Miras Paling Mahal di Dunia

Wanda Indana    •    08 September 2017 21:59 WIB
Miras Paling Mahal di Dunia
Susunan minuman beralkohol dengan berbagai merek di salah satu tempat hiburan Jakarta. (MI/Ramdani)

Metrotvnews.com, Jakarta: Kebijakan untuk membatasi impor minuman beralkohol ternyata berimbas pada bisnis tempat hiburan menjadi lesu. Ketersediaan produk tersebut berkurang drastis di pasaran membuat harganya menjadi lebih mahal.
 
Kondisi ini yang dikeluhkan para pengusaha jasa hiburan, terutama yang menyasar konsumen dari kalangan wisatawan asing, diplomat, dan para ekspatriat yang bekerja di Indonesia.
 
Saat ini, permintaan dan penawaran minol sudah tidak seimbang. Dampaknya, terjadi kelangkaan yang berujung pada kenaikan harga minol. Mau tak mau, kalangan pengusaha harus menaikkan harga jual minol dua kali lipat, bahkan hingga tiga kali lipat.
 
Memang, berdasarkan data yang dilaporkan Badan Kesehatan Dunia (WHO), memang tingkat konsumsi minuman beralkohol per kapita di Indonesia rata-rata hanya 0,6 liter tahun per tahun. Persentase ini merupakan yang paling kecil di kawasan ASEAN. Sebagai perbandingan, di Thailand dan Vietnam levelnya di atas 8 liter per kapita per tahun.
 
Ketua Asosiasi Pengusaha Importir dan Distributor Minuman Impor (APIDMI) Agoes Silaban menjelaskan, selama ini impor minol senantiasa didatangkan dari Malaysia dan Singapura. Di kedua negeri jiran itu, tarif bea dan cukai minol masih berkisar 35 hingga 50 persen dari harga pabrik. Sementara di Indonesia, dikenakan tarif hingga 150 persen dari harga jual.
 
Agoes memahami langkah pemerintah memperketat syarat impor minol. Tapi, di sisi lain ia berharap pemerintah juga meninjau ulang tarif impor.
 
Menurut Agoes, kebijakan tersebut menguras pendapatan pengusaha importir. Sebab, para pengusaha tak bisa lagi mengambil banyak keuntungan dari penjualan minol impor.
 
Ia pun menilai anomali pasar minol di Indonesia yang disebakan oleh kebijakan tarif tinggi pemerintah, di mana tercermin dari kuota impor minol yang semakin berkurang dari tahun ke tahun, telah mendorong harga jual minuman beralkohol di Indonesia merupakan yang termahal di dunia.
 
“Biasanya yang barang selundupan harga bisa murah. Sekarang harga resmi, minimal double kenaikannya. Pengusahanya enggak bisa ambil untung banyak, malah berkurang keuntungnnya. Kalau bayar pajak tinggi enggak berani ambil untung gede,” ujar Agoes kepada Metrotvnews.com, Senin 4 September 2017.  
 
Menurut Agoes, walaupun ada kenaikan kuota minol impor sebesar 35,81 persen pada periode 2016-2017, namun target kuota sebanyak 584.000 karton akan sulit tercapai.
 
Ia menambahkan, APIDMI sudah berulang kali mengkomunikasikan permasalahan tentang penyesuaian tarif ini dengan ototritas berwenang. Sebab, tarif impor yang terlalu tinggi berpotensi menimbulkan persoalan lain.
 
“Kami sering bicara dengan pihak-pihak seperti kementerian perdagangan serta bea cukai untuk meninjau tarif impor. Sebab, tingginya tarif impor menimbulkan penyelundup. Kita ingin berbisnis sesuai aturan, penyelundupan jelas melanggar hukum, tapi tarifnya harus dinjau kembali,” ujar Agoes.
 
Selain masalah penyelundupan, tarif impor yang terlalu mahal juga dapat memicu penningkatan konsumsi produk miras palsu maupun oplosan. Sebagaimana diketahui, mutu keduanya tidak dipertanggung jawabkan dan cenderung membahayakan konsumen.
 
Baca: Pelarangan Minol Tingkatkan Konsumsi Minuman Oplosan
 
Agoes menambahkan, pengetatan impor minol juga akan berdampak pada industri pariwisata dalam jangka panjang. Karena, ketersediaan minol impor di hotel, bar, dan kafe akan terus berkurang.
 
“Ini berbabaya, mengganggu industri pariwisata. Bule-bule kan selalu minum alkohol, itu minuman sehari-hari mereka, kalau barangnya mahal kan tidak tak jadi beli. Kalau masih mau beli dengan harga mahal, tapi barangnya tidak ada, kan juga merepotkan,” imbuh Agoes.
 
Menilik data dari World Economic Forum, indeks daya saing pariwisata Indonesia tahun 2017 berada pada peringkat 42 dari dari 136 negera. Posisi itu naik delapan peringkat dibanding pada 2015.

Adapun di kawasan ASEAN, ranking Singapura masih tetap yang tertinggi dengan berada di urutan 13 dan skor daya saing pariwisata sebesar 4,85. Sedangkan Malaysia ada di urutan ke 26 dengan skor 4,50. Kedua negara tersebut termasuk negara dengan tingkat konsumsi minol terendah di ASEAN, namun menerapkan tarif bea masuk minol terendah di ASEAN.
 
Pada 15 Agustus 2017, Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) Pengurus Wilayah Nahdatul Ulama (PNWNU) DKI Jakarta mengeluarkan laporan penelitian. Hasil temuan dari penelitian itu mengungkanpan sebanyak 65,3 persen remaja Indonesia di rentan usia 12-21 tahun mengaku pernah atau sering mengkonsumsi minuman oplosan.
 
Hal tersebut merupakan dampak dari hilangnya minuman beralkohol golongan A dari peredaran di supermarket sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Perdagangan No.06/M-DAG/PER/1/2015.
 
"Kalau kebijakan pemerintah berdampak pada maraknya peredaran serta mudahnya minuman oplosan didapatkan di pinggir-pinggir jalan, saya kira ini adalah langkah yang keliru dari pemerintah," ujar Kepala Departemen Peneliti Lakpesdam PWNU DKI Jakarta, Abdul Wahid Hasyim.
 
Wahid menyarankan agar pemerintah mengatur pengendalian peredaran minuman beralkohol dengan cara melakulan pengawasan ketat pada produksi, distribusi, serta penjualan minuman beralkohol. Selain itu, minuman beralkohol wajib memenuhi standar kesehatan melalui registrasi BPOM.
 

FOTO: Suasana salah satu tempat hiburan malam di Jakarta. (MI/Ramdani)

(ADM)