Berkorban Demi Kedaulatan Negara

Wanda Indana    •    10 Agustus 2017 19:21 WIB
Berkorban Demi Kedaulatan Negara
Sejumlah veteran pejuang kemerdekaan memberikan hormat saat penaikan bendera merah-putih, Peringatan Hari Kemerdekaan RI. (ANTARA/Iggoy el Fitra)

Metrotvnews.com, Jakarta: Masih terekam jelas di ingatan Soepranoto, tangan kanannya ditembus timah panas tentara Belanda di medan pertempuran. Darah segar seketika mengucur deras dari lengannya.
 
Soepranoto adalah salah satu pejuang kemerdekaan Indonesia yang masih hidup sampai saat ini. Pria berusia 93 tahun ini mengawali perjuangan dengan bergabung menjadi Polisi Istimewa pada era pendudukan Jepang.
 
Setelah Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945, Soepranoto bergabung ke Tentara Keamanan Rakyat (TKR), angkatan perang pertama yang dibentuk oleh Pemerintah Indonesia. Di awal tugasnya, TKR berupaya melucuti senjata para tentara Jepang yang mengakibatkan pertempuran-pertempuran yang memakan korban di banyak daerah, khususnya di Surabaya.
 
Pada 25 Oktober 1945, tentara Inggris datang ke Tanjung Perak, Surabaya, tergabung dalam Allied Forces Netherlands East Indies (AFNEI) untuk mengembalikan Indonesia kepada pemerintahan Belanda sebagai negeri jajahan.  Netherlands Indies Civil Administration (NICA) ikut membonceng rombongan tentara Inggris. Hal ini memicu amarah rakyat Indonesia dan pergerakan perlawanan rakyat Indonesia semakin berkecamuk di berbagai.
 
Soepranoto ditugaskan di Divisi VII Brawijaya Malang dipimpin panglima Jenderal Mayor Imam Soedja’i. Di bawah kendali Soedja’i,  Daichi Ichi Kozo gudang senjata milik Jepang berhasil direbut. Dari perebutan gudang senjata, Soedja’i melihat Soepranoto sebagai sosok prajurit yang pemberani dan tak kenal takut.
 
Karena itu pula, Soepranoto dipercaya menjadi komandan regu membawahi tujuh anak buah. Soepranoto dikirim ke Nganjuk untuk menjaga wilayah itu dari serangan Belanda yang semakin masif. Setiap kendaraan dari Madiun menuju Nganjuk akan dicegat.
 
Dikepung Belanda
 
Sore itu, 1 Mei 1949, di Desa Guyangan, Nganjuk, Jawa Timur, Soepranoto merasa kegirangan. Musababnya, pasukan regunya berhasil mengalahkan dua buah truk berisi satu pleton pasukan Belanda.
 
Sayangnya, Soepranoto terlena. Dia tak menyadari masih ada pasukan Belanda yang menyusul belakangan. Dengan membawa dua panser, satu tank dan puluhan pasukan Belanda itu tiba-tiba mengepung Soepranoto bersama dengan anak buahnya.
 
Saat sergapan secara tiba-tiba itu terjadi, langit mendadak gelap. Tak lama, hujan deras mengguyur area pertempuran. Diiringi rintikan hujan, suara tembakan meriam secara bertubi-tubi yang mengarah ke wilayah pertahanan Soepranoto juga berdentuman.
 
Soepranoto kewalahan menerima serangan lawan. Dia langsung mengambil posisi dengan bersembunyi di gundukan sawah. Aksi tembak-tembakan terjadi. Nahas, tangan kanan Soepranoto terkena tembakan.
 
Posisi Soepranoto dan anak buahnya makin terjepit. Apalagi kekuatan untuk melawan tidak imbang dengan pihak musuh. Empat regu pasukan Belanda melawan tujuh orang!
 
Dia bersama seorang anak buahnya berusaha kabur dengan masuk ke dalam sungai Widas. Itupun masih belum aman, pasukan Belanda tetap mengejar. Soepranoto menyelam, ini membuatnya terseret arus hingga sejauh tiga setengah kilometer.
 
“Saya ditolong pemuda. Sejak saat itu saya hidup sama rakyat, makan dari rakyat. Saya sembunyi, karena masih belum aman. Belanda terus mengejar,” tutur Soepranoto kepada Metrotvnews.com saat menemuinya di Kantor Korps Cacat Veteran Republik Indonesia (KCVRI), Jalan Tambak, Menggarai, Jakarta, Senin 31 Juli 2017.
 
Ia melanjutkan, kondisinya tubuh kala terdampar di pinggir sungai itu sudah lemas lantaran kehabisan darah. Pemuda yang menolongnya kemudian mengajak warga lain untuk membantu.
 
Soepranoto dan anak buahnya pun langsung dibawa masyarakat ke sebuah bangunan sekolah yang dijadikan pusat kesehatan. Di sana, ternyata sudah banyak pejuang yang terluka dirawat.
 
Dalam masa perawatan pada hari ke-19, Soepranoto dikagetkan lagi oleh serangan ke gedung sekolah itu. Kali ini bukan oleh paskukan Belanda, melainkan orang-orang pribumi yang berkhianat dan menjadi antek pihak musuh. Tapi, Soepranoto berhasil kabur dengan tangan masih terlilit perban.




ILUSTRASI: Sejumlah prajurit TNI AD yang berperan sebagai Tentara Keamanan Rakyat (TKR) bertempur melawan tentara Sekutu dalam drama kolosal memperingati Hari Juang Kartika atau Hari Angkatan Darat, di Lapangan Panglima Besar Jenderal Sudirman, Ambarawa, Jawa Tengah. (ANTARA
/R.Rekotomo).
 
Keesokan harinya, baru ia ketahui bahwa antek-antek itu memang menggerebek dengan maksud untuk menangkapnya Ada sayembara bagi siapapun yang berhasil meringkusnya akan diberi imbalan dan hadiah. Ia jadi buronan karena tentara musuh menganggapnya sebagai salah satu orang berbahaya.
 
 “Saya juru tembak, bisa merakit senjata, dan bisa membuat bom. Dulu nama saya sudah terkenal dan memang dicari-cari Belanda,” papar Soepranoto.
 
Ia pun tak tahu secara pasti nasib ketujuh anak buahnya. Ia hanya dengar desas-desus. Kemungkinan lima di antara mereka gugur dalam pertempuran di Guyangan. Menurut dia, memang serangan Belanda saat itu cukup brutal.
 
Tapi, Soepranoto tak terbersit niat untuk menyerah pada musuh. Ia tak sudi angkat tangan. Bagi dia, hanya ada dua pilihan: merdeka atau mati.
 
“Tak ada ketakutan sedikitpun. Dalam peperangan, mati sudah keniscayaan,” ungkap dia.
 
Soepranoto bersama pasukan yang berhasil kabur selanjutnya memutuskan tinggal di hutan. Sesekali, mereka keluar hutan untuk meminta bekal dan makanan kepada rakyat. Kehidupan saat itu sangat sulit, bahan pangan utama pun langka. Agar tak kelaparan, ia dan rekan-rekan seperjuangan juga memakan apa yang ada di hutan. Prinsipnya, semua makhluk hidup di hutan bisa dimakan.
 
“Tak ada pilihan. Makan apa saja. Kadang-kadang dapat makanan dari rakyat nasi tiwul, geplek. Tak ada nasi, semua gudang beras dikuasai Belanda,” ujar dia.
 
Pada 27 Desember 1949, melalui kesepakatan diplomasi Konferensi Meja Bundar, pihak Belanda akhirnya megakui kedaulatan RI dan kemerdekaan bangsa Indonesia. Karena itu, pasukan Belanda ditarik mundur.
 
Tapi, tugas Soepranoto membela belum berakhir. Masih ada yang harus dibereskan. Pada tahun 1948, setahun sebelum Belanda hengkang, Partai Komunis Indonesia (PKI) melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan Soekarno-Hatta dengan menyerang tentara rakyat di Madiun. Perang saudara pun pecah. Maka, untuk menciptakan kedamaian setelah kemerdekaan Indonesia mendapat pengakuan internasional, para pengganggu ini tidak boleh dibiarkan. TKR juga yang turun tangan.
 
“PKI ingin membuat negara dengan berideologi komunis. Saya juga ikut berjuang melawan PKI, walaupun cacat tapi tenaga saya masih dibutuhkan, karena situasinya krisis. Paling sulit perang melawan bangsa sendiri,” ungkap Soepranoto.
Soepranoto (MTVN/Wanda Indana)
 
Operasi Seroja

Kolonel Infantri Ronny Muaya dua kali lolos dari maut ketika bertempur dalam operasi Seroja di Timor Portugis. Meski lolos dari maut, Ronny harus rela kehilangan tangan kirinya demi negara.
 
Ronny lulusan Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI), Magelang, angkatan 1969-1972. Dia bertugas di Markas Yonif Linud 502, Malang, Jawa Timur.
 
Pada 7 Desember  1975, Ronny mendapat tugas ke Timor Timur. Saat itu, Ronny masih berpangkat Letnan Satu menjadi Komandan Pleton. Penugasan ke Dili, untuk membantu rakyat Timor Portugis yang ingin bergabung dengan Indonesia.
 
25 April 1974, terjadi Revolusi Bunga di Portugal. Kejadian itu mendorong Gubernur Timor Portugis sebagai penguasa di wilayah jajahannya mengeluarkan izin berdirinya partai politik sebagai persiapan penyerahan kemerdekaan dari Portugal kepada rakyat Timor Portugis.
 
Muncul tiga partai besar yang memiliki pandangan politik dan visi yang berbeda. Perbedaan pandangan ini justru memantik perang saudara.
 
Partai politik yang berdiri tersebut adalah, Uniao Democratia Timorence (UDT). Partai ini memiliki pandangan Tomir Portugis tetap berada di bawah Portugal. Kedua, Associacao Democratica de Timor (ASDT). Partai ini ingin Timor Leste berdiri sendiri.  Di tengah jalan, partai ini berubah menjadi Frente Revolucionaria de Timor Leste de Independente (Fretilin) berhaluan komunis.
 
Ketiga, Assiciacao Popular Democratica de Timor (Apodeti). Partai ini berkeinginan Timor Timur bergabung ke Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). 
 
Pada 28 November 1975, secara sepihak Fretilin menyatakan kemerdekaan Timor Portugis di bawah pimpinan Presiden Xavier Do Amaral dan Perdana Menterinya Nicolas Lobato.
 
Tindakan Fretilin membuat partai lainnya berang. Pada 30 November 1975 Apodeti, UDT dan dua partai lainnya menyatakan kesepakatan untuk bergabung dengan Indonesia .  Peristiwaitu dikenal dengan Deklarasi Balibo.
 
“Kita Perang melawan Fretilin yang dibantu tentara portugis yang berada di timor namamnya Tropaz,” jelas Ronny saat ditemui di Bekasi, Kamis 3 Agustus 2017.
 
Selama sebulan di Dili, tentara Indonesia berhasil menduduki ibu kota Timor Portugis itu. Termasuk menguasai asrama Tropaz di perbukitan Taibesi. Tak disangka, di sisi seberang perbukitan, pasukan musuh dengan senjata berat.
 
Ronny dan pletonnya langsung mengambil posisi. Aksi terjadi pertempuran sengit. Ronny sempat meminta bantuan panser kepada komando Batalyon. Agar tidak salah sasaran, Ronny membimbing komandan panser untuk menunjukkan jalan. Dia berlari-lari kecil disamping panser. Saat hendak melintasi sungai kering, suara ledakan terdengar. Rupanya, panser menginjak ranjau anti tank.
 
Ronny yang berada disamping panser terhempas 25 meter dari panser. Tubuhnya bersimbah darah. “Antara sadar dan tidak sadar,” katanya.
 
Ronny langsung dievakuasi. Dia dibawa Rumah Sakit Lapangan untuk mendapatkan perawatan sementara. Ketika siuman, Ronny melihat seluruh tubuhnya terbalut perban. “Tak ubahnya seperti mumi,” tutur Ronnie.
 
Berdasarkan rekomendasi dokter, Ronny harus dibawa ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto untuk menjalani langkah medis lanjutan.
 
Ronny sembuh total setelah menjalani perawatan dua bulan. Pihak RS ingin mengembalikan Ronny ke basis militernya di Yonif Linud 502 Malang, tapi dia menolak. Dia teringat kepada anak buahnya yang masih bertempur. Akhirnya, dia diizinkan dikembalikan ke Timor Portugis.


ILUSTRASI: Sejumlah pelajar SMA melihat diorama apatung sejarah Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang ada di Museum Bhakti TNI di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, terkait
foto-foto Operasi Seroja. (MI/Bary Fatahillah
)

Saat kembali ke Timor Potugis, pasukan Yonif Linud berhasil menduduki daerah operasi baru di sektor Timur yaitu Los Palos. Ronni kembali bertemu dengan anak buahnya untuk kembali melanjutkan pertempuran. Selama dua bulan di Dili, Ronny menerima perintah untuk menduduki wilayah yang dikuasai pasukan musuh. Gerakan demi gerakan, pasukan Fretilin terhimpit.
 
Juli 1976, kabar Timor Portugis menjadi bagian NKRI terdengar di wilayah operasi. Ronny dan pletonnya mendapat perintah kabar tersebut kepada rakyat Timor Portugis yang tinggal di desa Souro. Selain itu, prajurit sedapat mungkin memperkenalkan budaya Indonesia dari berbagai provinsi dalam bentuk seni tari.
 
Sambil tetap waspada dari serangan musuh, Ronny dan anak buahnya mempertunjukkan tari piring dan tari Babendi-bendi dari Sumatera Barat dan tari kuda lumping dari Jawa timur dengan iringan musik seadanya. Masyarakat lokal pun terhibur.
 
Timor Portugis berintegrasi dengan NKRI dan menjadi provinsi ke-27 dan berganti nama dengan Timor Timur. Pada 17 Juli 1976 ditetapkan sebagai Hari Integrasi.
 
“Sebulan kemudian, 17 Agustus kita sama-sama merayakan hari kemerdekaan,” imbuh Ronny.
 
Agustus 1976, pasukan Yonif Linud 502 Kostrad ditarik dari wilayah operasi militer. Kedudukannya diganti Yonif 302 Siliwangi. Pada Oktober 1976, Ronny akhirnya melangsungkan pernikahan setelah sebelumnya sempat tertunda karena tugas negara.
 
November 1977, Ronny kembali ditugaskan ke Timor Timur. Kali ini, Ronny sudah berpangkat Kapten dengan jabatan sebagai Komandan Kompi.
 
Ronny dan pasukannya masih ditempatkan di sektor Timur. Mereka menuju sebuah desa bernama Uatu Carabau yang berada di kaki Gunung Matabean. Ronny mendapat perintah, yakni mengepung dan menyerang Gunung Matabean, markas besar pasukan Fretilin wiliyah Timur.
 
Tertembak
 
Pagi itu, di lereng gunung yang dikusai Ronny dan pasukannya, melihat iring-iringan ratusan orang pribumi dengan membawa kain putih turun genung. Mereka ingin mencari tempat aman menghindari perang antara tentara Indonesia dan Fretilin.
 
Untuk antasipasi menysusupnya pasukan Fretilin, Ronny memerintahkan semua penduduk pribumi berjalan turun dengan memebntuk satu barisan. Hingga pukul 17:00 WIB, jumlah mereka mencapai 12.000 orang.
 
Eksodus penduduk yang tinggal di lereng gunung Matabean menjadi tanda tanya besar. Ronny tidak mungkin mengintrograsi satu per satu. Yang jelas, Ronny tidak ingin ada korban dari rakyat sipil.
 
5 Desember 1978, beberapa hari setelah eksodus ribuan penduduk sipil dari Gunung Matabean, Ronny mendapat perintah. Pasukan Yonif diperintahkan turun dari Gunung Matabean menuju induk Batalyon. Ronny segera mengumpulkan semua komandan pleton untuk briefing di area landai.
 
Pada briefing itu, disepakati pasukan akan turun pada sore hari. Sesaat hendak turun, suara tembakan terdengar dari atas perbukitan. Ronny beserta pasukannya lari berhamburan mencari tempat perlindungan. Pasukan Ronny membalas tembakan musuh.
 
Setelah 15 menit kontak tembak meredah. Di saat itu pula, Ronny menyadari tangan kirinya terkena tembakan. Darah segar mengucur. Ronny segera mendapat pertolongan.
 
Ronny segera memanggil komandan pleton yang paking senior, Letnan Satu Aspar Gulam.
“Pas Aspar saya tidak mungkin lagi memimpin pasukan ini. Kamu ambil alih,” ucap Ronny memeberikan perintah.
 
Kondisi Ronny semakin menurun. Semakin lama matanya tak mampu terbuka. Ronny kehilangan kesadaran.
 
“Beberapa saat kemudian, saya sempat terbangun. Saya haus, ada suara perempuan bilang ‘Bapak minum dulu,” ujar Ronny.
 
Setelah itu, Ronny kembali tak sadarkan diri. Seingat Ronny, dia hanya mendengarkan suara deru mesin helikopter. Rupanya, Ronny dibawa ke Rumah Sakit Dili. Dia tak sadarkan selama seminggu karena kehilangan banyak darah.
 
Ketika bangun dari komanya, Ronny mendapati tangan kirinya sudah tidak ada lagi. Di situ, Ronny merasa hancur. Sempat tak percaya. Impian menjadi Jenderal sudah terkubur. Dia tak punya harapan lagi mengembangkan karirnya di dunia kemiliteran.
 
Menurut Ronny, saat memberikan arahan pada briefing di gunung Matabean, musuh mengetahui kedudukannya sebagai pemimpin. Dari atas bukit, pasukan musuh coba membunuhnya dengan membidik jantung. Tapi, beruntung, tembakan musuh meleset mengenai tangan kirinya. Ronny lolos dari maut untuk kedua kalinya.
 
“Jadi ketika saya briefing kelihatan saya kaptennya. Padahal, semua penduduk sudah steril tak ada yang memebawa senjata, saya tidak tahu,” ungkap dia.
 
Pertengahan Desember 1978, Ronny diterbangkan ke Jakarta untuk menjalani peraatan lanjutan di RSPAD Gatot Subroto. Di sana, Ronny bertemu dengan istri, anak, dan mertuanya.
 
Tapi, Ronny justru menghardik istrinya, Fifi Sylfia. Dia meminta istrinya tidak usah menemuinya lagi. Ronny sudah tak punya masa depan.
 
Raut wajah Fifi tidak menunjukkan keputusasaan. Tak ada air mata yang jatuh dari pipinya. Istrinya tetap tegar menguatkan dirinya.
 
“Saya menerima dia apapun kondisinya. Jangankan cacat, kehilangan dia saya sudah siap. Ketika menikahi bapak saya sudah tahu dan akan terima risikonya,” ujar Fifi.
 
Pada akhirnya, Ronny sadar, keikhlasan adalah alasan utama dia bisa bertahan sampai sekarang. Ronny sudah berdamai dengan masa lalunya. Dia sudah rela menjadi seorang cacat demi negaranya.
 
“Kuncinya ikhlas, kita bisa berusaha, tapi Allah yang memutuskan,”pungkas Ronny.
 
Saat ini, Ronny aktif di Legiun Veteran Indonesia (LVRI) sebagai Kepala Biro Prosedure Organisasi. Dia aktif mempejuangakan suara para kaum veteran yang bernasib sama dengannya.
 

 ILUSTRASI: Sejumlah veteran pejuang mengikuti sidang uji materi Undang-Undang Gelar, Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan di Mahkamah Konstitusi. (MI/Panca Syurkani)

 


(ADM)