Tingkah Melantur Para Penerbang

Lis Pratiwi    •    22 Desember 2017 22:31 WIB
Tingkah Melantur Para Penerbang
Ilustrasi: Medcom

Jakarta: Pekerjaan kru pesawat kerap dikaitkan dengan kehidupan malam. Kisah tentang pilot, kopilot, hingga pramugari yang berkunjung ke klub malam untuk bersenang-senang dengan alkohol dan obat terlarang telah lama tersiar.
 
Di tahun 2012, seorang mantan pramugari maskapai swasta, Diva, membeberkan detail hal tersebut kepada publik. Dari pengalamannya, kru penerbang memang kerap berhura-hura di tempat hiburan malam. Senioritas yang tinggi pun kian melanggengkan tradisi ini.
 
Sejak menjadi pramugari pada 2006 hingga 2008, ia bahkan pernah menyaksikan seorang pilot yang baru pulang dari klub malam pukul 3 pagi dan harus siap di bandara satu jam kemudian.
 
Menurut Diva, kapten pilot tersebut tampak segar meski baru begadang. Namun, cara berbicaranya meracau, seperti menggunakan obat terlarang.
 

Perilaku ini banyak dilakukan oleh penerbang dari maskapai lain.


“Pengalaman saya sebagai pramugari dan informasi teman-teman saat ini, 6-7 orang dari 10 pilot adalah pengguna (narkoba),” jelas Diva, seperti dinukil dari Tempo, Rabu 8 Februari 2012 lalu.

Sosok pilot yang disampaikan Diva seolah menjadi stereotip dalam dunia penerbang. Namun, imaji kru pesawat yang dekat dengan kehidupan malam dibantah oleh Ketua Ikatan Pilot Indonesia (IPI), Bambang Adisurya Angkasa.
 
“Tidak benar (dekat dengan kehidupan malam), justru kita ini hitungan jam kerja dan jam istirahatnya sangat ketat,” ucapnya saat dihubungi, Rabu 20 Desember 2017.
 
Bagi Bambang, citra buruk tadi merupakan perspektif salah tentang kehidupan seorang pilot.
 
Pilot, sambungnya, memiliki sikus hidup yang berbeda dengan profesi lain. Terlebih saat melakukan perjalanan malam; penumpang bisa tidur selama penerbangan, pilot dan kru lainnya harus bekerja penuh. Siklus ini wajar bagi pilot di negara mana pun.
 
Ia mencontohkan, dalam penerbangan yang tiba pukul 7 malam misalnya, usai pesawat mendarat penumpang bisa langsung pulang, sementara pilot dan air crew harus mengurus hal lain sebelum ke hotel dan beristirahat.
 
“Setelah itu kami kan harus makan dan segala macam. Sehingga kita mau masuk hotel umpamanya sudah jam 9 jam 10 kita cari restoran masih buka. Kan pasti restoran biasa sudah pada tutup kan, tentunya kita cari tempat makan lain,” ujar dia.
 
Kendati demikian, Bambang tak membantah adanya pilot tertentu yang menggunakan alkohol dan obat terlarang. Namun, mereka hanya oknum, bukan gambaran pilot secara umum. Hal ini dinilai wajar, sebab terjadi pada berbagai profesi.



Tekanan pekerjaan
 
Kasus terbaru, Badan Narkotika Nasional (BNN) dan kepolisian mengamankan pilot Lion Air pada 4 Desember 2017 lalu. Kapten pilot berinisial MS itu diduga tengah mengonsumsi narkoba berjenis sabu di sebuah hotel di Kupang, Nusa Tenggara Timur.
 
“Nah kalau sudah begini namanya oknum. Seperti pada profesi-profesi lain, kalau ada dokter yang terlibat hal-hal negatif pasti disebutnya oknum dokter, polisi begitu, jaksa begitu, sama saja kan,” ungkap Bambang.
 
Selama 22 tahun menjadi pilot, Bambang mengakui bahwa pekerjanaannya penuh tekanan. Namun, menggunakan narkotika sebagai alasan tetap bukan jalan keluar.
 
“Jadi tidak ada alasan kalau seorang pilot mengunakan alkohol, narkoba, itu untuk menjadi pelarian daripada dia menjalankan profesinya atau tekanan-tekanan pada profesinya,” tegas dia.
 
Hal serupa diungkapkan Direktur Utama AirAsia Indonesia Dendy Kurniawan. Menurutnya, penggunaan narkoba merupakan tanggung jawab pribadi – seperti yang tertuang dalam peraturan dan perjanjian kerja.
 
“Kita kan punya aturan tegas kalau petugas harus sehat jasmani rohani tidak boleh ini itu. Artinya kalau ketahuan adalah pelanggaran, karena bahaya kalau dia penerbang,” ujarnya kepada Medcom.id di Jakarta Pusat, Senin 11 Desember 2017.




***

MENANGGAPI ancaman keselamatan massal akibat pilot yang mengonsumsi narkotika, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi berencana menggandeng BNN untuk meneliti gaya hidup pilot di sejumlah maskapai penerbangan.
 
“Kami bersama BNN akan meneliti lifestyle pilot-pilot ini, kami akan melihat kegiatan di luar itu apa. Kami akan teliti lebih jauh, lihat hal-hal yang prinsipil dari apa yang mereka lakukan," katanya di Istana Kepresidenan, Bogor, Jawa Barat, Rabu 6 Desember 2017.
 
Bambang menilai rencana Budi terlalu jauh. Menurutnya Indonesia tidak perlu melakukan hal-hal di luar standar penerbangan yang ditetapkan organisasi penerbangan sipil internasional (International Civil Aviation Organization/ICAO).
 
Pilot Garuda Indonesia ini menyarankan pemerintah untuk mewajibkan maskapai melakukan drugs and alcohol random check terhadap kru mereka. Penerapannya, perusahaan melakukan tes secara acak dan mendadak bagi para kru, baik yang akan bertugas maupun sedang libur.
 
“Kalau ada temuan-temuan barulah dilakukan evaluasi. Ada yang namanya rehabilitasi, sementara mereka yang kena di siklus on duty akan kena sanksi,” ungkapnya.


 


(COK)