Kotanya dibuat Smart, Tapi Warganya Tidak

Sobih AW Adnan    •    29 Februari 2016 20:39 WIB
Kotanya dibuat <i>Smart</i>, Tapi Warganya Tidak
Pakar di bidang teknologi informasi, Onno W Purbo. (foto: MI/Sumaryanto)

Metrotvnews.com, Jakarta: Gagasan smart city alias kota pintar harus berlandaskan pada prinsip kesejahteraan rakyat, perbaikan pelayanan publik, dan kelestarian lingkungan. Pada kelanjutannya, konsep smart city ini mesti dilakukan pengembangan secara berkesinambungan hingga menjadi sebuah jawaban atas segenap persoalan warga dalam jangka panjang.
 
Smart city dalam sebuah kota tidak bisa mewujud begitu saja. Salah satu kuncinya adalah berpadunya tiga kekuatan utama secara optimal dan saling sinergi. Tiga kekuatan tersebut adalah kota, pemerintah dan masyarakat itu sendiri.
 
Dalam kurun tiga tahun terakhir, berbagai kota di Indonesia saling meneguhkan diri untuk bersiap menuju sebagai kota cerdas. Sayangnya, gagasan dan cita-cita smart city ini tidak dibarengi dengan dua aspek kesiapan yang cukup vital, yakni sumberdaya manusia (SDM) dan kesiapan dalam menyongsong sistem keterbukaan. Lantas, baru sebatas mana gagasan smart city bergaung di kota-kota di Indonesia?.
 
Terkait itu, berikut kami sajikan hasil wawancara bersama pakar Teknlogi dan Informasi (TI) Indonesia, Onno W. Purbo.
 
Beberapa kota di Indonesia, termasuk Jakarta sedang berusaha meneguhkan diri sebagai kota cerdas atau smart city. Seperti apa semestinya konsep besar yang mesti diperhatikan dalam gagasan smart city di sebuah kota?
 
Ya, harus jelas dulu. Ini yang mau dibuat smart, cerdas, itu infrastrukturnya? kotanya? pemerintah kotanya? atau warganya?.
 
Itu dulu yang harus diselesaikan. Karena kecenderungan gaung smart city sekarang ini kotanya dibuat smart, tapi warganya tidak.
 
Jadi, apa yang lebih prioritas menurut Anda?
 
Ya, itu tadi. SDM. Pelayanan publik dan keterbukaan pemerintah tentu penting. Namun saya cenderung lebih mendahulukan kemampuan atau kecerdasan warga. Semisal membuat dukungan agar sekolah-sekolah lebih smart dengan cyberschool, e-learning, dan lain-lain.
 
Pokoknya, upaya peningkatan SDM ini sebenarnya bisa ditunjang dengan jangka pendek dan jangka menengah gagasan smart city. Misalnya, pembentukan kurikulum TI dan permudah izin.
 
Soal kemudahan izin itu termasuk aspek pelayanan publik yang menjadi bagian dari gagasan smart city. Bagaimana Anda menilai untuk aspek ini?
 
Ya, ini sebenarnya hal yang paling sederhana banget. Biasanya persoalan efisiensi alur izin dan surat. Paling tidak, semuanya mulai dibuat digital, elektronik, tanpa memakai kertas.
 
Pola E-Service, pengurusan izin cepat dan tatap muka, kemudian pelayanan publik yang terintegrasi sepertinya ini juga belum terlalu berkembang.
 
Monitoring keluhan warga dan bereaksi cepat terhadap keluhan di DKI Jakarta ini kayaknya lagi berusaha pakai Qlue. Monitoring masalah banjir juga teman-teman BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) sudah lama uji coba.
 
Bagaimana soal transportasi?
 
Gagasan smart city biasanya menghubungkan seluruh jaringan transportasi. Bisa juga didukung CCTV dan lain-lain. Tapi itu kalau mau membuat city-nya yang smart. Sebenarnya akan lebih cantik kalau dibuatkan aplikasi semacam Google Maps. Dari sana publik bisa diberitahu mana yang macet, juga rute alternatif untuk menghindari kemacetan, dan sebagainya.
 
Seberapa besar prioritas infrastruktur TI dalam gagasan smart city?, semisal pemerataan akses data.
 
Kalau dunia TI sih sebetulnya tinggal ngikut aja dengan tata ruang yang ada. Yang penting, ada fasilitas duct kabel dan tempat-tempat yang bisa dipakai untuk router, witch, atau hub.
 
Soal pemerataan akses data ini masalah ducting. Masalah yang lebih prinsip adalah boleh tidak rakyat membuat sendiri infrastrukturnya? karena ini akan lebih murah.
 
Jadi, untuk sementara, apa saja yang masih dianggap kendala dalam penerapan gagasan smart city di Indonesia?
 
Pertama, proses perencanaan. Berikutnya adalah SDM. Ini yang paling parah.
 
Percuma pemerintah menerapkan teknologi canggih kalau tidak ada SDM yang andal mengoperasikan dan terlibat aktif. Karena itu, hal paling utama yang perlu dilakukan menuju smart city adalah fokus pada sistem pendidikan.
 


(ADM)