Hikayat Hadrami di Tanah Betawi

Wanda Indana    •    13 Maret 2017 09:08 WIB
Hikayat Hadrami di Tanah Betawi
Seorang warga berdiri dengan latar belakang foto-foto ahli waris makam keramat penyebar agama Islam dan seorang tokoh yang melegenda Habib Hasan bin Muhammad al Haddad di Koja, Jakarta Utara. (ANTARA/Yudhi Mahatma)

Metrotvnews.com, Jakarta: Suatu hari di tahun 1736, langit mendadak meredup disergap cuaca buruk. Di perairan teluk Jakarta, sebuah kapal kayu terombang-ambing dihajar gelombang laut.



Kapal yang membawa rombongan pedagang dari jazirah Arab itu terdampar di kawasan terlarang, di Kampung Baru yang sekarang dikenal dengan nama Kampung Luar Batang, Jakarta Utara. Kampung itu merupakan benteng pertahanan pemerintah Hindia-Belanda. Tak sembarangan memasuki wilayah itu. Pasukan kolonial Hindia-Belanda yang mengetahui langsung mengusir rombongan. Digiring keluar ke teluk Jakarta.

Dari atas kapal, seorang pemuda—yang juga bagian dari rombongan kapal—meminta kembali.  Nekat saja, pemuda itu dengan menumpangi sekoci kembali ke daerah yang dilarang Belanda, seorang diri. Sekoci yang ditunggangi pemuda itu lontang-lantung melewati ganasnya ombak. Pemuda itu akhirnya terdampar ke tempat semula. Kali ini, tanpa sepengetahuan pasukan Hindia-Belanda.

Seorang Betawi menemukan pemuda itu di dekat Pelabuhan Sunda Kelapa. Dalam kondisi lemah, pemuda itu dibawa ke langgar, disembunyikan.

Pemuda pemberani itu bernama Husein bin Abubakar Alaydrus. Dia berasal dari Migrab, dekat Hazam, Hadhramaut (kini Yaman Selatan). Sebelum menginjakkan kaki di Batavia, Husein bin Abubakar Alaydrus singgah lebih dulu di Gujarat, India, kemudian masuk ke Nusantara. Wilayah Nusantara yang disinggahinya sebelum Batavia adalah Aceh, Surabaya, dan Cirebon.

Tujuan utama Husein bin Abubakar Alaydrus ke Nusantara adalah untuk berdagang dan berdakwah. Husein muda berdagang dari pagi hingga siang hari. Setelah petang, dia mulai berdakwah hingga malam. Syiar agama yang digaungkan Husein bin Abubakar Alaydrus membawa pengaruh pada kehidupan sosial masyarakat Betawi.
 
“Saya salah satu keturunan Husein bin Abubakar Alaydrus,” kata Sejarawan Rushdy Hoesein saat berbincang dengan Metrotvnews.com, Bintaro, Tangerang Selatan, Kamis 9 Maret 2017.

Rushdy mengungkapkan, jauh sebelum Husein bin Abubakar Alaydrus tiba di Batavia, ada orang-orang Arab yang sudah menapakkan jejak di Batavia. Mayoritas dari Hadramaut, mereka sering disebut Arab-Hadrami atau Hadrami. Sejarah mencatat, petengahan abad ke-15, bangsa Arab sudah memasuki Nusantara melalui Aceh.
“Jadi ada dua gelombang,” kata Rushdy.

Bangsa Arab yang masuk ke nusantara pada gelombang pertama tidak membawa istri atau kerabat perempuan. Mereka datang dalam kelompok kecil melalui jalur sutra dan jalur laut dengan melintasi samudera hindia hingga selat malaka. Mereka menetap di daerah tujuan dan tidak kembali ke daerah asal. Mereka kawin-mawin dengan perempuan lokal untuk mempermudah penyebaran Islam.

Rushdy menjelaskan, kedatangan bangsa Arab di Nusantara, khususnya di Batavia, membawa dua misi. Utamanya menyebarkan ajaran Islam dan berdagang. Kata Rushdy, mereka hanya berjualan ala kadarnya, sekadar untuk mengisi perut.

Di pagi hari, orang Arab pergi ke pasar untuk berdagang. Mereka berjualan di pinggir jalan atau halaman kosong dengan menggelar tikar atau terpal dan menjajakan barang-barang dagangan. Orang Arab biasanya menjual kapur barus, kitab-kitab Islam, gamis, tasbih, dan segala perkakas khas timur tengah.

“Berdagang sampai siang, cukup untuk makan saja. Kenapa begitu, karena dia juga punya tugas lain, yakni menyebarkan ajaran Islam, mereka punya tugas ganda,” ujar Rushdy. 

Pada 1774, aktivitas pelayaran di Asia Tengara semakin hidup, ramai dilalui para pedagang dari mancanegara. Imigran Arab dalam kelompok besar mulai berdatangan ke Nusantara. Tak hanya Batavia, sebagian menyebar ke kota lain seperti Palembang, Pontianak, dan kota-kota di Jawa.

 Islamolog Belanda LWC Van den Berg dalam bukunya berjudul Orang Arab di Nusantra, menyebut, pada abad ke-19 Arab-Hadrami mulai banyak mendiami kota-kota di pelosok Nusantara. Perlahan tapi pasti, mereka bisa membangun bisnis jasa pelayaran. Bahkan, mereka sanggup mendominasi 2% bisnis jasa pelayaran yang beroperasi di pelabuhan Jawa. Kebanyakan menyediakan jasa pelayaran untuk perjalanan ibadah haji ke Mekah.

Pada 1820, imigran Arab mulai ramai di Batavia. Mereka banyak bermukim di pemukiman orang Moor di Pekojan. Orang Moor adalah pelaut dan pedagang muslim asal Hejaz dan Gujarat, India. Orang Moor juga dikenal dengan nama orang keling. Lambat laun, populasi orang Arab di Pekojan meningkat.

Tak terbendung

Pada kurun abad ke-19 hingga awal abad ke-20, imigrasi orang Arab ke Nusantara semakin tak terbendung. Penyebabnya, banyak versi. Tapi, menurut Rushdy, faktor derasnya arus imigrasi dari Timur Tengah lantaran pembukaan Terusan Suez di Mesir pada 1879 dan Revolusi Arab pada 1916-1918.

Ada perbedaan migrasi orang-orang Arab pada gelombang kedua. Mereka mulai mengajak istri, keluarga, dan membawa banyak barang dagangan. Selain dakwa, mereka benar-benar ingin mencari penghidupan yang lebih baik. Kendati demikian, kegiatan dakwa agama tetap dilakukan. Tapi, kawin-mawin dengan penduduk lokal dibatasi.

Pembukaan Terusan Suez semakin membuka akses seluas-luasnya bagi bisnis pelayaran kapal-kapal dari Barat menuju Asia, termasuk Nusantara. Apalagi, penggunaan teknologi kapal uap semakin luas. Perjalanan laut ke timur semakin mudah.

“Jadi mulai berpikir kapitalis. Orang Arab berdagang untuk mencari keuntungan, mengembangkan modal. Pada akhirnya mereka bisa membeli tanah dari penduduk lokal, membangun pemukiman dan menyewakannya,” papar Rushdy.

Selain itu, peristiwa Revolusi Arab ikut memicu ledakan imigrasi bangsa Arab ke Nusantara. Revolusi Arab ditandai dengan munculnya pemberontakan bangsa Arab yang menuntut kebebasan dan pengaruh kesultanan Ottoman Turki. Dulu, Jazirah Arab adalah satu kawasan atau negara tunggal di bawah Kekhalifahan Utsmani. Jazirah Arab negara besar multi etnis yang berbasis di Istanbul.

Karena satu dan lain hal, pemberontakan akhirnya pecah. Pada 1910-an, Kekhalifahan Utsmani (Ottoman) runtuh dan bangkitlah negera-negera baru. Perang antar suku di banyak wilayah di Jazirah Arab tak terhindarkan, termasuk di kota suci Mekah. Orang-orang Arab yang berbeda paham dengan Abdul Aziz bin Abdurrahman as-Sa'ud yang ingin memproklamirkan negara kerajaan Arab Saudi, tersingkir dan banyak melarikan diri ke selatan, di Hadramaut.

Etnis arab baik yang berasal dari Hadramut dan dari wilayah lainnya pun karena dampak kerusuhan menyebar ke negara-negara timur. Melalui jalur darat, mereka banyak mendiami negara-negara Asia Tengah. Di jalur laut, mereka menumpangi kapal yang menuju ke India dan Nusatara. Akhirnya, orang Arab yang tiba di Batavia terbagi dari tiga komunitas besar, yaitu; komunitas Hadrami yang terdiri dari kelompok Alawiyin dan non-Alawiyin serta komunitas non-Hadrami.

Alawiyyin adalah sebutan untuk seseorang yang memiliki pertalian darah dengan Nabi Muhammad. Kelompok inilah yang membatasi penikahan dengan warga lokal. Alasannya, untuk menjaga garis keturunan Nabi.  Anggota marga yang terkenal dari kelompok Alawiyyin antara lain Alaydrus, Alattas, Assegaf, Shahab, Al-Haddad, Fad'aq, Al-Habsyi, Al-Hamid, Al-Khirit, dan sebagainya.

“Beberapa nasab (marga) tetap melebur dengan masyarakat lokal, menikah dengan pribumi. Bahkan menganggap dirinya bangsa Indonesia, bukan bangsa Arab,” imbuh Rushdy.

Pada abad ke-18, kelompok Alawiyin masih mendominasi peran ekonomi dan keagamaan di Batavia. Namun, pada pertengahan abad ke-19, akibat membludaknya imigrasi Hadrami, maka kelompok non-Alawiyin kini menjadi jumlah mayoritas dalam masyarakat Arab di Jakarta.

“Mereka yang masih menjaga garis keturunan jumlahnya sedikit. Kalau saya, yang masuk dalam nasab Alaydrus melebur dengan lokal. Wajah saya sudah tidak seperti orang Arab,” pungkas Rushdy sembari terkekeh.
 


(ADM)