Riau, Budaya Islam, dan Tanah Air Melayu

Wanda Indana    •    27 Juni 2017 17:08 WIB
Riau, Budaya Islam, dan Tanah Air Melayu
Masjid An-Nur di Pekanbaru, Riau. (Istimewa)

Metrotvnews.com, Jakarta: Adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah. Makna pepatah melayu itu adalah adat yang ditopang syariat Islam harus berdasarkan alquran dan hadits.
 
Pepatah itu lazim didengungkan sebagai falsafah kehidupan masyarakat Melayu di Sumatera bagian timur. Yakni kawasan yang dulunya mendapat pengaruh dari Kesultanan Melayu yang mulai berkembang pada abad ke-13. Salah satu kawasan bekas peninggalan dari kejayaan Kesultanan Melayu adalah Riau.
 
Jadi, tak usah heran kalau melancong ke Riau senantiasa melihat orang Melayu gesit ke masjid, tak ingin melalaikan kewajiban salat, dan mengaji. Bagi orang Melayu, baik “Riau Daratan” maupun “Riau Kepulauan”, beribadah sudah seperti nafas dalam kehidupan.



Mereka pantang melanggar kewajibannya dalam Islam. Jika melanggar, apalagi meninggalkan Islam alias murtad, maka tidak dianggap lagi sebagai orang Melayu.
 
Kendati demikian, warga di sini amat terbuka bagi para pendatang yang mencari peruntungan. Sebagaimana karakter khas masyarakat Melayu yang ramah menerima tamu.
 
Pertumbuhan ekonomi Riau yang cukup pesat memang dapat diibaratkan "gula" yang mengundang para "semut" datang dari berbagai daerah di Indonesia.  Tak pelak lagi, arus deras migrasi para pencari kerja kemari telah mendorong Riau menjadi menjadi salah satu provinsi dengan laju pertumbuhan penduduk tertinggi di Indonesia.
 
Setidaknya, fenomena ini sudah terjadi sejak 30 tahun terakhir. Demografi Riau sangat majemuk, tidak akan sulit menjumpai etnik lain yang tinggal di Bumi Lancang Kuning ini.
 
Tetapi, seperti pepatah di mana bumi dipijak di situlah langit dijunjung, para pendatang di Riau tetap harus beradaptasi dengan norma-norma sosial kebudayaan Melayu.
 
Menurut Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Riau, Isjoni, tidak sedikit komunitas suku selain Melayu berkembang pesat di Riau, terutama di kawasan perkotaan. Kebanyakan dari mereka pun turut menunaikan nilai-nilai kemelayuan di Riau.
 
Nah, inilah uniknya di Riau, masyarakat dari etnik manapun akan dianggap juga sebagai orang Melayu asalkan ia seorang muslim. Misalnya, jika Anda bersuku Batak dan beragama Islam, maka Anda disebut Melayu-Batak. Demikian pula pada orang Sunda yang beragama Islam disebut Melayu-Sunda, orang Bugis beragama Islam disebut Melayu-Bugis, dan lain sebagainya.
 
 “Jadi, di sini banyak orang-orang luar yang sudah menjadi orang Melayu. Makanya banyak perkumpulan seperti Melayu-Minang, Melayu-Jawa, dan macam-macam, semua bisa mendapat hak yang sama,” ujar Isjoni dalam perbincangan dengan Metrotvnews.com di FKIP Universitas Riau, Pekanbaru, Kamis 15 Juni 2017.
 
Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman berkomitmen untuk menjadikan daerah yang dipimpinnya sebagai pusat kebudayaan Melayu di kawasan Asia Tenggara. Visi tersebut secara eksplisit sudah ditetapkan dalam Peraturan Daerah (Perda) Provinsi Riau Nomor 36 tahun 2001.
 
Arsyadjuliandi menyatakan seluruh instansi, lembaga, maupun masyarakat yang ada di Provinsi Riau wajib untuk menjalankan visi dan misi tersebut, guna mencapai Riau sebagai pusat kebudayaan Melayu di Asia Tenggara.
 
Menurut dia, hal ini penting demi menunjang potensi pariwisata, salah satunya wisata budaya. "Kebudayaan Melayu adalah maruahnya Riau," kata Arsyadjuliandi di Pekanbaru, Kamis 5 Juni 2017.
 
Ia menjelaskan, destinasi wisata budaya antara lain seperti Sungai Siak, Kampar, Indragiri, dan Rokan. Kemudian Candi Muara Takus dan Istana Siak. Dengan mengususng tagline: "Riau The Homeland Of Melayu", ada nilai cagar budaya yang bisa digali dari situs-situs itu.
 
"Potensi wisata kebudayaan Riau sangatlah besar," imbuhnya.
 
Menurut Isjoni, langkah Pemerintah Provinsi Riau ini sudah tepat serta patut didukung. Sebab, hingga kini Riau memang masih terus menghidupkan kebudayaan Melayu. “Riau itu tanah air Melayu,” kata Guru Besar di bidang pendidikan sejarah Universitas Riau ini.
 

Ketua MSI Riau, Isjoni. (MTVN/Wanda Indana) Nenek moyang
Suku Melayu merupakan salah satu kelompok etnis Austronesia yang mendiami Semenanjung Malaya, Sumatera Bagian Timur, Thailand bagian Selatan, Pantai Selatan Myanmar, Pulau Singapura, Borneo (Kalimantan Barat, Serawak, Sabah, dan Brunei) dan Filipina bagian Selatan. Secara kolektif, wilayah tersebut disebut Alam Melayu.
 
Selain di kepulauan Nusantara, orang Melayu juga ditemukan di Sri Lanka, Kepulauan Cocos (Australia), dan di Afrika, seperti Madagaskar dan Afrika Selatan.
 
Istilah Melayu berasal dari Kerajaan Melayu di tepi sungai Batang Hari, Jambi, yang saat itu masuk wilayah imperium Sriwijaya. Seiring waktu, penggunaan istilah Melayu meluas ke luar Sumatera mengikuti ekspansi kekuasaan Sriwijaya.
 
Isjoni menjelaskan, awal mula bangsa Melayu diperkirakan datang ke Nusantara pada 1500-500 SM (Sebelum Masehi). Bangsa melayu datang dalam dua gelombang. Gelombang pertama disebut dengan bangsa Proto Melayu (Melayu Tua). Mereka berasal dari Yunnan (Tiongkok) dan kepulauan Taiwan.
 
Bangsa Proto Melayu masuk ke Nusantara melalui dua rute; Barat dan Timur. Rute Barat melalui semenanjung Malaya ke Sumatera dan menyebar ke berbagai wilayah kepulauan Nusantara. Sementara itu, rute Timur melalui Kepulauan Filipina ke Sulawesi dan menyebar ke berbagai pelosok Nusantara. Bangsa Proto Melayu memebawa kebudayan neolitikum, tapi peradabannya sudah lebih maju dari manusia purba yang ditemukan di Indonesia.
 
Pada 500 SM, gelombang bangsa Deutro Melayu (Melayu Muda) mulai masuk ke Nusantara secara bertahap. Kedatangan Deutro melayu membikin bangsa Proto Melayu terdesak dan pergi ke arah Timur. Diduga, proto Melayu masih tinggal di Indonesia dan membentuk kelompok suku sendiri seperti suku Dayak, Toraja, Mentawai, Nias, dan Papua.
 
Di Sumatera sendiri, orang keturunan Proto Melayu masih bisa ditemui. Mereka dikenal dengan suku Sakai di Siak dan suku Kubu di Palembang.
 
Kata Isjoni, peradaban bangsa Deutro Melayu satu tingkat lebih maju dari bangsa Proto Melayu. Mereka sudah pandai membuat benda-benda dari perunggu dan besi seperti kapak corong, nekara, dan bejana. Bangsa Deutro Melayu berasal dari Indocina (Dong Son, Vietnam).
 
Seiring perkembangan waktu, bangsa Deutro Melayu menyebar ke berbagai daerah di Nusantara. Mereka juga membentuk kelompok atau suku tersendiri seperti Melayu, Jawa, Sunda, Bugis, Minang, dan lain-lain.
 
“Orang Minang, orang Aceh, orang Jawa dan suku lainnya, awalnya berasal dari nenek moyang yang sama. Ini bisa dilihat dari kemiripan bahasa yang dimiliki setiap suku,” jelas dia.
 
Belakangan, istilah Melayu mengalami penyempitan makna. Dalam konteks sekarang, orang Melayu dianggap orang yang berbahasa melayu dan beragama Islam. Hal ini tidak terlepas dari kejayaan Kesultanan Melayu di Alam Melayu.
 

Berkas sejarah berbahasa Melayu di Perpustakaan Masjid Raya Sultan Riau, Pulau Penyengat, Kepulauan Riau. (MI/Immanuel Antonius)

Pernah diserang India
Imperium Melayu-Riau merupakan warisan Kerajaan Sriwijaya (683-1025 Masehi). Keberadaan situs Candi Muara Takus di Kampar, disebut sebagai salah satu peninggalan kerajaan Sriwijaya di Riau.
 
Sriwijaya merupakan kerajaan melayu kuno yang menganut agama Hindu dan Budha. Bahasa melayu kuno dan sansekerta digunakan di dalam lingkungan kerajaan. Wilayah kekuasaan Sriwijaya terbilang luas, membentang dari Sumatera hingga Jawa Barat, sedikit di Jawa Tengah, Semenanjung Malaya, Thailand Selatan, dan Kamboja.
 
Sekira abad ke-10, kejayaan Sriwijaya mulai meredup. Tepatnya, ketika Sriwijaya mendapat serangan hebat dari sebuah negeri di India. Pada 1025, Dinasti Chola, sebuah negeri yang berpusat di Koromandel (pesisir pantai selatan India) dipimpin Rajendra Chola I, melancarkan serangan dan berhasil meruntuhkan dominasi Sriwijaya di Nusantara. Kekuasaan Sriwijaya pun berakhir.
 
Kejatuhan Sriwijaya meninggalkan warisan mandala-mandala yang ingin berdaulat. Salah satunya, Kemaharajaan Melayu yang dimulai dari Kerajaan Bintan-Tumasik pada abad ke-12, lalu memasuki periode Melayu-Riau pada masa Kesultanan Melaka pada abad ke-14 hingga 15, Kesultanan Johor-Kampar abad 16-17, dan berakhir pada masa Kesultanan Riau-Lingga abad 18-19.
 

Istana Asherayah Al-Hasyimiyah (Istana Siak Sri Indrapura) Kesultanan Siak Sri Inderapura, Siak, Riau. (ANTARA/Ismar Patrizki)

Peradaban sungai
Provinsi Riau dialiri empat sungai besar yang memiliki peranan dalam penyebaran Islam. Keempat sungai tersebut ; Sungai Siak sepanjang 300 kilometer dengan kedalaman 8- 12 meter, Sungai Rokan sepanjang 400 kilometer dengan kedalaman 6-8 meter. Sungai Kampar sepanjang 400 kilometer dengan kedalaman 6 meter, dan Sungai Indragiri sepanjang 500 kilometer dengan kedalaman 6-8 meter.
 
Keempat sungai itu berhulu dari pegunungan daratan tinggi Bukit Barisan dan bermuara ke Selat Melaka dan Laut Cina Selatan. Kondisi gelombang air dipengaruhi pasang surut Laut Cina Selatan. Karena letak Riau berada di daratan rendah, maka penggunaan kapal untuk transportasi air banyak dilakukan masyarakat.
 
Lagipula, pusat kota kerajaan Melayu di Riau tak jauh dari wilayah pinggiran sungai. Para pedagang dari India, Tiongkok dan Arab-Persia diduga kuat berlayar hingga menelusuri empat aliran sungai di Riau untuk melakukan perdagangan.
 
Desa Kuntu di Kampar merupakan daerah di Riau Daratan yang pertama kali disinggahi para pedagang. Hal ini lantaran daerah lembah sungai Kampar Kiri terkenal sebagai daerah penghasil lada terpenting di dunia pada abad ke-6 hingga 13.
 
Syekh Burhanuddin diketahui bangsa Arab yang pertama kali menyebarkan Islam di Kuntu-Kapar. Beliau lahir di Mekah pada tahun 1111 dan meninggal di Kuntu pada 1191. Syekh Burhanuddin menyebarkan agama Islam kepada masyarakat Melayu di Riau selama 20 tahun. Pada saat itu, masyarakat Melayu Riau masih menganut agama Hindu dan Buddha yang merupakan peninggalan dari kerajaan Sriwijaya.
 
Dari Kuntu, Islam diperkirakan menyebar ke Rokan pada 1349. Islam dibawa ke Rokan oleh para pelarian dari Kuntu. Saat itu, Kuntu mendapat serangan dari pasukan Adityawarman dari Dharmasraya, sebuah kota bekas Kerajaan Sriwijaya. Tak hanya itu, para pelarian Kuntu juga menyebar ke Kuantan dan Indragiri. Mereka menetap ke wilayah singgahan sembari menyebarkan Islam. Hingga saat ini, peninggalan kebudayaan kerajaan Melayu-Islam masih dilestarikan di Riau.

 


(ADM)