Jatuh Bangun Bisnis Uang Kripto

Wanda Indana    •    30 Januari 2018 17:04 WIB
Jatuh Bangun Bisnis Uang Kripto
Ilustrasi: Medcom

Masyarakat dibikin bingung dengan isu bitcoin. Harganya tinggi, terus melambung, tapi tidak ada wujud fisiknya. Nilai ‘sekeping’ uang virtual itu justru lebih mahal dari satu ons emas.


Jakarta: Kamis, 7 Desember 2017, nilai bitcoin naik gila-gilaan. Harga si raja uang kripto itu menyentuh rekor tertinggi; satu bitcoin (1 BTC) dihargai USD 19.340 - setara Rp 261 juta. Padahal, enam tahun lalu, harga sekeping bitcoin hanya Rp 13 ribu.

Saat pemerintah dan Bank Indonesia (BI) melarang penggunaan bitcoin, tren harganya sempat mengalami penurunan. Kini, harganya di sekitar Rp 160 juta.
 
Tak sedikit yang percaya, bisnis mata uang virtual (cryptocurrency) alias uang kripto, menjanjikan keuntungan.
 
Termasuk di Indonesia, masih banyak yang menganggap ‘mainan’ ini masih di wilayah ‘abu-abu’. BI tidak merestui.
 
Tak hanya bitcoin, tapi semua uang virtual yang ada di dunia ini, bagi BI, haram digunakan sebagai alat transaksi, juga investasi. Seperti; BlackCoin, Dash, Degecoin, Litecoin, Namecoin, Nxt, Peercoin, Primecoin, Ripple, dan Ven. Penggunaannya sebagai alat tukar melanggar undang-undang.
 
Larangan itu dikeluarkan tatkala minat masyarakat untuk berinvestasi di pasar kripto, terutama Bitcoin, meningkat. BI seolah ingin menghindarkan masyarakat dari uang tak berwujud itu.
 
Namun, alasan yang paling masuk akal dari larangan BI itu adalah risiko bubble, karena pergerakan harga bitcoin sangat fluktuatif. Ya. Saat ini terus ‘menggelembung’, lantas meledak dan selesai. Saat itu terjadi, kerugian bisa melanda.

Salah satu kampanye waspada berinvestasi uang virtual yang disebarkan di media sosial oleh Bank Indonesia. 


Jumlah terbatas

Bitcoin adalah salah satu mata uang kripto yang paling populer. Perdagangan bitcoin menggunakan teknologi blockchain. Jadi, perdagangan uang digital dilakukan antar-individu secara langsung.
 
Baca: Blockchain: Teman atau Lawan
 
Uang virtual tidak diatur dan dicetak oleh bank manapun. Tapi, memiliki jumlah koin yang terbatas. Berbeda dengan rupiah yang bisa dicetak setiap hari dan diatur peredarannya oleh BI.
 

Bitcoin, yang paling diminati para investor, hanya memiliki cadangan maksimal 21 juta keping. Saat ini, baru 16 juta keping yang beredar. Karena jumlahnya terbatas, maka harganya mengalami peningkatan.


Terkadang, bitcoin dianggap sebagai bentuk emas digital. Selama masih ada orang yang mau beli, Bitcoin atau mata uang digital lainnya akan tetap bernilai.




 
Peredaran
 
Ada pula pasar tempat jual-beli uang kripto. Namanya Pasar Bursa Kripto (Crypto Exchanges), semacam Bursa Efek Indonesia (BEI), pasar tunggal yang mempertemukan penjual dan pembeli saham.
 
Pasar bursa kripto ini juga tidak berbentuk fisik. Tapi berbentuk situs internet. Ada ratusan bursa kripto di dunia. Kalau di Indonesia, namanya VIP Bitcoin Indonesia - vip.bitcoin.co.id.

Dalam bursa itu, selain bisa membeli dan menjual uang kripto, investor juga bisa menukarkannya ke mata uang negara seperti Rupiah, Dolar, Ringgit dan sebagainya.
 
Ada dua cara untuk mendapatkan bitcoin. Pertama, membelinya secara langsung di bursa VIP Bitcoin. Kedua, dengan cara menambang. Dua cara itu sama-sama membutuhkan modal.
 

Tampilan (user interface) aplikasi Bitcoin Indonesia di gawai.


Persaingan
 
Transaksi uang virtual di Indonesia masih sangat kecil jika dibandingkan besarnya transaksi di dunia; hanya sekitar 0,24 persen. Jumlah investor yang terdaftar di bursa vip.bitcoin.co.id baru mencapai 550 ribu orang per Januari 2018.
 
Selain Bitcoin, ada mata uang digital lainnya yang diperdagangkan di pasar kripto, seperti Ethereum, Ripple, dan Litecoin juga mulai menyaingi dan merebut pangsa pasar Bitcoin. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.
 
Ethereum misalnya, memang tidak sepopuler bitcoin. Tapi, sejak diluncurkan pada 2014, harga sekeping uang virtual berkode ETR itu sekitar Rp 130 ribu, lantas menguat menjadi Rp 15  juta pada Januari 2018.
 
Ethereum paling diminati para ‘penambang’ uang kripto. Karena proses penambangannya yang lebih cepat dan lebih mudah.





Lalu ada Ripple, uang virtual yang diciptakan oleh perusahaan Ripple Labs pada 2012. Ripple diciptakan dengan tujuan yang sedikit berbeda dari bitcoin atau uang kripto lainnya.
 
Ripple dibuat untuk melakukan pengiriman dan penerimaan pembayaran Cross-Chain Universal. Maksudnya, ripple bisa menjadi alat tukar mata uang negara, mata uang kripto, hingga komoditas seperti emas dan perak.
 
Tapi, sistem basis data ripple sentralistik, sama seperti mata uang konvensional yang diterbitkan bank sentral. Tidak ada penambang di pasar ripple, tidak terdesentralisasi, dan tidak beroperasi pada teknologi blockchain.
 
Tahun ini, Bitcoin Cash sedang naik daun. Mata uang virtual ini muncul pada 1 Agustus 2017 - setelah melalui proses pelebaran pasar pada jaringan bitcoin. Bitcoin cash hadir menyaingi saudara tuanya.
 
Ada pula Litecoin, bisa dibilang duplikatnya bitcoin. Jika bitcoin mengidentifikasikan diri sebagai emas virtual, maka litecoin memposisikan diri sebagai perak virtual.
 
Jumlah litecoin empat kali lebih banyak dari bitcoin. Proses penambangannya juga empat kali lebih cepat dari bitecoin.
 
Kemudian ada NEM, yang populer di Jepang. Uang virtual ini difokuskan sebagai alat pembayaran. Mirip NEO, mata uang virtual buatan Tiongkok.
 

Orang Indonesia juga pernah membuat uang virtual pada 2014, namanya Garuda Coin. Namun, perlahan menghilang dari pasar karena tidak laku.


Analis Cryptocurrency  dari Crypto Indonesia Club (CIC) Sigit Putra Tanoko mengatakan, jatuhnya Garuda Coin lantaran tidak memiliki komunitas. Alhasil, uang virtual itu sulit beredar, tidak terbeli, dan nilainya pun rontok.
 
“Yang memberi harga atau value terhadap koin adalah komunitas. Seberapa mahal dia mau bayar dan seberapa besar benefit yang diberikan dari koin tertentu,” ujar Sigit saat berbincang dengan Medcom.id di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu, 20 Januari 2018.
 
Saat uang virtual tidak didukung keberadaan komunitas, sambung Sigit, tidak ada harganya. “Ya, tidak ada yang mencari.”
 
Tak hanya Garuda Coin. Menurut Sigit, banyak sekali uang virtual yang bermunculan dikala kripto di puncak popularitas, pada 2013. Tapi tidak bertahan lama. Banyak yang menghilang.
 
“Banyak koin yang hancur. Susah mendapatkan bitcoin yang kedua, yang paling kuat tetap bitcoin. Dari 1.400-an koin beredar, kalau digabungkan jadi satu dan melawan miner Bitcoin, tetap kalah,” pungkas Sigit.


(COK)