Jastip, Jual Beli Terselubung

Sri Yanti Nainggolan    •    18 Desember 2018 18:59 WIB
Jastip, Jual Beli Terselubung
Seorang pria berbelanja di sebuah pusat perbelanjaan, Jakarta. (ANTARA).

"Dalam satu kali (perjalanan), bisa dapat (tip) lima sampai enam juta."



Angela. Perempuan 32 tahun ini jarang terlihat di Indonesia. Dia bolak-balik ke luar negeri. Bukan sekadar jalan-jalan, tapi berbelanja. Uniknya, bukan untuk diri sendiri. Tapi buat orang lain. Berawal dari permintaan teman dan kerabat yang tau Angela sedang berada di luar negeri. Di antara teman dan kerabatnya itu minta dibelikan barang atau sesuatu yang unik di negeri orang. Angela mau saja. Apalagi terkadang ada tip yang menyertainya. Lambat-laun semakin banyak yang menitip barang kepadanya.

Nyaris tak terbendung. Dalam dua tahun terakhir saja, terhitung 62 kali Angela melakukan perjalanan liburan sekaligus menerima Jastip. Tip yang ia peroleh pun menggiurkan, kisaran Rp5-6 juta. Bahkan, dia sempat mendapat tip lebih dari itu.
 

Rekor tip Jastip terbanyak sebesar Rp15 juta. Itu saat ia melancong ke Italia, Maret lalu.


Ya, Angela adalah salah seorang dari sekian banyak pelaku jasa titip atau jastip. Ini adalah salah satu fenomena yang sedang santer. Semakin meluas berkat bantuan digital. Sebut saja media sosial seperti Instagram, atau platform yang mempertemukan pelaku dan pengguna jastip, seperti Airfrov Indonesia.



Angela, penggiat bisnis Jastip, (Yanti Nainggolan).

 

Terselubung

Sistem Jastip terbilang tak ribet. Cukup memberi tahu barang apa yang dimau dan memberikan tip pada mereka yang mau membelikan. Tak harus barang dari luar negeri, transaksi dalam negeri pun bisa dilakukan.

Perbedaan yang cukup signifikan adalah jumlah barang yang dititipkan. Biasanya, pelaku jastip (yang membeli barang) tak bisa menerima pesanan dalam jumlah banyak. Hanya satu atau dua barang yang sama. Ini terkait jatah bagasi dan aturan dari maskapai. Selain itu, jumlah barang yang tak normal bisa dicurigai sebagai barang dagangan oleh Bea Cukai.
 

Jastip terlihat seperti transaksi personal yang tidak terawasi secara hukum. Tapi, nyatanya ada jual-beli di dalamnya. Sebab, prinsipnya, barang dari luar negeri yang masuk ke Indonesia disebut sebagai barang impor yang wajib dikenakan biaya bea dan cukai.


Selasa, 27 November 2018, tim Medcom Files menemui Angela, salah seorang pelaku bisnis Jastip. Angela punya pembelaan. Dia mengaku, membelanjakan barang titipan murni untuk membantu orang.

"Saya terlihat seperti jualan, padahal tidak. Saya membantu orang," tegas Angela mengangguk-angguk.

Memang, Angela mengakui, dia mendapat untung dari tip yang diberikan penitip. Namun, itu tidak bisa dikatakan berdagang. Sebab, Angela juga mengeluarkan uang dan usaha untuk mencari barang titipan. Jadi, menurut Angela, wajar dia mematok fee pengganti biaya transportasi dan uang capek.

Pula, Angela tidak memberi target mendapatkan pesanan jastip yang banyak. Terpenting, tujuan utamanya untuk berlibur tercapai.
 
Lagi pula, menurut Angela, bisnis Jastip ini tidak akan balik modal. Artinya, tip yang terkumpul setidaknya hanya dapat mengganti uang makan dan main di negara tertentu. Sementara itu, biaya transportasi masih harus merogoh kocek sendiri.
 
"Untuk ganti biaya transportasi atau uang internet hari itu," ungkapnya.

Senin 26 November 2018, kami menemui Kepala Subdirektorat Komunikasi dan Publikasi Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Deni Surjantoro buat mengonfirmasi apakah barang luar negeri dari hasil bisnis Jastip tidak dikenakan biaya bea masuk.

Deni menegaskan, pihaknya tidak membedakan setiap barang masuk, apakah barang pribadi atau barang dagangan. Jika barang pribadi, tidak dikenakan biaya, kecuali melebihi batas harga barang yang sudah diatur.

"Jastip adalah cara seseorang membeli (barang), kita tak melihat hal itu," jelas Deni.



Kepala Subdirektorat Komunikasi dan Publikasi Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Deni Surjantoro, Jakarta (Yanti Nainggolan).


Deni menjelaskan, sudah ada ketentuan khusus terkait barang pribadi dan bukan pribadi. Soal ini, terdapat profesional judgment untuk melihat barang untuk pemakaian sendiri atau barang dagangan. Jumlah barang yang dibawa penumpang juga menjadi perhatian. Misalnya, penumpang yang membawa lebih dari 10 sepatu dengan ukuran yang tak sama akan menjadi perhatian khusus.

"Kalau begitu, ditanya untuk pribadi atau berdagang. Kalau berdagang, tentu tidak berlaku pembebasan USD 500. Kena tarif sesuai aturan (barang impor)," jelas Deni.

USD 500 adalah batas minimum nilai barang bawaan penumpang yang bebas bea masuk atau free on board (FOB) di Indonesia. Aturan tersebut terdapat dalam revisi Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 188 Tahun 2010 dan mulai dijalankan di awal tahun 2018.
 

Jadi, Deni menekankan bahwa pihak bea cukai tidak mengategorikan apakah barang yang dibawa penumpang adalah Jastip atau bukan. Namun jika ada barang penumpang yang dicurigai bukan para pribadi, maka akan ditindak sesuai aturan.

 

Tertahan di Bea Cukai

Terkait aturan FOB, satu pelaku Jastip Marcha, pernah mengalami masalah terkait aturan tersebut. Saat itu, dia membeli 12 buah barang elektronik Google Home Mini di Singapura, berbarengan dengan momen Black Friday tahun lalu. Barang yang seharusnya seharga USD 79 turun menjadi USD 29.

Saat pengecekan di bandara Soekarno-Hatta, barang titipan milik Marcha dicurigai petugas bea cukai. Dia ditanya terkait harga barang bawaannya. Sebab, ada 12 jenis barang yang sama.

"Sayangnya, saya tak bisa menunjukkan invoice (bukti pembelian) karena ada di email dan agak ribet. Jadi saya kena charge berdasarkan harga yang dia tahu dari internet," kata Marcha saat berbincang dengan Medcom Files, Rabu 21 November 2018.

Karena sampai tengah malam dan kantor bea cukai sudah tutup, Marcha tak bisa langsung mengurus pajak yang harus dibayarkan. Ia pun menunggu hingga pagi dan membereskannya segera.

Dari kejadian itu, Marcha belajar bahwa penting menyimpan bukti pembelian, terutama untuk barang yang dibeli dengan potongan harga.



Marcha, penggiat bisnis Jastip, (Yanti Nainggolan).


Terkait berapa jumlah pajak yang harus dibayar pada barang yang melebihi FOB, Deni menjelaskan ada perhitungannya. Yakni berdasarkan harga setelah dipotong USD 500. Misalnya, harga barang tersebut USD 550, maka akan dikenakan pajak sebesar 10 persen dari USD 50 dan Pajak Penghasilan (PPh) sebesar 7,5 persen bagi yang punya Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP).

Untuk patokan harga, Deni menjelaskan bahwa sumbernya adalah harga pasaran di internet atau bukti pembelian barang yang dipegang penumpang. Sejauh ini, Deni melihat perubahan jumlah FOB mendapat respons yang positif dari masyarakat. Perubahan itu sendiri dipengaruhi oleh beberapa hal seperti inflasi, produk domestik bruto (PDB), dan lain-lain.

Selain persoalan bea masuk, bisnis Jastip juga dihadapkan dengan persoalan pengawasan obat dan makanan. Sebab, 70 persen barang Jastip yang masuk ke Indonesia berupa produk-produk kosmetik dan obat kesehatan.

Keamanan produk kosmetik dan obat kesehatan dari luar negeri lewat Jastip tentu menjadi pertanyaan besar. Peran Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sangat penting.

Kami sudah mencoba menghubungi BPOM untuk mengetahui bentuk pengawsan produk kosmetik dan obat kesehatan yang masuk ke Indonesia lewat Jastip. Namun, berkali-kali upaya meminta tanggapan BPOM belum berhasil hingga saat ini.

 


(WAN)

  • titlenya ya

    Jastip: Jual Beli Terselubung

    03 Januari 2019 15:20

    Liburan sambil menghasilkan uang. Inilah yang dilakukan para pegiat bisnis Jastip alias Jasa Titip (Personal Shopper). Menjadi fenomena lantaran ramai…

  • titlenya ya

    Geliat Bisnis Jastip

    18 Desember 2018 20:37

    Angela menekuni bisnis Personal Shopper karena tekanan kerja di kantor.