Fenomena Startup, Merugi Tapi Menarik Investor

Surya Perkasa    •    21 Maret 2016 17:33 WIB
Fenomena Startup, Merugi Tapi Menarik Investor
Seorang model berpose di samping taksi mewah GrabCar Lamborghini di kawasan Senayan City, Jakarta. (foto: MI/Adam Dwi)

Metrotvnews.com, Jakarta: Twitter Inc pada Kamis 3 Oktober 2013 mengumumkan rencananya menggalang USD1 miliar melalui penawaran saham perdana kepada publik perdana atau IPO (initial public offering). Namun, laporan keuangan yang dirilis menunjukkan  perusahaan layanan jejaring sosial dan mikroblog daring itu masih merugi.
 
Menjelang IPO, Twitter mengumumkan data finansial perusahaan. Meski pendapatan jejaring sosial itu tercatat naik lebih dari dua kali lipat menjadi USD254 juta dalam semester pertama 2013, namun kerugian bersih Twitter naik 40 persen menjadi USD69 juta.
 
Peningkatan kerugian bersih itu dikarenakan pengeluaran Twitter yang menggelembung. Pertumbuhan pengguna Twitter pun melamban. Harga jual iklan, yang menjadi penyumbang terbesar pendapatan Twitter, juga turun.
 
Jumlah USD1 miliar yang disebutkan dalam dokumen IPO adalah angka perkiraan, yang dapat berubah saat Twitter menggelar roadshow untuk investor.
 
Kenyataannya, saham perdana Twitter menggebrak lantai bursa New York AS. Saat pencatatan perdananya, pada Jumat 8 November 2013, saham Twitter sempat melonjak hingga hampir dua kali lipat dari harga awalnya USD26 per lembar.
 
Pada awal perdagangan, saham Twitter langsung melesat 90% ke sekitar USD50 per lembar. Setelah lonjakan itu laju sahamnya mulai melambat dan berada di kisaran USD45 per lembar atau masih naik sekitar 74%.
 
Pada penutupan perdagangan, saham Twitter berakhir naik 18,9 poin ke level USD44,9 atau melonjak 72,7% dari posisi awal USD26 per lembar.
 
Dengan harga sahamnya itu Twitter bisa menjaring dana hingga USD1,82 miliar (Rp 18,2 triliun).
 
Jejaring sosial yang terkenal dengan postingan 140 karakter itu melepas 70 juta lembar saham ke pasar, dengan opsi tambahan 10,5 juta lembar lagi dalam 30 hari ke depan. Dengan saham tambahan itu total nilai IPO Twitter jadi sebesar USD2,1 miliar (Rp 21 triliun).
 
Kapitalisasi pasar atau nilai perusahaan emiten berkode saham TWTR itu menjadi sebesar USD14,4 miliar (Rp 144 triliun). Lebih tinggi dari prediksi awal yang ada di rentang USD12,8-13,9 miliar (Rp 128-139 triliun).
 
Fenomena ini menunjukkan karakteristik perusahaan startup sebagai sebuah bisnis yang bagus. Dick Costolo adalah CEO Twitter menulis dalam blognya tentang bisnis model bagi perusahaan teknologi. Bagian paling menarik adalah tentang bisnis startup yang membutuhkan cukup waktu untuk mengumpulkan users sebelum melakukan monetizing.
 
Pada awalnya, pengusaha startup memiliki keterbatasan dalam hal sumber daya. Namun, tidak ada yang bisa membatasi ruang geraknya. Dengan semangat dan kreativitas tinggi, segalanya menjadi mungkin, ia bisa sangat fokus dalam membangun perusahaan dan bisa membuat  produk atau jasa yang paling mengagumkan.
 
Ia bisa meluncurkan produk dengan kapabilitas yang berbeda. Antara kebutuhan pelanggan dan tujuan pengusaha startup mungkin saja tidak sama. Tetapi, hal seperti ini tetap menarik dan bisa memicu para investor untuk menanamkan modalnya.
 
Jika pertumbuhan perusahaan itu baik dan peminat produknya menjamur bak cendawan musim hujan, ini sudah sebuah pertanda baik. Makin banyak user yang datang, makin besar peluang meningkatkan pelanggan dan membangun brand.
 
Brand awareness merupakan salah satu cara untuk mengukur efektivitas pemasaran yang diukur oleh kemampuan calon pembeli atau konsumen untuk mengenali maupun mengingat sebuah brand tertentu. Sudah banyak penelitian yang mengungkapkan bahwa brand awareness memiliki korelasi yang tinggi dengan intensitas pembelian, pangsa pasar, dan ekuitas merek penting lainnya serta matriks bisnis. Sebab, tak bisa kita pungkiri bila semakin banyak konsumen yang mengingat suatu produk, maka semakin besar pula intensitas pembelian yang akan mereka lakukan.
 
Fenomena serupa terjadi pada perusahaan penyedia aplikasi layanan transportasi, Uber dan Grab. Uber yang dikelola Uber Asia Limited dan Grab Car yang dikandangi PT Solusi Transportasi Indonesia tengah menjadi sorotan akhir-akhir ini lantaran polemik usulan pemblokirannya oleh Menteri Perhubungan Ignasius Jonan dan keengganan Menteri Komunikasi dan Informatikan Rudiantara memblokirnya.
 
Alih-alih diblokir, Menkominfo Rudiantara justru “membela” dua aplikasi ini. Rudiantara beralasan, tidak ada alasan yang cukup untuk membuat dua aplikasi ini di blokir. Bahkan dengan dalih mencari jalan tengah, Menkominfo juga mengakomodasi pembuatan wadah koperasi bagi pengemudi angkutan berpola ride sharing ini.
 
Walau menghadirkan polemik, ternyata masyarakat terlanjur jatuh hati pada aplikasi transportasi daring ini. Selain praktis, tarif yang perusahaan teknologi itu terapkan juga enteng di kantong. Bahkan perusahaan ini juga tak jarang memberi insentif bagi pengemudi dan promosi bagi konsumen.
 
Namun, Ketua Orginasisasi Angkutan Darat (Organda) DKI Jakarta Shafruhan Sinungan mempertanyakan maksud perusahaan-perusahaan teknologi tersebut gila-gilaan dalam mempromosikan produknya yang bertarif murah.
 
“Maksudnya apa coba, bisnis tapi buang-buang uang. Ini saya dapat informasi, mereka sudah menyiapkan uang dan siap rugi sampai tahun 2017. Ini yang jadi pertanyaan,” kata Shafruhan dalam perbincangan dengan metrotvnews.com di Jakarta, Kamis (17/3/2015).
 
 
Dalam kesempatan terpisah, Ketua Asosiasi Digital Entrepeneur Indonesia Bari Arijono menjelaskan dari mana perusahaan startup, baik e-transport dan e-commerce, mendapat keuntungan.
 
“Dari sisi keuntungan cashflow, bisnis digital e-commerce dan e-transport ataupun di sektor lainnya itu belum ada,” ucap Bari saat ditemui metrotvnews.com di Jakarta, Kamis (17/3/2015).
 
Bukan berarti perusahaan macam Uber, Go-Jek, Tokopedia atau startup dan bisnis digital lain tak berniat cari untung. Namun, model cara perusahaan tersebut mencari untung tidak menggunakan hitungan bisnis pada umumnya.
 
“Jadi tidak bisa bicara keuntungan selayaknya bisnis konvensional,” kata dia.
 
Bisnis digital tidak bisa bicara kas positif dan kas negatif. Penghitungan keuntungan pun bukan diincar dari selisih produksi dan penjualan barang yang didagangkan.
 
Pelaku bisnis digital hanya fokus untuk meningkatkan konsumen yang memakain jasa mereka. Baik itu pengguna, pengunduh, atau pelanggan, jumlah transaksi aplikasi atau platform yang mereka sediakan. Dari hal-hal tersebut, nilai perusahaan (valuasi) startup semakin tinggi.
 
Semakin tinggi nilai valuasi akan sangat mempengaruhi tahap berikutnya untuk mencari keuntungan. Startup kemudian berusaha mengincar masuk bursa saham. Keuntungan dikejar di dalam bursa saham dengan bertaruh kepada valuasi perusahaan.
 
Karena alasan itu perusahaan berusaha menarik sebanyak mungkin lalu lintas pengguna platform mereka. Cara tersebut dicapai dengan memberikan harga yang murah, meningkatkan ketertarikan pengguna, hingga memberikan banyak insentif dan bonus bagi konsumen. Bahkan mereka rela merogoh kocek hingga miliaran rupiah untuk promosi di beragam media.
 
“Bahkan tahun kemarin berdasarkan penghitungan, jumlah biaya promosi salah satu perusahan e-commerce melebihi biaya promosi perusahaan rokok yang nilainya fantastis,” pungkas dia.
 
Bergantung ke pendanaan luar
 
Bari mengungkapkan, perusahaan teknologi transportasi di Indonesia seperti Go-Jek pun belum berhasil meraih keuntungan. Begitu juga dengan perusahaan startup lain.
 
Bahkan perusahaan startup yang sudah melakukan ekspansi ker ratusan kota dan puluhan negara seperti Uber berusaha tetap bertahan di Tiongkok walau merugi besar.
 
“Uber merugi US$1 miliar tahun kemarin. Namun dia berjalan terus, karena disokong beberapa negara lain yang hitungannya masih untung. Grab juga hampir sama,” beber pria yang bekerja di bidang bisnis digital UKM ini.
 
Lalu muncul pertanyaan berikutnya, bagaimana bisns mereka dapat bertahan?
 
Menggantungkan diri ke investor. Begitulah cara perusahaan startup berusaha bertahan hidup dari waktu ke waktu sebelum mampu masuk bursa saham. Bahkan mereka berani merugi selama bertahun-tahun demi mendapat keuntungan berlipat ganda di jauh hari.
 
Setidaknya ada beberapa model pendanaan yang diketahui. Angel investor yang sifatnya lebih memberikan dana karena ketertarikan ke individu pelaku usaha startup, venture capitalist atau lewat perusahaan penanam modal, kemudian lewat akuisisi perusahaan.
 
Jumlah investasi yang disuntikan investor ke startup teknologi tidak pernah sedikit. Bahkan beberapa startup mendapat pendanaan yang nilainya mencapai US$1,2 miliar. Tabel di bawah menjadi contoh betapa investor di lingkungan bisnis digital dan teknologi berani merugi. Karena, tidak semua startup yang mereka modali bisa memberikan keuntungan.
 

 
 
 
Namun sayangnya perusahaan VC itu kebanyakan berasal dari luar negeri. Angel investor yang berani menanam modal besar ke pelaku startup baru juga tak banyak berasal dari Indonesia. Gaya bisnis high risk high return ini tampaknya membuat banyak pemiliki modal dari Indonesia enggan masuk.
 
Namun hal ini sangat disayangkan Bari, sebab hampir semua perusahaan digital, teknologi dan startup asal Indonesia justru disokong asing. Bahkan tidak ada yang murni Indonesia lagi.
 
“Asing itu gila-gilaan menyuntik dana ke perusahaan teknologi. Karena apa? Kedepannya, perusahaan startup yang berhasil bertahan seperti Go-Jek akan memiliki valuasi yang luar biasa. Berlipat-lipat seperti sekarang. Ketika nanti mereka IPO atau listing sahamnya di bursa efek, nilai sahamnya akan jauh lebih mahal ketimbang investasi yang mereka lakukan,” papar lulusan Universitas Indonesia ini.
 
“Kalau perusahaan konvensional berusaha mengejar perusahaan teknologi, pasti tidak akan bisa. Karena apa yang mereka kejar itu berbeda,” tutup Bari.
 


(ADM)