Terjerat Kasus Pornografi

Wanda Indana    •    29 Mei 2017 12:49 WIB
Terjerat Kasus Pornografi
Firza Husein memenuhi panggilan di Reskrimsus, Polda Metro Jaya, Jakarta, Selasa 16 Mei 2017 . (MI/Arya Manggala)

Metrotvnews.com, Jakarta: Jumat, 27 Januari, jagat maya tiba-tiba dibikin geger. Sebuah jejaring (website) mengunggah gambar tangkapan layar (screen captured) percakapan WhatsApp (WA) bernuansa mesum disertai foto-foto bugil dan rekaman suara perempuan. Percakapan itu diduga dilakukan Firza Husein dengan seorang pimpinan sebuah organisasi masyarakat.



Makin tak terkendali. Orang-orang yang tak bertanggungjawab ramai-ramai ikut menyebar-luaskan rekaman dan gambar percakapan tak elok itu. Walhasil, masyarakat bertambah resah. Tak tinggal diam, Aliansi Mahasiswa Anti Pornografi buru-buru melaporkan tiga situs yang mengandung konten pornografi tersebut ke Polda Metro Jaya, Senin 30 Januari, malam. Tak lama kemudian, aparat pemerintah pun segera ambil tindakan terhadap ketiga situs itu: www.baladacintarizieq.com, www.4nSh0t.com, dan www.s05exybib.com, langsung diblokir.

Polda Metro Jaya lekas mengembangkan kasus. Selasa 31 Januari, polisi menggeledah rumah Firza di Lubang Buaya, Jakarta Timur. Dari rumah Firza, polisi menyita televisi, sprei, dan bantal.

Polisi juga memanggil dan memeriksa Firza, dan orang terdekatnya, termasuk Fatimah Husein Assegaf alias Kak Emma. Nama Kak Emma juga disebut-sebut dalam rekaman suara dan percakapan WA. Firza sempat dua kali mangkir dari panggilan polisi.

Selasa, 16 Mei, Firza memenuhi panggilan polisi untuk diperiksa sebagai saksi. Dia diperiksa sedari pagi hingga malam. Sekira pukul 22:00 WIB, polisi langsung menetapkan Firza sebagai tersangka kasus pornografi. Penetapan tersangka dilakukan setelah polisi mengantongi dua alat bukti .

"Alat bukti dinyatakan cukup. Firza resmi ditetapkan sebagai tersangka," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono di Mapolda Metro Jaya.



Mulai dikenal

Sosok Firza memang membikin gempar. Firza mulai membetot perhatian publik saat tersangkut kasus dugaan makar. Firza ditangkap menjelang unjuk rasa pertengahan Desember 2016 yang dikenal dengan Aksi Damai 212.

Pagi itu, aparat Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya mengamankan 10 orang yang diduga menjadi biang rencana makar. Mereka adalah; Rachmawati Soekarnoputri, Ratna Sarumpaet, Sri Bintang Pamungkas, Eko Suryo Santjojo, Kivlan Zen, Ahmad Dhani, Zamran, Rizal, Alvin Indra, dan Firza Husein.

Polisi menetapkan delapan dari 10 orang yang diperiksa sebagai tersangka. Firza salah satu dari delapan terperiksa yang ditetapkan sebagai tersangka. Para terduga pelaku makar digelandang ke Markas Korps Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, untuk diperiksa lebih lanjut. Kurang dari 19 jam diperiksa, Firza diizinkan pulang ke rumah karena bersikap kooperatif selama pemeriksaan.

Kapolda Metro Jaya Irjen Mochamad Iriawan mengatakan, Firza diketahui sebagai salah satu pemegang dana untuk pengadaan mobil komando. Hal itu dikuatkan dengan keterangan musisi Ahmad Dhani yang juga diperiksa sebagai saksi dalam kasus dugaan makar.

"Salah satu pemegang dana untuk mengambil mobil komando yaitu Firza," ujar Iriawan di Mapolda Metro Jaya, Kamis 5 Januari 2017.

Firza merupakan wanita pengagum Presiden ke-2 RI, Soeharto. Dia bersama teman-temannya, mendirikan Ketua Yayasan Solidaritas Sahabat Cendana (SSC). Dia didapuk sebagai Ketua SSC. Penggunaan kata ‘Cendana’ merujuk pada keluarga mendiang Soeharto.

Belakangan, Firza lagi-lagi tersangkut masalah lantaran menggunakan kata ‘Cendana’ pada nama yayasannya. Anak Soeharto, Hutomo Mandala Putra atau yang dikenal dengan sebutan Tommy Soeharto tak terima dengan melayangkan somasi. Makna kata ‘Cendana’ sangat berkonotasi dengan keluarga Soeharto.

Kontroversi

Banyak yang sinis, tak sedikit pula yang percaya kasus percakapan porno itu hasil rekayasa. Pro kontra selalu mewarnai setiap pemberitaan tentang kasus Firza.

Kelompok kontra menilai, percakapan mesum yang dilakukan Firza merupakan hasil rekayasa dari aplikasi yang banyak tersedia dan bisa diunduh di ponsel berbasis android dan iOS. Saat ini, ada berbagai macam aplikasi yang memfasilitasi pembuatan rekayasa dialog, dan percakapan elektronik.

Kubu pro menganggap, percakapan WA yang dilakukan Firza sulit dibantah. Sebab, foto-foto wanita tanpa busana yang berada di dalam percakapan WA identik dengan wajah Firza. Apalagi, televisi yang disita polisi dari rumah Firza mirip dengan televisi yang berada di dalam foto percakapan WA.

Kuasa Hukum Firza Husein, Aziz Yanuar menilai, ada kejanggalan pada kasus yang melilit kliennya. Menurut Aziz, penetapan Firza sebagai tersangka pornografi, bisa disebut prematur.

Kejanggalan pertama, sebut Aziz, polisi menggunakan gambar percakapan WA yang tersebar di  internet sebagai alat bukti. Kata Aziz, gambar percakapan WA yang beredar di internet sudah melalui proses penyuntingan atau sudah diedit alias sudah direkayasa. Seharusnya, lanjut dia, polisi harus mencari gambar percakapan WA asli yang berasal dari sumber perangkat, yakni dari handphone Firza.

Suntingan gambar percakapan WA itu bisa dilihat dari adanya gambar emoticon smiley yang menutupi bagian tubuh wanita yang diduga Firza. Ada pula lingkaran merah yang disematkan pada salah astu bagian percakapan bernada vulgar.

“Bu Firza secara prematur dijadikan tersangka. Padahal unsur-unsur (pidana) nya tidak memenuhi, seperti yang tercantum undang-undang Pornografi” kata Aziz kepada Metrotvnews.com, Jumat 26 Jumat 2017.

Kejanggan kedua, lanjut Aziz, polisi belum memproses orang yang menyebarkan gambar porno tersebut. Seharusnya, lanjut Aziz, status Firza baru dapat ditentukan setelah polisi berhasil menangkap pelaku yang menyebarkan.

Toh, kata Aziz, membuat gambar atau video porno tidak bisa dipidana selama untuk kepentingan pribadi. Jika memang Firza terbukti membuat dan menyimpan gambar porno, maka tidak bisa dipidana, karena itu untuk kepentingan pribadi, dan masuk wilayah privasi. Jadi, tak boleh diusik. “Kan aneh, sumber yang sudah diedit dibilang asli,” ujar Aziz.

Hal itu merujuk pada penjelasan Pasal 4 dan Pasal 6 UU Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi. Aziz menyebut, memproduksi dan menyimpan fail berkonten pornografi tidak dapat dipidana jika untuk kepentingan pribadi. “Tapi, yang bikin kami heran, pelaku rekayasa foto dan yang menyebarkan sampai sekarang belum diproses. Itu kan aneh,” jelas Aziz.

 

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono menyampaikan keterangan pers di Mabes Polri, Jakarta, Sabtu (3/12). Dalam keterangannya Polri menyatakan menyatakan menetapkan tujuh dari sebelas orang yang ditangkap pada Jumat (2/12) sebelumnya sebagai tersangka dugaan pemufakatan jahat penggulingan pemerintah yang sah. Ketujuh orang yang ditetapkan sebagai tersangka adalah Rachmawati Soekarnoputri, Kivlan Zein, Ratna Sarumpaet, Adityawarman, Eko, Alvin dan Firza Huzein.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono menjelaskan, penyidik tidak memiliki kewenangan untuk menentukan keaslian gambar percakapan WA tersebut. Penentuan orisinalitas gambar menjadi kewenangan ahli. Ahli menyebut, gambar perempuan tanpa busana dalam percakapan itu adalah Firza Husein dan itu bukan rekayasa.

“Saksi ahli disumpah untuk diminta keahliannya, ahli mengatakan asli, yang bisa mengatakan itu (gambar percakapan WA) saksi ahli, polisi tidak berhak,” jelas Argo kepada Metrotvnews.com, Kamis 25 Mei 2017.
Adapun penetapan Firza sebagai tersangka, lantaran percakapan WA disertai foto wanita tanpa busana sudah bocor ke ruang publik. Jadi, foto ketelanjangan Firza dan membikin resah masyarakat.

“Fotonya dia (Firza) keluar tidak? Kalau tidak keluar tidak mungkin semua orang melihat,” ujar bekas Kabidhumas Polda Jatim itu.

Ditambahkan Argo, polisi tidak perlu menunggu menangkap pelaku penyebaran untuk menentukan Firza sebagai tersangka. Sebab, pelaku penyebaran dijerat undang-undang yang berbeda. Pelaku penyebaran dijerat dengan UU Informasi Transaksi Elektronik (ITE). “Itu berbeda, kalau masalah penyebaeran itu UU ITE. Jangan dijadikan satu,” imbuhnya.

Ketua Umum Indonesia Cyber Law Community (ICLC), Teguh Arifiyadi menjelaskan, membuat konten porno untuk kepentingan pribadi tidak bisa dipidana, sepanjang si pembuat konten bisa menjaga dan tidak memiliki niat untuk menyebarkan. Kalau tersebar, bisa dijerat pidana.

“Kalau kepentingan pribadi tidak masalah, tapi patut diduga atau ada kemungkinan bisa menjaga. Kalau tersebar itu bisa dikenakan pidana,” jelas Teguh.

Teguh menambahkan, ada dua unsur pidana yang harus dibuktikan polisi jika menetapkan seseoarang menjadi tersangka pornografi. Pertama, membuktikan adanya niat untuk menyebarkan konten, kedua, membuktikan pembuatan konten bukan untuk kepentingan pribadi.

“Utamanya, penyidik harus membuktikan ada tidaknya kesengajaan atau melihat adanya niat melakukan penyebaran,” tutur dia.

Soal keaslian barang bukti, lanjut Teguh, tak ada masalah konten pornografi yang dijadikan sebagai barang bukti diperoleh dari internet atau sumber asli atau sumber perangkat. Hanya saja, itu akan memepengaruhi validitas.
“Dua-duanya bisa, cuma mempengaruhi uji forensik,” pungkas Teguh.

Kesahihan barang bukti percakapan WA Firza memang tak bisa serta-merta dibuktikan. Kecuali, polisi langsung memeriksa langsung ponsel milik Firza dan perangkat sejenis yang digunakan lawan bicaranya.

Namun, jika mengingat kembali penangkapan Firza pada kasus sebelumnya, bukti itu bisa jadi memang ada.
Sebab, ponsel Firza turut disita oleh penyidik saat ia menjalani pemeriksaan di Mako Brimob, Depok, Jawa Barat terkait keterlibatannya dalam pemufakatan jahat penggulingan pemerintah yang sah alias makar.

Artinya, ada kemungkinan penyidik juga mengantongi bukti percakapan dari temuan di ponsel sitaan tersebut. Maka, wajar pula jika ada yang menduga, penyidik telah mendapatkan isi percakapan di ponsel milik Firza dan lawan bicaranya yang telah disita polisi.
 


(ADM)