Antara Alunan Gambus dan Hadrah

Coki Lubis    •    13 Maret 2017 14:15 WIB
Antara Alunan Gambus dan Hadrah
ILUSTRASI: Sejumlah seniman hadrah menabuh rebana mengiringi lantunan shalawat, saat mengikuti Festival Hadrah Banjari. (ANTARA/Eric Ireng)

Metrotvnews.com, Jakarta:  Menyimak penggalan sajak Zeffry Alkatiri, sastrawan yang juga peneliti budaya Universitas Indonesia, dalam puisinya berjudul 'Habib'. Siapa mengira ternyata isinya mengisahkan seorang alawiyyin (keturunan Nabi Muhammad SAW) dari lembah Hadramaut, Yaman Selatan, yang belum lama tiba di kawasan Pekojan, Batavia, pada abad ke-18.
 
Ahlan!
Sejak umur 21 tahun
Terakhir melihat wadi gurun
Dari Aden menuju Betawi
Setelah muntah di dek kapal Inggris
Matanya menghijau royo
Tanah yang dipijak gembur-subur
Baik ditanam hadis dan fikih
Yang mengakar di setiap sel otaknya
 
Hadrami - sebutan bagi imigran yang datang dari Hadramaut, Yaman– diwajibkan  lebih dulu tinggal di sini. Pemerintah Hindia Belanda pun menetapkan Pekojan sebagai 'Kampung Arab'. Tak jauh, ada hunian warga Tionghoa dan India. Semua mendapat sebutan bangsa Timur Asing oleh Belanda.
 
Baca: Hikayat Hadrami di Tanah Betawi
 
Keuletan bangsa Timur Asing dalam berdagang tampaknya memukau pemerintah Hindia Belanda. Mahfum bila kemudian mereka dipercaya untuk membangun kawasan-kawasan ekonomi. Di antaranya Tanah Abang, kawasan ommelanden (sekitar Batavia), yang dibangunkan pasar oleh tuan tanah Belanda Justinus Vinck pada 1735.
 
Dari Pekojan, banyak Hadrami yang bergeser ke Tanah Abang. Pada akhir abad 19, populasinya pun semakin besar. Dari yang awalnya eksklusif, lambat laun terbuka dan semakin membaur, bahkan kawin mawin dengan warga pribumi.
 
Harmonis
 
Orang Arab dinilai lebih mudah membaur dan diterima masyarakat setempat. Dari sisi ekonomi, para hadrami dianggap lebih baik, mudah memberikan sesuatu, termasuk soal keamanan.
 
Ajaran Islam, yang memang sudah dianut masyarakat Betawi sejak jauh hari, menjadi titik harmonisasinya. Bagi pribumi, soal pengetahuan agama, Hadrami lebih baik. Mereka rata-rata alawiyyin, keluarga habib, dan berperan sebagai ulama.
 
Masjid sudah tentu menjadi pusat interaksinya. Masjid Jami Al-Makmur di Tanah Abang salah satunya. Jadi, lumrah bila banyak intelektual hingga ahli bela diri lahir dari masjid yang dibangun pada masa ekspansi kerajaan Mataram, Demak, dan Cirebon ke Sunda Kalapa itu.
 
Pertukaran ilmu terjadi. Orang Betawi mempelajari ilmu agama dari para habib. Sementara, hadrami kerap belajar silat dengan jago-jago 'maen pukulan' Betawi yang kala itu bertebaran di Tanah Abang. Bagi warga Betawi, menguasai pencak silat seolah suatu keharusan.
 
Ambil contoh pendekar silat Betawi yang tersohor, Sabeni. Si legendaris 'maen pukulan' ini memperdalam ilmu keagamaannya kepada seorang hadrami bernama Sayyid Alwi Alhabsyi.
 
Ketua Komunitas Silaturahim Kumpul Bareng Anak Tenabang (Sikumbang) Rony Adi menuturkan kisah yang sama. Menurut dia, banyak pendekar Tenabang yang mewarisi ilmu silat Sabeni.
Termasuk di antara jago-jago silat merupakan peranakan Arab.
 
Tapi, jangan salah. Para jago itu disegani bukan sekadar lantaran kepiawaiannya  dalam seni bela diri, namun juga karena tingkah lakunya yang terpuji. "Jauh dari gaya preman, yang memalaki dan main peras," kata Rony saat berbincang dengan Metrotvnews.com, Rabu, 8 Maret 2017.
 
Saudara ibu
 
Pembauran makin kental. Seiring banyaknya kawin campur, semakin tumbuh pula peranakan Arab di Tanah Abang. Karenanya, orang Arab menyebut kalangan pribumi dengan julukan 'saudara ibu'.
 
Bahkan, bila ditilik dari sejarah tokoh ulama intelektual yang juga hadrami di Tanah Abang, yakni Abdurrahman bin Ahmad Al-Mishri, menikahi putri dari ulama besar Betawi Syekh Junaidi Al-Batawi, yang kala itu juga masyhur sebagai Imam Besar Masjidil Haram, Mekah, Arab Saudi.
 
Dari pernikahan Abdurrahman dengan putri dari Syekh Junaidi, lahirlah seorang anak perempuan, yang kemudian hari dinikahkan dengan Sayyid Agil bin Umar bin Yahya. Agil adalah seorang ulama yang cukup terhormat di Mekah.
 
Alur keturunan selanjutnya adalah Utsman bin Yahya, yang menjadi tokoh dan ulama tersohor di Tanah Abang lantaran diangkat oleh Belanda sebagai Mufti Batavia. Ia seorang habib sekaligus tokoh intelektual Islam. Berkat kecerdasan, wawasan, serta pergaulannya yang luas, ia pun disegani oleh pihak kolonial Belanda.
 
Sebab, pengaruhnya di kalangan masyarakat tak boleh diremehkan. Orang Tanah Abang mana yang tidak mengenal dan menjadikan Habib Utsman sebagai panutan. Kenyataan ini disadari betul oleh pemerintah Belanda.
 
Proses kawin mawin dengan pribumi juga terjadi pada hadrami lain yang bukan berstatus awaliyyin atau marga-marga (fam) habib. Hingga pada awal abad ke-20, peranakan Arab-Betawi cukup mendominasi perkampungan tertua di Jakarta itu.
 
Hadrah atau gambus
 
Pengaruh budaya hadrami merasuki pergaulan sosial pribumi. Yang paling kental adalah kesenian-kesenian tradisional ala Timur Tengah, yang menjadi hiburan masyarakat.
 
Menariknya, budaya kesenian para hadrami yang satu dengan yang lainnya tidak selalu sama. Perbedaan ini tidak lepas dari munculnya dua organisasi berpengaruh di Tanah Abang, yakni, Jamiatul Kheir dan Al Irsyad.
 
Jamaitul Kheir adalah organisasi pendidikan Islam pertama yang diinisiasi oleh para alawiyyin pada 1901 di Pekojan. Organisasi ini terbuka untuk kalangan pribumi. Namun, baru disertifikasi oleh Belanda pada 1905, saat berpindah ke Tanah Abang.
 
Sembilan tahun kemudian, pada 1914, salah satu guru Jamiatul Kheir berbeda pandang dengan para habib. Adalah Syekh Ahmad Surkati, ulama asal Sudan yang akhirnya mendirikan organisasi baru, Al Irsyad. Perbedaannya, pengurus Al Irsyad rata-rata peranakan Arab yang bukan habib.
 
Perbedaan lain yang mencolok adalah, alawiyyin tegas pada koridor dakwah, keagamaan dan menjunjung kepemimpinan organisasi berbasis fam keturunan habib. Sementara Irsyadin - sebutan pengikut Al-Irsyad, cenderung lebih luwes. Tidak melulu soal keagamaan, lebih sekuler, bahkan terlibat secara langsung dalam gerakan-gerakan nasional pro-kemerdekaan.
 
“Boleh dibilang Al Irsyad muncul karena kecewa dengan kentalnya feodalisme alawiyyin,” tutur Zeffry Alkatiri saat ditemui Metrotvnews.com di Fakultas Ilmu Budaya UI, Depok, Kamis, 9 Maret 2017.
 
Baca: Dinamika di Tenabang
 
Perbedaan pandangan itu terbawa hingga pergaulan sosial, bahkan ekspresi seni dan budayanya. Di kalangan habib, karena koridor keagamaannya kental, keseniannya sebatas hadrah disertai shalawat, juga marawis.
 
Irsyadin lebih ekspresif. Musik yang menjadi hiburan berirama gambus, sedikit lebih menghentak dan bersemangat. Bahkan, irsyadin kerap mendendangkan lagu-lagu melayu. "Makanya musik-musik orkes melayu lama kan banyak ditulis orang-orang Tanah Abang. Seperti Mashabi, dan sebagainya," kata Zeffry yang menghabiskan masa kanak-kanaknya di kawasan Tanah Abang.
 
Sekadar informasi, Mashabi adalah musisi legendaris yang sohor pada 1960-an. Mashabi dan generasinya telah meramaikan kancah musik melayu modern, yang kelak disebut cikal bakal musik dangdut.
 
Jadi, kalau ada peranakan arab dan pertunjukan gambus, sudah pasti itu irsyadin, bukan dari kalangan habib. "Perbedaan itu sampai saat ini masih mencolok," ujar penulis kumpulan sajak 'Catatan Seorang Pejalan dari Hadrami' itu.
 
Setidaknya, ketika mendengar alunan gambus maupun lantunan hadroh, kita menyadari kisah panjang yang ada di baliknya. Sekaligus, menjadi penanda eksistensi masing-masng.
 
"Otomatis, perbedaan (kesenian) itu juga turun ke masyarakat, apakah irsyadin atau pengikut kalangan alawyyin," tandas Zeffry.


Seniman membawakan musik gambus khas Betawi saat Pagelaran Seni Budaya Betawi di Setu Babakan, Jakarta. (MI/BARY FATHAHILAH)
 
(ADM)