Kasak-kusuk ‘Pemain’ Bitcoin

Wanda Indana    •    30 Januari 2018 17:47 WIB
Kasak-kusuk ‘Pemain’ Bitcoin
Ilustrasi: Medcom

Jakarta: Tempo-tempo kepalanya mengangguk paham. Sesekali tampak kebingungan. Tapi, wanita itu terlihat antusias menyimak pembicara di sebuah seminar di Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu, 20 Januari 2018.



Di muka ruangan, si pembicara sibuk menjelaskan sebuah grafik bertuliskan angka-angka. Mahfum, ini adalah seminar bisnis yang khusus membahas mata uang virtual (cryptocurrency) alias uang kripto - yang diinisiasi oleh Crypto Indonesia Club (CIC). Wanita itu bernama Evi, rela datang jauh-jauh dari Yogyakarta, merogoh kocek Rp 350 ribu agar bisa ikut seminar. Dia mengaku kepincut dengan bisnis duit virtual.


Coba-coba
 
Seusai seminar, kami pun berbincang dengan Evi. Dia bercerita soal pengalamannya selama dua bulan berinvestasi bitcoin – salah satu mata uang kripto, terbesar dan terpopuler.
 
Evi mengenal bitcoin dari grup WhatsApp alumni kampus, pada Oktober 2017. Lalu, seorang teman mengajaknya berinvestasi dalam bisnis uang kripto itu.
 
Mau tapi ragu, Evi pun mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang bitcoin. Hasilnya, banyak pemberitaan negatif tentang bitcoin. Apalagi saat itu Bank Indonesia (BI) berencana melarang penggunaan bitcoin dan 10 mata uang virtual lainnya.



Evi (41), bitcoiner asal Yogyakarta. (Medcom/Wanda)
 

“Tapi, kita tidak bisa menyimpulkan sesuatu kalau kita belum pernah mencoba. Jadi aku coba dulu,” ujar wanita berusia 41 tahun itu.

Akhirnya Evi memutuskan untuk bisnis bitcoin. Dia mulai berinvestasi pada awal Desember 2017, ketika harga sekeping bitcoin senilai Rp 109 juta.
 

Cepat dan lebar, demikian pergerakan naik-turun nilai bitcoin. Saat harga turun, Evi sigap membeli. Tatkala naik, tak ragu menjualnya di bursa. Sesekali dia menambah jumlah modalnya.
 

“Dan untungnya lumayan,” celetuk Evi terkekeh sembari menutup mulutnya.
 
Evi mengaku, keputusannya berinvestasi bitcoin lantaran geliat usahanya mulai meredup. Bitcoin, kata Evi, menjadi alterantif untuk mendapatkan tambahan penghasilan.
 
“Jujur, dengan kondisi ekonomi sekarang, pasti orang akan cari peluang. Toko kita aja bersaing dengan toko online. Kalau dibilang high risk, saya justru melihat high reward-nya,” kata Evi.
 
Pernah, saat Evi tengah berehat, dia iseng membuka gawai dan mulai bertransaksi uang virtual. Dalam hitungan menit, dia berhasil mendapat keuntungan jutaan rupiah.
 
“Pengalaman unik. Lagi duduk-duduk diam, aku trading, sebentar saja dapat tiga sampai empat juta. Biarpun gak ada kerjaan, aku tetap produktif, ” ujar Evi.

 
Ditentang
 
Semenjak Bank Indonesia (BI) melarang penggunaan bitcoin sebagai alat transaksi, sentimen negatif melanda bisnis uang virtual. Evi sempat dilarang bisnis bitcoin oleh beberapa temannya. “Termasuk saudara ku sendiri (melarang).”
 
Tapi, dia tak ambil pusing. Evi menganggap uang virtual adalah bagian dari kemajuan teknologi yang tak bisa ditolak. Dia tak ingin menutup diri dengan kemajuan itu. Selain itu, dirinya adalah seorang pengusaha, sudah mengerti risiko yang akan dihadapinya.
 
“Negara ini tak maju karena terlalu menutup diri. Kalau kita dilarang, kan hak kita. Uang ya uang saya. Kalau uang ditaruh di bank Rp 100 juta, kita dapet apa? Kalau di sini (bitcoin), kita bisa...,” ucap Evi terpotong tawanya sendiri.
 
Lagipula, menyoal larangan BI, Evi mengaku tidak menggunakan bitcoin untuk transaksi pembayaran. “Ya kita kalau beli sesuatu kita rupiahin, baru kita beli. Kita tidak pakai bitcoin buat transaksi. Kita kan cinta rupiah, tenang saja,” ucap Evi kembali tertawa.



Salah satu kampanye waspada uang virtual yang disebarkan BI di media sosial.


Serasa pilot
 
Selain Evi, kami juga berbincang dengan Victor, salah satu investor bitcoin lainnya. Blak-blakan, pria berusia 46 tahun ini mengaku mencari keuntungan maksimal dari investasi uang kripto.
 
Victor mulai berdagang uang digital pada awal September 2017. Saat itu, harga sekeping bitcoin Rp 56 juta.
 
Pria yang bekerja sebagai enjiner perusahaan industri di Tiongkok ini mengatakan, setiap bisnis memiliki risiko. Di dalam investasi, aset yang berisiko tinggi juga memberikan keuntungan yang tinggi pula.
 
“Dibilang ada risiko, pedagang bakso juga ada risiko. Kita keluar rumah naik motor juga ada risiko. Normal itu, high risk high reward,” ujar Victor.
 
Selama empat bulan ‘bermain’ bitcoin, Victor mengaku sudah merasakan hasilnya, meski tidak begitu besar. Sebab itulah dia mengaku masih butuh belajar investasi bitcoin.
 
“Saya pernah mengalami loses juga,” ujarnya.
 
Sebenarnya, Victor juga berbisnis saham dan jual beli mata uang. Namun, menurutnya, keuntungan rata-rata perdagangan saham hanya mencapai satu persen perhari. Sementara bitcoin bisa memberikan keuntungan lima persen perhari.



Suasana seminar cryptocurrency yang diinisiasi oleh Crypto Indonesia Club (CIC) di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu, 20 Januari 2018. (Medcom/Wanda)


Selain itu, Victor tertarik dengan bisnis uang kripto karena sistemnya yang desentralisasi. Investasi di pasar uang virtual ini, kata Victor, sama seperti menjadi pilot pesawat terbang. Setiap pengguna memiliki kuasa penuh buat mengontrol asetnya. Berbeda dengan instrumen investasi lain yang melibatkan pihak perantara, seperti broker saham.
 
“Main bitcoin seperti pilot, mau belok ke kanan atau ke kiri, naik dan turun lagi. Enaknya di situ. Kalau berdagang saham atau reksadana, kita perlu datang menyetor ke bank. Lalu, duit yang kita setorkan dikelola oleh fund manager. Jadi nasib uang kita naik apa turun tergantung mereka,” ujar Victor.
 
Hal senada diungkapkan investor bitcoin lainnya, Johan. Dia tergiur bisnis bitcoin karena melihat adiknya yang membeli rumah hasil dari bisnis uang virtual itu. Sang adik, menurut Johan, sudah dua tahun menggeluti bisnis bitcoin.
 
“Enggak sengaja lihat status FB (Facebook) adik saya,  dia beli rumah karena ikut bitcoin. Dia ikut saat harga bitcoin Rp3,9 juta, sekitar dua tahun lalu. Kaget saya,” ucap Johan. Sebagai catatan, saat ini harga satu bitcoin (1 BTC) sekitar Rp 160 juta.
 
Johan juga sempat dilarang oleh teman-temannya. Dia dianjurkan untuk tidak mengikuti bisnis bitcoin karena tidak diatur oleh Pemerintah, juga berisiko. Tapi, dia sudah terlanjut terpana melihat kesuksesan sang adik.
 
“Teman-teman gereja bilang bitcoin itu bubble, investnya ke mana? Kalau saham jelas, bitcoin bagaimana? Tapi, sudah ada dua orang yang bisa dipercaya, jadi harusnya tidak mungkin bohong,” ujarnya.
 


Bitcoiner lokal, Victor (tengah) dan Johan (kanan), saat berbincang santai dengan tim Medcom Files Wanda Indana, Sabtu, 20 Januari 2018. (Medcom)


Tak selalu untung

Namanya bisnis, ada untung ada rugi. Seorang bitcoiner - sebutan para investor bitcoin, juga tak jarang mengalami kerugian. Seperti yang dialami Sinung, bitcoiner asal Malang, Jawa Timur, yang kehilangan 70 persen asetnya lantaran kesalahan strategi.
 
Sinung mengenal bitcoin pada Juni 2017. Namun, baru pada Desember 2017 dia meulai berani berinvestasi. Saat itu harga bitcoin meroket, dan dia mulai membelinya.
 
“Aku depo dulu sekitar Rp 8,5 juta,” ujar Sinung kepada Medcom.id, Selasa, 16 Januari 2018.
 
Awalnya Sinung sering untung. Namun, pada 4 Januari 2018, salah satu mata uang virtual NXT merilis akan meluncurkan mata uang virtual baru bernama IGNIS. Koin IGNIS bisa didapatkan secara gratis. Tapi, ada syaratnya, investor harus membeli NXT.
 
Saat itu, pembelian 10 NXT gratis 5 IGNIS. Banyak investor berbondong-bondong membeli NXT, hingga harga NXT melabung tinggi.
 
Tergiur, Sinung nekat menjual 70 persen asetnya dalam bentuk bitcoin untuk ditukar dengan NXT. Harapannya, mendapat keuntungan karena harga yang terus meningkat.
 
Celaka, harga NXT tiba-tiba anjlok ke harga awal. Dari Rp 50 ribu per satu NXT turun menjadi Rp 10 ribu. “Banyak yang rugi di situ. Makanya, saya perlu belajar lagi. Tidak gampang tergiur dengan promo koin,” ujar Sinung sambil mengenang kegagalannya.
 
Kendati demikian, Sinung tak kapok berbisnis uang virtual. Kata dia, bisnis tersebut memiliki prospek yang baik. Soal larangan BI, Sinung tak menganggapnya masalah. Sebab, BI hanya melarang uang virtual sebagai alat bayar atau transaksi. Sementara investor menggunakan uang virtual untuk investasi.
 
“Kan yang nggak boleh jadi alat tukar saja,” pungkas Sinung.



 


(COK)