Industri Jamu dan Farmasi Saling Menopang

Sobih AW Adnan    •    08 Februari 2016 19:27 WIB
Industri Jamu dan Farmasi Saling Menopang
Presiden Direktur PT Sido Muncul Irwan Hidayat berpose saat difoto di kantor Sido Muncul di kawasan Cipete, Jakarta Selatan. (foto: MI/Immanuel Antonius)

Metrotvnews.com, Jakarta: Apa sebenarnya yang melintas dalam pikiran kita, bila seorang bakul jamu lewat? Dia menyeruduk, menyelinap dengan halus tetapi gesit, dalam keributan Jakarta misalnya. Dandanannya rapi, air mukanya beres, sepak terjangnya sopan. Kalau disapa akan banyak senyum dan ngomong dengan manis.



Jamu dipercaya bukan sekadar ramuan untuk menendang ragam penyakit. Di dalam jamu, tersimpan sisi-sisi lain yang menarik, seperti soal filosofi, sejarah, tradisi, mitos, bahkan seni. Banyak versi mengisahkan latar belakang kemunculan jamu di Indonesia. Dari sisi bahasa, konon penyebutan jamu berasal dari kata Jampi Usodo, yang disebut dalam bahasa Sanskerta pada naskah Gatotkacasraya karangan Mpu Panuluh, Serat Centhini, serta Serat Kaweruh.

 “Jampi Usodo mempunyai arti ramuan kesehatan yang disertai dengan doa,” tulis Profesor Tjandra Yoga Aditama dalam Jamu dan Kesehatan.

Kemasyhuran jamu konon memang telah ada sejak masa lampau. Ada banyak bukti fisik dan tertulis mengenai rekam jejak sejarah kehadiran jamu di Indonesia. Masih dalam buku yang sama, Tjandra menyimpulkan ke dalam enam sumber, yakni relief Candi Borobudur (772 SM), relief Candi Prambanan, Penataran, dan Candi Tegalwangi -yang menggambarkan tentang semacam penggunaan jamu pada zaman dahulu.

Sumber berikutnya juga dengan bukti ragam kitab kesehatan tua yang memuat istilah jamu. Lantas, pada perumusan obat dan ekstraksi tanaman yang tertulis dalam media daun kelapa dan lontar antara tahun 991-1016 yakni pada Lontar Usada di Bali dan Lontar Pabbura di Sulawesi Selatan.

“Rumphius, seorang botanis yang hidup pada masa Pemerintahan Belanda di Indonesia, yakni tahun 1775 Masehi telah melakukan penelitian tentang jamu di Indonesia. Ia menerbitkan buku berjudul Herbaria Amboinesis,” tulis Tjandra menunjukkan sumber berikutnya.

Tak hanya itu, di pelbagai daerah, jamu juga identik dengan garis sejarah yang terhubung dengan warisan leluhur bangsa Tiongkok. Sebut saja salah satu pelopor industri jamu di Cirebon, Jawa Barat, yakni Jamu Tjap Njai Idep, yang sudah dirintis sejak 1915. Pada mulanya, sang pendiri yakni Nyai Arniti dan Kwee Kwan Soen memadukan olahan yang berasal dari tumbuhan lokal dan racikan berkhasiat asal Tiongkok.

“Tahun 1949 Kwee Kwan Soen meninggal dunia, Ibu Arniti meminta putri tertua almarhum yang bernama Kwee San Nio membantunya agar paduan rempah China dan Jawa tetap dipertahankan,” kata keturunan ketiga Nyai Arniti, Jeremy Huang, kepada metrotvnews.com, Minggu (7/2/2016).

Belakangan, aneka jamu tradisional merelakan dirinya disebut dengan istilah-istilah yang universal seperti penamaan Herba atau Herbal. Dilekatkan dengan istilah asing, jamu seperti kehilangan ciri khasnya sebagai produk asli Indonesia.

Presiden Direktur PT Sido Muncul Tbk, Irwan Hidayat, menyatakan bahwa pengistilahan jamu sebagai obat herbal sebenarnya tidak masalah.

Menurut dia, barangkali penggunaan istilah global seperti herbal itu akan lebih meluaskan pangsa pasar jamu.
“Penggunaan istilah tersebut (herbal) itu terutama dalam rangka menghadapi MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN),” kata Irwan kepada metrotvnews.com, Senin (8/2/2016).

Kementerian Industri dan Perdagangan (Kemenperindag) RI mencatat saat ini terdapat sebanyak 1.247 industri jamu yang beroperasi di dalam negeri. Mereka tersebar di berbagai daerah, terutama di pulau Jawa. Sebanyak 129 unit berupa industri obat tradisional (IOT), dan sisanya termasuk dalam golongan usaha menengah dan usaha kecil obat tradisional.

Ribuan industri jamu yang ada tentu memiliki peluang yang sama untuk memanfaatkan  sekitar tujuh ribu jenis tanaman berkhasiat di Indonesia.

Pada sisi inilah masing-masing dari pengusaha jamu di Indonesia wajib menjamin kelangsungan budidaya tanaman berkhasiat dengan melakukan kerjasama dengan para petani lokal.

Sido Muncul sendiri mengaku telah bekerjasama dengan lebih dari 100 kelompok tani yang tersebar di Pulau Jawa. Antara lain di Karanganyar dan Wonosobo, keduanya di Jawa Tengah.

Pengadaan bahan baku, menurut dia, harus diberdayakan melalui kerjasama yang baik.

Irwan pun percaya masa depan industri jamu semakin menemui harapan yang baik. Hal ini ditunjukkan melalui dukungan pemerintah terhadap kelestarian jamu yang merupakan bagian dari tradisi dan budaya Indonesia.
Ia menilai anggapan tentang terdesaknya industri jamu oleh perkembangan dunia farmasi telah berkembang ke arah yang keliru. Sebab, sebenarnya jamu sebagai bentuk obat tradisional tidak memiliki hubungan persaingan dengan dunia farmasi.

Sebaliknya, justru farmasi dan jamu saling menopang.

“Jamu tidak terpengaruh dengan desakan industri farmasi. Penggunaannya pun berbeda, jamu tetap membutuhkan manfaat farmasi, pun sebaliknya,” kata Irwan.

Harapan baik soal kelangsungan industri jamu juga didorong oleh melonjaknya gengsi meminum jamu di tengah masyarakat. Tidak hanya di Indonesia, tren meminum jamu juga cukup dianggap cukup bagus di luar negeri. Apalagi dalam satu dekade terakhir ini terdapat kecenderungan global untuk kembali ke alam (back to nature). Selain itu faktor promosi melalui media masa juga ikut berperan dalam meningkatkan penggunaan obat bahan alam.

Faktor inilah yang turut membuat jamu atau atau obat herbal alias obat bahan alam menjadi semakin populer. Penggunaannya pun meningkat di negara-negara lain, tidak saja di Indonesia.

“Terutama di negara-negara ASEAN. Kalau di eropa, masih dijual di toko-toko Indonesia,” ujar dia.

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Hedi R. Dewoto, menjelaskan bahwa penggunaan obat tradisional di Indonesia tidak saja berlangsung di desa yang tidak memiliki atau jauh dari fasilitas kesehatan dan obat modern sulit didapat, tetapi juga berlangsung di kota besar meskipun banyak tersedia fasilitas kesehatan dan obat modern mudah diperoleh.

“Obat tradisional mungkin digunakan sebagai obat alternatif karena mahalnya atau tidak tersedianya obat modern atau sintetis dan adanya kepercayaan bahwa obat tradisional lebih aman,” kata Hedi dalam makalahnya bertajuk Pengembangan Obat Tradisional Indonesia Menjadi Fitofarmaka.

Meningkatnya minat masyarakat terhadap obat tradisional memacu industri farmasi di Indonesia untuk ikut memproduksi obat tradisional.

Menurut Hedi, saat ini meskipun obat tradisional cukup banyak digunakan oleh masyarakat dalam usaha pengobatan sendiri (self-medication), dokter di Indonesia umumnya masih enggan untuk meresepkan ataupun menggunakannya. Ini berbeda dengan yang terjadi di negara lain yang juga memiliki tradisi pengobatan kuno, seperti Tiongkok misalnya, yang mengintegrasikan cara dan pengobatan tradisional di dalam sistem pelayanan kesehatan formal.

Para dokter enggan meresepkan jamu dan sejenisnya karena bukti ilmiah mengenai khasiat dan keamanan obat tradisional pada manusia masih kurang.

Maka, Hedi menyarankan, pembuktian khasiat dan kemananan obat tradisional pada manusia melalui uji klinik perlu ditingkatkan. Meskipun minat untuk melakukan penelitian dan pengembangan obat tradisional menjadi fitofarmaka cukup baik, seringkali terbentur pada masalah dana penelitian yang sulit didapat.

Fitofarmaka adalah obat dari bahan alam terutama dari alam nabati yang khasiatnya jelas dan terbuat dari bahan baku yang telah memenuhi persyaratan minimal, sehingga terjamin keseragaman komponen aktif, keamanan dan kegunaannya.

“Di era industri abad ke-20, penelitian dan pengembangan jamu tidak dilakukan melalui jalur farmasi berdasarkan metodologi budaya Barat. Maka lahirlah jenis dan bentuk obat baru, yaitu fitofarmaka,” tulis J.B. Kristanto dalam 1000 Tahun Nusantara.

 


(ADM)