Tak Semata Tarif Pelayaran Murah

Surya Perkasa    •    09 Januari 2017 14:15 WIB
Tak Semata Tarif Pelayaran Murah
Petugas gabungan mengevakuasi korban yang terbakar di dalam kapal motor Zahro Express di dermaga Muara Angke, Jakarta. (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa)

Metrotvnews.com, Jakarta: Secara perlahan kapal kayu berwarna putih-biru dan berlambung hitam terlihat menurunkan kecepatan. Dengan cekatan para awak kapal melemparkan tali dan merapatkan haluan kapal bertuliskan “Dolphin” itu ke dermaga.
 
Kapal terhenti sempurna. Satu per satu turun penumpang turun dari geladak kapal. ABK yang lebih dulu turun ke darat membantu wanita dan anak-anak yang terlihat kesulitan menjejakkan kaki di atas dermaga.
 
Penumpang yang sudah turun sesekali melihat ke bagian ujung dermaga. Memang, di ujung dermaga yang sama, garis polisi terlihat melintang. Beberapa pria berbaju dengan tulisan punggung Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) terlihat sibuk di atas bangkai kapal Zahro Express yang terlihat gosong.
 
“Ma, itu kapal? Kok kapalnya jadi begitu?” ucap salah seorang bocah kepada ibunya.
 
“Iya. Itu kapal yang kemarin terbakar, dek,” jawab sang ibu.
 
Bocah laki-laki yang baru mengecap pendidikan dasar tersebut kemudian berlari mengejar kakaknya yang sudah berlalu lebih dulu. Uli, nama sang ibu, hanya tersenyum.
 
Ketika ditanya pendapatnya soal kejadian ini, ia hanya mengutarakan keprihatinan terhadap para korban kapal nahas itu. “Saya tak bisa membayangkan bagaimana kalau saya yang kena musibah,” kata Uli kepada metrotvnews.com di dermaga Pelabuhan Kali Adem, Muara Angke, Jakarta Utara, Rabu (4/1/2017).
 
Musibah terbakarnya kapal wisata Zahro Express terjadi pada awal tahun 2017 di perairan Kepulauan Seribu, Jakarta. Saksi menuturkan, ketika itu kapal baru 20 menit berlayar dari dermaga Kali Adem, Muara Angke, Jakarta Utara menuju Pulau Tidung, Kepulauan Seribu. Mendadak terdengar suara ledakan di dek mesin. Api lalu menjalar dan asap mengepul tebal.
 
Penumpang pun panik dan berusaha menyelamatkan diri. Tragisnya, pelampung yang ada ternyata tidak mencukupi. Akhirnya banyak penumpang yang meloncat ke laut.
 
"Saya lompat sama dua anak saya. Tak lama kemudian kapal meledak, tapi tidak tenggelam," ujar Muhidin, salah seorang penumpang Zahro Express pada Minggu pagi (1/1/2017) itu, seperti dikutip Media Indonesia.
 
Pengakuan Muhidin, ia tidak melihat alat pemadam api ringan di setiap sudut ruang penumpang kapal. "Seharusnya kan ada. Pelampung juga mestinya dibagikan pas naik dan cukup. Tapi, ini tidak," imbuhnya.
 
Pria berusia 51 tahun itu akhirnya harus rela kehilangan istrinya yang belum ditemukan. Sementara dua anak serta dua adiknya selamat.
 
Tarif murah
 
Pantauan metrotvnews.com, Pelabuhan Kali Adem, Muara boleh dibilang cukup sulit diakses. Sekitar sejam sekali memang ada bus pengumpan TransJakarta yang datang dan pergi mengangkut penumpang. Namun, kebanyakan warga memanfaatkan jasa ojek seperti becak motor untuk menuju pelabuhan yang dikelola Dinas Perhubungan dan Transportasi (Dishubtrans) DKI Jakarta ini.
 
“Belum lagi pas air pasang, mas. Genangan rob menutup jalan sampai semata kaki,” ucap warga sekitar pelabuhan yang bernama Atik kepada metrotvnews.com.
 
Meski begitu, pelabuhan ini tiap harinya tetap ramai pengunjung. Jumlahnya mencapai ribuan orang. Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Muara Angke menyebut jumlah penumpang di akhir pekan bisa melebihi 6.000 orang. Sebanyak 44 kapal terdaftar yang bersandar di Pelabuhan Kali Adem tidak pernah kekurangan penumpang.
 
Uli yang mengaku kerap berlibur ke Kepulauan Seribu menilai wajar jika pelabuhan ini senantiasa dipenuhi orang. Karena, kapal-kapal yang berangkat dari Kali Adem tidak menawarkan tiket berharga tinggi. “Tarif tiketnya murah. Belakangan juga jadwal kapalnya lebih teratur,” ungkap Uli.
 
Dishub DKI Jakarta memang melakukan pembenahan pada rute pelayaran ke Kepulauan Seribu demi menggenjot pemasukan dari sektor pariwisata. Pembenahan gencar dilakukan sejak Gubernur DKI Jakarta dijabat oleh Fauzi Bowo atau yang akrab disapa Foke. Terutama soal masalah tiket dan tata kelola penyedia jasa angkutan.
 
Sebelum Foke menjabat gubernur, pembelian tiket tidak diatur dan diserahkan ke penyedia jasa transportasi kapal tradisional. Wajar saja kalau semisalnya banyak calo dan pengusaha nakal yang berkompetisi tak sehat.
 
Sejak Oktober 2015 yang lalu, Dishub DKI Jakarta memastikan tiket hanya dijual di loket atau agen perjalanan. Harga tiket yang sebelumnya berkisar Rp30.000-Rp60.000 juga disepakati pengusaha untuk moderat dijual Rp40.000-Rp45.000.
 
“Ini tentu akan memacu tingkat layanan di kelompok penyedia angkutan. Pola pikir masyarakat itu kan pasti cari yang bagus dan murah,” ungkap Kepala Dishubtrans DKI Andri Yansyah usai rapat lintas lembaga di Pelabuhan Kali Adem, Rabu (4/1/2017).
 
Standar keselamatan
 
Terbakarnya Kapal Motor Zahro Express yang membawa berita duka di awal tahun 2017 sungguh mengejutkan. Secara standar, kapal ini masih laik beroperasi. Terakhir kali pengecekan kapal tersebut dilakukan pada 27 Desember 2016 dan berlaku hingga Juni 2017.
 
Angin tak sedap tata kelola pelayaran berhembus dengan tragedi ini. Terutama untuk kapal tradisional yang tak diatur dan diawasi ketat seperti kapal objek konvensi pelayaran SOLAS (Safety of Life at Sea) dan ILLC (International Load Line Convention). Tiga pilar utama transportasi yang dimiliki kapal angkutan pelayaran-rakyat sering beperkara.
 
Pertama dari soal standar keamanan. Kapal tradisional tidak diatur ketat dari sisi keamanan. Jika tidak diawasi ketat, penumpang gelap bahkan kapal gelap menjadi lumrah. Buktinya dari persoalan manifes kapal Zahro yang tak sesuai kenyataan.
 
Angka penumpang dari KM Zahro Express ini juga berbeda-beda. Ada yang menyebut kapal tersebut mengangkut 251 orang. Dari mereka di antaranya 23 orang tewas, 17 orang luka-luka, 17 orang hilang dan 194 orang selamat.
 
Tapi, ada juga yang menyebut kapal tersebut mengangkut 238 orang. Sebenarnya, berapa pun jumlahnya, angka itu belum melebihi kapasitas. Sebab, berdasarkan sertifikat kapal tersebut memiliki daya angkut 285 orang.
 
Masalahnya ada pada angka manifes. Saat kapal itu berlayar angka manifes yang tercatat hanya 100 orang.
 
Kepala Basarnas Marsdya TNI FH Bambang Soelistyo mengakui, angka manifes penumpang selalu menjadi polemik. Acapkali data riil tidak sama dengan data yang dilaporkan.
 
"Angka manifes dari dulu selalu jadi polemik. Yang dilaporkan ke kami 240 orang manifes (penumpang Zahro Express). Tapi ditemukan 247 orang," ujar Soelistyo kepada Metro TV, Jakarta, Minggu (1/1/2017).
 
Baca: Polemik Manifes dalam Kecelakaan Kapal
 
Kedua, perkara keselamatan. Standar keselamatan minimal di kapal-kapal tradisional seringkali tak terpenuhi.
 
Dishubtrans DKI terpaksa geleng-geleng kepala saat melakukan razia dan pemeriksaan kapal-kapal tradisional tahun lalu. Hingga Agustus 2016, hanya 9 dari 43 kapal tradisional terdaftar yang memenuhi standar minimal keselamatan.
 
Lagi-lagi jika menilik kejadi KM Zahro Express, pelampung sebagai alat keselamatan paling utama bagi penumpang jumlahnya tidak cukup serta mudah diakses penumpang. Akhirnya banyak penumpang saat panik meloncat ke laut tanpa pelampung.
 
“Padahal seharusnya pelampung itu minimal disediakan lebih banyak 10% dari kapasitas penumpang,” kata Andri.
 
Ketiga, soal pelayanan. Standar pelayanan menjadi patokan yang tak boleh dilupakan dalam sektor transportasi. Perkaranya, masalah pelayanan di pelayaran nusantara ini seringkali juga jadi soal.
 
Pelayanan bagi penumpang kapal tradisional seringkali tidak ada standar jelas. Berbeda dengan angkutan darat dan udara.
 
Apakah tarif memiliki standar? Apakah harga sesuai dengan yang harus dibayarkan dan juga menguntungkan pengusaha? Apakah penumpang mendapat pelayanan pasti sampai hingga tempat tujuan? Pertanyaan yang harus terjawab justru kadang abai.
 
Merujuk ke KM Zahro Express, kapal nahas ini digosipkan menerima limpahan penumpang dari kapal lain. Walau ujung-ujungnya hal ini dibantah manajemen kapal yang dituding melimpahkan penumpang.
 
Baca: KM Hasbi Jaya dan Dolphin Bantah Oper Penumpang ke Zahro Express



Permainan oknum Tidak hanya pelayanan bagi konsumen yang harus dibenahi. Persoalan aturan dan pelayanan perizinan juga menjadi masalah. Pungutan liar alias pungli dari pihak yang mengeluarkan perizinan masih menjadi momok tersendiri bagi penyedia jasa perkapalan. Pungli yang ditemukan dalam pengurusan buku pelaut menjadi indikasi ada permainan oknum Kementerian Perhubungan.
 
Baca: Pungli di Kemenhub Sudah Lama Terjadi

Meski belum terbukti, tapi isu uang pelicin izin layar bagi Kesyahbandaran sudah amat santer digunjingkan. Ketika dimintai klarifikasi mengenai isu pungli ini, pejabat Kementerian Perhubungan selaku pihak yang memiliki wewenang pengawasan perizinan dan keselamatan mengelak memberikan keterangan dengan alasan belum bisa berbicara banyak.
 
“Saya enggak tahu soal itu (pungli). Harus ada buktinya. Kan kita tidak bisa ngomong kalau cuma asumsi atau isu,” kata Direktur Jenderal Perhubungan Laut A. Tonny Budiono.
 
Namun, Kemenhub yang memiliki wewenang mengatur Kesyahbandaran mengaku tak akan segan-segan menindak oknum nakal. Bukan hanya menyangkut pungli, tapi juga kinerja Syahbandar.
 
“Kepala Syahbandar yang menyalahi standart operation procedur (SOP). Tanpa diinvestigasi sudah ketahuan kok. Bisa langsung kami copot sebagai sanksi administrasi. Kalau ada proses hukum, kami serahkan ke kepolisian,” kata Tonny
 
Ia menambahkan, dalam transportasi laut terutama angkutan tradisional, aspek safety (keselamatan), security (keamanan), dan service (pelayanan) menjadi barang wajib. Karena itu, terbakarnya kapal Zahro Express menjadi sinyal bahwa pekerjaan rumah pemerintah dan pengusaha belum selesai.
 


(ADM)