Pelaku Vandal Akan Terus Ada

Dhaifurrakhman Abas    •    13 November 2018 16:07 WIB
<i>Pelaku Vandal Akan Terus Ada</i>
Petugas menghapus grafiti hasil aksi vandalisme orang tidak bertanggung jawab pada rangkaian Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta di Depo Lebak Bulus, Jakarta Selatan. (ANTARA).

JAJARAN PT. Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta tetiba berang. Pagi itu, salah satu gerbong MRT (Moda Raya Terpadu) yang sedang dalam proses uji coba ditemukan dalam kondisi dicoret-coret orang tak bertanggung jawab.



Direktur Konstruksi MRT Jakarta, Silvia Halim turun tangan. Tak main-main, pihaknya serius mengusut kasus yang terjadi di Depo Lebak Bulus, Jakarta Selatan, dengan melaporkannya pada pihak kepolisian. “Kami serahkan saja ke kepolisian, kami biarkan kepolisian yang melakukan studi," tutur Silvia, Sabtu 22 September 2018.

Selain mengusut tuntas kasus tersebut, pelaporan ini juga dimaksudkan sebagai shock therapy. Kata Silvi, pihaknya ingin memberi sinyal bahwa aksi vandalisme tidak bisa ditolerir oleh perusahaan.

“Kalau pelakunya di bawah umur atau tidak, itu nanti kembali pada kami,” lanjut Silvi.



Petugas menghapus grafiti hasil aksi vandalisme orang tidak bertanggung jawab pada rangkaian Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta di Depo Lebak Bulus, Jakarta. (ANTARA).

 

Polisi bertindak

Laporan aksi vandal yang dilaporkan itu ditanggapi serius kepolisian. Bahkan, Kapolres Metro Jakarta Selatan Kombes Indra Jafar bilang, pihaknya tengah meminta bantuan Interpol dan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) untuk menelusuri terduga pelaku vandalisme.

"Kami mau panggil, mau periksa, juga tidak tahu di mana alamatnya," kata Indra di Mapolrestro Jakarta Selatan, Rabu 3 Oktober 2018.

Ada dugaan kuat, pelaku merupakan warga negara asing (WNA). Meski sudah mengantongi sejumlah nama, Indra enggan berkomentar banyak. Tapi sesuai pola lukisan yang dicoret itu merujuk ke satu pelaku yang pernah melakukan aksi serupa di beberapa tempat lain.

Meski begitu, Indra mengaku pihaknya belum bisa memastikan keberadaan pelaku. Sebab pelaku disebut-sebut mempunyai gaya hidup nomaden. Ia juga tidak langsung menentukan pelaku sebagai tersangka vandalisme karena menjunjung sikap praduga tak bersalah.
 
Yang membuat geram, kejadian tersebut kembali terulang. Sebulan kemudian Kejadian serupa menimpa anak perusahaan PT KAI, yakni PT Railink. Salah satu gerbong kereta bandara yang semula berwarna putih tersebut dibuat belang bertuliskan “MST”, semacam paraf atau identitas.



Kereta Bandara Soekarno-Hatta menunggu keberangkatan di Stasiun Bekasi, Jawa Barat. (MI/Ramdani).


Kepala Humas Railink Diah Suryandari mengatakan pelaku vandalisme diduga masuk dan mencoret-coret rangkaian kereta saat kereta bandara menunggu untuk masuk ke Stasiun Manggarai. Kondisi penggantian jalur masuk yang memakan waktu yang cukup lama itu diduga dimanfaatkan pelaku untuk beraksi.

Selain itu, menurut Diah, Jalur masuk ke Stasiun Manggarai merupakan daerah terbuka yang rawan bisa dimasuki oleh siapa saja. Meski begitu, ketika itu, pihaknya belum bertindak melaporkan kejadian tersebut pada kepolisian.

Polisi mengambil inisiatif. Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono mengatakan, polisi akan tetap melakukan penyelidikan terkait aksi vandalisme kereta bandara Soekarno-Hatta di Stasiun Manggarai itu tanpa meski tanpa adanya laporan PT Railink.

“Iya. Kalau dia bukan delik aduan, pasti kita lakukan penyelidikan,” kata Argo singkat.
 

Media kritik

Aksi vandalisme barangkali merupakan sesuatu yang dianggap merusak keindahan, membuat ketidaknyamanan. Adapula yang berpandangan vandalisme sebagai bentuk penyimpangan sosial. Sehingga dari pandangan tersebut seolah-olah pelaku merupakan orang yang mesti dihukum karena kelakuannya yang bikin resah.

Namun, Kriminolog Universitas Indonesia, Iqrak Sulhin memiliki pandangan lain. Menurutnya pemaknaan aksi vandalisme tidak cukup dilihat dari dua pandangan di atas.  

“Kalau memakai perspektif kritis atau post-modern, vandalisme merupakan tanda yang mereka tulis berikut gambar, bisa diterjemahkan sebagai ada sesuatu di masyarakat. Mungkin kritik sosial, mungkin potensi konflik,” kata Iqrak ketika kami temui di Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Sabtu 27 Oktober 2018.



Kriminolog Universitas Indonesia, Iqrak Sulhin, Depok, Jawa Barat. (Dhaifurrakhman Abas).


Menurut dia vandalisme merupakan cara penyampaian ketidakpuasan atau ide. Tapi disampaikan lewat aksi yang dianggap orang lain menyimpang jika ditelaah secara defenisi peraturan. Sebab media penyampaian konvensional atau yang dianggap legal hanya dikuasai kalangan atas.

“Dalam perspektif itu, aksi itu menjadi salah satu cara yang bisa dilakukan oleh kelompok tertentu,” ungkapnya.

Seniman grafiti dan mural Popo, berpandangan serupa. Menurut dia, aksi vandalisme dilakukan sebagai kritik atas kekurangan yang dilakukan pemerintah. Semacam yang dilakukan white hat hacker.


Seniman grafiti dan mural Popo, Jakarta.  (MI/Adam Dwi)


Ambil misal kasus yang terjadi di dua transportasi berbasis rel tersebut. Menurut Popo, aksi yang dilakukan pelaku vandal merupakan bentuk kritik bahwa dua perusahaan tersebut tidak bisa menjaga fasilitas tersebut dengan baik.

“Mau sampai kapan mau dicari pelaku tersebut, dan mau dicari sampai seberapa banyak percuma. Gue kira, selama pihak terkait tidak berbenah, pelaku vandal tersebut akan terus ada,” pungkas Popo.
 


(WAN)