Silat pun Perlu Inovasi

Surya Perkasa    •    07 Maret 2016 23:31 WIB
Silat pun Perlu Inovasi
Guru Besar Silat Harimau Minangkabau, Edwel Yasir Datuak Rajo Gampo Alam. (foto: MTVN/Surya Perkasa)

Metrotvnews.com, Jakarta: Kemampuan industri film Hong Kong melejitkan nama Bruce Lee, turut mengokohkan Kung Fu di dunia sebagai satu beladiri pilihan. Judo dan Karate yang digunakan sebagai sebuah beladiri perang dari Jepang, ikut mewabah di dunia karena banyak dipromosikan lewat budaya pop Negeri Matahari Terbit.
 
Beladiri Tae Kwon Do dan Yom Koo Do dengan bantuan dorongan negaranya menjadi salah satu beladiri yang melekat dalam penyebaran budaya hallyu dari negeri Korea. Thai Boxing, Brazilian Jiujitsu, Krav Maga menjadi beladiri alternatif para muda-mudi Indonesia dipesatnya teknologi kini.
 
Namun bagaimana dengan Silat? Silat Betawi, Silat Cimande, dan Silat Minang mungkin diketahui orang-orang secara umum. Tapi banyakkah praktisinya? Silat sempat booming di era 60-90an saat film-film bertema silat diangkat sineas-sineas masa itu.
 
Namun makin lama silat-silat tradisi justru terkikis usia di negeri sendiri. Perguruan besar saja jarang diberitakan dan muncul di media, apalagi aliran-aliran di Minangkabau seperti Silek Kumango, Silek Tuo, Silek Taralak, Silek Bukak Kafan dan Silek Harimau. Bahkan orang Minang sendiri kadang acuh dengan beladiri budayanya itu.
 
Mengutip ucapan Sekretaris Jenderal Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Erizal Chaniago, “beberapa aliran bahkan akan sulit ditemukan walau alas kaki tipis mencarinya.”
 
Silek Harimau dari Minangkabau berusaha kembali menunjukkan taring dan giginya. Telah lama tak muncul di permukaan, aliran silat ini kembali ternama lewat film-film besutan sutradara Gareth Evans. Merantau dan dua seri The Raid menjadi panggung bagi ganas sekaligus anggunnya Silek Harimau dari Sumatera.
 
Adalah Edwel Yusri Datuak Rajo Gampo Alam, pria yang menjadi guru silat Gareth dan turut membantunya menata gerak di film Merantau. Pria kelahiran Bukittingi, Sumatera Barat, 52 tahun silam ini berusaha menjadi pelestari Silek Harimau yang kini kian sulit dicari.
 
Berikut adalah bincang-bincang ringan metrotvnews.com dengan Datuak Edwel pada hari Jumat lalu, 4 Maret 2016.
 
Apa alasan Datuak berusaha membuat perguruan dengan membawa Silek Harimau Minang sebagai dasarnya?
Sewaktu bertanding di PON di Surabaya, tidak satupun pesilat Minang dari Sumbar mendapat nama. Di Porseni juga tidak jauh berbeda. Akhirnya sampai ada yang berbicara, “Pak Datuak, gimana nih silat Minang. Mulai kehilangan pamornya”.
 
Setelah dipikir-pikir dan saya analisa, Silat Minang ini tidak inovatif. Kemudian banyak yang berkeyakinan, bahwa silat kita lebih banyak berkembang yang mancak, atau seni pencaknya. Silat minang itu padahal bagaimana membela diri, secepat mungkin seefektif mungkit, seefesien mungkin.
 
Silat itu memang ada dua, yang mancak di gelanggang, tujuannya untuk tampil sarancak (seindah) mungkin. Langkahnya indah, gerakan tangannya indah. Intinya silat untuk penampilan festival atau silat tradisi. Tapi terlalu fokus ke tradisi, beladiri tertinggal.
 
Latar belakang ini terjadi?
Kalau kita gali dari sejarahnya, zaman Belanda dulu banyak pejuang Minang yang berlatar belakang pendekar silat. Sebut saja Imam Bonjol yang memang pendekar dan Harimau nan Salapan-nya (Delapan Jenderal Harimau), lalu perang Kamang juga begitu, kemudian ada Siti Manggopoh yang merupakan pendekar wanitanya Minang.
 
Belandan pun keluarkan larangan untuk belajar silat. Minang kan tidak bodoh. Dibuatlah mancak-mancak lewat randai dan berbagai macam acara. Ini karena setiap ada kegiatan, Belanda mengirimkan juru tulis untuk mengawal dan memantau kegiatan.
 
Ketika sudah larut malam dan juru tulis pulang, barulah pendekar kita bersilat beladiri.
 
Karena selalu ditampilkan seperti itu, menyatu dengan orang Minang. Silat yang bayak berkembang itu silat seni, sedangkan yang beladiri semakin berkurang dan tidak terangkat.
 
Setiap diadakan festival, banyak guru-guru yang mengatakan mancak itulah silat. Yang indah dilihat itu silat. Kalau sudah agak keras dan kencang mainnya, itu tidak dibilang silat lagi. tapi cakak (berkelahi).
 
Awal Datuak Edwel belajar Silek Harimau sendiri bagaimana?
Saya sendiri belajar dari banyak guru. Yang pertama itu belajarnya dari Inyiak (Kakek) seumur-umur anak TK. Saya diajarkan dari kuda-kuda Silek Tuo dan Silek Taralak. Dari Inyiak kemudian tahu, kalau kakek buyut saya yang bernama Inyiak Angguik pelaku silat harimau. atau Silek Inyiak (Inyiak di dalam bahasa Minang beberapa daerah juga berarti harimau). Diajarkan pula Silek Inyiak, walaupun tidak begitu dalam.
 
Inyiak Angguik juga dikenal sebagai pawang harimau. Beliau memiliki 8 ekor harimau yang bisa dipanggil. Nah kemudian saya disuruh lagi belajar ke salah satu Inyiak yang lain.
 
Di samping itu saya belajar ke seorang guru yang di Sungai Pua yang bernama guru Sidi Bakar yang mengajarkan Silek Baringin Marapi (Silat Beringin Merapi). Tapi khusus yang silat harimaunya. Semakin penasaranlah saya dengan silat harimau yang memang diidentikan dekat bahkan bisa memanggil harimau.
 
Kemudian belajar pulalah saya ke Bukittinggi yang dikenal dengan nama Pak Datuak saat itu dengan Silek Harimau Kurai. Di Bukittinggi juga ada seorang guru saya yang namanya Mak Aciak yang terkenal di Bukittinggi
 
Inyiak kemudian mengajak saya ke Lubuk Sikaping untuk belajar ke guru yang telah menjadi pendekar sejak jaman sebelum PRRI.
 
Kemudian belajar juga dari Pak Gaek di Lintau. Ciri khasnya itu bisa mengoyak batok kelapa dengan telapak tangan. Pertamanya sih percaya tidak percaya, karena tangan Pak Gaek kecil. Tapi dengan santai saja Pak Gaek mengoyak kelapa dengan tangan kosong. Di Lintau juga juga belajar dengan guru yang bernama Wan Duri.
 
Kemudian saya juga belajar dengan Mak Lenggang yang sekarang diteruskan ke keponakannya yang bernama Ramli yang sekarang membuka Perguruan Pusako Minang. Kalau di Silek Tuo dia kakak seperguruan saya, tapi kalau di Silek Taralak saya kakak seperguruannya.
 
Saya pun diminta Inyiak untuk meneruskan Silek Harimau yang semakin sedikit praktisinya. Karena makin lama semakin sedikit praktisi aliran ini. Jangan sampai cuma mendengar cerita.
 
Apa yang membuat Silek Harimau semakin menarik untuk Datuak pelajari?
Banyak elemen beladiri yang ada di dalam Silek Harimau.
 
Latihannya dimulai dari latihan di gelannggang yang disiram air agar licin. Kemudian naik jadi latihan di sawah berlumpur, hingga sampai bisa mengoyak batok kelapa tadi.
 
Setelah belajar dari banyak guru pun kelihatan banyak variasi Silek Harimau. Memang setelah dilihat-lihat semakin sedikit praktisi. Di kampung-kampung pun sudah banyak yang tidak bisa.
 
Alasannya praktisi semakin sedikit?
Karena banyak juga guru yang tidak mengajarkan ilmunya. Ini ada kaitaannya pula dengan tradisi Silat Minang itu sendiri. Tidak pernah ada guru yang mencari murid. Murid yang harus mencari guru. Caranya pun tidak sembarangan. Selalu mengantarkan dengan adat.
 
Biasanya bapak atau mamak (paman dari pihak ibu) yang mengantarkan ke guru silat. Disinilah pepatah adek diisi limbago dituang. Jadi prinsip silek minang itu, ilmu tidak sembarangan bisa diberi. Jadi untuk berguru pun ada cara adat, basa basi si murid.
 
Dibawalah kain putih, pisau, sirih lengkap, ayam biriang (ayam kampung hitam), kemudian beras dengan uang, kemudian cermin. Itu sebagai simbol dan kemudian saya yakini, guru silat terdahulu banyak mendidik karakter orang Minang.
 
Arti dari simbol tersebut?
Kain putih sebagai simbol datang dengan hati bersih. Kemudian silat pun sama seperti kain putih yang bisa dijadikan pakaian. Kotor atau tidaknya kain putih itu tergantung si pemakai. Kalau si pemakai kain putih berpandai-pandai memakai kain putih, maka bersih dan berwibawalah dia. Saat meninggal pun, orang sekaya apapun hanya membawa kain putih ke dalam kubur. Ini menunjukkan silat ini iduik ka dipakai, mati ka dipatubuah (dimanfaatkan selama hidup, dipertanggungjawabkan saat mati).
 
Pisau sebagai simbol, makin diasah makin tajam. Begitu pula silat yang makin dilatih semakin tajam. Tapi pisau itu ketika sudah tajam sembarangan dipakai untuk memotong semua benda, kelihatan kawat dipotong, kelihatan kayu dibelah, ketika terdesak apakah nanti bisa dipakai? Kan sulit karena sudah tumpul. Sama seperti silat. Mentang-mentang bisa, kaki dan tangan mudah melayang. Tapi ketika butuh, akhirnya nanti tak bisa dipakai. Jadi silat, seperti pisau, sesudah tajam langsung disarungkan dan hanya digunakan ketika butuh. Begitulah silat Minang.
 
Lambang dari sirih, dimakan, dikunyah, dirasai. Terasa pahit, manis, kelat dan beragam rasa yang menjadi simbol kehidupan. Dalam perjalanan hidup pasti merasakan susah senang. Tapi bagaimana kita menikmati dan mensyukuri hidup.
 
Beras dan uang itu menyimbolkan bagaimana murid meminta waktu sang guru. Masa sekarang, disebut kompensasi untuk sang guru meluangkan waktu, tenaga dan pikirannya hingga memakan waktunya untuk mencari nafkah. Menyatakan sang murid tidak ingin menyusahkan sang guru.
 
Kemudian ayam biriang yang dipotong di gelanggang. Ini untuk silaturahmi dengan murid dan guru. Serta ini mencerminkan hakikat sang murid yang ingin berguru. Ayam disembelih, kemudian dilihat cara matinya. Ada simbolik-simbolik yang dapat menunjukkan karakter sang murid. Nah, ini ilmu sang guru. Dan itu memang terbukti.
 
Nah kalau di perguruan saya, ada tambahan syarat yaitu limau kuku harimau (jeruk nipis berbentuk mirip cakar harimau). Ini menyimbolkan hati sang murid sudah bertekad bulat.
 
Ini bahasa filosofi Minang yang sangat halus, atau bahaso malereng (bahasa berkias) dari kato nan ampek (empat cara bertutur orang Minang). Tapi kadang ada syarat-syarat yang mendekati syirik.
 
Beberapa Silek Harimau ada praktekkan hal ini?
Memang dalam prakteknya ada dua jenis silek harimau yang saya temukan. Ada yang benar-benar mempelajari gerak-gerik harimau atau benar-benar “bermain” bersama harimau, dengan tetap berserah diri kepada Allah S.W.T.
 
Ada pula yang dengan memasukkan jin ke dalam diri. Memang ada yang menyebutkan ilmu hitam dan putih. Salah satu perguruan, waktu saya sedang belajar Silek Harimau, ada yang bertanding melawan guru di akhir pelajaran.
 
Nah ketika bertanding dengan guru, saya merasakan guru tersebut berubah seperti harimau. Bukan secara fisik utuh, tapi saat bertanding saya merasakan badan sang guru dipenuhi bulu. Ketika ditanya, guru saya itu cuma tertawa.
 
Jadi tak sembarangannya Tuo Silek (guru silat) itu menerima murid jadi penyebab Silek Minang terkikis perlahan? Bahkan hilang satu persatu?
Memang di situ sulitnya. Apalagi zaman kan sudah berubah. Adat juga sudah melunak. Anak muda, keluarga Minang juga sudah banyak yang tidak paham adek baguru (adat berguru). Ada juga karena guru yang masih ketat memegang adat.
 
Jadi ada kasus, orang Minang yang besar di Jakarta ingin belajar silat ke Inyiak di kampung main langsung-langsung tanpa adab yang baik. “Nyiak saya mau belajar silat”, si Inyiak langsung menjawab “saya ndak bisa silat, coba cari guru lain”. Padahal Inyiaknya itu Tuo Silek. Kenapa? Karena si calon murid tidak datang dengan cara adat. Ke anak sendiri pun tidak akan diajarkan.
 
Dan adat itu masih dipegang erat oleh guru-guru dikampung.
 
Pamor Silek Minang yang mulai terpendam oleh pamor beladiri asing bagaimana di mata Datuak?
Sekarang bela diri semakin inovatif. Bela diri itu juga sekarang makin banyak menganalisa dan berpikir logis. Ditambah lagi dengan semakin banyaknya masuk beladiri asing. Bukan hanya dari Karate dan Judo dari Jepang serta Tae Kwon Do dari Korea, sekarang Brazilian Jiujitsu sudah masuk. Lebih parah, sekarang sudah masuk Krav Maga dari Israel.
 
Semakin banggalah orang Indonesia dengan beladiri asing nan semakin elit. Brimob saja bahkan sekarang mulai latihan Krav Maga.
 
Semuanya juga sudah bermain logika dan analisis. Bagaimana cara mempertahankan diri dengan efektif dan efesien. Murid pun sudah berpikir dengan pemikirannya masing-masing. Kenapa kuda-kuda ini dipakai, bagaimana cara mengelakkan serangan pisau ini, bagaimana cara menahan tendangan dan serangan ini.
 
(Datuak Edwel kemudian mengajak metrotvnews.com mencontohkan beberapa gerakan dan skenario nyata)
 
Kalau di mancak silek minang dan silat seni kan bagaimana supaya indah. Bagaimana permainan pisau terlihat anggun. Tapi kan penjahat di kota-kota tidak ada yang memasang kuda-kuda sebelum menancapkan pisau ke korban. Bahkan korban dirangkul. Pisau ditodongkan.
 
Kemudian kalau berbaku hantam, kan pukulan itu tidak satu-satu seperti pelajaran silat pada umumnya. Bisa kombinasi feint (tipuan), jab, upper-cut, bahkan one-two kiri kanan. Tendangan juga beragam. Nah silat perlu mulai mengembangkan diri. Harus berpikiran bahwa ada kemungkinan beradu ilmu dengan bela diri lain.
 
Ini kan berbahaya untuk silat. Karena silat-silat tradisi, dalam hal ini silek minang, masih terpaku dengan keindahannya dan seninya.
 
Kalau di kampung atau daerahnya sendiri sih tidak masalah. Tapi kan kalau di luar kan tidak bisa dipraktekan. Karena mana yang silat beladiri dan mana yang mancak atau pencak, tidak bisa disatukan.
 
Silat itu satu bisa menjadi dua, dua menjadi tiga, tiga menjadi empat. Jadi harus terus berkembang. Jangan ketika ada yang berubah dari gaya lama, dicemooh. Nah ini juga yang membuat saya mengkritik skema kompetisi silat.
 
Memang ada apa dengan kompetisi silat yang ada?
Kompetisi silat itu lebih banyak terfokus ke olahraganya saja. Ada tiga jenis. Pertandingan yang sejenis silat bertanding menggunakan body protector dan memakai sistem poin. Pukulan bernilai satu, tendangan bernilai dua, menjatuhkan nilai tiga untuk tiga ronde. Akhirnya pesilat-pesilat muda banyak yang fokus pakem cari prestasi ke arah itu yang membuat silat sulit berkembang.
 
Ada silat ganda, yang juga banyak saya kritik. Kenapa? Karena dalam pertandingan itu ada golok, celurit dan toya. Kalau golok tidak masalah, karena banyak perguruan mengajarkan golok yang memang juga bisa dikatakan asli Indonesia. Tapi kalau toya? Namanya saja sudah toya. Kita bisa jadi bahan tertawaan Kung Fu yang memang banyak memakai toya.
 
Kalau Shaolin memang jadi senjata aslinya. Bahkan praktisi Kung Fu Shao Lin bisa terbang-terbang dan melancarkan serangan dari udara dan berbagai sudut kalau memakai Toya.
 
Padahal kan masih banyak senjata silat asli. Kurambik atau Kerambit contohnya, yang memang senjata khas silat. Di Minang sendiri juga sudah banyak yang tidak tahu Kurambik. Apalagi yang memang ahli memainkan. Bahkan di Minang ada yang bertanya, “Pak Datuak, apa nama senjata yang Pak Datuak pakai?”. Ini kan kita jadi malu.
 
Malaysia sedikit berbeda. Mereka punya OneSilat yang mirip dengan Ultimate Fighting Championship. Betul-betul pertandingan full body contact untuk pesilat.
 
Bagaimana cara kembali menggadangkan silat minang?
Sebenarnya kita sudah berusaha menaikkan pamor silat dengan Satria Muda Indonesia, yang dulu namanya Beringin Sakti. Ini dibuat oleh Prabowo Subianto dengan beberapa pesilat. Salah satunya saya yang ikut bergabung selama SMI dibesarkan. Tapi setelah banyak mencetak atlet-atlet juara, saya kemudian berpikir untuk membersarkan nama Silek Minang.
 
Kalau bicara silat Jawa Barat, banyak yang sudah tahu. Sedangkan silat Minang yang dulunya disandingkan dengan Jawa Barat mulai kehilangan pamor.
 
Saya coba melatih silat minang di luar SMI. Salah satunya Gareth Evan yang belajar privat ke saya. Akhirnya saya diajaklah oleh Gareth untuk membuat film.
 
Jadi itu alasan Datuak mencoba promosikan silat lewat film?
Merubah citra, mengembangkan silat, dan memperkenalkan silat minang ini selalu jadi pekerjaan rumah saya.
 
Jadi dulu sekitar tahun 80an, teman-teman pesilat lain pernah mencoba mengangkat pamor silat minang lewat film Sengsara Membawa Nikmat, atau yang lebih dikenal dengan karakter si Midun. Saat itu kita mengenalkan Silek Taralak dan Silek Kumango lewat si Kacak dan si Midun dengan Silek Tuo-nya.
 
Waktu itu yang menayangkan TVRI dan sempat heboh. Tapi ada yang mengatakan, “silat Minang lucu ya Tuak, sebelum berkelahi ada menari-narinya dulu”. Kan kita jadi tergelitik juga jadinya.
 
Dengan Gareth itu pertamanya berbentuk dokumenter tentang silat dari Minangkabau.
 
Kemudian setelah dokumenter diajaklah buat film berunsur silat. Kita carilah pesilat-pesilat yang bagus untuk bermain film. Saya rekomendasikan lah Iko Uwais yang memang bagus silatnya, karena dia memang jadi perwakilan Indonesia di kompetesi-kompetisi silat. Dikumpulkanlah orang dan ada yang mau mensponsori. Waktu itu kalau tidak salah sekitar Rp20 miliar. Jadilah film Merantau.
 
Tapi waktu itu banyak yang berkomentar, “Pak Datuak habis-habiskan uang saja. Film silat mana mungkin laku. Sekarang yang laku film-film hantu”. Tapi kita tetap yakin untuk mengangkat Silek Minang.
 
Bagaimana Datuak Edwel melihat organisasi Ikatan Pencak Silat Indonesia, terutama di kampung halaman?
Menurut saya organisasi silat di kampung Minang itu perhatiannya terlalu fokus ke silat prestasi. Sementara itu untuk seni dan silat tradisi beladiri masih sedikit kurang.
 
Tapi memang pemerintah Sumatera Barat perlu belajar ke Jawa Barat yang benar-benar getol memperhatikan silat. Bahkan silat masuk ke dalam kurikulum wajib.
 
Kalau tidak ada organisasi yang benar-benar perhatian, ataupun perwakilan dari pemerintahan, akhirnya pesilat dan perguruan silat itu kan bergerak sendiri-sendiri. Akhirnya menggunakan budaya sebagai pendekatan untuk mengembangkan silat.
 
Dulu Dinas Pariwisata dan KONI juga sering tarik ulur. Kini beruntung, yang tradisi sudah diperhatikan secara penuh oleh Pariwisata dan Kebudayaan.
 
Bagaimana Silek Harimau Minang ke depannya?
Kita perguruan Silat Harimau Minang  dan beberapa perguruan tradisi lain memang banyak yang tergabung dalam IPSI, tapi tidak menggunakan sistem dan aturan yang dirancang IPSI. Karena kita fokus mengembangkan beladiri untuk menjaga diri sebaik mungkin, dan bagaimana seni berkembang dengan menampilkan pertunjukan yang memukau.
 
Kita akan berusaha kembali mempertahankan keberadaan Silek Minang dengan menampilkan karakter dan pertunjukkan. Contohnya yang paling dekat kita akan menampilkan Cindua Mato.
 
Dengan berbagai penampilan, dan cara memperkenalkan diri, kita ingin mengokohkan kembali Silek Minang dan budaya Minang sendiri.
 
Jadi pendekar silat itu artinya tidak hanya hebat prestasi dan hebat bermain fisik. Pendeka Minang juga harus pandai baraka (berfikir), karena itulah pendekar silat yang sebenarnya.
 
Meniru pepatah Minang, silat akan gadang kok digadangkan (besar bila dibesarkan). Silat hanya bisa bertahan kalau kita, sebagai pemilik budaya, cinta akan silat itu sendiri. Sudah saat kita kembali berbangga dengan silat dan mengembangkan silat. Saatnya generasi muda semakin gencar mambangkik batang tarandam, kembali mengangkat pamor silat tradisional nan mulai termakan zaman.
 
 


(ADM)