Pariwisata dan Gerakan Budaya

Sobih AW Adnan    •    15 Februari 2016 20:32 WIB
Pariwisata dan Gerakan Budaya
Replika sekolah yang dipakai untuk syuting film Laskar Pelangi ini, kini menjadi salah satu tempat wisata unggulan di kabupaten Belitung Timur. (foto: Antara/Pey Hardi Subiantoro)

Metrotvnews.com, Jakarta:  Industri kreatif bisa dikembangkan oleh negara manapun, baik negara maju maupun berkembang. Karena setiap negara pasti memiliki banyak sumber daya yang bisa diunggulkan untuk berperan dalam pembangunan. Antara lain manusia-manusia yang kreatif, kebudayaan yang bisa dieksplorasi, dan sebagainya
 
Di Indonesia, sebelum 2010 ekonomi industri kreatif menempati urutan kedelapan dari sepuluh sektor lapangan usaha yang memberikan kontribusi terbesar terhadap produk domestik bruto (PDB), yakni sebesar 6,28% (Rp104,6 triliun). Pada periode yang sama, industri kreatif mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 5,4 juta orang dengan tingkat partisipasi sebesar 5,8%, serta bisa mengurangi angka kemiskinan dan memberdayakan UKM meskipun belum ada angka yang pasti untuk kedua hal terakhir ini.
 
Catatan pemerintah melalui Departemen Perdagangan menunjukkan produktivitas pekerja di industri kreatif mencapai Rp19,5 juta per pekerja per tahun, melebihi produktivitas nasional yang kurang dari Rp 18 juta per pekerja per tahun.
 
Industri kreatif memiliki hubungan yang sangat erat dengan kebudayaan, karena beberapa subsektor dalam industri kreatif adalah subsektor yang memiliki konten budaya, seperti kerajinan, pasar barang seni, fashion, musik, dan seni pertunjukan.
 
Adanya industri kreatif berarti produk-produk budaya bisa lebih dikembangkan, tentunya dengan kreasi dan inovasi, sehingga produk  budaya yang selama ini memiliki kesan membosankan dan kuno dapat dikemas dengan lebih atraktif dan menarik serta tentunya memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Pengemasan produk-produk budaya menjadi sesuatu yang menarik tentu saja akan berdampak positif bagi pelestarian budaya bangsa.
 
Lebih jauh lagi, pemasaran produk-produk budaya dengan sentuhan kreatif ke luar negeri akan bisa mengenalkan Indonesia di mata dunia. Produk-produk budaya yang memiliki potensi untuk dikembangkan antara lain batik, seni tari, makanan, kerajinan tangan, dan masih banyak lagi. Pengembangan produk-produk budaya sebagai komoditas industri kreatif juga akan mengembangkan sektor pariwisata Indonesia. Pengemasan produk budaya yang modern disertai inovasi-inovasi baru tentunya akan menarik wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Pada akhirnya, hal ini akan memberikan dampak ekonomi yang luar biasa.
 
Sayangnya, belakangan ini, kebanggaan masyarakat Indonesia terhadap kebudayaannya sendiri sulit untuk berkembang. Arus deras berbagai produk-produk impor yang masuk ke Indonesia seolah membuat masyarakat bangsa ini lebih gandrung dengan kebudayaan asing.
 
Misalnya, betapa lebih bergengsinya menyebut kata  popcorn dibanding berondong jagung, atau french fries dibanding kentang goreng. Sedikit banyak, ini cerminan rasa kepercayaan diri masyarakat Indonesia sedang goyah. Lambat laun, merangseklah gangguan semacam ini pada ruang-ruang yang lebih luas dan strategis. Termasuk kreasi seni, budaya, dan lantas pariwisata.
 
Problematika emosional yang oleh pengamat keindonesiaan asal Prancis, Jean Couteau disebut “penyakit”. Lebih jauh lagi, masalah ini seakan mengalami puncaknya saat masyarakat penikmat seni Indonesia tampak begitu rapuh dibadai semacam fenomena Gangnam Style dan Harlem Shake sepanjang 2012 dan 2013 lalu.

Bahkan, dengan teknik sesederhana apapun, naga-naganya, tak begitu sulit untuk menggelindingkan sesuatu yang lantas  menjadi heboh di bumi pertiwi, asal teralir dari seberang, bukan sesuatu yang lama dikenal.
 
Akan tetapi sedikit beruntung, Wakil Menteri Pariwisata dan Industri Kreatif RI Sapta Nirwanda tak lambat menawarkan suara “penyadaran”. Ia mengatakan, kreasi budaya Korea yang sudah diterima dengan baik di Indonesia ini sudah semestinya menjadi jalan baru bagi strategi pariwisata di Indonesia, yakni, saling belajar, saling bertukar.
 
“Di Indonesia sudah terkenal K-Pop, Gangnam Style. Mungkin orang Korea perlu diperkenalkan dangdut," kata Sapta Nirwanda saat memberi sambutan pada pembukaan festival kebudayaan dan pariwisata Korea, pada April 2014 lalu.
 
Lantas persoalan berikutnya, tentu bukan dangdut sembarang dangdut?, jika memang salah satu genre musik di Indonesia ini menjadi pilihan yang dianggap pas dan mewakili, butuh lebih banyak lagi riset dan diskusi agar benar-benar bisa mengibarkan merah putih di negeri asing. Paling tidak, harus ada kecerdasan yang bisa menyuguhkan penjelasan matang soal mengapa dangdut tak sama dengan musik melayu maupun India? Meskipun terkesan sepele, juga sederhana.
 
Ekonomi kreatif dan budaya populer
Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf mengaku sependapat, bahwa memajukan budaya populer yang bercirikan Indonesia bisa menjadi salah satu strategi ampuh untuk mengenalkan budaya Nusantara di mata dunia. Namun tentu saja, semua itu tidak lantas dengan mudah bisa diwujudkan.
 
“Harus dibentuk fondasi kokoh dan aturan yang tepat dulu supaya ekonomi kreatif di Indonesia bisa seperti Korea,”  kata Triawan.
           
Selain sekadar memikirkan kreasi populer untuk mendongkrak peningkatan pariwisata di Indonesia, sebenarnya ada beberapa pola khas yang ditawarkan terkait persinggungan gagasan ekonomi kreatif, budaya populer dan pariwisata. Yakni keseriusan dan kesadaran bersama antara masyarakat dan pemerintah.
 
Pemerhati pariwisata dan ekonomi kreatif asal Universitas Brawijaya, Teguh Satriawan dalam makalah berjudul Pengembangan Industri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menyebutkan setidaknya ada dua daya ungkit peningkatan pariwisata di Indonesia, yakni peningkatan jalinan hubungan untuk memperkuat komitmen bersama sebagai pemangku kepentingan dari industri pariwisata. Hal ini bisa dilakukan secara serius antara kalangan pemerintah, swasta, dan masyarakat.
 
“Yang berikutnya adalah dengan mendorong bergeraknya kinerja ekonomi secara lebih sinergis dalam memajukan industri pariwisata dan industri kreatif, dalam hal ini tentu peranan kementerian/departemen, baik yang langsung maupun tidak langsung,” papar Teguh.
 
Di sisi lain, hasil kajian UN-WTO (World Tourism Organization) menyebutkan prospek pariwisata ASEAN ke depan semakin cerah dengan proyeksi pertumbuhan 10,3 persen di tahun 2030. Begitu juga data yang dihasilkan dari World Travel and Tourism Council (WTTC). Di dalamnya disebutkan bahwa perubahan kebijakan berupa kemudahan visa dipastikan akan menambah kunjungan wisatawan sebesar 6 hingga 10 juta orang ke ASEAN pada 2016. Semua itu tentu bukan tanpa hasil, perputaran pendapatan akan mengalami peningkatan sebesar USD7 sampai USD10.
 
Pada titik ini, perpaduan gagasan ekonomi kreatif dan budaya populer tentu menjadi semakin penting, jangan sampai, peluang yang menganga lebar ini justru menggerus nasib pariwisata dari negeri seindah Indonesia.
 
 
Gagasan dan Dukungan
Sudah menjadi semacam “pameo” umum bahwa sebuah gagasan yang menawarkan terobosan baru tidak akan berkembang subur di Indonesia. Berapa banyak insan kreatif asal negeri ini pada akhirnya berbetah-betah di negeri orang untuk melanjutkan hasrat berkarya. Konon, negeri ini krisis dukungan. Dalam hal ini, jika dikomparasikan dengan negara lain, gagasan publik, terlebih di bidang seni, budaya dan pariwisata dinilai masih membutuhkan banyak porsi.
 
Lagi-lagi soal Korea, di negara ini mucul istilah Hallyu sebagai bentuk dukungan penuh dari pihak pemerintah untuk mendukung gagasan seni dan meneruskannya sebagai propaganda untuk menyebarkannya ke mancanegara. Maka jangan heran, jika pada akhirnya, kekuatan K-Pop (Korean Pop) terasa bukan sekadar soal kreasi seni, namun juga dalam bentuk gelombang budaya.
 
Sekretaris Yayasan Kesenian Jakarta Bambang Subekti menilai selama ini pemerintah terkesan setengah hati dalam mengembangkan kesenian. Penyebabnya, belum ada kerangka besar pengembangan kesenian di Indonesia. Akhirnya, kesenian hanya dijalankan sendiri-sendiri oleh komunitasnya.
 
“Pemerintah tidak memiliki grand design. Pemerintah pusat itu masih bingung. Arahnya ini ke mana masih belum jelas. Sehingga daerah, termasuk Jakarta, berjalan sendiri-sendiri,” kata Bambang.
 
Akibatnya, dukungan pemerintah yang dianggap kurang ini menjadikan para penggiat seni tidak memiliki kepentingan untuk mengaitkan gagasannya dengan hal-hal yang lebih besar. Ambil contoh, penggiat industri film masih sibuk dengan tema mistis yang sudah bisa dipastikan tidak memberi sumbangsih apa-apa terhadap dunia pariwisata.
 
Pada titik ini, tentu baik pemerintah dan penggiat seni harus secara rela hati belajar ke negeri-negeri tetangga. Padang savana di New Zealand yang sering dijadikan lokasi syuting film box office sekelas Lord of The Ring, The Hobbit, Harry Potter, Jurassic Park, Star Trek, dan film-film besar lainnya menjadikan negeri kecil ini cukup makmur hanya dengan mengandalkan ekspor produk pertanian (buah, daging, susu) dan paket wisata alam liarnya.
 
Direktur Pendidikan Yayasan Sukma Ahmad Baedowi dalam makalahnya berjudul Pendidikan, Kebudayaan, dan Kesadaran Kolektif Bangsa mengatakan persoalan seni dan gagasan kebudayaan memiliki akar persoalan di ranah pendidikan. Kurikulum perlu lebih siap secara konsepsional menerjemahkan budaya sebagai sesuatu yang progresif, yakni seluruh bangunan kebudayaan Nusantara merupakan pendorong untuk meraih sekaligus mengubah masa depan Indonesia yang lebih baik.
 
"Menghargai budaya sebagai sesuatu yang das sollen harus diperkenalkan dan diajarkan sehingga pemahaman siswa tentang budaya tidak diredusir oleh semata produk dan komoditas yang harus dijual dan dipertontonkan," papar Baedowi.
 
Jika kebudayaan diajarkan secara progresif dalam makna yang luas, maka tentu Indonesia benar-benar boleh dianggap sebaga negara yang telah mengibarkan bendera kesiapannya dalam pertarungan global budaya sebagai jalan baru strategi pariwisata.
 
(ADM)