Setelah Jokowi Melirik Tanjung Lesung

Surya Perkasa    •    15 Februari 2016 23:01 WIB
Setelah Jokowi Melirik Tanjung Lesung
Presiden Joko Widodo didampingi Menko Perekonomian Sofyan Jalil dan Plt Gubernur Banten Rano Karno melihat maket pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus Pariwisata Tanjung Lesung. (foto: Antara/Asep Fathulrahman)

Metrotvnews.com, Jakarta: Banten seakan punya magnet baru dalam menarik investasi kakap ke Indonesia. Bagian selatan provinsi tersebut yakni Tanjung Lesung, Kabupaten Pandeglang, menyimpan segudang potensi bisnis kelas dunia yang bisa dikembangkan oleh para pemilik dana seperti pariwisata, ekonomi, industri, dan lainnya.
 
Melihat adanya potensi di atas, pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 26 Tahun 2012 yang menetapkan Tanjung Lesung sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).
 
PT Jababeka Tbk ditunjuk sebagai pengembang kawasan industri tersebut. Jababeka melalui anak usahanya yakni PT Banten West Java (BWJ) Tourism, secara resmi akan mengoperasikan kawasan tersebut setelah Presiden Joko Widodo secara langsung meresmikan KEK Tanjung Lesung pada 23 Februari 2015.
 
Tahun ini, Tanjung Lesung kembali mendapat perhatian dari pemerintah. Presien Jokowi telah memasukkan Tanjung Lesung sebagai salah satu di antara sepuluh destinasi wisata yang mesti dipercepat pembangunannya.
 
Jababeka pun menyiapkan dana besar untuk infrastruktur di KEK Pariwisata Tanjung Lesung. Presiden Direktur Jababeka, SD Darmono, tahun lalu mengatakan, nilai investasi untuk mengembangkan proyek tersebut mencapai Rp4,83 triliun. Seluruh bagian KEK Tanjung Lesung ditargetkan akan rampung dibangun pada 2022.
 
Komitmen ini pun didukung oleh pemerintahan. Menteri Pariwisata Arief Yahya menilai infrastruktur jalan adalah critical success factor untuk menghidupkan pariwisata Tanjung Lesung. Karena itu saat ini sedang dikebut pembangunan akses berupa jalan tol dari Serang ke Tanjung Lesung.
 
Menurut Arief, begitu tol itu selesai, Jakarta-Tanjung Lesung bisa ditempuh kurang dari 2,5 jam. Tentu ini bakal mengebut pertumbuhan pariwisata ke arah Banten.
 
“Presiden Jokowi sudah meninjau dan memantau perkembangan tol itu," ujar Arief kepada metrotvnews.com.
 
Dalam prinsip pengembangan pariwisata, dikenal rumus 3A (access, amenity, attraction). Dari ketiga prinsip itu, Tanjung Lesung paling lemah di akses. Padahal jarak Bajten Jakarta itu tidak jauh. Soal amenitas, asal infrastruktur dibangun baik, secara otomatis swasta akan bergerak sendiri.
 
"Mereka sudah punya hitungan dan data market. Mereka dengan sendirinya akan mengejar opportunity (peluang investasi)," kata Arief.
 
Jalan menyusuri Serang, Pantai Anyer, Pantai Carita, sampai Tanjung Lesung memang lama terbengkalai. Akibatnya, aminitas yang berkembang di jalur itu, ikut gembos. Bisnis hotel, restoran, convention hall, dan lainnya di sana pernah mengalami kemajuan.
 
Namun, sudah banyak keluhan soal jalur-jalur wisata di Banten itu lemah di infrastruktur dan terbengkalai dalam jangka lama. Kementerian Pariwisata pun mengakui bahwa sejak tahun 70-an jalan menuju ke Bayah, terutama ke pantai Sawarna, masih hancur sampai sekarang.
 
Padahal, dua kabupaten tersebut memiliki potensi pariwisata yang tinggi. Di  Pandeglang sendiri, terdapat Tanjung Lesung yang telah mendapat status Kawasan Ekonomi Khusus dan sudah mulai dilakukan sinergi sejak tahun 2015 lalu. Kabupaten Lebak ada pantai Sawarna yang berpotensi menjadi wisata yang sangat berkembang.
 
Sekarang kondisi jalan sudah membaik, dan ketika tol sudah jadi, maka kawasan itu akan hidup. Industri pun mulai hidup lagi. "Tanjung Lesung sebagai Kawasan Ekonomi Khusus Pariwisata itu sudah 24 tahun mandek. Sekarang kami seriusi untuk berkembang dan sustainable," kata Arief.
 
Memang, kesiapan akses menjadi sebuah pertanyaan besar yang harus berhasil dijawab oleh pemerintah. Wajar saja, Tanjung Lesung berada di ujung Banten Barat dan berjarak hampir 180 kilometer dari pinggiran Jakarta. Sulit berharap wisatawan banyak datang bila akses menuju ke sana tidak baik.
 
Pengalaman metrotvnews.com, perjalanan dari Jakarta ke Tanjung Lesung memang menempuh waktu yang lama. Kurang lebih empat jam. Dengan menggunakan mobil jenis SUV yang dipacu dengan kecepatan rata-rata 120 km/jam saat melintasi tol Jakarta-Merak, cukup sejam untuk mencapai pintu keluar tol Serang Timur. Namun, perjalanan melintasi jalur Serang-Pandeglang-Labuan dan berujung di Tanjung Lesung amat memakan waktu. Selain karena jalan yang sempit, kondisi jalan rusak banyak ditemui.
 
Lamanya perjalanan cukup terobati dengan pemandangan nan asri di sepanjang jalan. Melewati petak-petak sawah, barisan pepohonan, diselingi suasana beberapa ibukota kabupaten di Banten yang relatif lengang, sangat kontras dengan kemacetan Jakarta atau jalur puncak yang semakin padat.
 
Namun kondisi jalan menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi pemerintah pusat dan pemerintah daerah di Banten. Tanjung Lesung yang menjadi satu kawasan dari sepuluh prioritas percepatan pembangunan destinasi wisata akan sulit dipromosikan jika jalanan berlubang dan kadang tak rata.
 
Mobil pun banyak berguncang saat memasuki seperempat bagian akhir perjalanan menuju Tanjung Lesung. Bahkan beberapa ruas jalan berbeda ketinggiannya, karena terlihat amblas.
 
Akses menuju Tanjung Lesung, Banten ini memang menjadi catatan bagi perbaikan tahun 2016.
 
Dengan munculnya KEK Tanjung Lesung yang dikelola PT BWJ ternyata mampu memicu pertumbuhan ekonomi baru masyarakat di desa-desa kecamatan Panimbang, Banten. Penginapan murah banyak terlihat didirikan warga sepanjang jalan menuju KEK Tanjung Lesung.
 
Beberapa investor lokal juga banyak mendirikan penginapan berbentuk griya dan pondok di kiri kanan jalan. Posisi yang strategis di dekat laut, serta keberadaan Tanjung Lesung menjadi magnet tersendiri.
 
“Beberapa itu ada yang dibangun sama orang Banten yang tinggal di Jakarta. Salah satunya itu kerja di salah satu media swasta,” ungkap Ibu Adam, pemilik salah satu penginapan murah atau homestay di Jalan Raya Tanjung Lesung saat ditemui metrotvnews.com, Sabtu (13/2/2015).
 
Selain itu, warga banyak menyulap rumah mereka menjadi penginapan murah bagi turis semenjak tahun 2005. Rasa bersyukurnya pun tidak bisa disembunyikan saat sedang berbincang.
 
Banyaknya wisatawan yang datang ke Tanjung Lesung ternyata mampu menaikkan tingkat kesejahteraan warga secara keseluruhan. “Alhamdulillah, kalau libur panjang seperti Imlek kemarin, semua penginapan di sini bisa penuh,” kata dia.
 
Ia dan pemilik homestay lainnya yang beroperasi di luar kawasan KEK Tanjung Lesung berharap pembangunan tol Jakarta-Tanjung Lesung segera terealisasi agar semakin banyak turis yang berdatangan.
 
Di dalam kawasan KEK Tanjung Lesung, kondisi jalan juga tidak lebih baik. Banyak yang berlubang, bahkan jalan menuju hotel-hotel di pinggir pantai sebagian besar masih belum beraspal.
 
Kawasan yang luasnya mencapai 1.500 hektar ini ternyata belum banyak terisi dan dibangun. Beberapa papan besar bertuliskan “kawasan ini sedang dibangun” tersebar di sepanjang jalan sejak memasuki gerbang KEK Tanjung Lesung.
 
Metrotvnews.com mendapat kesempatan berbincang dengan Yayat Ruhiyat yang merupakan salah satu manajer hotel yang dikelola langsung oleh anak perusahaan Jababeka, Tanjung Lesung Beach Hotel.  
 
Saat ditemui, Yayat dengan ramah menuturkan pengalamannya selama delapan tahun kiprahnya bekerja di hotel yang bernaung di bawah grup Jababeka. Ia mengakui banyak kesulitan yang dihadapi Jababeka sebagai pengelola KEK Tanjung Lesung. Permasalahan akses jalan jelas menjadi sorotan selama ini.
 
“Memang seperti itulah kondisi jalan menuju Tanjung Lesung. Ya, kami harapkan akses menuju Tanjung Lesung segera membaik. Kami tidak mau berkomentar banyak, karena itu kan di luar kemampuan kami,” ujar Yayat.
 
Perbaikan jalan, menurut Yayat, merupakan tanggung jawab dan kewenangan pemerintah. “Kami di sini (hotel) hanya bisa menyambut tamu sebaik mungkin dengan baik setelah menempuh perjalanan yang cukup lama,” kata Yayat.
 
Ia menambahkan, satu-satunya akses menuju Tanjung Langsung ini memang jarang diperhatikan oleh pemerintah terdahulu. Baik itu pemerintah pusat atau pemerintah daerah. Namun nasib penginapan Tanjung Lesung kini semakin membaik. Lebih tepatnya, setelah Presiden Jokowi menetapkan Tanjung Lesung sebagai KEK Pariwisata. Buktinya, ada peningkatan tamu hotel.
 
“Tingkat keterisian 150an kamar kami sekitar 45-55 persen selama delapan bulan terakhir. Selalu penuh di libur panjang, dan itu terus meningkat,” ungkap Yayat.
 
Wisatawan mancanegara pun semakin banyak melirik Tanjung Lesung sebagai tujuan pariwisata. Selain tawaran lokasi yang privat dan lokasi yang strategis semakin banyak menarik wisatawan mancanegara.
 
Yayat mengakui angka wisatawan mancanegara sudah meningkat hingga rasio 30:70 dengan wisatawan domestik. Sebagian besar wisma berkewarganegaraan Korea, Tiongkok, dan Australia.
 
Namun, Yayat merasa potensi Tanjung Lesung ini masih belum tergali maksimal. Jika saja pemerintah semakin peduli dengan budaya dan usaha kreatif sekitar kawasan, bisa saja turis yang datang semakin meningkat pesat.
 
“Misalnya membuat pusat kesenian atau taman budaya. Atau bisa saja mengembangkan taman agrowisata di sekitar sini. Bisa juga melibatkan nelayan-nelayan di Panimbang. Kami sudah mencoba membuat beberapa paket dengan melibatkan warga sekitar. Banyak potensi Banten yang belum tergali,”  ujar Yayat.
 
Hal senada disampaikan oleh pengelola penginapan Blue Fish di Tanjung Lesung Resort,  Rohmad Wahyudi. Menurut dia, keberpihakan pemerintahan Jokowi-JK terhadap industri pariwisata amat terasa memberi dampak positif. Tidak tanggung-tanggung, Blue Fish kebanjiran pengunjung sejak Jokowi menaikkan status Tanjung Lesung sebagai KEK Pariwisata.
 
“Tamu kami meningkat dua kali lipat jika dibandingkan sebelumnya,” kata Rohmat.
 
Peningkatan tamu ini, ia melanjutkan, memang dirasakan hampir oleh seluruh operator penginapan yang ada di Tanjung Lesung. Baik itu penginapan di dalam KEK Tanjung Lesung maupun di desa-desa di luar kawasan.
 
Harapan Rohmat, akses ke Tanjung Lesung segera diperbaiki. Ia pun sangat mendukung rencana pembangunan jalan tol Serang – Tanjung Lesung yang ditargetkan beroperasi di 2019.
 
Selain itu, Rohmat meminta grup Jababeka yang mengambil langsung pengelolaan Tanjung Lesung lebih serius dalam menggarap pembangunan infrastruktur kawasan ekonomi khusus ini. Terutama pembangunan jalan. Ini demi kestabilan bisnis di kawasan ini, yang telah dibangun sejak 1997.
 
Selain itu, pemerintah juga diharapkan menggalakkan program pelatihan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat Banten, terutama penduduk asli di Tanjung Lesung terhadap potensi pariwisata di sekitarnya bagi kelanjutan pembangunan dan perbaikan taraf kesejahteraan.
 
“Sumber daya manusia untuk mengelola kawasan pariwisata perlu ditingkatkan. Karakter warga yang siap dalam menerima wisatawan pun harus dibiasakan,” kata Rohmat.
 
Saat ini Provinsi Banten membutuhkan banyak sumber daya manusia di sektor pariwisata. Kementerian Pariwisata mencatat pemandu wisata di Banten hanya ada 60 orang. Ini jauh dari kebutuhan ke depan.
 
“Jangan sampai ketika jalan sudah oke, hotel makin banyak, tapi tidak ada guide-nya?,” kata Deputi Pengembangan Destinasi dan Industri Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Dadang Rizki dalam keteranga tertulis kepada metrotvnews.com.
 
Selain itu, dibutuhkan kesadaran masyarakat untuk mengkspose kegiatan wisata mereka selama berwisata di Banten.
 
Tanjung Lesung harus menjadi lebih baik dengan program percepatan pembangunan pariwisata yang ada. Masyarakat Banten pun harus disiapkan untuk menghasilkan atraksi pariwisata baru yang bisa menjadi nilai jual, dan menciptakan kenyamanan (aminities) bagi turis.
 
 “Harus ditunjukkan ke dunia, Banten yang selama ini identik dengan Jawara juga bisa tersenyum,” kata Yayat.
 


(ADM)