Napas Sengal Teater Indonesia

Lis Pratiwi    •    06 Februari 2018 18:43 WIB
Napas Sengal Teater Indonesia
Ilustrasi: Medcom

Jakarta: Jalanan dengan batu cetak dan rerumputan yang mengapit langsung menyambut kami yang hendak memasuki Bengkel Teater Rendra (BTR). Di ujung jalan, sebuah rumah panggung dengan material kayu menjadi pilihan langka bagi kebanyakan kediaman di kota. Kolong rumah inilah saksi kerja keras anggota BTR sebelum pentas.



Area latihan komunitas yang didirikan oleh sastrawan W.S. Rendra sejak 1985 itu tampak sepi pada Selasa, 30 Januari 2018. Tak ada satu pun anggota komunitas teater yang hadir untuk latihan rutin. Padahal, BTR baru merekrut anggota-anggota baru beberapa waktu lalu. “Sengaja saya liburkan hari ini,” kata Ken Zuraida, seorang sutradara dan produser teater, yang tak lain adalah istri Rendra, saat memulai perbincangangannya dengan Medcom.id.



Area latihan teater di kompleks Bengkel Teater Rendra (BTR), Depok, Jawa Barat. (Medcom/Lis)


Di tengah persaingan aneka hiburan, BTR mampu terus bertahan. Perjalanan ini tentu bukan perkara mudah. Menjamurnya gedung bioskop, konser musik, hingga suguhan tontonan instan bagi masyarakat bisa menjadi ancaman kehidupan teater tanah air.

Pagelaran teater yang membutuhkan waktu latihan berbulan-bulan untuk sekali pertunjukan juga menjadi tantangan tersendiri. Tentu sulit menemukan pemain yang berdedikasi dan bersedia naik panggung dengan proses panjang seperti itu. Manajemen pemain, dinilai menjadi salah satu kerumitan terbesar dalam mengurus teater.

“Waktu terbatas, karena jalanan macet jadi terlambat, bisa selesai latihan tengah malam. Ini bisa menjadi gangguan dan membuat semacam kegagapan dalam dunia teater,” lanjut perempuan yang karib disapa Ida ini.



Ken Zuraida. (Medcom/Lis)


Teater Pandora, salah satu kelompok teater yang dibentuk alumni Universitas Indonesia (UI) misalnya, memiliki anggota yang bekerja tetap di tempat lain. Teater cuma menjadi wadah penyalur kreasi seni para pegiatnya. Pembagian waktu antara bekerja dan berteater pun menjelma tantangan utama kelompok yang berdiri sejak 2014 ini.

“Karena tidak semua orang fokus di bidang ini, apalagi dianggap belum bisa menghasilkan. Pembagian waktu kapan harus latihan dan berkesenian kapan harus bekerja jadi sulit,” cerita Yoga Mohamad, pendiri Teater Pandora.
 
Abdullah Wong, sutradara naskah teater “Suluk Sungai” mengatakan, kesulitan manajemen pemain tak hanya bersifat individu, tetapi juga kelompok. Membentuk keselarasan antara suradara, pemain musik, aktorm penata cahaya, dan tim artistik menjadi keharusan.

“Semua harus ada kesadaran maju bersama. Ada salah satu pihak saja yang tidak mendukung, ya berantakan,” kata dia.



Pemain Teater Pandora mementaskan teater dengan judul Jelaga di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Kamis (25/1/2018). (ANTARA)


Minim sponsor

Di sisi lain, pementasan teater yang butuh ongkos tak sedikit kian redup seiring jarangnya sponsor yang berkenan berinvestasi di bidang ini. Teater Pandora membutuhkan dana sedikitnya Rp100 juta untuk satu kali produksi, tak sedikit pula yang butuh dana berkali-kali lipat dari itu.

Yoga mengatakan, kelompokya biasa menggaet lembaga donor yang bergerak di bidang kebudayaan sebagai sponsor. Namun hingga kini tak pernah ada yang memberi bantuan penuh. Alhasil, sumbangan dana dari para pemain dilakukan untuk menutupi kekurangan uang.

Abdullah Wong menambahkan, sedikitnya pemodal yang berani mendukung teater lantaran seni pentas ini dianggap sudah tidak mampu lagi memberi keuntungan. Pandangan konvesional soal keuntungan yang berorientasi pada peningkatan finansial ini tentu disayangkan.

Ia berpendapat, jika tujuan negara adalah mencerdaskan bangsa, maka makna keuntungan mestinya meluas menjadi kecerdasan emosional dan kepekaan. Pencerahan terhadap masyarakat inilah yang dinilai sebagai input dan keuntungan utama yang bisa dihasilkan dari pagelaran teater.
 

".... jika tujuan negara adalah mencerdaskan bangsa, maka makna keuntungan mestinya meluas menjadi kecerdasan emosional dan kepekaan."


“Jika dalam kesenian mencari keuntungan finansial seperti itu ya tidak bisa. Tapi bahwa masyarakat itu butuh pencerahan dan pencerahan itu bisa melalui teater itu bukan hanya tanggung jawab perusahaan tapi tanggung jawab bangsa,” jelas Abdullah.

Tak hanya perusahaan swasta, pemerintah pun dinilai kurang memberi sumbangsih untuk kemajuan teater. Ken Zuraida mengatakan, seharusnya dana yang diberikan tidak hanya untuk festival, melainkan juga untuk kelompok yang berprestasi dan melakukan perjalanan panjang untuk mengisi kekosongan pemikiran dan menjawab pertanyaan masyarakat.

“Tapi pemerintah sibuk dengan program lain sehingga teater menjadi nomor sekian dan dilupakan,” keluh Ida.



Ken Zuraida bersama W.S. Rendra. (ANTARA)


Sulit regenerasi

Meski begitu, pertumbuhan teater masih jelas terlihat di kampus-kampus baik swasta maupun negeri. Bahkan, ada satu kampus yang memiliki belasan komunitas teater dari fakultas-fakultas yang berbeda. Tapi, tetap saja, situasi ini tak menjadi jaminan kemajuan dunia teater di Indonesia.

Abdullah Wong menilai teater kampus sebenarnya memiliki masa depan cerah karena anggotanya punya dasar intelektual dan akademik yang baik. Namun, keinginan belajar yang minim membuat mereka kerap enggan membaca buku-buku tentang teater guna menggali wacana-wacana baru.

“Jangankan buku teater, buku kuliahnya sendiri belum tentu dibaca, kuliahnya sendiri belum tentu benar. Malah bisa jadi pelarian karena kuliahnya enggak becus malah lari ke dalam teater,” kritik Abdullah.

Kesulitan regenerasi juga disebabkan langkanya anggota yang bertahan lama dalam suatu kelompok teater. Ken Zuraida menyebut dewasa ini menemukan pemain teater yang berdedikasi adalah suatu kemewahan. Ia juga menyayangkan pihak-pihak yang memiliki bakat, tetapi malas belajar. Padahal ada banyak kesempatan untuk berkreasi.

“Saya mengelola BTR, kalau orang yang sangat berbakat kebanyakan tidak jadi karena malas, menganggap apa-apa gampang,” kata dia.


(COK)