Hitam Putih Dunia Hacker

Coki Lubis    •    10 April 2017 17:23 WIB
Hitam Putih Dunia <i>Hacker</i>
ILUSTRASI: Hacker. (AP/Damian Dovarganes)

Metrotvnews.com, Jakarta: "Oke. Tidak apa-apa, saya berkenan menceritakannya." Pesan singkat inilah yang membawa kami ke Kota Depok, Jawa Barat dan bertemu Muhammad Ramdan (27). Ia seorang mantan peretas alias hacker, yang kini sibuk dengan bisnisnya sendiri. Yakni, jasa pembuatan situs, aplikasi, juga konsultasi keamanan dunia maya.
 
Ramdan dikenal sebagai sosok yang Pendiam. Tapi, jangan terkejut bila melihat kemampuan dan pengalamannya. Ia disebut-sebut telah aktif meretas kala usianya masih belasan tahun.
 
Saat berbincang dengannya di sebuah kedai kopi di Jalan Margonda Raya, Depok, Jawa Barat, Ramdan pun tak membantah profil terkait dirinya itu. "Itu dulu, waktu baru lulus SMA," ujarnya kepada Metrotvnews.com, pekan lalu.
 
Ia kerap menunduk menatap ponselnya yang terus berdering. Sesekali di tengah perbincangan dia meminta izin pada kami untuk menjawab panggilan telepon dari para pengguna jasanya.  "Ini klien. Tidak enak kalau nggak dijawab, mungkin ada masalah."
 
Sikap peduli itu bertolak belakang dengan figurnya di masa lalu. Ia mengakui bahwa dulu selalu masa bodoh dan tak pandang siapa pemilik situs yang dibobolnya. Bagi dia, asal bisa ditembus maka peretasan pun dilakukan. Semakin banyak korban yang diretas, semakin bergengsi keberadaanya di dalam komunitas yang dia ikuti.
 
Fenomena tentang unjuk kepiawaian ini sudah berlaku umum di komunitas hacker. Dalam forum daringnya, para peretas saling memamerkan hasil penyelusupannya. Tak hanya bukti tangkapan gambar, namun cara menembusnya juga dibeberkan.
 
"Semakin susah website di-hack, semakin bagus dan semakin mengerikan dilihatnya. Kira-kira begitu," kata Ramdan.
 
Biasanya di dalam forum ada semacam kanal pengarsipan. Dari sini terlihat jumlah situs yang telah diretas oleh masing-masing anggota komunitas. Dari sinilah nilai sebuah gengsi muncul. Bak permainan, siapa yang paling banyak meretas, dialah yang dianggap paling hebat.
 
Bagi mereka ini adalah permainan, terlebih menyoal harkat. Sebaliknya, bagi pemilik situs yang menjadi korban, boleh jadi hacker dianggap penjahat. Sebuah julukan yang lumrah disematkan bagi mereka yang menerobos properti orang lain tanpa izin. Mencemaskan, mengancam, apalagi bila menimbulkan kerugian.
 
Komunitas atau forum yang berperangai semacam itu, kata Ramdan, rata-rata anggotanya masih belia. Didominasi remaja tanggung hingga mereka yang baru lulus SMA. Hanya sebagian yang berusia 25 tahun ke atas. "Jadi maklum. Masih muda sekali, kepingin eksis," katanya.
 
Apalagi, ia melanjutkan, pada saat malam sebelum hari kemerdekaan RI alias malam 'tujuhbelasan', biasanya semua anggota forum muncul dan adu banyak situs yang diretas. Ramdan sendiri tidak ingat berapa situs yang telah diretasnya dahulu.
 
Tapi, yang jelas, seperti yang diinformasikan dari beberapa sumber, saat lulus SMA ia termasuk salah satu hacker yang pernah meretas situs Polri. "Betul, tapi dulu sekali, boleh dianggap defacer. Cuma mengintip, sambil saya beritahu kalau ada kelemahan di sana," ucapnya. 
 
Apa bedanya defacer dengan hacker?
 
Nah, sebetulnya banyak model atau gaya peretasan sistem komputer. Seperti halnya cracker yang cenderung mendisfungsikan sistem. Kemudian phreaker, yang banyak bermain di ranah telekomunikasi. Lain lagi dengan scammer, yang cenderung memanipulasi. Namun ketiganya memiliki cara yang cenderung sama, merusak sistem.
 
Ada pula pengkelasan berdasarkan keahlian. Seperti defacer tadi, yang kemampuannya sebatas memanfaatkan cacat atau kelemahan sebuah program (bug). Biasanya defacer gemar merubah tampilan situs korbannya. Di bawah itu ada script kiddies, kelas pemula yang kemampuannya sebatas mengikuti jalur yang sudah ada alias copy-paste.
 
Namun apapun itu, publik acap menganggapnya sama. Mereka adalah hacker, seseorang yang melakukan peretasan.
 
Ilmu yang dimiliki kebanyakan belajar sendiri alias otodidak. Cukup dengan banyak berkenalan di forum, bertanya, mempelajari cara-cara yang dibagikan di forum, kemudian mengembangkannya lagi. "Rata-rata seperti itu," papar Ramdan.
 

ILUSTRASI (AP/Wilfredo Lee)



Dari penjahat jadi pahlawan
 
Menurut Ramdan, sebaiknya masyarakat tidak 'pukul rata' menilai semua hacker dengan istilah penjahat. "Kecuali yang merugikan dan keterlaluan," katanya. Alasannya, banyak juga hacker yang orientasinya bukan mencari keuntungan pribadi atau merugikan korbannya.
 
"Kalau disebut nakal ya bolehlah, tapi sebenarnya kan membantu juga," tutur Ramdan. Maksudnya, dalam sudut pandang yang lain, aksi peratasan itu seperti cara lain untuk memberitahukan kepada korban ihwal kelemahan sistemnya.
 
Kini yang dirasakan Ramdan justru sebaliknya. Hampir semua teman komunitasnya dahulu perangainya sudah berbeda. Justru beberapa di antaranya ada yang aktif membuat klub atau kelas-kelas diskusi tentang pengamanan, ada pula yang terjun langsung membuka layanan keamanan. Termasuk dirinya yang saat ini sedang menggarap pembaharuan server sebuah bank BUMN.
 
"Beginilah kebanyakan sekarang. Kami menyebutnya sebagai white hat (peretas topi putih), ini untuk kebaikan. Mencari duit dari yang halal saja," kata Ramdan sambil tergelak. Lagipula, meretas juga perlu modal. "Ya, untuk beli proxy, biar nggak ketahuan," selorohnya.
 
Namun, Ramdan mengakui bahwa dirinya sesekali masih melakukan peretasan, khususnya terhadap gawai alias gadget. "Ya, handphone sendiri atau milik teman yang sebelumnya sudah dikasih tahu," ucapnya tersenyum. Tentu, kepentingan Ramdan saat meretas saat ini berbeda dengan dahulu. Dia meretas hanya untuk menganalisa dan pembaharuan keamanan pada smartphone.
ILUSTRASI: Ponsel (AP/Carolyn Kaster)

Rekrut
 
Pada era teknologi informasi ini, kasus kejahatan siber semakin merajalela. Tapi menariknya, para pelaku yang tertangkap kerap direkrut oleh negara untuk mengelola keamanan dunia maya, atau mungkin membantu menangkap pelaku kejahatan siber lainnya.
 
Salah satunya SAN, pelaku pembobolan server Telkomsel pada 2012 silam. Dia didakwa melakukan peretasan terhadap operator seluluar tersebut hingga mengakibatkan kerugian sebesar Rp10 miliar.
 
Saat di dalam penjara, SAN pernah ditawarkan untuk membantu sebuah lembaga milik pemerintah. Namun tawaran itu dia tolak. Kini, selepas menjalani hukuman, SAN memilih jalur yang sama sekali jauh dari urusan peretasan.
 
"Begini saja, bisnis kuliner," ucap SAN seraya tertawa saat berbincang dengan Metrotvnews.com beberapa waktu lalu.
 
Namun, baik Ramdan maupun SAN mengakui, ada beberapa kenalannya yang kini membantu kepolisian maupun badan lain yang terkait dengan pemberantasasn kejahatan siber.
 
Bahkan, ihwal perekrutan hacker yang tertangkap juga diakui oleh Kepala Subdirektorat II Direktorat Siber Bareskrim Kombes Himawan Bayu Aji. Menurutnya, perekrutan biasanya diawali dengan mangamati sepak terjang dan kemampuannya.
 
Kendati demikian, perekrutan itu tidak menghilangkan hukuman yang ditetapkan hakim saat pelaku diadili. "Mereka tetap harus mempertanggungjawabkan perbuatannya," ucap Himawan kepada Metrotvnews.com, Selasa, 4 April 2017.
 
Begitulah kisah pelaku peretasan sistem komputer alias hacker. Dari penjahat hingga pahlawan. Dibenci tapi dibutuhkan keberadaannya. Oleh sebab itu tak heran bila di kalangannya saja terbelah, ada yang dijuluki black hat (peretas topi hitam), peretas yang kerap melakukan kejahatan-kejahatan siber. Ada pula white hat, kelompok yang meretas untuk kebajikan.


ILUSTRASI: Hackers took over several police websites in Thailand. (AP/Charles Dharapak)


(ADM)

  • titlenya ya

    Peretas Indonesia Retas Situs Malaysia

    22 Agustus 2017 10:16

    Insiden bendera Indonesia terbalik mengundang reaksi dari masyarakat. Setelah Kedubes Malaysia didemo, kini salah satu situs asal Malaysia diretas.

  • titlenya ya

    Situs Malaysia Diretas Hacker Indonesia

    21 Agustus 2017 17:52

    Insiden bendera Indonesia terbalik membuat hacker bereaksi dengan meretas situs asal Malaysia. Salah satu situs yang menjadi korban adalah kualalumpur…

  • titlenya ya

    Polisi Tangkap Peretas Situs Dewan Pers

    09 Juni 2017 20:13

    Tim penyidik cyber crime Mabes Polri berhasil menangkap pelaku peretas situs Dewan Pers. Pelaku berinisial AS mengaku hanya iseng dan tidak ada motif …

  • titlenya ya

    Situs Kejagung dan Dewan Pers Diretas

    31 Mei 2017 13:35

    Laman resmi Kejaksaan Agung dan Dewan Pers diretas. Kedua situs tersebut diretas oleh oknum tidak bertanggung jawab. Pada situs Kejagung muncul gambar…