Serba-serbi Pemulihan Pecandu Narkoba

Sobih AW Adnan    •    13 Februari 2017 14:31 WIB
Serba-serbi Pemulihan Pecandu Narkoba
Balai Besar Rehabilitasi BNN (MTVN/Sobih)

Metrotvnews.com, Jakarta: Tak ada pagar tinggi membatasi, tak tampak pula gerbang kokoh dengan gembok yang tertib dibuka dan ditutup. Dua sampai tiga orang mantan pecandu terlihat keluar masuk begitu tenang tanpa muka masam. Mereka berbaur akrab dengan warga sekitar.
 
Begitulah sekilas pandang saat tim Telusur Metrotvnews.com mengunjungi Graha Madani, sebuah pusat rehabilitasi para pecandu narkotika dan obat berbahaya (narkoba) yang berada di di Jalan Panca Warga 2, RT/RW 5/5, Cipinang Besar Selatan, Jatinegara, Jakarta Timur.
 
Dalam satu komplek bangunan mirip pesantren itu, nyaris tak ada satu pun pemandangan seperti yang didesas-desuskan banyak orang ihwal rumah rehabilitasi narkoba. Selain tak ada batas, ketika masuk ke ruang-ruang di dalamnya tak akan pula ditemukan rantai, bui, juga  jerit kesakitan.
 
“Madani berusaha mengembalikan mereka (pecandu) ke tengah masyarakat sejak dalam masa pemulihan. Tak ada metode fisik yang kami pakai.  Karena kami memahami, yang rusak dari mereka adalah mental dan prilaku. Badan cuma sisi yang terdampak,” ujar pendiri Graha Madani, Profesor Dadang Hawari yang sebelumnya ditemui Metrotvnews.com di tempat berbeda di Perumahan Tebet Mas Indah E-5, Tebet, Jakarta Selatan, Rabu (8/2/2017).
 

Prof. Dadang Hawari. (MTVN/Sobih)



Peran masyarakat dan pemulihan hati
 
Memasuki petang, azan Magrib menggaung dari musala di lantai dua. Suara lantang itu bukan dari pegawai graha atau petugas yang bergilir piket. Dari muazin, imam, sampai doa usai salat, semua diserahkan kepada peserta rehabilitasi.
 
Menurut Dadang, dalam dunia rehabilitasi narkoba dikenalkan tiga metode masyhur. Pertama, institution based, biasa dilakukan lembaga negara, yakni panti-panti rehabilitasi di bawah Badan Narkotika Nasional (BNN). Kedua, hospital based, metode ini bisa ditemukan di rumah sakit dengan menekankan penanganan medis. Dan ketiga, community based.
 
“Madani menggunakan yang ketiga. Berbasis peningkatan peran penguatan mereka dalam komunitas dan masyarakat. Termasuk di dalamnya sisi spiritualitas,” kata Dadang.
 
Bagi peserta non-Muslim, Madani menyediakan bagi mereka pemuka agama sesuai iman dan kepercayaan. Secara lengkap, Dadang menyebutkan bahwa pola yang dipakai Madani dalam pemulihan kliennya menggunakan seri BPSS (Biologik, Psikologik, Sosial, dan Spiritual).
 
“Dari penanganan hingga pascarehabilitasi, totalnya bisa sampai 210 hari, tujuh sampai sembilan bulan,” kata Profesor yang pernah menerima United Nations (UN) Office on Drugs and Crime di New York, Amerika Serikat (AS) itu.
 
Ketua Yayasan Madani Health Care, Darmawan menjelaskan teknis BPSS yang diadopsi lembaganya belum begitu dikenal di rumah rehab lainnya. Sekarang ini, kata Dharmawan, Madani tengah dilibatkan dalam penyusunan standarisasi rehabilitasi narkoba bersama Kementerian Sosial (Kemensos).
 
Baca: Kepala BNN: Kita Perlu Metode Baku Rehabilitasi Narkoba
 
“Secara medis, Profesor Dadang merekomendasikan obat tanpa kandungan narkoba. Tapi setelah diminum, dalam beberapa menit sakau langsung hilang. Tahap detoksifikasi pun cuma berlangsung tujuh hari,” kata Darmawan ketika ditemui Metrotvnews.com, di Graha Madani Cipinang Besar Selatan, Jatinegara, Jakarta Timur, Rabu (8/2/2017).
Darmawan (MTVN/Sobih)

Karena biasanya, sebut Darmawan, di beberapa panti rehab dikenal metode pengurangan konsumsi narkoba. Jadi mengobati kecanduan masih dengan obat-obat berkadar narkotika. Sifatnya hanya pengurangan hingga lepas dari ketergantungan.
 
Tidak selesai pada penanganan klien secara pribadi, Madani juga merasa penting mengawal klien pascarehab hingga mengembalikan ke masyarakat. Persoalan stigma buruk masyarakat menjadi poin yang tak luput dari lembaga yang didirikan sejak 1999 ini.
 
“Minus tiga hari sebelum klien pulang, Madani berkunjung ke rumah mereka untuk berdialog dengan masyarakat agar mereka bisa diterima kembali tanpa dibebani stigma buruk,” kata Darmawan.
 
“Stigma juga kerap muncul dari dalam diri klien. Ia cenderung minder meski sudah lepas dari ketergantungan. Itu juga kami genjot,” lanjut dia.
 
Dalam Graha Madani kini terdapat 20 peserta rehabilitasi dari total kapasitas 200 orang perangkatan. Dengan menyediakan enam orang psikiater dan lebih dari 10 petugas, Darmawan mengaku keberhasilan lembaganya bisa sampai 80%.
 
“Kami memang satu dari 120 lembaga rehab yang terdaftar di Kemensos sebagai Instansi Penerima Wajib Lapor (IPWL). Namun kartu IPWL tidak kami berikan kepada klien karena potensi disalahgunakan. Kami hanya memberi dukungan advokasi jika sesekali ada kasus serupa yang menjerat alumni,” kata Darmawan.
 


Medis, disiplin, dan permenungan

Lain lubuk, lain belalang. Jika Madani membebani biaya klien bisa sampai Rp11 juta per orang setiap bulan, berbeda pula terapan pola rehabilitasi dari institusi dengan biaya total tertanggung negara.
 
Ialah Balai Besar Rehabilitasi (Babesrehab) Narkoba BNN yang terletak di Desa Wates Jaya, kecamatan Cigombong, Lido, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Kala tim Telusur Metrotvnews.com berkunjung, suasana sejuk nan jauh dari hiruk pikuk keseharian warga begitu terasa. Hampir 180 derajat kebalikan dari tempat rehabilitasi narkoba yang kami datangi sehari sebelumnya.
 
Mirip sekolah kedinasan, gedung-gedung di area seluas 112.000 meter persegi itu dipagari tembok setinggi 3 meter. Ketika memasuki gerbang yang tampak megah, lalu lalang peserta rehab dengan rambut cepak tampak necis mengenakan seragam sesuai asrama dan tingkatan. Ada hitam putih, ada juga yang biru dan abu-abu. Sementara yang berdasi, menunjukkan keberhasilan mereka dalam menempuh tahapan rehabilitasi dengan baik. Mereka menjadi pemimpin di asrama masing-masing.
 
Kepala Seksi Pelayanan Bidang Medis Babesrehab BNN, dr. Hari Nugroho mengatakan, saat ini penghuni balai pemulihan itu sudah lebih dari 300 orang. Selama di balai besar, setidaknya para pecandu narkoba itu harus menjalani proses selama enam bulan.
 
“Kami menyebut mereka sebagai residen. Kapasitas total, setahun bisa sampai 750 residen. Tingkat keberhasilan kami 60 persen,” kata Hari saat ditemui Metrotvnews.com, Kamis (9/2/2017).

 
Hari Nugroho (MTVN/Sobih)

Dari enam bulan proses itu, Hari menjelaskan, para residen pertama-tama melalui tahap detoksifikasi alias peluruhan racun dari dalam tubuh. Dalam masa detoksifikasi, satu residen rata-rata menjalani selama dua pekan.
 
Setelah cukup, korban penyalahgunaan zat terlarang itu diarahkan ke entry unit alias rumah penanganan. Di sana, mereka akan diberi pemahaman tentang program yang akan dijalani selanjutnya.
 
“Kemudian ada juga Green House, yakni rumah pelatihan dan pendidikan para pecandu laki-laki yang berusia kurang dari 35 tahun. Mereka akan dilatih sikap, tingkah laku, dan kepribadian selama 4 bulan agar bisa siap saat kembali ke tengah masyarakat,” kata Hari.
 
Untuk yang telah berulang masuk rehabilitasi, para pecandu dimasukkan ke House of Hope. Berbeda dengan Green House, di rumah ini residen akan diubah pola pikirnya agar tidak terikat dengan narkoba dan diterima masyarakat.
 
“Itu untuk warga biasa. Untuk PNS, anggota militer, polisi, atau pejabat negara Babesrehab BNN menyediakan  House of Change (HoC).  Program di rumah ini juga berlangsung selama 4 bulan,” ujar dia.
 
Dikatakan Hari, Babesrehab BNN memberikan segenap programnya dengan tetap memberikan layanan medis secara cuma-cuma. Terkecuali, jika menyangkut penyakit luar meskipun hal itu cenderung menempel pada diri pecandu, semisal HIV/AIDS, TBC, dan diabetes.
 
“Biaya itu ditanggung keluarga,” kata Hari.
 
Bagian dalam gedung utama Babesrehab BNN ini tampil layaknya rumah sakit. Di beberapa sudut bangunan tersedia  poliklinik gigi dan keperluan pemeriksaan kesehatan lainnya. Secara rutin, para residen diarahkan untuk mengontrol kesehatan hingga masa rehabilitasi tuntas.
 
Dengan anggaran total dari APBN, Babesrehab BNN menanggung hampir semua kebutuhan residen. Mereka yang menjalani rehabilitasi mendapatkan jatah makan berat 3 kali, juga 2 kali makanan ringan. Di samping itu, perpustakaan megah, bioskop mini, ruang fitness yang mewah melengkapi gedung-gedung yang berdiri di atas tanah milik Polri tersebut.
 
“Tapi, fasilitas penunjang itu tidak kami berikan cuma-cuma. Kami sediakan sebagai reward bagi yang menjalani rehab dengan progres yang baik. Kira-kira, per residen menelan biaya 4 juta rupiah per bulannya,” kata Hari.
 
Babesrehab, dikatakan Hari sebagai bukti peran dan kepedulian negara dalam pemberantasan narkoba dari sisi rehabilitasi. Meski begitu, dukungan masyarakat dan keluarga menjadi faktor penentu keberhasilan proses pemulihan tersebut.
 
“Di sini yang kami tekan hanya penangan medis, peningkatan kedisiplinan, dan permenungan. Selebihnya dikembalikan kepada residen sendiri,” tandas Hari.


(ADM)