Menggali Potensi Pariwisata

Mohammad Adam    •    15 Februari 2016 23:12 WIB
Menggali Potensi Pariwisata
Sejumlah wisatawan berfoto saat menyaksikan matahari terbit pertama pada tahun 2016 di Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. (foto: MI/Arya Manggala)

Metrotvnews.com, Jakarta: Instruksi Presiden Joko Widodo kepada Menteri Pariwisata Arief Yahya yang disampaikan di Jakarta, 2 Februari 2016, adalah agar pembangunan di sepuluh daerah tujuan wisata yang telah dicanangkan pemerintah bisa segera diselesaikan. Hal ini demi target menarik 20 juta kunjungan wisatawan mancanegara pada tahun ini bisa tercapai.



Sepuluh destinasi prioritas tersebut meliputi Candi Borobudur, Mandalika, Labuhan Bajo, Bromo-Tengger-Semeru, Kepulauan Seribu, Danau Toba, Wakatobi, Tanjung Lesung, Morotai, dan Tanjung Layang. Akselerasi sektor pariwisata dinilai dapat memberikan kontribusi bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Target paling realistis tahun ini adalah 12 juta kunjungan wisman dengan devisa sebesar Rp172 triliun tahun ini. Tahun lalu, kunjungan wisman mencapai 10,4 juta dan menghasilkan Rp144 triliun.

UMKM, industri kreatif dan lapangan kerja baru juga bisa tercipta. Diperlukan sebuah kecepatan terobosan baik regulasi maupun pekerjaan di lapangan sehingga hasilnya segera bisa kita nikmati.

Terkait pengembangan Danau Toba, bekas Gubernur DKI Jakarta ini meminta penguatan konektivitas dan aksesibilitas, baik di pelabuhan maupun bandara. Termasuk membangun sarana dan prasarana, sehingga wilayah tersebut diminati wisatawan. Dia juga menekankan pentingnya promosi seperti menggelar Festival Danau Toba.

"Saya harapkan ini segera ditindaklanjuti di lapangan dan saya juga menekankan agar disiapkan branding untuk pemasarannya," kata Jokowi.

Mari sejenak menelaah ini. Peningkatan arus perjalanan manusia di seluruh dunia belakangan ini memang menjadi fenomena unik yang patut mendapat perhatian. Perjalanan antar negara khususnya pariwisata seolah-olah meniadakan batas negara itu sendiri. Dari sudut pandang ekonomi, pariwisata membawa devisa yang melimpah bagi negara tujuan. Sebagai salah satu negara tujuan pariwisata, Indonesia semestinya bisa turut menikmati manfaat itu dari kedatangan turis mancanegara.

Sudah banyak cerita tentang keberhasilan pariwisata dalam menopang pendapatan devisa negara. Namun, pariwisata tidak hanya berdampak pada kenaikan pertumbuhan ekonomi saja. Banyak aspek yang juga berdampak negatif akibat dari pembangunan pariwisata.

Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki segudang obyek pariwisata yang tidak ternilai harganya. Pariwisata merupakan salah satu ujung tombak perekonomian Indonesia mengingat banyaknya tujuan wisaya yang sangat digemari turis mancanegara, mulai dari pantai tropis yang hangat, pengunungan yang hijau, situs-situs purbakala, seni dan kebudayaan yang beragam dan masih banyak lagi obyek wisata di Indonesia.
 
Semua itu merupakan identitas asli Indonesia yang harus dijaga kelestarian serta keberadaannya.

Pengembangan pariwisata dewasa ini ditengarai membawa dampak serius bagi kelestarian budaya di Indonesia. Ada pula kekhawatiran tentang kedatangan turis mancanegara mengikis nilai-nilai budaya di dalam kehidupan masyarakat. Pengaruh yang dibawa oleh turis mancanegara secara tidak langsung juga mengubah pola hidup masyarakat tujuan wisata.

Contohnya, gaya hidup ala barat mulai terlihat di berbagai sudut kota di Indonesia, terutama daerah-daerah tujuan  parwisata.

Untuk itu butuh pertimbangan serta kebijakan yang baik untuk meminimalisasi efek negatif yang ditimbulkan oleh pembangunan pariwisata.

Pemberlakukan persaingan bebas di pasar regional atau yang lebih sering diistilahkan dengan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) menjadi tantangan yang harus ditangani secara serius oleh masyarakat Indonesia. Ancaman terjadinya gempuran produk-produk luar negeri ke pasar domestik membuat pekerjaan rumah bagi  pemerintah di masa pemerintahan Jokowi-JK semakin besar.

Maka, tentu pemerintah perlu menyusun strategi pembangunan dan pemberdayaan sumber daya di Indonesia. Sebab, yang dipertaruhkan di sini adalah kesejahteraan masyarakat di masa depan.

Industri pariwisata dapat menjadi salah satu cara untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, yakni dengan pemberdayaan mata rantai ekonomi industri kreatif. Di sisi lain,  jika tidak ingin ketinggalan dengan negara ASEAN lainnya, pemimpin Indonesia ke depan pun harus memiliki komitmen yang tinggi dalam perencanaan dan pembangunan pariwisata berkelanjutan.

Saat ini, pariwisata Indonesia masih tertinggal dengan Thailand, Singapura dan Malaysia. Padahal Indonesia memiliki keunggulan kompetitif yang tidak kalah menarik dengan tiga negara tersebut. Indonesia harus mampu menjadikan dan memberdayakan potensi wisata, baik dari segi budaya, alam, bahari, kuliner, sejarah, dan seluruh kekayaan yang dimiliki.

Pemanfaatan sektor pariwisata menjadi model dan strategi baru dalam pembangunan ekonomi nasional ditengah goncangan krisis negara-negara maju, termasuk Eropa. Sebab, hal ini dapat menciptakan mata rantai industri di berbagai sektor, baik barang maupun jasa. Seperti industri perhotelan dan losmen, souvenir yang dikembangkan melalui industri kreatif kecil dan menengah, industri biro perjalanan (tour and travel agency), dan lain sebagainya.

Meskipun, pada kenyataanya perkembangan pariwisata juga berdampak pada pencemaran lingkungan dan terjadinya degradasi budaya lokal. Sehingga, untuk menjaga agar  pertumbuhan dan perkembangan pariwisata nasional yang berkelanjutan tanpa harus berdampak negatif bagi lingkungan dan budaya lokal, maka pemerintah perlu memberikan perhatian dan strategi khusus.
 
Di sisi lain, Indonesia harus mampu memanfaatkan industri kreatif menjadi daya tarik tersendiri. Meskipun pada dasarnya ASEAN telah menyepakati Strategi Pemasaran Pariwsata ASEAN akan tetapi Indonesia masih harus merancang dan memikirkan strategi baru dalam menarik wisatawan asing. Hal ini dikarenakan dalam kerja sama pariwisata ASEAN masih sangat memungkinakan bagi sesama anggota untuk saling berkompetisi dalam mendapatkan keuntungan.
 


(ADM)