Menolak Disebut Perusak

Wanda Indana    •    30 Desember 2017 12:17 WIB
Menolak Disebut Perusak
Pabrik PT Semen Indonesia di Tuban, Jawa Timur. (Medcom)

Tuban: Rintik hujan mulai membasahi jalan menuju pabrik semen milik PT Semen Indonesia (SI) di Gunem, Rembang, Jawa Tengah. Aroma tanah (petrikor) yang khas, tercium semerbak merunjam hidung.
 
Hutan jati dan hamparan sawah menjadi lanskap yang menemani perjalan kami sore itu, Jumat 22 Desember 2017. Di ufuk barat, dari celah perbukitan, matahari mulai menyemburkan semburat jingga.
 
Memasuki desa, tim Medcom.id disambut warga; Dadang, Dwi Joko, dan beberapa yang lainnya di salah satu bangunan yang biasa dijadikan tempat warga berkumpul. Kami berbincang banyak hal, termasuk harapan warga setempat yang menginginkan pabrik semen segera beroperasi.
 




Dadang suka mengobrol. Sementara Joko, lebih banyak diam. Berbicara seperlunya. Sesekali menimpali penjelasan Dadang yang kurang lengkap.
 
Semenjak berdirinya pabrik SI di Rembang, kesejahteraan masyarakat sekitar pabrik ikut terangkat. Padahal, Pabrik SI belum melakukan penambangan. Pasalnya, puluhan miliar sudah digelontorkan untuk membantu warga.
 
Dadang mengaku, banyak program Coorporate Social Responsibility (CSR) dari BUMN semen itu yang dinikmati masyarakat setempat. Mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga keagamaan.
 
Terbaru, SI mendata penduduk miskin yang belum memiliki jamban. Maklum, Rembang termasuk kabupaten termiskin di Jawa Tengah. Masyarakat Tegaldowo masih banyak yang membuang hajat di samping dan belakang rumah.
 
“Baru-baru ini, jambanisasi, bagi yang belum punya jamban,” kata Dadang.
Dwi Joko (kiri) dan Dadang. (Medcom/Wanda Indana)


Tegoldowo dan Gunem, yang merupakan wilayah ring satu (desa terdekat dengan pabrik), juga mendapatkan bantuan pengobatan gratis dan sunatan masal. Terakhir, SI memberikan bantuan mobil Ambulans Desa.
 
“Tinggal serah terima saja, biasanya masyarakat punya keluhan kalau ada orang sakit mendadak, kalau ibu melahirkan. Jarak ke kabupaten sangat jauh sekali, susah untuk mencari transportasi ke kota,” ungkap Dadang.
 
Soal pendidikan, SI juga memberikan beasiswa program paket C dan sekolah gratis. “Di bidang agama, ada bantuan pembangunan musalah dan masjid,” pungkas warga desa Timbrangan ini.
 
Suparno, salah seorang anggota LSM Semut Abang menyebut dirinya mendapat bantuan gerobak gratis untuk dagangan di alun-alun kota Blitar. Dia mengaku bisnis angkringannya berkembang.
 
“SI membantu UMKM. Sekarang saya memiliki empat gerobak,” tuturnya.
 
 
Isu lingkungan
 
Polemik penolakan pabrik Semen Indonesia di Rembang muncul karena ada kekhawatiran perusakan lingkungan. Lahan pertanian terancam rusak karena aktivitas penambangan batu kapur. Sumber mata air di bawah tanah bisa hancur.
 
Nah, soal lingkungan, Joko paling vokal. Menurutnya, isu kerusakan lingkungan yang dilontarkan masyarakat kontra pabrik SI tak berdasar. Dia mengatakan, sampai saat ini, tak ada kerusakan lingkungan di Tegaldowo. Padahal, penambangan batu kapur sudah ada sejak 1996; dilakukan oleh puluhan penambang perorangan, maupun perusahaan-perusahaan kecil.
 
Sebaliknya, sambung Joko, pasokan air justru melimpah lantaran ada embung yang dibangun SI pada 2016. Petani di Tegaldowo bisa dua sampai tiga kali panen. Sebelum ada embung, pasokan air justru terbatas, dan panen hanya satu kali.
 
“Embung itu sangat bermanfaat bagi petani di sini, untuk irigasi,” ungkapnya.


Embung Tegaldowo hasil program CSR pabrik PT Semen Indonesia di Rembang, Jawa Tengah. (Medcom)


Karena itu, Joko kesal dengan aksi penolakan pabrik semen SI. Lebih kecewa lagi, kelompok penolak pabrik kebanyakan bukan warga dari Rembang, tapi warga dari Pati.
 
“Teng mriki pun ayem tentrem. Pabrik ojo dialang-alangi (Di sini sudah aman nyaman. Pendirian pabrik jangan dihalangi lagi),” ucap Joko dengan nada kesal.
 
Bagi Ayah dua anak ini, penambangan batu kapur sebagai bahan baku semen, tak jadi persoalan. Yang terpenting, warga desa bisa keluar dari jerat kemiskinan.
 
Joko khawatir, bila pabrik semen SI hengkang, putri sulungnya yang sedang melanjutkan pendidikan ke tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) – dari beasiswa SI, terhenti.
 
“Dulu, di sini, tamat SD langsung nikah. Semenjak ada pabrik, anak-anak tak mau dinikahkan. Mereka mau sekolah agar bisa bekerja di pabrik,” ujarnya.


Pembuktian
 
Belakangan, saat SI dihantam isu lingkungan hidup terkait penolakan pabriknya di Rembang, perusahaan menolak dianggap tidak bertanggung jawab – menelantarkan bekas lokasi penambangan.
 
Untuk membuktikannya, tim Medcom.id menyambangi pabrik semen SI yang berada di Desa Sumberarum, Kecamatan Kerek, Tuban, Jawa Timur. Jaraknya 70 kilometer dari Rembang. Memakan waktu kira-kira dua jam perjalanan darat.
 
Setibanya di kawasan pabrik yang dikelola anak perusahaan PT Semen Gresik ini, pamandangan  hijau dan asri menyambut kami.
 
Siang itu, Sabtu, 23 Desember 2017, di pabrik yang terletak di Jalan Merakurak itu – sekitar 16,5 kilometer dari pusat Kota Tuban, kami bertemu dengan Siswanto, Kepala Seksi Coorporate Social Responsibility (CSR) Semen Gresik.
 
Siswanto, termasuk karyawan senior di pabrik Tuban ini. Dia mengatakan, selain ramah lingkungan, pabrik semen itu juga hemat energi. Total konsumsi listriknya 110 Kwh/ton. Lebih hemat ketimbang pabrik semen lain.
 
Memang, semua pabrik di SI mengusung konsep ‘teknologi hijau’. Pengangkutan bahan baku batu kapurnya saja tidak menggunakan mobil, melainkan dengan conveyor, untuk meminimalisir polusi udara.
 
“Pabrik ini dijamin ramah lingkungan,” ujar Siswanto membuka perbincangan dengan Medcom.id.


Pabrik semen SI di Tuban, Jawa Timur. (Medcom)



Tak lama, Siswanto membawa kami menuju lokasi bekas penambangan yang telah dihijaukan. Disebut pula dengan istilah Green Belt.
 
Sebagai catatan, Green Belt merupakan kewajiban yang harus dilakukan setiap perusahaan pertambangan. Hal itu merujuk kepada Undang-undang No.11 Tahun 1967 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.
 
Regulasi itu diperinci lagi dengan Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor 1211.k/008.MPE/1995 tanggal 17 Juli 1995 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Perusakan dan Pencemaran Lingkungan pada Kegiatan Usaha Penambangan Umum.
 
Selama perjalanan menuju lokasi bekas penambangan, jejeran pohon trembesi bak memeluk kami dari tepi jalan. Kata Siswanto, penanaman trembesi berfungsi sebagai penahan debu. “Kita tidak ingin debu pabrik mengganggu.”
 
Setelah perjalanan selama 15 menit, tibalah kami di salah satu embung buatan SI di sana. Tidak disangka, embung tersebut dahulu adalah lokasi penambangan batu liat. Usai menambang, SI menyulapnya menjadi embung dan dimanfaatkan untuk peternakan ikan nila.
 
“Kita berikan kepada masyarakat untuk diolah,” kata Siswanto.
 
Terlebih, ketika kami melepaskan pandangan ke arah rimbunnya hutan, Siswanto menegaskan bahwa kawasan ini pun bekas lokasi penambangan. Bagaimana bisa?
 
Siswanto menjawab, kawasan hijau itu merupakan hasil reklamasi pascatambang; penghutanan kembali bekas tambang batu kapur, persis dengan rona awal.
 
Prosesnya, sebelum kawasan itu ditambang, tanah suburnya yang mengandung humus, diangkat dan dipindahkan ke sebuah lokasi yang disebut sebagai bank tanah (landbank).
 
Setelah penambangan, bekas galiannya ditimbun dengan tanah dari landbank tadi. Karena tanahnya mengandung humus, mudahlah pohon yang ditanam untuk tumbuh.
 
Di kawasan tersebut, SI mengklaim telah menanam 42.918 pohon, dimulai pada 2010. Ada 21 jenis pohon yang sudah ditanam, mayoritas Jati, Mahoni, dan Johar.  “Sekarang, hijau kembali,” kata Siswanto dengan mimik sumringah.


Lokasi bekas penambangan pabrik semen SI di Tuban. (Medcom)


Suwarno (38), salah seorang petani yang kami jumpai di sebuah ladang cabe, juga mengaku mendapat banyak manfaat dari kehadiran pabrik semen di Tuban. Ternyata, lahan yang digunakan Suwarno dan petani lain itu adalah pemberian SI, seluas tiga hektare. Mereka juga mendapat bantuan bibit.
 
Walaupun status lahan tersebut dipinjamkan, namun SI tidak meminta hasil pertanian dari petani. Hasil panen bisa dirasakan petani sendiri.
 
“Ada saja bantuan yang didapat. Selain bibit, ada juga bantuan pupuk,” ujar Suwarno.
 
Hal serupa diutarakan Tarji, petani yang tinggal dekat wilayah pabrik semen. Dia mengaku tidak merasakan dampak negatif dari operasional pabrik. Katanya, semua warga Tuban menyetujui adanya pabrik.
 
“Tidak seperti Rembang. Di sini malah dukung-dukung saja,” ujar Tarji.


Sebuah komitmen
 
Sistem penambangan Pabrik SI juga mendapat apresiasi dari Komisaris Utama PT Semen Indonesia Sutiyoso. Dia mengatakan penambangan batu kapur di Tuban rendah polusi. Dia bilang, metode penambangan semacam itu akan diterapkan di Rembang.
 
“Apa yang ada di Tuban kita copy ke Rembang,” kata Sutiyoso.
 
Sutiyoso yang baru pertama kali mengunjungi Pabrik SI Tuban merasa kagum. Sebab, dia tidak melihat ada limbah yang merusak atau mengganggu masyarakat.
 
“Kaget saya. Pabriknya hijau. Ada penambangan tapi lingkungannya hijau,” pungkas dia.
 
Bila demikian, mahfum pula bila SI lebih dari satu kali mendapat penghargaan tata kelola pelestarian lingkungan dari Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM.
 
Terakhir, SI meraih kategori utama Pengelolaan Lingkungan Pertambangan Mineral dan Batubara kategori Izin Usaha Pertambangan (IUP) Mineral dan Batubara tahun 2015 dan 2016. SI merupakan satu-satunya industri semen yang mendapatkan penghargaan ini.
 


(COK)