Dinamika di Tenabang

Coki Lubis    •    13 Maret 2017 13:30 WIB
Dinamika di Tenabang
ILUSTRASI: Suasana di dalam masjid dengan gaya Timur Tengah di Pasar Tanah Abang. (MI/Ramdani)

Metrotvnews.com, Jakarta: Sunyi. Hanya pebukitan merah yang dikelilingi rawa. Banyak tumbuhan bakau Nyirih Agung, atau akrab disebut biji nyiri (xylocarpus granatum). Konon, orang Belanda menyebutnya Nabang. Demikian suasana perkampungan di wilayah ommelanden bagian selatan, jauh sebelum dipadati imigran dari lembah Hadramaut, Yaman.
 
Di bawah kekuasaan pemerintah Hindia Belanda, pada abad ke-17, kawasan-kawasan sekitar Batavia (di luar tembok Kota Tua) disebut ommelanden. Status ini juga disematkan untuk kawasan perkampungan yang mereka sebut De Nabang itu, yang kemudian terpeleset di lidah pribumi menjadi Tenabang.
 
Menurut sejarawan Ridwan Saidi, dua ratus tahun berselang, nama itu berubah menjadi Tanah Abang setelah dibangunnya stasiun Kereta Api pada 1890. Perusahaan kereta api menganggap nama Tenabang berasal dari Tanah Abang. Lalu secara resmi digunakan sebagai nama stasiun tersebut.
 
"Besar kemungkinan pengelola stasiun adalah orang Jawa, ia mengira penyebutan Tenabang itu salah, lalu ia mencoba untuk membenarkan sendiri," jelas budayawan Betawi ini dalam karyanya Orang Betawi dan Modernisasi Jakarta (1994).
 
Inilah kisah Tanah Abang yang diakui secara turun temurun oleh penduduknya. "Tenabang adalah salah satu perkampungan tertua di Jakarta," ucap Ketua Komunitas Silaturahim Kumpul Bareng Anak Tenabang (Sikumbang), Rony Adi, saat bincang santai dengan Metrotvnews.com, Rabu, 8 Maret 2017.
 
Setidaknya, hingga kawasan itu dihibahkan Belanda kepada seorang Kapitan Poa Bing Ham pada 1648, struktur sosial warga kampungnya sudah mapan. Atas kemauan pemerintah, Bing Ham menjadikan kawasan ini perkebunan tebu dan lokasi pabrik gula. Tapi lama kelamaan produksinya merosot hingga gulung tikar.
 
Lepas itu, pada 1735, tuan tanah Belanda Justinus Vinck menjadikan kawasan ini sebagai lokasi niaga. Bersamaan dengan dibangunnya Pasar Senen, Pasar Tanah Abang pun didirikan.
 
Suasana ekonomi semakin hidup tatkala bangsa 'Timur Asing', salah satunya etnis Arab, tiba di Batavia. Imigran dari lembah Hadramaut di Yaman Selatan itu akrab disebut hadrami. Pada masa itu, mereka dikenal sebagai pedagang ulung.
 
Tak semata berdagang, kedatangan hadrami ke Hindia Belanda juga untuk berdakawah. Mahfum, sebagian dari imigran adalah kalangan alawiyyin atau habib, keluarga ulama yang masih satu garis keturunan dengan Nabi Muhammad SAW. Di kalangan hadrami, strata sosial alawiyyin lebih tinggi dibanding marga (fam) hadrami lain yang bukan keturunan nabi.
 
Dari Pekojan, kawasan barat Batavia yang menjadi lokasi berkumpulnya hadrami, mereka menyebar ke kawasan lain sekitar pusat niaga. “Paling banyak ke Tanah Abang,” kata Rony.
 
Saat berbondong pindah ke kawasan Tanah Abang, para hadrami juga memindahkan pusat organisasi dakwahnya yang dibentuk pada 1901 kala di Pekojan, yaitu Jamiatul Kheir. Organisasi yang didirikan para awaliyyin ini berbasis sosial, budaya dan pendidikan islam.
 
Yang bergabung dengan Jamiatul Kheir tak hanya orang-orang arab hadrami. Banyak pula pribumi yang bergabung untuk memperdalam ilmu keagamaan. Menurut buku Jakarta dari Tepian Air ke Kota Proklamasi yang diterbitkan Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI, KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah) dan HOS Tjokroaminoto (pendiri Sarekat Islam) juga jebolan Kheir.
 
Saat di Tanah Abang, pada 1905, organisasi ini akhirnya diakui dan mendapatkan akte dari pemerintah Hindia Belanda.
 
Soal stratifikasi sosial yang dibawa hingga ke tanah Betawi, kalangan alawiyyin mendapat kritikan. Perbedaan pandangan muncul dari dalam, yakni, seorang guru Jamiatul Kheir asal Sudan, Syekh Ahmad Surkati, yang bergabung pada 1912.
 
Menurut peneliti budaya dari Universitas Indonesia yang juga sastrawan Zeffry Alkatiri, Surkati kecewa dengan feodalisme yang kental dalam organisasi itu. Sang guru mendorong persamaan kelas sosial. Mereka yang bukan dari kalangan habib juga berhak dalam pengurusan dan menentukan langkah organisasi. Begitupula dalam ranah sosial, tak harus melulu bicara keagamaan dan membangun garis-garis tegas dalam pergaulan.
 
Merasa tidak diakomodir, Surkati mendirikan organisasi serupa, dinamakan Al Irsyad. Lokasi berdirinya sama, di kawasan Tanah Abang. "Meski begitu, dalam Irsyad ada juga orang-orang fam alawiyyin yang sepemikiran, bahkan membantu pengembangannya," ujar Zeffry saat ditemui Metrotvnews.com di Fakultas Ilmu Budaya UI, Depok, Kamis, 9 Maret 2017.
 
Kisah itu diamini Rony. Berdasarkan cerita yang melegenda di kalangan penduduk Tanah Abang, kala itu Surkati menganggap perbedaan seorang muslim bukan didasarkan pada marga atau garis keturunan, namun dilihat dari keimanannya.
 
Perbedaan lain juga pada orientasi politik, saat api pergerakan kemerdekaan mulai menyala. "Alawiyyin itu dualisme, antara mendukung Indonesia atau Belanda. Tapi, dia lebih banyak merasa bukan bagian dari Indonesia. Tetap melabeli diri sebagai orang Arab," ujarnya.
 
Sebaliknya, Surkati merasa bagian dari orang Indonesia dan mendukung pergerakan kemerdekaan. Salah satu langkah mahsyurnya adalah mendirikan Persatuan Arab Indonesia (sebelum menjadi Partai Arab Indonesia). Berbeda dengan alawiyyin yang cenderung main aman. "Perbedaan itu sangat jelas," kata Rony.
 
Eksistensi
 
Perbedaan pandangan dalam dua gerakan identitas itu sangat terasa. Salah satu dampaknya adalah berkembangnya gerakan identitas lain, yang diinisiasi oleh kalangan pribumi.
 
Menurut Zeffry, polanya sama, berbasis pada pendidikan dan turut berkecimpung di ranah perjuangan kemerdekaan. Seperti Muhammadiyah atau Nahdlatul Ulama (NU). Bedanya, Muhammadyah dan NU giat mengakar. Bahkan terus dikembangkan, seperti mendirikan madrasah maupun pesantren.
 
"Al Irsyad ini boleh dikata tidak mampu bersaing. Kemungkinan besar karena banyak masalah internal maupun eksternal," ujar penulis kumpulan sajak 'Catatan Seorang Pejalan dari Hadrami' itu.
 
Namun, tajamnya pertentangan antara irsyadin - sebutan pengikut Al Irsyad, dengan alawiyyin tidak menghilangkan eksistensi kedua organisasi tua itu. Masih dipertahankan oleh kalangannya masing-masing.
 
Sangat jelas, keberadaan alawiyyin justru menguat. Eksistensinya kokoh karena didasari keturunan dan fam. Perannya juga masih dibutuhkan, bukan saja untuk keluarga tapi juga masyarakatnya.
 
Alasan lain, menurut Zeffry, alawiyyin juga memiliki kegiatan keagamaan yang berkesinambungan. Misalnya, pengajian, haul, memperingati Isra Miraj, dan sebagainya. "Ada patron yaitu habib serta ada klien atau pengikutnya," ucap sastrawan keturunan hadrami ini.
 
Hal itu tidak terjadi di kalangan irsyadin. Makanya, saat ini saja Al Irsyad hanya besar di daerah-daerah tertentu saja, seperti di Purwakarta, Karawang, Cirebon, Bandung. Tapi tidak secara luas, seperti Muhammadyah dan NU.
 
"Jadi, jaringan dan kekuatan alawyyin lebih besar dibanding dengan Al Irsyad," kata Zeffry.
 
Menurut Zeffry, perbedaan pandangan irsyadin dengan alawiyyin sampai sekarang pun masih ada. Sangat terasa dalam interaksi di kalangan hadrami, hanya saja tidak dibesar-besarkan.
 
Bagi Zeffry, konflik-konflik dalam kelembagaan atau rumpun identitas adalah sesuatu yang umum terjadi. Termasuk pada etnis lainnya, seperti batak, minang, jawa, tionghoa, dan lain-lain. Bahkan ceritanya mudah ditemui dalam berbagai literasi.
 
Tapi tidak begitu dengan budaya etnis Arab. Mereka memandang bahwa konflik, apalagi yang melibatkan nama keluarga, adalah aib. Tidak bagus untuk diungkapkan. Karenanya, kata Zeffry, karya-karya sastra arab juga literasinya tidak banyak di Indonesia.
 
"Karena ada batasan itu. Aib tidak perlu disebarkan, dianggap akan merugikan marga tertentu, juga semuanya. Termasuk soal irsyadin dan alawiyyin," tandas 'anak' Tanah Abang itu.
 
 


(ADM)