Serba Kepepet di Freeport

Surya Perkasa    •    28 November 2015 04:15 WIB
Serba <i>Kepepet</i> di Freeport
Menko Kemaritiman dan Sumber Daya Rizal Ramli. (foto: Antara/Sigid Kurniawan).

Metrotvnews.com, Jakarta: Nasionalisasi PT Freeport Indonesia Freeport tampaknya dilaksanakan setengah hati oleh induk perusahaannya di Amerika Serikat, Freeport McMoRan Inc. Hal ini terindikasi dari proses divestasi saham belum dilaksanakan sesuai kontrak karya yang ditandatangani antara pemerintah Indonesia dengan raksasa perusahaan tambang itu pada tahun 1991.
 
Direktur Eksekutif Indonesian Resources Studies (IRESS) Marwan Batubara menjelaskan bahwa kontrak karya itu mengatur bahwa saham yang dilepaskan ke pemerintah atau bursa saham Indonesia seharusnya kini sudah lebih dari 35%. Tetapi, pada kenyataannya, Freeport McMoRan Inc masih menguasai 90,64% saham PT Freeport Indonesia.
 
“Ini bisa saja sengaja supaya Freeport McMoran tetap bisa mengontrol (operasi). Saham terdivestasi, tapi kontrol tetap ditangan mereka sepenuhnya,” ujar Marwan kepada metrotvnews.com, Selasa (24/11/2015).
 
Upaya Freeport McMoRan untuk mempertahankan serta memperpanjang kontrak ini pun diungkapkan secara gamblang oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Rizal Ramli.
 
Alasannya, kondisi finansial Freeport McMoRan sedang dalam kondisi menurun. Menurut Rizal,
nilai valuasi saham Freeport McMoran yang tercatat di Bursa Efek New York AS diketahui turun sebesar 0,25 persen.
 
Selain itu, ia melanjutkan, Freeport McMoran juga mengalami kerugian karena melakukan pengeboran kantong minyak kosong (dry hole) di Teluk Meksiko. Akhirnya, Freeport McMoran bergantung kepada produksi tambang emas dan tembaga yang tersebar di seluruh dunia. Apalagi Indonesia merupakan tambang terbesar yang mereka miliki.
 
“Freeport (Indonesia) itu tambang emas yang paling menguntungkan di dunia. Nah, Freeport (internasional) ini, saat ini kepepet,” ujar Rizal dalam rapat bersama Badan Anggaran DPR RI, Selasa (13/10/2015).
 
Dari nilai produksi tembaga seluruh tambang yang dimiliki, tambang Grasberg di Papua Barat memberikan kontribusi sekitar 203 juta pon dari produksi global Freeport McMoRan sebesar 1,02 miliar pon, atau sekitar 19,76 persen.
 
Sedangkan untuk komoditas emas, grup Freeport McMoRan sangat tergantung ke Indonesia. Dari 281 ribu ons produksi emas Freeport secara global, tambang di Indonesia memberikan kontribusi 272 ribu ons.
 
Selain itu, cadangan tembaga Indonesia jauh lebih besar dibandingkan tambang-tambang grup Freeport di belahan dunia lain. Cadangan tembaga di Freeport Indonesia mencapai 29 miliar pon. Sepertiga dari total cadangan mereka yang besarnya 103,5 miliar pon.
 
Freeport Indonesia juga mengelola tambang emas terbesar di dunia. Saat ini cadangan yang ada di Papua Barat diperkirakan mencapai 28,2 juta ons. Sebesar 96,79% produksi emas Freeport sangat bergantung ke Indonesia.
 
Tren Saham Freeport McMoRan yang Terus Menurun
 
Kondisi “kepepet” Freeport McMoRan ini sebenarnya dapat dilihat dari tren sahamnya yang terus menurun. Kinerja saham Freeport McMoran dengan kode FCX terus menurun.
 
Seperti yang dilansir dari The Street, harga saham Freeport McMoran anjlok hingga 70% dalam setahun terakhir. Kejatuhan harga saham ini ditengarai terkait dengan penguatan nilai tukar mata uang dolar AS dan menurunnya harga komoditas tembaga. Tertekannya pasar komoditas menyebabkan menurunnya pendapatan Freeport.

Harga tembaga di bursa COMEX New York memang mengalami penurunan sebesar 1,42 persen menjadi USD 2,05 per pon pada penutupan perdagan pekan kedua November 2015.
 
Peringkat FCX turun menjadi sell (D), karena The Street meyakini harga saham ini akan cenderung terus menurun lebih dari 10% dalam kurun setahun ke depan, ditambah dengan risiko kerugian yang lebih besar dibanding kemungkinan keuntungannya.
 
Selain itu, tejadi penurunan laba bersih yang cukup besar pada kuartal ketiga. Jika dibandingkan dengan kuartal yang sama pada tahun lalu, laba bersih perusahaan secara global menurun USD552 juta.
 
Rasio utang terhadap ekuitas Freeport McMoran juga dinilai sangat tinggi bila dibandingkan perusahaan pertambangan lain. The Street bahkan meminta FCX dikaji ulang untuk tetap layak bercokol di kelompok saham S&P 500.
 
Arus kas operasional bersih kuartal ketiga juga telah menurun secara signifikan sebesar 57,32% dibanding kuartal sebelumnya menjadi USD822,00 juta. Performa ini dianggap lebih rendah dibanding perusahaan di industri sejenis lainnya, yang sama-sama terpukul karena penurunan harga komoditas.
 
Walaupun perubahan harga saham cukup baik, namun kinerja saham FCX selama setahun ke belakang juga mengalami penurunan performa. Perbandingan pendapatan perusahan per lembar saham menurun 775,47 persen dibanding tahun lalu.
 
Nilai saham FCX juga dalam kondisi terburuk dalam 5 tahun belakangan. Pada Desember 2010, nilai saham sempat menyentuh USD60,04 per lembar. Namun, kini harga saham Freeport McMoRan hanya seharga USD8,16 per lembar.
 
Saham Freeport.JPG
 
Daya tawar Indonesia
 
Tekanan untuk melakukan negosiasi  ulang hingga pemutusan kontrak dan ambil alih pengelolaan  tambang bermunculan. Wakil Ketua Komisi VII DPR fraksi Golkar Satya Widya Yudha menegaskan hal ini tidak bisa dibicarakan terburu-buru. Aplagi pembicara renegosiasi baru bisa dilakukan tahun 2019, dua tahun menjelang Kontrak Karya PT Freeport Indonesia yang habis pada 2021.
 
“Sekarang itu masih terlalu cepat. Tapi memang perlu diperbarui karena rezimnya itu sudah berubah. Bukan lagi rezim kontrak karya, tapi sudah Izin Usaha Pertambangan,” kata Satya di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (25/11/2015).
 
Dalam kondisi Freeport yang terjepit seperti ini, Rizal mengatakan, pemerintah memiliki posisi tawar yang lebih baik dibandingkan dengan Freeport. Setidaknya Kementerian ESDM bisa menaikkan tarif royalti bagi hasil dari Freeport sebesar 6-7 persen.
 
"Semakin mepet mereka, maka semakin tinggi bargaining kita. Nah, yang kami inginkan adalah (Freeport) bayar royalti 6 sampai 7 persen,” kata Rizal.
 
Saat ini Kontrak Karya  dinilai tidak menguntungkan Indonesia. Dengan beberapa aturan terkait tambang yang baru dibuat, seperti UU Minerba, bisa dijadikan dasar untuk memperbesar keuntungan negara. Selain itu negara sudah memiliki beragam perangkat penegakan hukum untuk memastikan tidak ada kongkalikong terjadi seperti di masa lalu. “Kalau awal orde baru itu tidak mungkin. Karena saat itu yang terjadi, mohon maaf, pejabat nya banyak yang disogok," kata Rizal.
 
Sementara itu Direktur Eksekutif Indonesian Resources Studies Marwan Batubara menilai renegosiasi dalam perpanjangan kontrak atau nasionalisasi bisa saja dilakukan. Untuk renegosiasi dalam perpanjangan kontra adabeberapa hal minimal yang harus bisa ditekankan ke Freeport.
 
Pertama, menaikan royalti sesuai dengan standar dunia. Kedua, Indonesia harus meminta divestasi saham menjadi 51 persen pada 2021. “Dan itu harus dibeli oleh pemerintah Indonesia. Jangan sampai IPO. Kalau nanti sampai IPO, kapan kita mengelola perusahaan itu? Kalau itu terjadi, saham pemerintah tetap 9,36 persen, dan kita tidak bisa ikuat mengelola perusahaan tersebut,” kata Marwan.
 
Kedua, setidaknya, Indonesia harus bisa mengusai sampai 30% saham sampai dua hingga tiga tahun ke depan. Dengan begitu, pemerintah Indonesia bisa menempatkan eksekutif di jajaran manajemen perusahaan itu. Artinya, Indonesia bisa memiliki peran lebih di dalam tambang emas dan tembaga terbesar dunia ini.
 
Ketiga, kejahatan lingkungan dan KKN di masa lalu itu dibayar dalam bentuk kompensasi. Misalnya saat Rizal Ramli menjadi menteri di era Presiden Abdurrahman Wahid, Freeport sempat disebutkan bersedia mengganti rugi USD5 miliar untuk kerusakan lingkungan. Namun hingga kini belum dibayar.
 
Keempat, Freeport Indonesia harus bersedia membangun smelter di Papua.
 
Kelima, seluruh jasa logistik harus ada muatan lokal. Baik itu oleh BUMN maupun BUMD.
 
“Jangan seperti selama ini, karena dekat dengan penguasa, akhirnya mereka kontak dengan perusahaan. Bagi Freeport sih tidak masalah, tapi ini terkait dengan konstitusi. Jikaada peluang bisnis, harus dimanfaatkan sebesar-besanya oleh negara. BUMN atau BUMD. Misalnya memasok batubara, memasok bahan peledak,” tandas Marwan.
 
(ADM)

  • titlenya ya

    Kisah Penguasaan Gunung Tembaga

    04 Januari 2016 19:47

    Gunung tersebut sebagai harta karun terbesar. Karena selain dipenuhi bijih tembaga, gunung tersebut ternyata juga dipenuhi bijih emas dan perak.

  • titlenya ya

    Jim Bob dan Pensiun Setengah Hati

    04 Januari 2016 19:34

    Didesak mundur dari jajaran dewan direksi perusahaan, tapi diposisikan sebagai konsultan perusahaan untuk menangani masalah di Indonesia.

  • titlenya ya

    Freeport dan Pamor Emas

    28 November 2015 04:12

    Seiring dengan munculnya isu Federal Reserve selaku bank sentral Amerika Serikat bakal menaikkan suku bunganya, harga emas mengalami tren penurunan se…

  • titlenya ya

    Soal Freeport dan Indonesia

    28 November 2015 03:37

    Dari kontrak karya hingga divestasi saham.