. Biasanya mereka datang untuk berdagang atau mencari peruntungan. Karena datang sendiri, mereka kemudian menikah dengan penduduk lokal (suku Betawi).
 
Tak pelak lagi, Pekojan jadi dipenuhi orang-orang Arab. Warga keturunan India yang sebelumnya mendominasi perkampungan itu akhirnya memilih menyingkir dan hengkang ke wilayah lain. Maka, Pekojan pun jadi tersohor sebagai kampung Arab.


Kambing-kambing yang dijual di tepian Kali Krukut, Jakarta. (MI/Galih Pradipta)

Nah, pasar kambing yang kami singgung pada awal tulisan ini tadi adalah peninggalan kampung Arab tersebut. Perdagangan dan pejagalan kambing ini adalah penanda sekaligus ciri khas dari keberadaan kampung Arab.

Sejarawan dari Universitas Indonesia Rushdy Hoesein mengatakan pejagalan kambing mencerminkan kebiasaan orang Arab yang gemar menyantap daging kambing. “Itu yang penting untuk diketahui tentang tempat pemotongan kambing di Pekojan yang masih ada sampai sekarang. Itu ada ceritanya,” ujar Rushdy saat berbincang dengan Metrotvnews.com, akhir bulan lalu.

Itu cerita lama. Itu legenda. Kampung Arab di Pekojan itu sudah tinggal cerita. Menelusuri kampung Pekojan yang persis berada di pinggir kali Krukut kini nuansanya sudah berbeda. Sepanjang jalan, baik sisi kanan maupun kiri jalan penuh dengan rumah toko (ruko) milik warga keturunan Tionghoa.

Sekarang, keturunan Arab tidak lagi menjadi mayoritas warga di Pekojan. Zaman berganti, Pekojan kini didominasi warga keturunan Tionghoa. Kendati demikian, jejak sejarah komunitas Arab di Pekojan masih bisa dijumpai melalui bangunan-bangunan masjid tua.

Tak jauh dari pejagalan kambing tadi, berdiri sebuah bangunan masjid yang konon merupakan salah satu masjid tua dan bersejarah di Pekojan. Namanya, Masjid Jami’ Annawier. Sepintas, melihat masjid bercat putih itu mengingatkan pada bentuk bangunan khas Timur Tengah yang dipadukan dengan gaya peradaban Tionghoa dan Jawa.

Kendati dibangun di Kampung Arab, sentuhan budaya Tionghoa malah tampak mencolok pada arsitektur Masjid Jami’ Annawier Pekojan. Itu terlihat dari struktur  bagian atap. Sementara aksen Jawa bisa dilihat dari daun jendela dan ukiran-ukiran dari kayu.


Masjid Jami' Annawier. (MI/Rommy Pujianto)

Maka, ungkapan Rushdy bahwa masjid Annawier di Pekojan juga merupakan ikon peninggalan kebudayaan Islam dan kampung Arab di Nusantara jadi bakal dipahami setelah menyaksikannya sendiri.

Meski tak memiliki halaman yang luas, Masjid Annawier menampilkan pemandangan megah di dalam. Kala memasuki masjid, kita akan melewati lorong lebar dengan pilar-pilar yang berdiri kokoh di kanan dan kiri. Pilar-pilar itu berjumlah 33 buah, disesuaikan dengan jumlah butiran tasbih.

Pada bagian dinding tidak ada ornamen ataupun kaligrafi aksara Arab. Bagian langit-langit tampak rata dengan ditutupi kayu jati. tak ada lengkungan, karena Masjid ini tak memiliki kubah. Ujung lorong itu berbelok ke kiri untuk masuk ke ruang utama masjid, tempat di mana terdapat mihrab dan mimbar.


Suasana dalam Masjid Jami' Annawier. (MI/Rommy Pujianto)

Menengok ke sisi utara, terdapat serambi memanjang dan ruang terbuka. Di ujung serambi, ada bangunan menara masjid hanya setinggi 17 meter. Ini sebabnya menara masjid tak terlihat dari arah depan.

Pada sisi bagian barat, ada makam Ratu Syarifah Fatimah yang wafat pada 1752. Selain itu, ada makam Komandan Dahlan, tokoh warga yang merenovasi dan memperluas Masjid Annawier hingga 500 meter persegi di tahun 1850.

Ada lagi masjid yang menjadi landmark kampung Arab di Pekojan. Namanya, Masjid Langgar Tinggi. Jaraknya hanya 200 meter dari Masjid Annawier.

Masjid Langgar Tinggi merupakan banguanan masjid tua yang juga mendapat pengaruh dari budaya Tiongkok. Adolf Heuken S.J, dalam bukunya Mesjid-mesjid Tua di Jakarta (2003) menyebut, masjid yang dibangun pada 1829 ini, merupakan bukti sejarah yang menunjukkan keharmonisan etnis Tionghoa dan Arab.


Masjid Langgar Tinggi (MI/Rommy Pujianto)

Menurut salah seorang warga Pekojan yang kami temui, Sofyan (56), sejak dahulu hubungan antara warga etnis Arab dan Tionghoa di kampung ini selalu terjalin akrab. Orang tuanya kerap menuturkan betapa kerja sama di antara orang Arab dan Tionghoa memang erat dalam perjuangan melawan penjajah. Keterlibatan mereka dalam gerakan menentang pemerintah kolonial Belanda dinarasikan dengan hubungan yang saling bergandengan tangan dan bahu membahu.

“Etnis Arab dan Cina dari dulu di sini memang ada. Selalu rukun tidak ada gesekan, malah sama-sama melawan Belanda,” kata Sofyan kepada Metrotvnews.com.

Ia menjelaskan, betapa besar perubahan yang terjadi di Pekojan. Dalam ingatannya, sekitar 50 tahun lalu suasana Arab-Betawi masih bisa dirasakan dikampungnya. Namun, saat ini situasinya telah berubah. Kalau dulu mayoritas  penduduk di sini keturunan Arab-Betawi, sekarang mungkin 90 persen malah keturunan Tionghoa atau suku-suku lainnya. “Penduduk Arab-Betawi sudah menipis," katanya.

Fenomena "pecah warisan" dinilai sebagai penyebab perubahan tersebut. Sepeninggal orang tua, mereka yang merupakan keturunan Arab-Betawi lebih memilih menjual rumah atau tanah warisan untuk kemudian berpindah ke kawasan lain. Ia menyebut, di antaranya seperti ke Condet atau Rawa Belong.

Pada akhirnya, rumah yang dulunya dihuni keturunan Arab-Betawi berpindah tangan. Bisa dilihat wajah Pekojan yang sekarang, demografi penduduknya sudah tidak seperti dulu lagi.

Suasana napak tilas sejarah warga kampung ini juga bakal terasa kala mengunjungi Masjid Al-Anshor yang lokasinya di Jalan Pengukiran II. Seolah hilang tergilas oleh perubahan zaman, akses menuju Masjid Al-Anshor ini boleh dibilang rumit. Hanya dapat dicapai dengan berjalan kaki menembus gang sempit. Posisi masjid ini seperti terpencil di tengah kepungan bangunan-bangunan pemukiman dan pertokoan yang menjulang.

Padahal, Masjid Al-Anshor merupakan bangunan masjid paling “sepuh” di Pekojan. Masjid ini dibangun orang-orang Moor pada 1684, kurang dari 30 tahun setelah Belanda menghancurkan Jayakarta dan mendirikan Batavia. Dibanding masjid tua lain di Pekojan, Masjid Al-Anshor lebih tua dari Masjid Annawier (1760), Masjid Langgar Tinggi (1829), Masjid Azzawiyah (1812) dan Masjid Raudah (1905).

Masjid Al-Anshor sudah kehilangan jejak keaslian bentuknya. Memang, masjid ini telah beberapa kali mengalami renovasi. Tetapi, yang amat patut disayangkan, masjid yang memiliki nilai sejarah ini benar-benar terimpit bangunan-bangunan rumah yang menjamur di sekelilingnya. Masjid Al-Anshor sama sekali tidak terlihat dari luar.

Transformasi yang terjadi di Pekojan menjadi hal lumrah akibat arus urbanisasi di sebuah kota yang sentralistis. Apalagi Jakarta menjadi pusat pemerintahan, sosial, dan ekonomi sehingga wilayah-wilayah yang awalnya memiliki identitas harus menerima pergeseran dari masuknya kaum pendatang.

Fenomena di Pekojan ini agaknya dapat dipahami dengan menukil pandangan Alwi Shahab. Sejarawan Betawi itu mengungkapkan, identitas kampung Arab memang tak seperti dulu, namun sisa-sisa peninggalannya masih ada dan bisa terus dirasakan.


Suasana kampung di kawasan Pekojan, Tambora, Jakarta Barat (MI/Ramdani)
 


(ADM)