Mengunjungi Tentara Langit

Coki Lubis    •    26 September 2018 16:44 WIB
Mengunjungi Tentara Langit
Pos jaga di perbatasan RI-Malaysia di Desa Nanga Seran, Kecamatan Ketungau Tengah, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, Selasa, 18 September 2018. (Medcom)

POS jaga itu berukuran sekitar 1x2 meter dengan struktur yang sangat sederhana. Rangkanya dari kayu, atapnya cukup 2-3 lembar seng. Di sampingnya berdiri sebuah batang kayu tipis yang dijadikan sebagai tiang bendera. Di sanalah sang saka berkibar.



Persis di sebelah utara pos terdapat tiang kecil yang terbuat dari pipa besi berwarna merah. Inilah patok perbatasan dua negara, Indonesia-Malaysia. Di dekat patok, tampak dua bilah papan berwarna merah yang tertempel di tebing kecil. Papan itu bertuliskan "Ragu-ragu, Kembali!!!".



Patok perbatasan Indonesia-Malaysia di jalan setapak perbukitan di Desa Nanga Seran, Kecamatan Ketungau Tengah, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, Selasa, 18 September 2018. (Medcom/Coki)


Pos jaga yang satu ini lokasinya di kawasan Desa Nanga Seran, Kecamatan Ketungau Tengah, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Sekitar 10 meter di sisi kirinya terdapat lapangan kecil yang digunakan sebagai tempat pendaratan helikopter.

Di lapangan kecil itulah kami mendarat setelah melakukan perjalanan udara menggunakan helikopter dari Desa Nanga Bayan, Ketungau Hulu, Selasa, 18 September 2018. Kami disambut oleh dua prajurit TNI AD yang sedang berjaga di sana.

Dari lokasi pos jaga itu, kami berjalan kaki sekitar 300 meter ke arah selatan menuju pos perbatasan induknya atau 'pos bawah'. Sebelum masuk ke lingkungan pos bawah, tampak sebuah papan bertuliskan, "Selamat Datang di Pos Nanga Seran Tentara Langit."



Papan ucapan selamat datang di lingkungan Pos Satgas Pamtas Nanga Seran. (Medcom/Coki)


Tidak ada alasan yang jelas mengenai penamaan 'Tentara Langit' di pos ini. Konon, istilah itu muncul sejak lama karena lokasi pos yang sulit dijangkau perjalanan darat - di tengah hutan belantara, di atas pegunungan.

"Kalau dari kampung terdekat di Indonesia, jaraknya, kalau dari sana pagi, jelang sore mungkin baru sampai ke sini (Pos Nanga Seran). Tapi kalau dari Malaysia hanya dua jam," ucap Asisten Operasi (Asop) Kodam XII/Tanjungpura Kolonel TNI Elkines, perwira yang turut mendampingi kami ke pos tentara langit ini.

Ada cerita dibalik keberadaan Pos Nanga Seran ini. Menurut Elkines, kawasan ini dahulu menjadi jalur pencurian sumber kekayaan Indonesia. Salah satunya pohon-pohonan yang kayunya bernilai tinggi, seperti kayu belian.
 

Dulu lokasi ini disinyalir sebagai jalur penyelundupan barang-barang ilegal, sehingga perlu dijaga.


Kini cerita itu sudah tidak ditemukan lagi. Hal ini diakui salah satu prajurit perbatasan Sersan Satu TNI Sastra. "Yang kami lakukan tinggal patroli-patroli patok, untuk meyakinkan betul aman atau tidak. Kita ukur, foto dokumentasi, kirim ke atasan," tuturnya.

Sejauh ini, pasukan perbatasan di Pos Nanga Seran tidak pernah menemukan pelanggaran patok perbatasan. Apalagi hubungan TNI AD dengan Tentera Diraja Malaysia (TDM) untuk urusan perbatasan cukup baik.

Ihwal hubungan TNI dengan TDM di perbatasan, Komandan Satgas Pamtas Yonif 320/BP Letnan Kolonel Inf. Imam Wicaksana membeberkannya kepada kami. Menurutnya, kini komunikasi mengenai persoalan-persoalan perbatasan antara TNI dan TDM sudah baik.

Salah satu yang diinisiasi oleh kedua pihak adalah Unit Commander Meeting (UCM) - pertemuan antar Komandan Batalyon perbatasan TNI dengan TDM. Dalam UCM, segala persoalan perbatasan dibahas bersama, ihwal lintas batas, penyelundupan barang ilegal, perdagangan manusia, dan sebagainya.

"Termasuk agenda patroli bersama," ucap Imam yang saat itu turut mendampingi kami di Pos Nanga Seran.



Komandan Batalyon Perbatasan Yonif 320/BP Letkol Inf. Imam Wicaksana (kiri) menyalami prajurit perbatasan di Pos Nanga Seran, Selasa, 18 September 2018. (Medcom/Coki)

 

Jalur ramai

Meski jarak pos perbatasan Nanga Seran ke kampung terdekat memakan waktu 4-5 jam, perlintasan ini terhitung ramai dilalui masyarakatnya.

Kampung itu adalah Dusun Jaung. Masyarakatnya banyak yang melintas ke Malaysia untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Pasalnya, jarak tempuh Dusun Jaung ke pusat perdagangan di Indonesia bisa memakan waktu 13 jam perjalanan. Sementara kalau ke Pasar Racau di Malaysia, melalui perbatasan Pos Nanga Seran, sekitar 5 jam.

"Kebanyakan masyarakat yang berangkat ke Malaysia membawa hasil bumi untuk dibarter atau dijual, lantas membeli barang-barang seperti sembako di Malaysia," kata Imam.



Suasana Pos Satgas Pamtas Nanga Seran. (Medcom/Coki)


Jalur perbatasan Nanga Seran ini termasuk ke dalam Buffer Zone, kawasan penyangga yang kegiatan lintas batasnya disesuaikan dengan kebutuhan sosial-ekonomi masyarakat sekitar.

Secara teknis, masyarakat desa bisa melintas tanpa kelengkapan administrasi seperti di pos lintas batas negara (PLBN). Di sini, tentara perbatasan hanya memeriksa KTP.

Selain memeriksa identitas, Satgas Pamtas juga melakukan penjagaan secara ketat dan mewaspadai barang-barang yang dibawa masyarakat. Yang diwaspadai adalah narkotika atau barang ilegal lainnya. Jika bersih, baru diizinkan melintas.

"Pelintasan ini cukup ramai. Dalam satu hari kira-kira 100-200 orang yang lewat. Dari jalur setapak tadi," ucapnya.

Kabarnya, akses perbatasan di Pos Nanga Seran ini turut tersentuh rencana besar jalan paralel perbatasan Kalimantan. Dari pengamatan kami, jalan tanah selebar 7-10 meter sedang digarap di sekitar pos.



Jalur perbatasan di Pos Nanga Seran mulai dibuka dan diperlebar. (Medcom/Coki)


Harapannya, jalan yang direncanakan pemerintah ini bisa mempermudah akses Nanga Seran ke kawasan perdagangan di pusat kabupaten. Dengan begitu, masyarakat tidak perlu lagi ke Malaysia untuk kegiatan jual-beli.

"Mungkin nanti sebaliknya, orang Malaysia yang ke sini untuk membeli hasil bumi kita. Karena orang desa tidak lagi barter atau jual-beli di sana (Malaysia)," ucap Elkines menutup perbincangan kami di Pos Tentara Langit.
 


(COK)