Evolusi Kota Taman

Coki Lubis    •    06 Maret 2017 15:24 WIB
Evolusi Kota Taman
Warga melakukan olahraga pagi di Taman Suropati, Jakarta. Pemprov DKI Jakarta berencana membangun 63 taman kota baru dengan total luas 49,3 hektar. (ANTARA/Akbar Nugroho Gumay).

Metrotvnews.com, Jakarta: Rindang dan nyaman. Sudah tentu gambaran itu yang terekam tatkala sambangi Taman Suropati, Menteng, Jakarta Pusat. Tapi, jangan remehkan keberadaan raudah yang berlokasi di pertemuan Jl Diponegoro dan Jl Imam Bonjol itu. Dari pergulatan kemerdekaan Republik Indonesia, hingga upaya pendudukan komunitas warga, warnai perjalanan taman warisan Belanda ini.
 
Gerombolan burung merpati sesekali terlihat, lepas bebas di sekitar rumah panggungnya yang tinggi. Inilah yang menjadi khas dari Taman Suropati, selain patung-patung artistik yang menghiasinya.
 
Sembari menikmati jajanan sekitar, tua-muda tampak berbaur. Ada yang sekadar bercengkerama, mengaktualisasi hobi, ada pula yang berolahraga. Suasana pagi di Taman Suropati, Minggu 5 Maret 2017, tampak semarak.
 
Saat tengah hari menjelang, panas tak begitu terasa. Kebetulan siang itu matahari tak terlalu menyengat. Namun, banyak yang mengakui, meski terik sekalipun, taman tetap terasa sejuk. Bagaimana tidak, toh ada 93 pohon besar memayungi taman seluas 16.328 meter persegi itu. Ada pohon Sawo Kecik, Tanjung, Mahoni, Ketapang, Bungur, juga Khaya.
 
Yang pertama
 
Bukan hanya karena rimbun, burung merpati, juga patung dan monumen bernilai seni tinggi yang membuat Taman Suropati berbeda dengan taman lainnya di Jakarta. Namun, taman yang awalnya bernama Burgemeester Bisschopplein ini sulit dilepaskan dari sejarah kawasan Menteng.
 
Kawasan itu dahulu bernama Nieuw-Gondangdia, dan menjadi pelopor pemukiman elite di tanah Batavia. Pengembangnya adalah real estate pertama Hindia Belanda, NV De Bouwploeg. Pada 1910, Pieter Adrianss Jacobus Moojen, arsitek yang juga bos NV De Bouwploeg, merancang kawasan hunian itu dengan pola radial. Dewan Kotapraja setuju, dan pada 1912 pembangunan dimulai. Rancangan itu kemudian dikenal sebagai Rencana Moojen.
 
Bukit yang berada di pusat kawasan tersebut diratakan dan dijadikan taman yang amat luas. Bentuknya bundar, dipenuhi aneka pohon dan bunga. Nama Burgemeester Bisschopplein sendiri terilhami dari nama Wali kota (Burgemeester) Batavia saat itu, G.J. Bisshop (1916-1920).
 
Saking hijaunya kawasan ini, penulis Adolf Heuken mengatakan, Menteng adalah wilayah hunian tertata pertama di Indonesia, pula berorientasi taman. Bahkan, bukunya yang bercerita tentang kawasan tersebut diberi judul: Menteng 'Kota Taman' Pertama di Indonesia.
 
Di titik nol RI
 
Pembangunan Taman Burgemeester Bisschopplein rampung. Di sekitarnya, tepatnya di ujung Nassau Boulevard (kini Jl. Imam Bonjol), dibangun sebuah villa alias rumah indah nan besar. Villa itu disewakan kepada Kerajaan Inggris, lantas dijadikan kediaman resmi konsulatnya di Batavia.
 
Pada 1942, saat Perang Dunia kedua meletus, Jepang menguasai Jakarta. Konsulat Inggris terpaksa angkat kaki. Villa itu kemudian dihuni Laksamana Muda Tadashi Maeda, kepala Kaigun Bukanfu.
 
Tiga tahun berselang, pada 17 Agustus 1945 dini hari, Maeda yang mendukung pergerakan kemerdekaan Indonesia, mengizinkan kediamannya dipakai untuk pertemuan para pemimpin Indonesia saat itu. Di sana, Sukarno, Mohammad Hatta dan tokoh lainnya merumuskan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia.
 
Tak ayal banyak ahli dan pecinta sejarah menyebut rumah besar itu adalah titik nol Republik Indonesia. Ya. Para pendiri bangsa mengentakan langkah pertama revolusi Indonesia di villa itu, di tengah hijaunya Menteng, di sekitar Taman Burgemeester Bisschopplein.
 
Kini, rumah itu menjadi Museum Perumusan Naskah Proklamasi, di Jalan Imam Bonjol No. 1, Menteng, Jakarta Pusat.



Okupasi
Sejumlah remaja dari Komunitas musik Taman Suropati Chambers (TSC) bermain musik di Taman Suropati, Jakarta. (ANTARA /Muhammad Adimaja)

 
Perkembangan zaman dan dinamika sosial tak banyak merubah kawasan Menteng. Begitupula Taman Burgemeester Bisschopplein, tetap teduh. Hanya saja, di alam kemerdekaan, namanya diubah menjadi Taman Suropati.
 
Namun, yang paling mencolok adalah citra negatif yang sempat melekat erat di taman itu. Dianggap sebagai tempat "mojok" muda-mudi ibukota. Kerap dimanfaatkan sebagai tempat mesum hingga menggunakan narkoba. Kesan rawan kriminal turut muncul.
 
Paling tidak hingga akhir 1990-an, nyaris semua taman di Jakarta dipandang buruk seperti itu. Dalam konteks fungsi, boleh dikata masa-masa itu adalah titik nol-nya citra taman.
 
"Kira-kira sepuluh tahun yang lalu saja kesan itu masih ada di Taman Suropati," ujar Agustinus Esthi Dwiharso, inisiator komunitas Taman Suropati (Tamsur) Chamber, kepada Metrotvnews.com, Kamis, 2 Maret 2017.
 
Perlahan tapi pasti, perubahan terjadi. Dari citra buruk Taman Suropati, pria yang akrab di sapa Ages itu bersama komunitasnya memberanikan diri mengokupasinya. Menurut dia, dari situ evolusi dimulai. “Saat itu tahun 1997,” kenangnya.
 
Ages meyakini bahwa taman adalah ruang publik yang semua orang berhak menggunakannya. Dirinya optimis bahwa citra Taman Suropati bisa dibenahi melalui kegiatan yang positif. Harapannya yang lain, Taman Suropati bisa menjadi sanggar terbuka untuk komunitas musik alamnya.
 
“Saya melihat peluang itu. Kenapa tidak kami gunakan. Lah, wong yang tidak positif saja bisa," kata Ages.
 
Langkah pendudukan itu diikuti komunitas warga lainnya. Tamsur Chamber tidak sendiri. Secara fisik aksi pendudukan ruang publik oleh komunitas warga berhasil.
 
Hanya saja pada awalnya ada sedikit gangguan, yaitu, pungutan liar. Alasannya macam-macam, di antaranya mengatasnamakan Karang Taruna. "Ironis. Yang memintai uang justru orang-orang berseragam," keluh Ages.
 
Tapi, dia mengatakan hal itu sudah tidak lagi ditemui saat ini. "Karena dulu, setelah beberapa kali (dimintai uang), kita meminta bukti pembayaran, kuitansi dari mereka. Sejak itulah mereka tidak datang lagi meminta uang."
 
Seiring itu, langkah komunitas warga mulai sejalan dengan menguatnya niat Pemprov DKI Jakarta untuk mengembalikan fungsi taman. Kebersihannya pun membuat orang segan untuk mengotori taman warisan Belanda itu. Saat ini saja, sedikitnya ada 17 petugas kebersihan yang dalam sehari membersihkan taman tiga hingga empat kali.
 
Hingga kini, paling tidak ada belasan komunitas warga yang menjadikan Taman Suropati sebagai tempat aktualisasi dan ruang interaksinya. Mulai dari komunitas reptil hingga komunitas senam yoga ada di sini. Bahkan, Tamsur Chamber, dengan irama tradisional dan lagu-lagu daerah yang dibawakan ala orkestra, menjadi bagian dari keunikan Taman Suropati.
 
Inilah kisah ruang publik dan ruang terbuka hijau bersejarah di Jakarta. Setia menyejukkan titik nol RI dan dijaga citranya oleh komunitas warga. Dalam bentangan hijau itu pula, warga bisa saling mengenal, menyapa, melempar senyum, di tengah pengapnya ibukota.


Sejumlah anak bermain di Taman Kota Suropati, Jakarta. Rencana pemerintah kota DKI Jakarta untuk membangun konsep kota yang ramah lingkungan dengan mewujudkan ruang terbuka hijau (RTH) sebesar 30% dari luas kota belum maksimal. (MI/Galih Pradipta
).


(ADM)