Menyedot Perhatian Setahun Terakhir

Mohammad Adam    •    19 Desember 2016 21:35 WIB
Menyedot Perhatian Setahun Terakhir
Menteri ESDM Sudirman Said melapor ke MKD terkait oknum anggota DPR yang mencatut nama Presiden Joko Widodo dan Wapres Jusuf Kalla untuk meminta saham pada PT Freeport Indonesia. (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)

Metrotvnews.com, Jakarta: Dalam laporan hasil risetnya yang bertajuk Media dan Kelompok Rentan di Indonesia, Yanuar Nugroho bersama anggota tim peneliti lainnya menyebut bahwa media berperan sentral dalam masyarakat saat ini. Dalam masyarakat modern, tidak ada perkara sosial yang tidak melibatkan media. Esensi dari media tidak bisa dipisahkan dari persoalan antara ranah publik dan privat, yang kerap kali problematis.



Tujuan adanya media adalah untuk menyediakan sebuah ruang di mana publik dapat berinteraksi dan terlibat secara leluasa terkait hal-hal yang berkenaan dengan keprihatinan publik. Dengan kekuatan media, gagasan privat bisa dengan cepat menjadi opini publik. Sepanjang tahun 2016, di Indonesia ada tiga tokoh yang mendominasi pemberitaan di media dan paling banyak mendapat sorotan masyarakat. Antara lain adalah Basuki Tjahaja Purnama, Jessica Kumala Wongso, dan Setya Novanto.

Survei yang dilakukan Indonesia Indicator mengenai tokoh terpopuler 2016 menemukan bahwa Basuki Tjahaja Purnama menempati posisi kedua dengan 244.210 pemberitaan selama kurun Januari hingga November 2016. Dengan demikian, Ahok -sapaan Gubernur DKI Jakarta ini- hanya setingkat di bawah Presiden RI Joko Widodo peraih peringkat pertama yang mencapai 358.558 pemberitaan.

Baca: Pentas Ahok di Panggung 2016

Adapun Jessica, menjadi tokoh yang mendadak terkenal setelah jadi bahan gunjingan masyarakat lantaran dituduh meracuni sahabatnya dalam pertemuan minum kopi. Popularitas Jessica, menurut hasil survei yang sama, mencapai 32.994 pemberitaan.

Baca: Jessica dan Misteri Racun Sianida

Sedangkan Novanto mencatat rekor 30.794 pemberitaan. Namanya mencuat setelah publik mengolok-oloknya atas skandal kode etik selaku pemimpin parlemen yang melobi eksekutif PT Freeport Indonesia, perusahaan tambang emas terbesar di dunia. Kasusnya menyedot perhatian khalayak luas, masyarakat sampai mengikuti siaran langsung di televisi yang menayangkan sidang yang digelar Majelis Kehormatan DPR RI terhadap Novanto. Sempat mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Ketua DPR RI, namun akhirnya ia diangkat kembali untuk posisi tersebut jelang akhir tahun ini.  

Baca: Pergi dan Kembali Setya Novanto

Kepala Divisi Riset Indonesia Indicator, Wildan Pramudya, menilai fenomena tiga tokoh ini mencerminkan bahwa pemberitaan yang sensasional lebih mendominasi ketimbang yang substansial. Ironinya, sensasi berita yang dimaksud adalah dalam pengertian yang negatif.

"Politik media juga mempengaruhi dalam hal ini. Seolah menggiring opini publik untuk memojokkan seseorang. Karena, lebih banyak menampilkan aspek sensasinya ketimbang substansinya," ujar Wildan kepada metrotvnews.com, Kamis (15/12/2016).

Mestinya, menurut dia, media memahami bagaimana rasionalitas publik bisa dibentuk. Sehingga ada lebih banyak kehati-hatian mengenai batasan antara ranah privat dan publik.

Pada sisi lain, kemajuan tekonologi komunikasi yang ditunjang dengan kehadiran internet dan media sosial turut berperan dalam menyebarluaskan informasi maupun berita yang memojokkan itu. Socialmediatoday.com merilis data sebanyak 85 persen pengguna menjadikan Facebook dan Twitter sebagai sumber pertama di pagi hari.

Facebook dipakai 1,7 miliar orang per bulan dan pengguna harian Twitter sekitar 140 juta orang.  Jangan heran jika dua platform media sosial itu dijadikan saluran penyebaran berita, baik yang kredibel maupun hoax.

Media sosial memberikan pola baru bagi masyarakat dalam menerima informasi. Media siber, sebagai sesuatu yang klop dalam dunia itu dianggap lebih praktis dan menghadirkan tradisi tersendiri. Singkat, cepat dan praktis.

Pakar Ilmu Komunikasi dari Universitas Hasanddin Makassar, Syamsuddin Aziz, MPhil, PhD mengatakan, fenomena persebaran informasi yang tengah terjadi di dunia maya hari ini adalah satu babak yang tidak bisa tidak mesti dilewati.
 


(ADM)