Menimbang Tunjangan Veteran

Wanda Indana    •    07 Agustus 2017 18:27 WIB
Menimbang Tunjangan Veteran
Veteran melintas di depan foto para veteran di Monumen Perjuangan Rakyat, Bandung, Jawa Barat. (ANTARA/Agus Bebeng)

Metrotvnews.com, Jakarta: Bangunan dengan dominasi cat berwarna hijau itu tampak sepi aktivitas. Di teras depan, seorang pria sepuh sedang duduk termangu. Sesekali mengusap mata kirinya yang terus membasah.
 
Pria itu adalah orang yang hendak kami temui. Namanya Soepranoto, pejuang veteran angkatan 1945. Fisiknya memang sudah tak prima. Tapi semangatnya masih tetap menyala.
 
Soepranoto menyambut kami dengan hangat. Dia mempersilahkan kami masuk ke dalam Kantor Korps Cacat Veteran Republik Indonesia (KCVRI). Tempat di mana dia menghabiskan masa hidupnya.
 
Sepintas, tak ada yang janggal dengan kondisi fisiknya. Meski tergopoh-gopoh, Soepranoto masih bisa berjalan tanpa alat bantu sama sekali. Walaupun  rambutnya memutih dan kulitnya keriput termakan usia, Sopranoto masih tampak gagah.
 
Pria 93 tahun itu baru kelihatan lemah ketika berbicara. Setiap kata yang keluar dari mulutnya sulit dipahami. Maklum, Sopranoto sudah tak memiliki gigi yang menempel di gusinya. Kemampuan pendengarannya juga sudah tak maksimal, jadi siapapun yang berbicara dengannya terpaksa harus bersuara lebih keras. 
 
Ketika masuk ke dalam kantor KCVRI, Seopranoto tiba-tiba menunjukkan tangan bangian kanannya. Terlihat, ada bekas luka sayatan. Kondisinya boleh dibilang memprihatinkan.
Dia bilang, tangan kanannya sudah tidak bisa berfungsi normal. Sudah tidak bisa menggengam erat. Ketika berjabat tangan, Soepranoto harus menggunakan bantuan tangan kirinya untuk mengangkat tangan kanannya.
 
Kendati demikian, sosok pahlawan ini mau berbagi kisah dan antusias menjawab semua pertanyaan. Sampai pada akhirnya, Soepranoto mengelus dada ketika ditanya apa yang dia terima dari negara.
 
“Kami tidak diperhatikan,” keluh Soepranoto di Jalan Tambak, Manggarai, Jakarta Pusat, Senin 31 Juli 2017.
 
Soepranoto rela mati demi negara. Termasuk harus cacat dengan kehilangan fungsi tangan kanannya. Semuanya dia berikan agar rakyat terbebas dari penjajahan bangsa lain. Tapi, balasan yang dia terima dari negara tidak setimpal.
 
Boleh dibiliang, Soepranoto sampai sekarang masih tetap berjuang untuk kaum pejuang veteran yang cacat dalam peperangan yang saat ini berjumlah kurang dari 388 orang. Melalui KCVRI ini, dia berhasil mengumpulkan bantuan dana dari para donatur dan mempejuangkan kenaikan tunjangan cacat.
 
Awal tahun 2000, KCVRI memiliki 300 anggota yang terdiri dari pejuang yang mengalami kecacatan selama berjuang di medan perang. Hingga sekarang, hanya tersisa 48 orang pejuang cacat veteran.
 
“48 orang di masing-masing daerah, pengurusnya tinggal saya yang masih hidup, “ jelas Sopranoto.
 
Soepranoto sadar, pejuang tidak mengharapkan pamrih. Tapi, kondisi pejuang veteran saat ini sudah tidak muda lagi dan sudah tidak bisa bekerja. Bantuan dari negara adalah satu-satunya sumber pemasukan untuk bertahan hidup. Apalagi, banyak pejuang veteran yang hidup di bawah garis kemiskinan. Jadi wajar jika negara memberikan perhatian kepada pejuang veteran yang sudah bersusahpayah menghadiahkan kemerdekaan bagi bangsa Indonesia.
 
“Mungkin kita dianggap sampah dan benalu oleh penguasa,” ketus Soepranoto.
 
Terbitnya Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2012 Tentang Veteran Republik Indonesia yang mengatur pemberian tunjangan pejuang veteran menjadi buah hasil perjuangan Soepranoto. Sebelum ada UU itu, veteran cacat hanya mendapat bantuan  nominal yang kecil. Untuk cacat sam­pai menghilangan organ tubuh se­per­ti mendapat tunjangan sebesar Rp 55 ribu per bulan. Sementara itu, jika cacat yang ti­dak sampai menghilangkan anggota tubuh, mendapat Rp 22 ribu per bulan.
 

 
Namun, Soepranoto mengaku kecewa. Pelaksanaan UU Nomor 15 belum dilakukan sepenuhnya. Dia bilang, masih ada rekan-rekannya yang menerima dana pensiun jauh dari kata layak.

Pemberian tunjangan rutin kepada veteran dibedakan menjadi dua kategori. Yakni, veteran pejuang kemerdekaan dan veteran pembela kemerdekaan.
 
Veteran Pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia adalah warga negara Indonesia yang dalam masa revolusi fisik antara tanggal 17 Agustus 1945 sampai dengan tanggal 27 Desember 1949 yang berperan secara aktif berjuang untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia di dalam kesatuan bersenjata resmi dan atau kelaskaran yang diakui oleh pemerintah pada masa perjuangan.
 
Termasuk di dalamnya anggota satuan yang bertugas di bidang Palang Merah Indonesia (PMI) atau tenaga kesehatan yang melaksanakan fungsi kesehatan lapangan, dapur umum/juru masak, persenjataan, dan amunisi yang melaksanakan fungsi perbekalan, caraka/kurir/penghubung yang melaksanakan fungsi komunikasi, penjaga kampung/keamanan/mata-mata yang melaksanakan fungsi intelijen dalam rangka pengawasan wilayah, yang telah ditetapkan sebagai penerima Tanda Kehormatan Veteran Republik Indonesia.
 
Veteran Pembela Kemerdekaan Republik Indonesia adalah warga negara Indonesia yang bergabung dalam kesatuan bersenjata resmi yang diakui oleh pemerintah yang berperan secara aktif dalam suatu peperangan menghadapi negara lain dalam rangka membela dan mempertahankan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang terjadi setelah tanggal 27 Desember 1949, yang telah ditetapkan sebagai penerima Tanda Kehormatan Veteran Republik Indonesia.
 

 
Selain itu, UU Nomor 15 juga mengatur pemberian tunjangan rutin kepada warakauri atau janda, duda, atau yatim piatu dari veteran. Pemberian tunjangan juga berbeda-beda sesuai pangkat, golongan, dan kategori veteran.
 
Tunjangan Veteran bagi janda, duda, atau yatim piatu dari Veteran Pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia diberikan sebesar Rp1.450.000 sampai Rp1.200.000. Sementara itu, tunjangan veteran bagi janda, duda, atau yatim piatu veteran pembela kemerdekaan diberikan sebesar Rp1.200.000
 
Yulia Pramono, janda dari alamrhum FX Supranomo, veteran yang gugur dalam perang Timor-Timur hanya mendapat dana pensiun sebesar Rp1.500.000. tunjangan diperoleh dari 60 persen dari gaji almarhum suaminya. Sementara itu, tunjangan veteran baru dia terima pada 2016,  setelah UU Nomor 15 sudah diterbitkan.
 
Yulia mengaku, duit satu setengah juta tidak lah cukup menutupi kebutuhan ketiga anaknya. Beruntung, Yulia bekerja di salah satu perusahaan. Gaji dari hasil kerjanya itu digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Dia mengakui, kehidupannya masih lebih baik ketimbang beberapa temannya yang hidup setelah ditinggal suami.
 
“Kalau saya masih terbantu dari segi ekonomi. Di luar sana, banyak yang masih ngontrak, kehidupanya sulit,” ujar dia.
 
 
(ADM)