Kenapa Saling Hujat Gara-gara Kasus Asusila?

Wanda Indana    •    29 Mei 2017 10:42 WIB
Kenapa Saling Hujat Gara-gara Kasus Asusila?
Ekspresi Presiden Joko Widodo saat menyampaikan sambutan rapat di Istana Negara, Jakarta, Kamis 18 Mei 2017. (ANTARA/Puspa Perwitasari)

Metrotvnews.com, Jakarta: Dalam pidatonya siang itu, nada suara Presiden Joko Widodo meninggi saat bicara tentang kondisi yang tidak lazim di tengah masyarakat. Siang itu, Jokowi tampak betul-betul dongkol atas fenomena sosial yang memprihatinkan, saling menghujat antar kelompok masyarakat sudah tak bisa dianggap masalah sepele lagi. Ia menunjukkan kegeramannya terhadap kenyataan bahwa energi bangsa ini terkuras habis pada hal-hal yang tidak produktif.



“Urusan demo, urusan fitnah, urusan hujat-menghujat. Kita selalu mengembangkan negative thinking kepada yang lain, selalu su'udzon kepada yang lain. Apakah ini mau diterus-teruskan?," ujar Jokowi saat membuka Rapat Koordinasi Nasional Pengawasan Internal Pemerintah di Istana Negara, Kamis 18 Mei 2017. Jokowi seakan keki melihat perkembangan yang tak sehat terkait isu-isu yang menjadi topik perbincangangan publik. Ia tak habis pikir, ketika bangsa lain berbicara teknologi luar angkasa, kenapa bangsa Indonesia masih saja berkutat pada urusan yang tak berfaedah.

Maka, Jokowi pun meminta masyarakat berhenti mengurusi hal-hal yang tak substansial. Menurut dia, karena ini, dapat menghambat langkah bangsa Indonesia untuk lebih berperan di kancah persaingan internasional.

Dalam kesempatan yang lain, Jokowi meminta para tokoh yang tergabung Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) merespons setiap pertikaian. Dia tak ingin konflik kecil melebar.

"Kalau ada percikan selesaikan pada saat api itu kecil. Segera padamkan, ingatkan kepada yang bergesakan kita bersaudara. Berbeda-beda iya, tapi kita bersaudara," kata Jokowi di Istana Bogor, Kota Bogor, Jawa Barat, Selasa 23 Mei 2017.

Ia menekankan, para tokoh mesti ikut meredakan konflik yang berkembang di tengah masyarakat. Tiap persoalan harus dikaji dengan cepat, apa penyebabnya. Masyarakat musti diberi pemahaman mana politik, hukum, dan agama.

"Pilah-pilah, jangan campur aduk," kata Jokowi.

Jokowi mengajak semua pihak tidak saling berdebat. Menurut dia, setidaknya selama kurun setengah tahun belakangan ini sudah banyak energi bangsa terbuang sia-sia karena saling bertikai.

"Jangan habiskan energi untuk saling menjelekkan, kita bersaudara. Harus kita ingat terus peristiwa negara lain kalau bertikai kayak apa. Kita memiliki kesempatan bangun negara," kata dia.

Wajar jika Jokowi menyinggung persoalan ini. Apalagi, belum lama ini masyarakat dihebohkan dengan kasus percakapan asusila melalui aplikasi di ponsel. Polisi mengusut masalah yang meresahkan ini berdasarkan dugaan pelanggaran terhadap UU Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi.

Usut punya usut, Polisi menetapkan Firza Husein sebagai tersangka kasus percakapan mesum ini. Sebagaimana diketahui, Firza juga pernah ditangkap kepolisian pada Jumat dini hari, 2 Desember 2016, karena dituduh terlibat pemufakatan jahat untuk menggulingkan pemerintah alias makar.

Barang tentu, jagat maya kontan dibanjiri komentar-komentar miring. Kasus dugaan pornografi Firza diwarnai pro dan kontra. Satu kubu menganggap kasus percakapan mesum hanya rekayasa untuk menjatuhkan pamor politik seseorang dan upaya kriminalisasi tokoh tertentu, sehingga harus dihentikan. Sementara di pihak lain, ada juga kelompok yang menilai perkara ini layak diteruskan berdasarkan fakta-fakta yang ada.

Saling silang pendapat memenuhi linimasa perdebatan kasus ini di media sosial. Tak segan pula kedua pihak mengumpat dan mengelurakn cacian, bahkan makian. Ujung-ujungnya, saling menghujat.

Padahal, proses hukum terhadap kasus dugaan percakapan berkonten pornografi ini masih berlangsung, belum sampai ke meja hijau. Tetapi, sepertinya masing-masing kubu merasa memiliki hak untuk berpendapat. Meski begitu, semestinya semua pihak tetap berada dalam koridor hukum.

Bukan cuma itu, ada pula oknum yang memanfaatkan situasi. Mereka menyebarkan berita-berita bohong untuk memperkeruh suasana. Herannya, ada sedikit yang mengimani berita bohong.

Kena getah

Philips Young, adalah seorang pria yang menerima ancaman pembunuhan karena kasus Firza. Philips sama sekali tak mengenal Firza. Tapi, dia mendapat ancaman dari kelompok tertentu yang berbeda pandangan dengannya. Dia dianggap orang yang pertama kali membocorkran dan menyebar foto berkonten pornografi disertai rekaman suara Firza di internet.

Philips mengaku pernah mengunggah ulang (repost) gambar dan rekaman suara berkonten ponografi di akun Facebooknya. Tapi, gambar dan rekaman itu dia dapat dari sebuah situs. Kata dia, pada unggahannya, dia membubuhkan keterangan (caption) ‘Dalam kasus ini jangan nuduh dulu, harap tabayun’.

“Itu fitnah. Saya mengutip dari gerilyapolitik.com dan baladacintarizieq.com,” kata Philips kepada Metrotvnews.com, Senin 28 Mei 2017.

Senin 30 Januari, muncul akun Facebook mengatasnamakan Philips. Akun palsu itu banyak mengunggah postingan berkonten provokasi. Philips mengira, ada pihak yang coba menjatuhkan nama baiknya. Akun itu terus menyebarkan berita-berita palsu tentang dirinya.

“Sudah saya laporkan ke Polda Jatim. Tapi tak ada perkembangan. Akun palsu itu sudah dihapus, termasuk akun saya yang asli juga dihapus,” kata dia.

Philips mengaku jengah mendapat teror. Dia pun mengundang orang yang mengancamnya untuk bertemu buat mengklarifikasi masalah. Tapi, upaya itu sia-sia. Masalahnya semakin runyam.

“Saya sudah sabar sekian lama, saya dizalimi, tak ada pilihan lain, selain melawan balik. Kalau mereka mampu membuktikan silakan saya ditangkap. Kalau memang bernyali, ayo bertemu, jangan pakai akun palsu, kita berhadap-hadapan,” kata Philips.

Menyebar hoax

Kemajuan teknologi sewajarnya untuk meningkatkan produktivitas umat manusia. Tapi, seorang pemuda berinisial HP, 23, menyalahgunakan kecanggihan teknologi untuk tujuan jahat.

HP digelandang Satgas Medsos Dittipid Siber Mabes Polri. HP ditangkap lantaran menyebarkan rekayasa percakapan WhatsApp antara Kapolri Jenderal Tito Karnavian dan Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono. Percakapan yang disebar mengandung unsur sara terkait salah satu kasus yang sedang didalami aparat kepolisian.

Pemuda asal Jagakarsa, Jakarta Selatan, ini merupakan admin akun Instagram muslim_cyber1 yang sering mempublikasikan unggahan bernada provokatif. Gambar percakapan rekayasa antara Tito dan Argo kadung menyebar ke publik. Lagi-lagi, tak sedikit yang terhasut dan percaya percakapan itu.

HP diancam melanggar UU No 19/2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dan UU No 40/2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis. Akibat perbuatannya, pemuda itu terancam hukuman enam tahun penjara.

Bahaya fitnah

Sosiolog Universitas Ibnu Chaldun Jakarta, Musni Umar mengatakan, masyarakat Indonesia sudah amat terlena dalam menggunakan hak berpendapat yang nyaris tanpa batasan. Akhirnya, kebebasan berpendapat membawa pelik tersendiri.

Umar mengimbau, agar masyarakat dapat bersikap bijak dalam menggunakan hak berpendapat. Publik juga harus rajin menjaring setiap informasi yang diterima dan tak gampang terprovokasi.

“Zaman sekarang bisa direkayasa seolah-olah seorang tokoh melakukan skandal pornografi yang lalu dibuka ke publik untuk merusak nama baiknya,” jelas Umar.

Karena itu, publik tetap harus berhati-hati menyampaikan pendapat. Pendapat yang tak berdasar bisa menjadi fitnah. Termasuk untuk kasus Firza yang kasusnya tengah berlangsung.

“Untuk mencegah terulangnya kasus yang membuat gaduh; maka setiap berita harus dilakukan check and recheck kebenarannya. Selain itu, publik harus dididik untuk menjauhi fitnah, karena fitnah lebih kejam dari pembunuhan,” pungkas Umar.
 


(ADM)