Akhir Karier Kapten Pecandu

Lis Pratiwi    •    22 Desember 2017 21:24 WIB
Akhir Karier Kapten Pecandu
Ilustrasi: Medcom

Jakarta: Whip Whitaker adalah seorang pilot senior di perusahaan penerbangan SouthJet Airlines. Kendati memiliki kecakapan dalam pekerjaannya, Whip bermasalah karena kecanduan alkohol dan narkotika.
 
Pada 14 Oktober 2011, Whip melakukan jamuan minuman keras dan narkotika bersama seorang rekan pramugarinya. Dalam keadaan mabuk dan kurang tidur, ia harus menerbangkan pesawat dari Orlando menuju Atlanta. Dia membawa 102 penumpang dan awak pesawat.
 
Dalam penerbangan, Whip bahkan sempat meminum alkohol bahkan tertidur karena kelelahan. Pesawatnya mendadak mengalami turbulensi dan kondisi darurat. Meski berhasil menyelamatkan pesawat dari kecelakaan fatal, dia harus kehilangan empat penumpang dan dua pramugarinya.
 
Tindakan Whip dalam penyelamatan pesawat mendapat banyak pujian. Namun, fakta dirinya mabuk dan menghisap kokain dua jam sebelum penerbangan akhirnya terkuak. Whip pun dipenjara akibat kelalaian tersebut.
 
Whip Whitaker hanyalah tokoh fiksi dalam sebuah film berjudul Flight (2012). Namun, gambaran pekerjaan seorang pilot di dalamnya memberi pemahaman akan besar tanggung jawab seorang pengendali burung besi.
 
Di Indonesia, perselingkuhan pilot dengan narkotika bukan cerita fiksi. Berkali-kali kasusnya muncul, dan berkali-kali pula ada pilot yang tertangkap tangan sedang mengonsumsinya. Stres akibat padatnya jadwal pekerjaan, kerap menjadi dalih.
 
Menanggapi hal ini, Direktur AirAsia Indonesia Dendy Kurniawan mengatakan, padatnya jadwal pekerjaan tidak dapat dijadikan alasan. Pasalnya, jam terbang pilot sudah diatur oleh International Civil Aviation Organization (ICAO).
 
“Tidak. Itu hanya alasannya saja (kalau pakai narkoba karena jam kerja padat),” katanya saat ditemui Medcom.id di Jalan MH Thamrin, Menteng, Jakarta Pusat, Senin 17 Desember 2017.





Dendy menjelaskan, aturan terkait penggunaan narkoba oleh kru pesawat sudah sangat tegas. Pemeriksaan pun dijalankan secara regular setiap enam bulan sekali; tes secara acak dilakukan setiap tiga bulan sekali.
 
“Itu (penggunaan narkoba) tanggung jawab dia (kru pesawat) secara pribadi, tapi kita kan punya aturan tegas. Petugas harus sehat jasmani rohani, tidak boleh ini itu, sudah tanda tangan (peraturan dan kontrak) waktu masuk,” katanya.
 
Selanjutnya, bila kedapatan melanggar aturan, siap-siap didepak. 


Rekor
 
Rekor kasus penerbang dan narkotika di Indonesia masih dipegang maskapai Lion Air. Sejak tahun 2011, terhitung sudah delapan kru maskapai berlogo singa merah ini diamankan petugas, terdiri dari lima pilot, satu kopilot, satu pramugari, dan satu pramugara.
 
Kasus terbaru adalah penangkapan pilot berinisial MS pada Senin malam, 4 Desember 2017 di kamar hotel tempat menginapnya di Kupang. Lion Air pun menyiapkan sanksi tegas terhadap sang kapten.
 
"Jika yang bersangkutan terbukti sebagai pengguna, maka akan dikenakan sanksi sesuai dengan peraturan perusahaan, termasuk pemberhentian sebagai pegawai," ujar Corporate Communication Lion Air Group Ramaditya Handoko, Selasa 5 Desember 2017.
 
Sanksi lain pun siap diberikan oleh Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi. Dia memastikan akan mencabut lisensi terbang pilot tersebut karena terbukti menggunakan sabu.
 
"Kami tindak tegas ya. Kami akan cabut lisensinya," ujar Budi di Istana Kepresidenan Bogor, Rabu 6 Desember 2017.
 

Pencabutan lisensi pilot bukan semata wacana. Setidaknya hingga kini sudah diterapkan kepada lima pilot pecandu dari Lion Air - sejak 2011, dan seorang pilot Citilink yang ketahuan mabuk dalam penerbangan di awal tahun 2017.


Pencabutan lisensi adalah akhir perjalanan seorang pilot. Kepala Badan Narkotika Nasional Komisaris Jenderal Budi Waseso mengatakan, tindakan ini dapat memberikan efek jera dan mencegah laku serupa di kemudian hari.
 
"Izin terbangnya sudah dicabut dan nggak bisa bikin lagi, izin terbang kan buatnya susah pasti menyesal banget," ujar Budi usai kasus pencabutan lisensi pilot pecandu di tahun 2015.
 


(COK)