Hikayat Kopi Indonesia

Surya Perkasa    •    18 April 2016 18:10 WIB
Hikayat Kopi Indonesia
Petani memetik biji kopi jenis Arabica di Desa Fajar Harapan, Bener Meriah, Aceh. (ANTARA FOTO/Rizky Pinossa)

Metrotvnews.com, Jakarta: Kopi adalah minuman hasil seduhan biji kopi yang telah disangrai dan dihaluskan menjadi bubuk. Dibalik konsumsi 0,98 kilogram kopi per kapita di Indonesia, komoditas unggulan ekspor yang satu ini ternyata memiliki sejarah yang panjang.
 
Biji kopi yang harum ketika diseduh ini bukanlah tanaman asli Indonesia, sama seperti tembakau. Namun secara perlahan kopi dari Nusantara, bagi Indonesia dan dunia, memiliki ikatan tersendiri.
 
Kopi pertama kali masuk ke Indonesia pada tahun 1696 dan dibawa oleh Komandan Pasukan Belanda Adrian Van Ommen dari Malabar – India. Spesies kopi arabika ini kemudian ditanam dan dikembangkan di tempat yang sekarang dikenal dengan Pondok Kopi.
 
Berdasarkan tulisan Rangkaian Perkembangan dan Permasalahan Budidaya & Pengolahan Kopi di Indonesia oleh Mudrig Yahmadi dan disitat oleh Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia mencatat, tanaman kopi pertama ini mati karena banjir.
 
Belanda tidak berhenti untuk menanam kopi. Tanaman biji kopi baru didatangkan pada tahun 1699, dan kemudian berkembang ke sekitar Jakarta dan Jawa Barat. Lambat laun, tanaman kopi pun menyebar hingga seperti Sumatera, Bali, Sulawesi dan Timor.
 
Kopi kemudian menjadi komoditas dagang yang sangat diandalkan oleh VOC. Tahun 1706 Kopi Jawa, atau yang dikenal dengan Java, diteliti di Amsterdam dan kemudian hasil penelitian tersebut oleh Belanda diperkenalkan ke seantero Belanda.
 
Ekspor kopi dari Nusantara sendiri pertama kami dilakukan pada tahun 1711 oleh VOC. Indonesia yang kala itu bernama Hindia Belanda menjadi perkebunan kopi pertama di luar Arab dan Ethiopia. Monopoli komoditas yang sangat tersohor ini pun terjadi. Selama puluhan tahun komoditas Kopi Jawa menjadi kopi terbaik dunia hingga abad ke-19.
 
Selama hampir dua abad, kopi spesies Arabika menjadi satu-satunya kopi komersial yang ditanam di Indonesia. Tapi penyakit karat daun yang menyerang kopi Indonesia kemudian menyebabkan pamor spesies Arabika dari Indonesia hilang.
 
“Tanaman biji kopi arabika itu memang rewel dan hasilnya sedikit. Juga rentan penyakit. Tapi harganya lebih mahal karena rasanya kompleks,” kata pakar kopi Adi W Taroepratjeka kepada metrotvnews.com, Kamis (14/4/2016).
 
Dokumen yang dimiliki oleh Belanda saat itu menyebut tanaman ini hampir tidak ada yang berhasil bertahan. Hanya tanaman kopi arabika di ketinggian 1000 meter ke atas yang sedikit mampu bertahan.
 
Pemerintah Belanda kemudian memasukkan Kopi Liberika ke Indonesia pada tahun 1875. Namun ternyata jenis ini pun juga mudah diserang penyakit karat daun dan kurang bisa diterima di pasar karena rasanya yang terlalu asam.
 
Tak berhenti berusaha mempertahankan monopoli komoditas kopinya, Belanda mendatangka kopi jenis Robusta (Coffea Canephora) tahun 1900. Ternyata jenis kopi ini mampu bertahan terhadap penyakit karat daun dan memerlukan syarat tumbuh serta pemeliharaan yang ringan.
 
Selain itu, produksi kopi jenis ini juga jauh lebih tinggi. Kopi Robusta menjadi cepat berkembang menggantikan jenis Arabika khususnya di daerah dataran. Akhirnya kopi Robusta ini lebih populer dan dikenal masyarakat.
 
Semenjak Pemerintah Belanda meninggalkan Indonesia, perkebunan rakyat terus tumbuh dan berkembang. Perkebunan swasta hanya mampu bertahan di Jawa Tengah, Jawa Timur dan sebagian kecil di Sumatera. Sedangkan perkebunan negara (PTPN) hanya tinggal di Jawa Timur dan Jawa Tengah.
 
“Di dunia itu sendiri ada 80 spesies kopi. Di Indonesia sendiri akhirnya yang banyak ditanam ada tiga spesies. Arabica, Robusta dan Liberica,” ujar Adi.
 
Negara nan gandrung berkopi
 
Sarapan pagi hari disudahi kopi. Bersantai siang hari ditemani kopi. Malam hari pun tak lepas dari warung kopi. Indonesia yang dulu dipaksa menanam kopi, kini justru balik mencintai kopi.
 
Mulai dari Sumatera, Jawa, hingga Papua ada penikmat kopi. “Negara ini sedang gandrung berkopi,” pungkas Adi yang juga memiliki sertifikat penguji rasa kopi.
 
Wajar Adi berkata seperti itu. Walau telah belasan tahun berkecimpung di bisnis kopi, Adi mengaku belum bisa mendatangi seluruh wilayah penghasil kopi di Indonesia. Hal ini terjadi karena booming kopi yang terjadi dua puluh tahun belakangan.
 
Banyak wilayah perkebunan kopi baru yang bermunculan di Indonesia. Kopi-kopi Indonesia yang memiliki karakter tersendiri menjadikan kopi Indonesia cukup bervariasi.
 
“Semoga gandrung itu tidak cuma cari keuntungan sesaat. Karena kalau cuma mengejar itu, begitu harga kopi jatuh akhirnya pohon ditebangi. Jadi semoga bisa progam jangka panjang,” kata Adi.
 
Memang, pertumbuhan lahan kopi sempat meningkat tajam di era tahun 2000an awal. Namun terjadi penurunan luas area lahan perkebunan kopi di Indonesia. Kini tren bertambahnya luas lahan perkebunan kopi kembali terjadi.
 

 
Jumlah konsumsi kopi masyarakat Indonesia juga cukup tinggi. Dari pada tahun 2015, 252 ribu ton kopi dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Indonesia juga berhasil menjadi negara penghasil kopi terbesar ke-4 di dunia. Indonesia memproduksi 660 ribu ton kopi pada tahun 2015.
 
Sayangnya, kopi Indonesia tidak menjadi kopi terbaik seperti era monopoli VOC. Sejarah serangan penyakit menyebabkan jenis kopi yang banyak ditanam Indonesia adalah jenis Robusta yang tahan banting.
 
Ekspor kopi Indonesia sebanyak 579 ribu ton pun didominasi oleh jenis Robusta yang tidak sesuai dengan degan selera pasar dominan di dunia. “Indonesia lebih mencintai Robusta sedangkan dunia itu lebih banyak mencintai Arabica. Ada perbedaan karakter rasa yang dicari,” beber Adi.
 
Indonesia disebut-sebut negara penghasil kopi besar yang mengincar kuantitas ketimbang kualitas dan terus menggenjot produksinya. Tanaman kopi Robusta yang tahan banting, berproduksi banyak, serta tahan penyakit menjadi pilihan. Walau demikian Indonesia belum berhasil menyalip Brasil (2,59 juta ton), Vietnam (1,65 juta ton), dan Kolombia (810 ribu ton).
 
Namun bukan berarti kopi Indonesia tidak memiliki pasar. Buktinya Indonesia mampu terus mengekspor ratusan ribu ton kopi olahan tiap tahunnya.
 
Kopi Indonesia juga tak pernah kekurangan penikmat lokal, walau dunia lebih memilih jenis yang tak banyak dihasilkan Indonesia. “Kalau masyarakat Indonesia yang sudah agak tua, pasti mencari kopi yang pahit tidak asam dan kental. Itu karekter Robusta banget,” kata Adi dengan terkekeh.
 
Selain itu, kemunculan industri dan bisnis kedai kopi yang semakin meledak di Indonesia juga melahirkan penikmat-penikmat kopi baru. Indonesia sebagai negara kepulauan yang memiliki karakter geografis beragam menciptakan kopi-kopi dengan karakter yang berbeda pula.
 
“Kalau mau menjelaskan enaknya kopi Indonesia itu sama seperti diminta menjelaskan karakter wanita yang indonesia itu seperti apa. Susah. Karena karakter rasa tiap daerah itu berbeda,” ujar Adi.
 
Gaya hidup dan kedai kopi
 
Adi menyebut saat ini industri dan bisnis kedai kopi sedang meledak. Konsumsi kopi Indonesia itu lebih tinggi dibanding konsumsi internasional. “Namun kalau itu kalau kita lihat konsumsi dari kopi sachet sampai kedai kopi modern,” kata Adi.
 
Selain itu bisnis kedai kopi modern juga banyak bertumbuh. Di Bandung saja, sudah ada sekitar 120 kedai kopi modern. Mulai dari kedai kopi yang menggunakan mesin kopi berharga puluhan hingga ratusan juta, sampai kedai kopi modern yang menggunakan alat manual.
 
Namun kritik untuk barista, peracik kopi, terut terlontar dari mulut Adi. “Yah walaupun itu bisa dibilang sebagai kebanggan, di sebagian barista muda sombong berpikir bahwa kopi yang enak dan baik itu seperti ini. Padahal enak itu kan relatif. Padahal tiap orang itu kan beda-beda,” papar dia.
 
Dia juga melihat bisnis kopi di Indonesia masih banyak yang menjadi pengikut. Ini ditunjukkan dengan konsumsi di kedai kopi modern yang masih rendah. Kalau di Australia, kata Adi, dengan mudah dapat menghabiskan 3-10 kg kopi sehari.
 
Sedangkan di Indonesia, jualan 20 kg kopi sebulan sudah bisa dibilang pencapaian. Ini terjadi karena tingginya harga kopi di sebagian kedai kopi modern dan konsumen yang mengasosiasikan kopi lebih sebagai hidup bergaya. Bukan sebagai gaya hidup.
 
“Orang Indonesia itu, konsumennya itu lebih butuh tempat duduk berjam-jam dengan secangkir kopi. Kultur takeaway masih kecil. Jadi lebih memilih duduk lama cari wi-fi di kedai kopi,” beber Adi.
 
Akhirnya karena kebiasaan itu, memaksa pengusaha kedai kopi perlu tempat bagus, besar, nyaman. Ujung-ujungya biaya operasional bangunan yang besar dan harga kopi menjadi tinggi.
 
Namun bukan berarti yang berkembang di Indonesia hanya kedai kopi premium. Kedai-kedai kopi akar rumput idealis berharga murah nan mampu merangkul orang yang baru belajar kopi juga banyak muncul.
 
Kehadiran kedai-kedai kopi modern ini pun akhirnya akan memperkaya gaya hidup penikmat kopi. Walau akan terjadi seleksi alam, beragamnya kedai kopi ini akan memperkaya budaya ngopi Indonesia. Warung kopi tak akan mati, kedai kopi modern juga akan terus berkembang.
 
“Enggak kok. Kita percaya, masing-masing itu akan punya pasar masing-masing. Barista keliling bermodal kopi bungkusan dan termos tetap punya pasar. Kedai kopi berharga naudzubillah mahalnya pun akan tetap punya pasar,” terang Adi.
 
“Masing-masing menawaran dan menyediakan hal yang berbeda,” tutup dia.
 


(ADM)