Gerakan Abadi Rosario Merah Putih

Sri Yanti Nainggolan    •    25 Desember 2018 16:44 WIB
Gerakan Abadi Rosario Merah Putih
Ilustrasi: Seorang anak memanjatkan doa sambil menggenggam rosario merah putih. (Metro TV)

TIGA tahun sudah gerakan itu digaungkan oleh gerejawan Katolik. Gerakan itu adalah Rosario Merah Putih, yang dicanangkan Keuskupan Agung Jakarta sejak 2016.



Rosario atau tasbih berwarna merah dan putih itu memang tak lazim. Tapi pewarnaan itu juga bukan tanpa makna. Saat itu, Uskup Agung Jakarta Mgr. Ignatius Suharyo ingin agar umat Katolik selalu mengingat jati dirinya sebagai bangsa Indonesia. Dia berharap umat Katolik selalu menyertakan persatuan dan kesejahteraan Indonesia dalam doa-doanya. Selain itu, aksi simbolik ini juga sebagai upaya mencegah perpecahan bangsa Indonesia.

Tak hanya untaian rosario, banyak lagi nilai-nilai identitas bangsa yang diserap ke dalam kultur gereja. Di antaranya, hadirnya 'Garuda Pancasila' di halaman pintu samping Gereja Katedral, Jakarta.

Bahkan, pada 13 Mei 2018 lalu Suharyo telah memberkati sebuah replika Bunda Maria yang mengenakan kebaya dan kerudung bercorak merah putih, dengan lambang Garuda yang bertahta di dadanya. Kini, patung tersebut terpajang dan menghiasi misa Natal tahun ini di Katedral.



Uskup Agung Jakarta Ignatius Suharyo (kanan) dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (kedua kanan), bersama perwakilan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), berfoto di depan patung Garuda Pancasila di Gereja Katedral, Jakarta (Senin, 24/12/2018). (ANTARA)



Patung Bunda Maria mengenakan kebaya bercorak merah putih dengan lambang Garuda di bagian dada, terpajang di Gereja Katedral, Jakarta, saat misa Natal, Selasa (25/12/2018). (Media Indonesia)

 

Rosario Merah Putih bukan sekadar simbol

Semangat Rosario Merah Putih tidak terpusat di keuskupan saja, namun merembes ke semua gereja. Salah satunya Gereja Santa Maria de Fatima di Glodok, Jakarta.

Gereja ini jauh dari kesan eropa. Bangunannya bergaya klenteng alias tempat ibadah penganut kepercayaan tradisional Tionghoa, bernuansa merah, kuning emas, dan hijau daun.

Sang Kepala Paroki Pastor Fernando SX mengatakan, sudah sejak dahulu keberagaman menjadi bagian dari Gereja Santa Maria de Fatima. Jadi, tatkala Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) mendorong agar ditumbuhkannya nilai-nilai Pancasila di setiap Gereja Katolik, Gereja Santa Maria de Fatima sudah terbiasa soal itu.



Gereja Santa Maria de Fatima


Kebetulan, kata Fernando, tahun ketiga ini temanya persatuan, sesuai dengan sila ke-3. Sementara tahun 2019 nanti mengusung tema Tahun Hikmat, yang bersumber dari sila keempat Pancasila.

"Membuka jendela supaya udara segar masuk. Artinya terbuka, melihat dunia. Jangan hanya hidup beriman di altar, tetapi (juga) di sekitar pasar," katanya saat kami temui di Gereja Santa Maria de Fatima, Rabu, 19 Desember 2018 

Untuk menjalankan amanah KAJ, yang dilakukan pihak gereja adalah memperkuat rutinitas komunikasinya dengan masyarakat, pengurus masjid di sekitar, juga organisasi masyarakat seperti Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM).



Pastor Fernando, SX. (Medcom/Yanti Nainggolan)


Komunikasi itu berbuah hasil. Menurut Ketua Seksi Hubungan Antar Agama dan Kemasyarakatan (HAAK) Gereja Santa Maria de Fatima, Amos Samudra Budiman, mereka sering menggelar kegiatan bersama. Beberapa di antaranya adalah Doa Bersama pada Januari 2018, dan Seminar Nasional pada 6 Mei 2018.

Terakhir, saat memperingati Hari Pangan Sedunia pada 11 November 2018 lalu. Acara itu dirancang bersama, melibatkan 30 orang panitia yang merupakan perwakilan gereja Kristen, Vihara, dan pengurus masjid.

"Kehidupan bertetangga yang saling menghormati tak hanya dijalin secara personal. Kalau bisa, institusi pun dekat satu sama lain," kata Amos.

Bagi Pastor Fernando, Amos, dan seluruh pengurus gereja, langkah bersama itulah penjelmaan Rosario Merah Putih yang melekat di hati umat Katolik.



 


(COK)