Jawara Silat dan Identitas Anti Penjajah

Sobih AW Adnan    •    07 Maret 2016 23:56 WIB
Jawara Silat dan Identitas Anti Penjajah
Warga melintas di dalam kompleks Benteng Willem II di Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, tempat Pangeran Diponegoro ditahan sebelum diasingkan ke Makassar, Sulawesi Selatan. (foto: Antara/Aditya Pradana Putra)

Metrotvnews.com, Jakarta: Sorot matanya tajam. Kuda-kudanya kekar. Berpeci dan berselempang sarung dengan celana kampret warna hitam, Si Pitung selalu datang untuk menolong orang-orang, memenangakan pertarungan, lantas kembali menyingkir, dan menghilang.
 
Paling tidak, inilah adegan khas yang paling sering ditemukan dalam sebuah film lawas berjudul “Si Pitung”. Si Pitung, yang saat itu diperankan aktor kawakan Dicky Zulkarnaen tampak begitu gesit dan ulet memainkan golok dan aneka ragam jurus pencak silat guna menaklukkan antek-antek kompeni yang gemar memeras keringat dan darah rakyat pribumi.
 
Dari selintas film yang pernah masyhur pada zamannya itu, sang sutradara, Nawa Ismail, tampaknya menghayati betul legenda lisan tentang tokoh asal Betawi hingga kemudian ia jadikan judul dalam film yang digarap pada 1970 tersebut. Melalui film Si Pitung, Nawi sedikit banyak telah mengantarkan gambaran bagi para penonton tentang sekelumit peran dan sisi kehidupan para jawara di masa kolonial.
 
Selain Si Pitung, masa penjajahan Belanda juga melahirkan puluhan bahkan ratusan tokoh lain dengan peran dan kisah yang hampir mirip di berbagai daerah. Masih di Betawi, dikenal pula tokoh bernama Si Jampang dan Si Ronda, tokoh  Sakerah di Jawa Timur, atau Mat Depok di Jawa Barat. Semua tak lain adalah para jawara, para pembela kebenaran dengan kelihaiannya memainkan tradisi bela diri Nusantara; pencak silat.
 
Dari mana pencak silat bermula?
Konon, silat bermakna silaturrahmi, alias semangat persaudaraan. Pada mulanya, seni bela diri ini muncul dari kebutuhan manusia dalam menghadapi tantangan alam. Banyak kisah menceritakan, pencak silat merupakan hasil adaptasi dari gerak lincah yang dilakukan para hewan di hutan-hutan. Harimau, kera, elang dan ular adalah binatang yang sering diserap menjadi  aneka jurus dalam ratusan aliran pencak silat.
 
Persebaran tradisi pencak silat dimulai pada abad 7 masehi. Menurut peneliti Donald F. Drager, keberadaan pencak silat pada masa itu bisa dibuktikan oleh berbagai relief yang menggambarkan posisi kuda-kuda di Candi Prambanan dan Borobudur, Jawa Tengah. Bukti lain juga bisa dilihat dari beragam artefak tinggalan masa klasik Hindu-Budha.
 
Sejarawan Nusantara, KH Agus Sunyoto menyebut pencak silat sebagai tradisi bela diri asli milik Nusantara. Di beberapa bagian, ia terus mengalami perkembangan dan mendapatkan sedikit sentuhan dari Tiongkok, India dan Persia.
 
“Berbeda dengan ilmu olah keprajuritan yang berkaitan dengan perang atau byuha, silat bersifat individual, dalam arti tidak digunakan untuk pertahanan diri bersifat massal," kata Agus Sunyoto kepada Metrotvnews.com.
 
Dari segi istilah, silat digunakan pertama kali di dataran Sumatera, semenanjung Malaya, pulau Jawa bagian barat dan Sulawesi. Sementara istilah pencak, dipakai di  pulau Jawa bagian timur.
 
“Pencak silat dikenal sebagian besar masyarakat rumpun Melayu dengan nama yang berbeda-beda. Istilah gayong dan cekak cukup masyhur di semenanjung Malaysia dan Singapura, bersilat di Thailand, dan pesilat di Filipina,” kata dia.
 
Indonesia menjadi tempat paling subur dalam perkembangan pencak silat. Kesenian ini tersebar dari mulut ke mulut hingga merangsek ke segala sudut geografi yang ada. Akibat persebaran ini, walhasil, pencak silat di Indonesia sekarang ini paling tidak memiliki sebanyak 600 jenis dan aliran.
 
“Meski bersumber dari dasar yang sama yakni selalu ditandai oleh sikap, gerak, kuda-kuda, langkah, kembangan, jurus, sapuan, guntingan, kuncian, dan Buah. Namun aliran-aliran berkembang secara alamiah akibat kreativitas guru silat yang kadang memadukan unsur dari luar. Begitulah kemudian dikenal silat aliran Cimande, Cikalong, Winongo, Perisai Diri, dan lainnya,” kata Kiai Agus.
 
Pencak silat, Islam dan perlawanan
Seni pencak silat mengalami perkembangan pesat seiring penyebaran agama Islam di Nusantara. Pengaruh persebaran ini juga didorong oleh komunitas Tionghoa yang memiliki kecakapan bela diri dan sudah menetap di bumi Nusantara sejak abad 12 masehi.
 
Menurut KH Agus Sunyoto, dengan modal dan latar belakang bela diri yang dimiliki warga Tionghoa beragama muslim saat itu, terutama yang berasal dari China Utara, mereka turut menyebarkan pencak silat yang sudah ada ke daerah-daerah secara lebih luas.
 
“Inilah cikal bakal dari keidentikan pencak silat dengan dunia pesantren, pusat kajian agama Islam saat itu. Arsip kolonial mencatat bahwa sepanjang tahun 1800 sampai 1900 masehi telah terjadi sebanyak 112 kali pemberontakan yang dipimpin guru tarekat dan kiai pesantren yang tak lain adalah para pendekar dan jawara pencak silat,” kata dia.
 
Sejak masa pra-kolonial, pencak silat dipelajari di tempat-tempat pendidikan dan pelatihan yang disebut peguron. Di tempat itu,  murid-murid diajari seni mempertahankan diri dengan gerakan-gerakan indah, juga dibekali ilmu kadigdayan, kawedugan, jaya kawijayan yang bersifat mistis.
 
“Pada masa Kesultanan Banten, berkembang tarekat Rifa'iyyah yang mengajarkan dabus sebagai metode evaluasi dalam suluk. Dabus itu kemudian diserap ke dalam ilmu pencak silat. Tokoh pembawa dabus di Banten adalah Syekh Yusuf Tajul Khalwati al-Makassari, yang beroleh ijazah dari Syekh Nuruddin ar-Raniri,” kata pria yang juga menjadi pembina Ikatan Pencak Silat Nahdlatul Ulama (IPSNU) Pagarnusa tersebut.
 
Pada era kolonial, para jawara silat bahkan tidak hanya berhadapan dengan penjajah secara langsung. Pemerintah Belanda yang saat itu begitu tren memakai taktik pecah belah pada akhirnya memunculkan jawara-jawara pencak silat yang dibayar untuk menjaga mereka. Mereka yang tergoda, akan lebih memilih menjadi centeng dan bertarung dengan saudara sendiri.
 
“Adu domba antarpesilat oleh kolonial bukan sesuatu yang aneh, melainkan justru menjadi siasat untuk melumpuhkan perlawanan rakyat. Di Jawa Timur dalam cerita ludruk dikenal kisah Pak Sakerah yang dikhianati saudara seperguruannya, pendekar Asik dan Bakri. Dalam cerita seperti Si Jampang, Si Pitung, tergambar bagaimana pesilat yang disebut jawara menjadi centeng-centeng kolonial yang kejam,” kata Agus.

 
(ADM)