Berdamai dengan Masa Lalu

Wanda Indana    •    15 Mei 2017 12:40 WIB
Berdamai dengan Masa Lalu
Sejumlah pedagang kaki lima menempati puluhan kios di lokasi binaan pujasera RTH dan RPTRA Kalijodo, Jakarta. (MI/Galih Pradipta)

Metrotvnews.com, Jakarta: Babak kisah kejayaan bisnis pelacuran di Kalijodo sudah berakhir. Kini, Kalijodo telah bersalin rupa. Haji Bodong, 55, menyaksikan drama pembongkaran Kalijodo yang merupakan salah satu kawasan prostitusi di ibu kota. Pada Senin pagi itu, 29 Februari 2016, mata Haji Bodong hanya bisa melihat dengan tatapan kosong kala sebuah bangunan kafe perlahan rata dengan tanah.



Belasan eskavator datang dari segala arah langsung mencabik-cabik semua bangunan di Kalijodo. Tak ada yang tersisa, kecuali secercah asa untuk mendongak masa depan. “Saya sebenarnya malas mengingat masa lalu,” ujar Haji Bodong memulai perbincangan dengan Metrotrvnews.com di Taman Kalijodo, Tambora, Jakarta Barat, 11 Mei 2017. Dulu, Haji Bodong memiliki bisnis yang berkaitan dengan prostitusi dan minuman keras. Dia memiliki kafe yang menjajakan jasa Pekerja Seks Komesial (PSK). Haji Bodong mendirikan Ojo Lali Cafe, salah satu kedai yang cukup terkenal di seantero Kalijodo.

Haji bodong pun boleh dibilang punya reputasi baik di kawasan Kalijodo. Banyak mucikari yang menitipkan wanita kupu-kupu malam buat mangkal di kafenya. Sebabnya, Ojo Lali Cafe acap didatangi pria hidung belang. Jarang sepi. Bisnis Haji Bodong memang tokcer.

“Pendapatan bagus. Tapi, yang namanya jualan, kadang ramai kadang sepi,”  ujar dia.
 
Haji Bodong sempat mencicipi hidup bergelimang harta. Pendapatannya dari penjualan miras dan pengeloaan kafe mencapai Rp30 juta per bulan. Soal duit, tak jadi soal baginya.

Tapi, setahun silam, kehidupan pria bernama asli Leman ini berputar 180 derajat. Saat itu, Pemprov DKI Jakarta berhasil menggusur warga asli Kalijodo yang sudah puluhan tahun tingga di sana. Kalijodo dibongkar bukan karena bisnis prostitusi, tapi berada di wilayah jalur hijau.

Tak ada perlawanan dari warga. Kepala preman di Kalijodo ditangkap penyidik Polda Metro Jaya. Kalijodo waktu itu seperti kehilangan kekuatan. Padahal, Kalijodo merupakan lokalisasi yang sangat sulit ditertibkan.



Usai pembongkaran, kawasan prostitusi Kalijodo disulap menjadi kawasan hijau dan ruang publik. Kalijodo di bagian Tambora, Jakarta Barat, didirikan Ruang Publik Terbuka Ramah Anak (RPTRA). Sementara Kalijodo yang masuk wilayah Penjaringan, Jakarta Utara, dibangun Ruang Terbuka Hijau (RTH), area skate park, lintasan BMX, dan fasilitas lainnya.

Hidup tenang

Haji Bodong mengaku tak simpati dengan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, Gubernur DKI yang memerintahkan pembongkaran Kalijodo. Ia bahkan membenci Ahok. Betapa tidak, sejak Kalijodo digusur, Haji Bodong langsung jatuh miskin. Dia menganggur karena tak ada pekerjaan. Duit dari hasil bisnis cafe dan minuman keras entah ke mana rimbanya. Menguap begitu saja.

Haji Bodong ditinggal keluarganya. Istri dan anak-anaknya pulang ke kampung, lantaran payahnya kehidupan di ibu kota.

“Sekarang tidak punya apa-apa. Tidur di bawah kolong jembatan, ngontrak takut enggak bisa bayar,” ujar dia. 

Beruntung, Haji Bodong bertemu dengan kawan lamanya, Jamaluddin alias Daeng Jamal. Dia ditawari pekerjaan sebagai petugas kebersihan di Taman Kalijodo. Kebetulan, Jamal diangkat menjadi Koordinator Keamanan Taman Kalijodo oleh PT Sinarmas Land. Akhirnya, Haji Bodong bisa sedikit bernafas lega.

Haji Bodong mengaku hidupnya lebih tenang ketimbang dulu. Gaji sebagai petugas kebersihan memang tak sebanyak dulu. Tapi selalu cukup untuk kebutuhan sehari-hari.

“Dia (Jamal) pemimpin saya, dia yang mengawasi dan dukung saya. Kalau sekarang saya enggak mikirin penghasilan, yang penting halal,” tutur Haji Bodong.

Belakangan, Haji Bodong melihat banyak perubahan di kawasan Kalijodo. Kata dia, Kalijodo tetap menyedot perhatian publik. Bedanya, Kalijodo saat ini banyak dikunjungi berbagai lapisan masyarakat.

“Sekarang ini saya rasa jadinya bagus, semua warga mulai dari ibu-ibu dan anak-anak datang ke seni menikmati tempat ini. Kalau dulu hanya bapak-bapak saja yang datang, sekarang semua datang, saya bangga sama Ahok,” ujar Haji bodong terkekeh.

Hal senada disampaikanan Sidrun, 28, warga eks Kalijodo lainnya. Kini Sidrun berdagang makanan dan minuman di kawasan Taman Kalijodo. Hasilnya lumayan, cukup untuk kebutuhan keluarga.

Saat lokalisasi Kalijodo masih bergelora, Sidrun bekerja sebagai pelayan di Semilir Cafe. Dia sudah bekerja menjadi pelayan kafe sejak SD sampai berkeluarga dan memiliki anak. Jika ingin menambah penghasilan, Sidrun biasanya menawarkan jasa PSK dan sewa kamar. Dalam sebulan, Sidrun bisa mengantongi pendapatan minimal Rp150  ribu per malam.

“Ada 20 tahun kerja di Kalijodo. Tapi ya begitu, enggak berkah,” ujar Sidrun.

Sidrun mengaku kehidupannya kini lebih baik. Dia mengaku beruntung bertemu dengan Jamal. Sebab, Jamal yang membantunya modal usahanya.

Awalnya, Sidrun berdagang minuman menggunakan sepeda motor di daerah Penjaringan. Jamal sering melihat Sidrun melintas kawasan Kalijodo. Jamal menawarkan bantuan modal usaha. Sidrun juga dibantu mendapat kios di Taman Kalijodo.

“Kalau bos (Jamal) memang bener-bener baik. Mau menolong orangnya,” ujar Sidrun.

Sidrun mengatakan, dirinya tidak wajib menyetor duit untuk Jamal. Dia bilang, ketika pengelolaan Taman Kalijodo sudah diserahkan ke Pemprov DKI, pedagang di Taman Kalijodo wajib menyetor sejumlah uang ke Dinas UKM.

“Sekarang belum ada setoran. Nanti kalau sudah dipegang Pemda, kita setoran ke Dinas UKM,” jelas Sidrun.


 


(ADM)