Sensasi Menambang Emas 2.0

Wanda Indana    •    30 Januari 2018 16:29 WIB
Sensasi Menambang Emas 2.0
Tambang uang virtual milik pebisnis Dmitry Marinichev di Moskow, Rusia. (AFP)

Bak emas, bitcoin sangat bergantung pada proses penambangan.


Jakarta: Meski tak ada wujudnya, mata uang virtual (cryptocurrency) alias uang kripto bitcoin bisa ditambang, selayaknya emas atau logam lainnya.
 
Di Indonesia, kita mengenal PT Aneka Tambang (ANTAM); perusahaan pertambangan dan pengolahan emas. Emasnya berasal dari tambang bawah tanah Pongkor, Jawa Barat dan Cibaliung, Banten.
 
Menambang emas tentu tidak mudah. Butuh biaya besar. Pertama, dengan menggunakan alat khusus, ANTAM harus mencari titik cadangan emas. Setelah ditemukan, mulailah dilakukan penggalian hingga kedalaman tertentu - untuk menemukan biji-biji emas.
 
Setelah itu emas dimurnikan dan diolah hingga berbentuk batangan. Lantas, diedarkan di pasar.
 
Pula menambang bitcoin. Pada prinsipnya sama, hanya saja tidak menggali tanah, tapi memecahkan rumus algoritma matematika yang rumit dan kompleks.
 
Karena sulit dipecahkan, penambang bitcoin atau miner, juga membutuhkan peralatan khusus. Bisa menggunakan perangkat keras komputer; CPU, GPU, dan FPGA. Terbaru, yang lebih mutakhir, ada ASIC (application-specific integrated circuit chips).
 
Harga perangkat-perangkat ini bervariasi; semakin canggih alatnya, kian mahal harganya. Dengan begitu, lebih cepat pula proses penambangannya.
 
Di dunia, jumlah total bitcoin hanya 21 juta keping. Saat ini, baru ada 16 juta bitcoin yang beredar. Sisanya, belum ditambang.



Kartu grafis ASUS ROG STRIX RX 480, varian kartu grafis baru yang khusus ditujukan untuk kegiatan cryptocurrency mining.


Menambang bitcoin
 
Soal penambangan bitcoin, analis cryptocurrency dari Crypto Indonesia Club (CIC) Sigit Putra Tanoko secara umum menceritakannya kepada Medcom.id.
 
Di awal kemunculan bitcoin, pada 2009, para penambang umumnya menggunakan perangkat keras FPGA (Field Programmable Gate Arrays); sirkuit terpadu (IC) yang berfungsi untuk menerapkan rangkaian digital dalam komputer.

Kemudian, FPGA dipasang ke perangkat komputer yang terhubung ke jaringan blockchain, sebuah sistem basis data yang digunakan bitcoin.

Proses penambangannya terbilang lama dan boros listrik. Sebab, komputer dan rangkaian FPGA yang terhubung harus terus menyala sampai penambangan selesai.
 
“FPGA sekarang tidak profitable (menguntungkan), karena sekarang sudah ada ASIC miner,” ujar Sigit saat berbincang santai dengan kami di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu, 20 Januari 2018.
 
ASIC adalah perangkat khusus menambang bitcoin karya Bitmain, perusahaan penyedia alat tambang bitcoin asal Tiongkok. Kemampuannya 500 kali lebih cepat dari FPGA, dengan listrik yang 10 kali lebih hemat.
 
Harga ASIC bervariasi, tergantung jenisnya. Di Indonesia, dijual dalam kisar Rp 60 jutaan. Tapi, saat ini, tak hanya Tiongkok yang memproduksinya. Jepang dan Rusia pun pelan-pelan sudah mengembangkan tekonologi serupa.
 
Di Jepang, ada GMO Internet Group, sebuah perusahaan penyedia jasa internet yang hendak mengeluarkan produk alat tambang uang kripto pada tahun ini.
 
GMO sendiri sudah dikenal sebagai perusahaan yang aktif dalam perdagangan bitcoin. Bahkan, GMO menggaji karyawannya dengan uang virtual itu. Tujuannya, memperluas sekaligus mempromosikan penggunaan bitcoin.
 
Jadi, mahfum bila popularitas bitcoin sangat tinggi di negeri Sakura. Di Tokyo dan beberapa kota besar lainnya, bitcoin jamak digunakan sebagai alat pembayaran. Termasuk membayar uang sekolah dan membeli rumah.
 

Tingginya popularitas bitcoin di Jepang pun terasa lumrah, sebab pemerintah melegalkan penggunaannya secara luas.


“Kalau di Rusia, ada kota-kota tertentu yang difokuskan untuk mining, diberi kemudahan pajak, diberi gratis sewa tempat,” imbuh Sigit.
 




Tambang uang virtual milik pebisnis Dmitry Marinichev di Moskow, Rusia. (AFP)


Habis pada 2140
 
Sebelum memulai proses penambangan, miner harus mencari blok. Blok ini bisa diibaratkan seperti lokasi penambangan.
 
Miner harus memastikan Blok yang akan ditambang adalah valid. Maksudnya, blok yang ditemukan belum pernah ditambang oleh miner lain. Jika bentrok, antar-penambang harus membuat kesepakatan alias konsensus. Salah satunya harus ada yang mengalah.
 
Ketika bitcoin belum banyak dikenal, penambang yang berhasil mengeksplorasi satu blok, secara otomatis memperoleh imbalan sebesar 50 keping BTC (satuan bitcoin).
 
Setiap empat tahun sekali, rumus algotirma dalam blockchain diperbaharui oleh sistem. Menjadi semakin sulit dipecahkan, dan tentu membutuhkan spesifikasi komputer lebih canggih lagi.
 
Demikian pula imbalannya, berkurang 50 persen, menjadi 25 BTC di tahun 2013. Kini, per 2018, imbalan yang diterima penambang dalam satu blok sebesar 12,5 BTC. Diprediksi, hingga tahun 2020, imbalan yang diterima penambang menjadi 6,25 BTC dalam satu blok. Jumlah itu akan turun terus selama empat tahun.



Analis cryptocurrency Sigit Putra Tanoko, saat berbincang dengan tim Medcom Files. (Medcom), Sabtu, 20 Januari 2018.


Sigit mengatakan, tingkat kesulitan penambangan bitcoin juga disesuaikan jika sebanyak 2016 blok sudah ditambang. Secara otomatis sistem akan memperbaharui rumus algoritma.
 
Biasanya para penambang memiliki target, 10 menit satu blok. Dengan begitu, Sigit memprediksi, pada tahun 2140, total 21 juta keping bitcoin yang diterbitkan, sudah beredar.  Saat itu, penambangan tidak ada lagi. Yang ada tinggal peredarannya saja.
 
Sungguh seperti emas. Bitcoin adalah komoditas virtual yang sulit dicari, jumlahnya terbatas, sulit pula dimusnahkan.
 
“Jadi sudah ada rumusnya,” pungkas Sigit.
 
Karena menambang bitcoin relatif sulit, butuh modal besar, dan membutuhkan pemahaman Teknologi Informasi (TI), maka masyarakat awam bisa mendapatkan bitcoin dengan cara membeli, tanpa menambang.
 
Serupa pasar modal Bursa Efek Indonesia (BEI), di Indonesia, pasar investasi bitcoin ada vip.bitcoin.co.id. Di sini lah orang bisa membeli dan menjual ‘emas 2.0’ itu.


(COK)