Terpuji karena Peduli Batik

Wanda Indana    •    02 Oktober 2017 14:35 WIB
Terpuji karena Peduli Batik
ILUSTRASI: Perajin sedang membatik di kain. (ANTARA/Aditya Pradana Putra)

Metrotvnews.com, Jakarta: Aroma dari lilin yang dipanaskan di wajan seketika menyeruak ketika langkah kami memasuki Sanggar Batik Katura di Plered, Desa Trusmi, Cirebon, Jawa Barat. Lima perempuan tampak asyik menggoreskan cairan malam, melukis di atas kain mori dalam hening.
 
Sang pemilik sanggar ini, Katura AR dengan ramah menyambut kedatangan kami. Ia maestro batik khas Cirebon. Lewat sanggarnya inilah Katura melatih murid-muridnya. Ia bangga beberapa lulusan sanggarnya berhasil menjadi pembatik andal.
 
Menurut Katura, mereka yang belajar di sanggar ini tak hanya warga Cirebon. Sebagian besar justru  berasal dari daerah lain di Indonesia. Bahkan, tak jarang yang datang dari manca negara seperti Malaysia, Australia, Jepang, dan Belanda.
 
Katura menuturkan kisah sanggarnya ini dimulai pada dekade 1990. Waktu itu, ia ditemui oleh perempuan dari Jepang bernama Yumiko Kashu yang ingin mempelajari batik dan mau berguru kepadanya. Ia sempat bingung lantaran tak punya tempat untuk memberikan pelatihan.
 
Tapi, kemudian ia bersedia menerima Kashu yang sedang mengejar gelar master dalam studinya di jurusan desain tekstil Fakultas Seni Rupa Institut Teknologi Bandung itu untuk menekuni batik. Dari situ, ia pun membangun sanggar persis di depan rumahnya.
 
“Awalnya karena Yumiko Kashu itu. Saya lihat ia sangat berminat untuk belajar batik,” ujar Katura saat berbincang dengan kami di sanggarnya, Kamis 28 September 2017.
 
Seiring waktu, sanggarnya makin sering dikunjungi. Banyak pengunjung dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar sekolah setingkat SMP hingga mahasiswa perguruan tinggi menemui Katura untuk belajar keterampilan membatik.
 
“Saya senang lihat mereka semua ingin belajar batik. Mulai dari nama motif, bagaimana prosesnya, sejarah batik, dan banyak lagi,” kata Katura.
 
Kashu kemudian jadi cinta pada batik dan mendirikan sanggar sendiri di Cirebon. Menurut Katura, sanggar batik Kashu bernama Studio Pace. Tak hanya itu, Kashu juga mempromosikan batik ke negeri asalnya melalui komik manga.
 
“Sampai sekarang beliau (Kashu) masih tinggal di Cirebon,” kata Katura.
 
Sebelum membangun sanggar, Katura sudah memulai bisnis batiknya pada 1974. Kini, Katura memiliki puluhan orang yang bekerja padanya membuat batik di rumah mereka masing-masing. Pesanan batik begitu banyak, Katura mengandalkan 30 orang karyawan untuk mengerjakan semua orderan itu.
 
Tak hanya batik khas Cirebon, Katura juga menguasai corak-corak batik khas daerah lain. “Jadi, saya bisa bikin apa saja yang diminta oleh konsumen,” ujar Katura.
 
Katura sendiri mampu memproduksi tiga kain batik selama tiga bulan. Kualitas karya batik Katura tergolong nomor wahid. Jadi, tidak heran jika pembeli kain batik Katura pun kebanyakan orang kalangan atas. Tak perlu pula terkejut dengan harga yang dibanderolnya paling rendah Rp5 juta per lembar kain batik berukuran panjang dua meter.
 
Meski usianya tak lagi muda, Katura masih semangat mengajarkan ilmu membatik kepada anak didik dan karyawannya. Menurut Katura, tradisi membatik harus dipertahankan dari generasi ke generasi.
 
Katura lahir tumbuh besar di keluarga pengrajin batik di Desa Trusmi pada tanggal 15 Desember 1952. Masa kecilnya dipenuhi kegiatan membantu bapak dan ibunya membatik. Ia selalu ikut membatik selepas pulang sekolah. Sehingga pada usia 11 tahun, Katura sudah mahir membuat karya batik.
 
Latar belakang Katura berasal dari kelurga dengan ekonomi pas-pasan. Ia sendiri merupakan anak ke-9 dari sepuluh bersaudara. Setelah lulus SMP, Katura tidak melanjutkan sekolah karena terbentur persoalan keuangan.
 
Tetapi karena itu pula Katura memiliki banyak waktu untuk membantu kedua orang tuanya membatik. Katura pun bersyukur atas hal ini. Sebab, walaupun tidak menempuh pendidikan formal hingga perguruan tinggi, namun berkat keahliannya di bidang batik ini Katura dianugerahi gelar kehormatan dari University of Hawai sebagai Master of Art.
 

FOTO: Katura AR (MTVN/Wanda Indana
)



Upah pembatik
 
Lain lagi cerita Shuniyya Ruhama, pejuang batik dari Kendal, Jawa Tengah. Melihat kenyataan upah yang diterima para perajin batik yang begitu rendah telah menggerakkan hatinya untuk terjun ke bisnis ini dan menjadi pengusaha.
 
Karir Shuniyya di bisnis batik terbilang mujur. Pada tahun 2010, Shunniya  sudah memiliki empat tempat pembuatan batik, yang tersebar di Kabupaten Kendal, Kabupaten Batang, Kabupaten Pekalongan, dan Kota Pekalongan.
 
Total ada 70 pembatik yang bekerja kepadanya. Shuniyya memberikan upah pembatik jauh lebih tinggi dari lainnya. Umumnya, upah pembatik berada pada kisaran Rp5.000 sampai Rp30 ribu per hari. Pembatik juga tak mendapat jaminan kesehatan.
 
Pembatik yang bekerja pada Shuniyya mendapatkan upah minimal Rp70 ribu per hari. Shuniyya mengaku ia melakukan semua ini semata-mata karena kecintaannya kepada batik. “Orang cinta dengan orang bodoh memang beda-beda tipis,” ujar Shunniyya sembari terkekeh ketika ditemui Metrotvnews.com di kediamannya, Waleri, Kendal, Jawa tengah.
 
Menurut Shuniyya, rendahnya upah pembatik menjadi tantangan bagi pelestarian batik. Pembatik adalah orang-orang yang mempertahankan budaya membatik, justru mendapat penghargaan yang tidak sebanding.
 
“Kalau pembatik diajari cara untuk membatik halus, alasannya selalu mumet (pusing). Karena membatik itu memang butuh ketelatenen lebih. Tapi, upah tidak naik, sudah begitu diberinya harian. Pembatik juga kadang-kadang tidak enak sama bosnya. Soalnya, biasanya tiga hari sudah jadi, nah kalau membuat batik bagus itu mesti sepuluh hari,” ungkap Shuniyya yang merupakan alumnus Universitas Gadja Mada ini.
 
Ia menambahkan, kebanyakan pengusaha batik sebenarnya tidak memahami batik itu sendiri. Namun di sisi lain mereka menuntut banyak pekerjaan. Seperti pengerjaan batik lebih cepat tapi tidak dibarengi kenaikan upah.
FOTO: Kegiatan membatik di sanggar. (MTVN/Wanda Indana
)

“Kasus seperti ini banyak terjadi. Belum lagi tidak ada jaminan kesehatan. Kalau sakit ya derita pembatik. Tapi jika tidak berangkat membatik, ya tidak mendapat upah. Deritanya sampai sebegitu. Nah, kami hadir untuk mengubah, tidak hanya berteori,” kata Shuniyya.
 
Selain upah tinggi, pembatik yang bekerja pada Shuniyya juga mendapat fasilitas pinjaman tanpa bunga dan agunan. Lagi-lagi, upaya ini dilakukan Shuniyya untuk menaikkan martabat para pembatik.
 
Shuniyya mengaku, ia sering mendengar keluhan-keluhan para pembatik. Pernah ia menemui seorang pembatik yang tidak  diberi upah karena berhalangan untuk bekerja. Lantaran pembatik itu masih dalam kondisi pemulihan setelah operasi melahirkan anak. Akhirnya, Shuniyya mengajak pembatik tersebut untuk bekerja padanya.
 
“Jadi orang sakit bukan diobati, malah ditendang. Bagi saya, itu kejahatan kemanusiaan. Tapi saya tidak usah menuding-nuding orang. Kalau kita tidak ada solusi mending diam, jangan malah jadi provokator,” kata dia.
 
Semua pembatik yang bekerja pada Shuniyya mendapat pinjaman, termasuk biaya operasi melahirkan. Pelunasan pinjaman bisa dicicil dengan upah dari membatik. Jika belum sanggup membayar maka tak ada denda apapun.
 
“Kalau belum ada uang, bisa kapan-kapan. Asalkan mereka bahagia saya juga ikut bahagia. Saya anggap mereka seperti keluarga,” pungkas dia.
 
 


(ADM)