Yang Latah Intimidasi Batik

Wanda Indana    •    04 Oktober 2017 11:21 WIB
Yang Latah Intimidasi Batik
Perajin menorehkan lilin dengan menggunakan canting saat membuat motif batik. (ANTARA/Yusran Uccang)

Metrotvnews.com, Pekalongan: Usianya sudah tidak lagi muda. Tusliyah, nenek berusia 66 tahun ini, masih melestarikan tradisi membatik. Lewat kelihaian jemarinya itu, sudah banyak karya batik yang dihasilkan.
 
Setiap pagi, setelah pekerjaan rumah selesai, Tusliyah beranjak ke workshop yang berada di Desa Clumprit, Pekalongan, Jawa Tengah. Saat tiba, Tusliyah duduk di depan gawangan sembari mulai menggerakkan tangannya di atas sehelai kain. Sementara matanya menatap tajam pola batik yang sudah dilukis.



Bagi Tusliyah, batik perumpaan seratan jiwa. Setiap corak yang ada pada lembaran kain batik menempel kidung-kidung dan doa-doa mereka. Melalui  tangan-tangan gemulai menorehkan canting, menjaga keseimbangan nafas, hati dan ketabahan.
 

FOTO: Kegiatan membatik (MTVN/Wanda Indana) Imam Syafrudien selaku seniman batik asal Pekalongan, menyatakan bahwa untuk menghasilkan satu helai batik berkualitas paripurna bisa menghabiskan waktu yang panjang, hingga berbulan-bulan. Namun, pria yang akrab disapa Imang ini mengaku prihatin melihat kecenderungan apresiasi terhadap batik yang kian mengalami kemunduran.
 
Ia menjelaskan, batik merupakan bagian dari warisan kekayaan seni kriya dan budaya Indonesia yang artistik dan antik. Penghargaan terpenting dari masyarakat internasional terhadap batik Indonesia adalah pada keragaman dan pelestariannya.
 
Ini pula yang membuat batik Indonesia terdaftar di Badan PBB untuk Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan atau UNESCO sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and the Intangible Heritage of Humanity) pada 2 Oktober 2009.
 
Meski begitu, proses pembuatan batik tidak pernah sederhana. Pengerjaannya membutuhkan konsentrasi serta ketelitian, keuletan, dan kesabaran tingkat tinggi.  Tak jarang kualitas batik ditentukan suasana batin sang pembatik.
 
Konon, pembatik meluapkan perasaan melalui karyanya. Dengan demikian, emosi pembatik terbaca dalam tiap guratannya melukis di atas kain menggunakan canting berisi malam.
 
Pun begitu, batik juga bukan sebuah karya individu. Melainkan, suatu pencapaian kerja banyak orang. Batik merupakan prestasi kolektif. Maka, jangan heran jika harga kain batik bisa jutaan rupiah sehelainya. Itupun ukuran panjang kain dua meter.
 
Pada masa lampau, kegiatan membatik banyak dilakukan kaum perempuan. Mengerjakan batik pun harus dalam suasana suka cita. Suasana hati akan mempengaruhi kualitas batik yang dihasilkan. Tradisi membatik seperti ini pun masih tetap lestari meski sudah berusia ratusan bahkan mungkin ribuan tahun.
 
Harapan Imang, budaya membatik tak lekang ditelan zaman. Inovasi diperlukan demi membuka ruang bagi generasi muda melanjutkan estafet pelestarian warisan kekayaan budaya Indonesia ini.
 
Ia terus terang cemas melihat situasinya kini pembatik andal semakin sedikit. Dalam artian, kalangan pembatik yang terampil berkreasi dan melahirkan produk bernilai tinggi rata-rata sudah tua.
 
Menurut dia, khazanah batik seperti samudera. Semakin diselami, semakin banyak kejutan yang ditemui. Kadang kala Imang turut larut dan terhanyut saat membatik.
 
“Makanya, saya sekarang tidak pernah berpikir bagaimana memberikan warna-warna pada kebanyakan batik yang saya buat. Seringkali saya dibuat shock dengan hasilnya, karena apa yang saya bayangkan jadinya bisa melebihi yang saya harapkan,” ujar Imang dalam perberbincangan dengan Metrotvnews.com yang menemuinya di Pekalongan, 28 September 2017.
 


FOTO: Imam Syafrudien (MTVN/Wanda Indana)

Pengukuhan
 
Pengakuan UNESCO terhadap batik sebagai warisan budaya dunia pada delapan tahun lalu mendapat sambutan gembira publik Indonesia. Pemerintah pun langsung menerbitkan Keppres Nomor 33 Tahun 2009, yang menetapkan setiap tanggal 2 Oktober diperingati sebagai Hari Batik Nasional.
 
Semenjak itu, eksistensi batik semakin mentereng dan dianggap sebagai identitas bangsa Indonesia. Batik yang dulu pamornya dilekatkan dengan imaji serba kaku dan kuno kemudian ditampilkan dalam bentuk pakaian yang lebih bernuansa luwes, segar, dan kekinian.
 
Pengenaan batik pun kian meluas. Mencakup segala kalangan, mulai dari yang muda hingga yang tua, dari pejabat sampai rakyat biasa. Permintaan produk batik di pasar pun melonjak.
 
Popularitas batik lantas membangkitkan industri-industri tekstil. Pekalongan sebagai salah satu daerah sentra kerajinan batik turut tergopoh-gopoh meladeni ledakan permintaan batik itu. Tetapi, kondisi ini juga menggeliatkan bisnis batik printing pabrikan Pekalongan. “Jadi, masyarakat kita ini memang sepertinya sering terjebak pada kelatahan,” kata Imang.
 
Menurut Imang, perayaan Hari Batik Nasional sebenarnya hanya mengukuhkan kenyataan tentang tradisi budaya yang masih hidup dan berkembang di tengah masyarakat penggunanya. “Apa yang diperingati setiap tanggal 2 Oktober itu adalah pengakuan dunia terhadap intangible heritage kita. Artinya, pengakuan atas kehidupan tradisi budaya batik kita, bukan kepada benda batiknya,” kata dia.
 
Ia menambahkan, banyak orang berfoto ria mengenakan batik pada Hari Batik Nasional. Memang, ini sah-sah saja sebagai ekspresi kebanggaan terhadap budaya dan identitas bangsa. “Tapi, itu saya lihat juga banyak yang jenis batik printing,” kata Imang.
 
Ia mencermati pabrik-pabrik tekstil di Pekalongan memproduksi batik printing 100 kilometer per hari pun kewalahan menghadapi peningkatan permintaan di pasar yang meroket. Padahal proses pembuatan batik printing jauh lebih cepat dan murah.
 
Ia menduga sekitar 90 persen batik printing di pasar dalam negeri dipasok dari Pekalongan. Namun, ada satu masalah yang mengganjal. Publik tidak tahu bahwa itu batik printing. “Saya kira, lebih dari 50 persen masyarakat kita tidak paham tentang batik,” kata Imang.
 
Ia menekankan batik sebenarnya karya seni bernilai tinggi. Seni batik di setiap daerah mempunyai keunikan dan ciri khas masing-masing baik dalam ragam desain maupun tata warnanya, di mana itu dipengaruhi oleh letak geografis dan adat istiadat setempat.
 
Corak-corak batik tersebut masih bisa kita jumpai dalam pakaian adat, aksesoris tarian adat, serta kerajinan tangan. “Batik ini menunjukkan bahwa masyarakat kita sejak dahulu sudah punya bayangan masa depan yang luar biasa lho. Hebat kan jaman segitu sudah bisa bikin pattern-pattern yang keren begitu dan sampai sekarang pun up to date,” kata Imang.
 
Nah, persoalan batik menjadi industri, itu bicara masalah efisiensi. Kalau sudah bahas efisiensi ujung-ujungnya menyangkut ke persoalan teknologi. “Sekarang, ketika berhadapan dengan teknologi, pembatik atau sumber daya manusia yang termasuk dalam kategori intangible asset tadi itu ada di mana posisinya?,” kata Imang.
 
Kehadiran industri batik printing jelas mengintimidasi budaya membatik. Ini yang membuat banyak orang gagal memahami batik. “Coba saja Anda lihat di toko-toko online itu. Kok ada batik sudah berbentuk baju jadi dengan harga bisa di bawah Rp100 ribu?,” kata Imang.
 
Padahal, ia melanjutkan, yang dijual itu bukan batik. Tetapi pakaian yang diberi motif menyerupai batik. “Mereka bisa disrorientasi memahami batik. Asalkan ada kawung-nya (salah satu motif batik) walaupun dari pabrik dianggap batik. Padahal bukan,” katanya.



Oleh karena itu, menurut Imang, makna perayaan Hari Batik Nasional perlu diluruskan. Tak cukup sekadar memakai batik pada tanggal 2 Oktober. Tetapi, mestinya juga mengedukasi masyarakat agar lebih memahami makna di balik karya batik dengan keagungannya itu sendiri.
 
Imang menerangkan, tidak semua kain bercorak bisa disebut batik. Sederhananya, batik adalah karya  seni rupa pada kain yang memakai teknik pewarnaan rintang dengan menggunakan malam panas atau lilin. Hanya ada dua teknik membatik yang diakui, yakni batik tulis menggunakan canting dan batik cap menggunakan stempel tembaga. Sementara batik printing tidak layak disebut batik karena tidak menggunakan teknik perintang warna dan lilin.
 
Imang sadar, secara ekonomi, berkembangnya industri batik printing tak bisa disalahkan. Hanya saja, pengusaha dan pelaku bisnis batik dapat memberikan pemahaman tentang batik.
 
“Memang tak salah, ekonomi kita terbuka. Namun, setidaknya orang harus mengenal batik lebih dekat lagi,” kata Imang.
 
Orang-orang seperti Mak Tusliyah patut memperoleh apresiasi karena sampai saat ini masih menjalankan tradisi lelulur. Karena esensi merayakan Hari Batik Nasional, adalah menghargai orang-orang yang mempertahan tradisi batik dan menggunakan hasil karyanya.
 
“Kalau semua serba printing, kita tidak akan bisa belajar lagi tentang kesabaran, tidak bisa belajar lagi tentang intensitas. Tidak bisa memahami lagi bahwa di situ ada kerja kolektif,” pungkas Imang.
 
 
 


(ADM)