Nyaman Berobat di Negeri Jiran

Surya Perkasa, Coki Lubis    •    25 Juli 2016 22:52 WIB
Nyaman Berobat di Negeri Jiran
A traveller is silhouetted against a Malaysia Airlines plane at the Kuala Lumpur International Airport in Sepang, Malaysia. (AP Photo/Joshua Paul)

Metrotvnews.com, Jakarta: Perbedaan pelayanan kesehatan yang diberikan oleh rumah sakit di Indonesia menjadikan banyak pasien berbondong-bondong ke luar negeri misalnya ke rumah sakit di Singapura, Malaysia, dan Tiongkok. Perdagangan bebas dan globalisasi telah mendorong persaingan yang semakin ketat dalam dunia bisnis termasuk rumah sakit sebagai penghasil jasa kesehatan.



Perbaikan kualitas layanan akan menghasilkan peningkatan kepuasan pasien dan pada akhirnya meningkatkan keuntungan rumah sakit sebagai badan usaha. Tidak terlepas dari hal tersebut kualitas tenaga medis juga menjadi salah satu faktor penentu kualitas pelayanan. Banyak pasien di Indonesia yang pergi berobat ke luar negeri karena beranggapan kualitas tenaga medis di luar negeri lebih baik dibandingkan dengan yang ada di negaranya sendiri. Ini tentu memunculkan pertanyaan mengenai peran tenaga medis di Indonesia terhadap perkembangan wisata medis, ditambah tuntutan menghadapi persaingan dari era pasar bebas ASEAN yang kini sudah berlangsung.

Perilaku sebagian anggota masyarakat berobat ke luar negeri membuat devisa negara ikut melayang ke luar dikonfirmasi oleh Bank Dunia yang melaporkan bahwa pada tahun 2004 devisa Indonesia yang keluar ke luar negeri dari pasien-pasien yang berobat sekitar Rp70 triliun. Mengacu data itu, Kementerian Kesehatan pada 2011 pun memprediksi bahwa setiap tahunnya pasien Indonesia yang berobat ke luar negeri bisa menghabiskan biaya Rp100 triliun.

Mantan Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan, Kementerian Kesehatan, dr Supriyantoro, dalam sebuah kesempatan usai seminar Annual Scientific Meeting di Auditorium Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Kamis 3 Maret 2011, menyebutkan sebagian besar orang yang berobat ke luar negeri bukan mencari rumah sakit yang secara fisik bagus, atau karena mereka menganggap dokter-dokter Indonesia tidak kompeten.

Menurut dia, kebanyakan masyarakat Indonesia yang memilih berobat ke luar negeri masih mempercayai kualitas pengobatan di luar negeri jauh lebih baik dibandingkan di rumah sakit yang ada di dalam negeri. Meski mutu pengobatan sebenarnya tidak jauh berbeda, namun masih lemah dalam mutu pelayanan kesehatan dan keselamatan pasien.

Seorang warga Indonesia yang berobat ke Malaysia, Jajang Sumantri, mengatakan salah satu alasannya adalah karena layanan rumah sakit dan dokter di sana lebih memberikan kepuasan dan kenyamanan. Aspeknya mulai dari kemudahan interaksi dengan tim dokter ahli hingga biaya yang relatif lebih murah.

Jajang menuturkan, sudah tiga terakhir ia tidak merasa keberatan bila harus kerap bolak-balik ke Malaysia untuk keperluan pengobatan. "Saya di Malaysia ditangani satu tim dokter yang terdiri dari empat orang dokter. Mereka bisa dihubungi kapan pun bila saya ingin konsultasi, 24 jam. Bahkan, dalam paket perawatannya, diberikan juga dokter yang fokus pada psikologi saya dalam menghadapi penyakit, dibuat nyaman, tenang, dan optimis," ujar Jajang kepada metrotvnews.com di Jakarta, Jumat (22/7/2016).

Sebelumnya, selama setahun Jajang berobat di Indonesia hanya berkutat pada diagnosa penyakitnya. Karena, beberapa dokter memberikan pendapat yang berbeda. Mulai dari osteoporosis, pengapuran tulang, bahkan ada yang bilang penyakitnya adalah kanker sumsum tulang belakang. Namun, yang paling membuat Jajang tidak nyaman adalah bahwa sejak konsultasi pertama dengan dokter-dokter itu, ia sudah ditanyai mengenai kondisi keuangan dan disodori rincian biaya pengobatan ini itu. Padahal, ia masih bingung dengan apa sebenarnya penyakitnya, pendapat dokter sebagian besar tidak memberinya harapan.

Merasa tidak mendapat kejelasan dari dokter-dokter di dalam negeri, ia pun mengikuti saran seorang kerabat agar menemui dokter kenalannya di Malaysia untuk konsultasi. Dari sini, Jajang akhirnya mengetahui dan yakin bahwa penyakitnya adalah kanker tulang belakang. Namun, Jajang merasa puas dengan penjelasan dokter di Malaysia. Perbedaan yang paling mencolok adalah dokter di sana mengutamakan penanganan penyakitnya, bukan langsung mematok biaya pengobatan dan perawatannya. Bahkan, biaya itu bisa dinegosiasikan dengannya sebagai pasien.

"Bagi mereka penyakit ini tak bisa hanya ditangani secara medis, tapi juga psikologis. Pasien tidak dibiarkan khawatir, baik soal penyakitnya maupun yang lain, seperti kekuatan finansial," ucap Jajang.

Sudah begitu, ia membandingkan biaya berobat di Malaysia pun bisa lebih murah 30 hingga 40 persen dibanding dengan di Indonesia. Misalnya, kemoterapi di Indonesia bisa dikenakan biaya Rp32 juta hingga Rp40 juta, belum termasuk perawatan Rumah Sakit. Sementara untuk keperluan yang sama di Malaysia hanya habis Rp25 juta, sudah termasuk paket perawatannya juga konsultasi dokter.

Kesan Jajang, para dokter di negeri Jiran itu terlihat sekali lepas dari kepentingan bisnis. Seperti dalam pemberian obat, hanya yang benar-benar diperlukan yang diberikan. Bahkan, dokter tidak mudah untuk menyarankan pasiennya diopname atau rawat inap.

Ini tak lepas dari posisi dokter amat diutamakan sebagai tenaga medis di Malaysia. Pihak rumah sakit tunduk dengan dokter. Biasanya dokter membantu merekomendasikan ke pengelola rumah sakit soal pengobatan yang paling penting bagi pasien sesuai kemampuannya.  Kepada pasien pun dokter menjelaskan sangat detail dengan bahasa awam soal penyakit, termasuk obat-obat yang direkomendasikannya.

"Apa jenis obat yang akan diberikan, kenapa diberikan dan mengapa penting, semua detail dan sangat terbuka," ucapnya.

Testimoni senada diungkapkan keluarga Rizal, masyarakat Indonesia yang memilih untuk ke Malaysia demi tujuan berobat.

“Memang ada kesan terasa lebih manjur bila berobat ke sana,” ungkap Adelina kepada metrotvnews.com, Minggu (24/7/2016).

Ibu dari lima anak ini berkisah, keluarganya kadang lebih memilih untuk berobat ke Malaysia ketimbang berobat di dalam negeri. Masalah pundi-pundi menjadi salah satu alasan. Wanita yang akrab disapa Leli ini memang berdomisili di Padang. Berobat ke Kuala Lumpur memang lebih murah ketimbang Jakarta.

Sebagai perbandingan, biaya pesawat ke Jakarta paling murah dalam kondisi terdesak berada di angka Rp700 ribu. Sedangkan ke Kuala Lumpur hanya berkisar Rp400 ribu hingga Rp 500 ribu rupiah per orang. Mengingat jarak tempuh ke Kuala Lumpur dari Padang lebih dekat ketimbang Jakarta.

Keluarga yang menemani pasien pun tak perlu bingung soal akomodasi selama berobat. Di sekitar rumah sakit banyak penginapan yang informasinya mudah di dapat. Bahkan beberapa rumah sakit ikut menyediakan akomodasi bila pengobatan mengambil paket tertentu.

Semua informasi mulai pengobatan hingga keahlian dokter bisa didapat secara online atau lewat perwakilan rumah sakit di Indonesia. Kemudian soal biaya dan kualitas pelayanan yang jadi pesoalan utama. Secara biaya, biaya pengobatan di Malaysia tak jauh berbeda dengan pengobatan di Indonesia. Bahkan biaya pengobatan di Malaysia menurut Leli lebih murah. Bisa lebih murah 10-20 persen.

“Yang sangat terasa beda jauh. Apalagi pelayanan dan keramahan dunia kesehatan Malaysia,” kata dia.

Leli berkisah, tenaga kesehatan di rumah sakit Malaysia yang didatanginya sangat terbuka dan ramah. Pasien tidak perlu mendatangi laboratorium, berpindah tempat, atau mengambil resep sendiri karena ada perawat yang selalu membatu 24 jam. Dokter juga menangani dan menjelaskan seluruh permasalahan yang dihadapi pasien dengan sabar tanpa terburu-buru.

“Bahkan dokter yang cuma ketemu kita beberapa kali, bersedia dihubungi di kemudian hari hanya untuk konsultasi jarak jauh. Bebas biaya,” kata pensiunan pegawai negeri di UPTD Laboratorium Kesehatan Provinsi Sumatera Barat ini.

Bahkan dokter di Malaysia benar-benar menjaga hubungan dengan bekas pasiennya. Sebagai contoh, dokter mata yang dulu menangani almarhum suaminya sesekali masih menghubungi untuk sekedar menanyakan kabar.

Leli juga menyebut, pelayanan ini merata di empat rumah sakit dan klinik di Malaysia yang pernah didatanginya. Dia pun merasa heran, kenapa Indonesia tertinggal jauh dari Malaysia soal pelayanan kesehatan. “Padahal dokter mereka banyak yang belajar di Indonesia. Entahlah. Mungkin karena terpaksa cari uang atau karena sekolah mahal atau memang sistem pelayanan kesehatan di Indonesia buruk,” ucap dia lirih.

Saat ini pun dia mengaku sedang mengumpulkan uang untuk berobat ke Malaysia karena penyakit yang dideritanya tak kunjung sembuh. Walau sudah delapan kali bolak-balik ke dokter dan membeli obat. Tidak hanya berhenti di Leli, anak-anak dan cucunya pun terkadang lebih memilih pergi ke Malaysia bila merasa pengobatan di Padang tak mencukupi. Karena, kata Leli, rasa percaya dan kenyamanan merupakan hal yang tidak bisa dilepaskan dari pengobatan.

“Jangan harap penyakit akan sembuh cepat kalau sudah tidak percaya, tidak nyaman, psikologis tertekan karena pelayanan buruk,” pungkas dia.

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Hasbullah Thabrany, menyatakan mentalitas dokter harus diakui menjadi akar permasalahan pelayanan terhadap masyarakat. Ia menyadari kenyataan bahwa Indonesia memperlakukan kesehatan sebagai komoditas pasar. Mekanisme pasar dan persaingan yang amat sengit di dalamnya mendesak tenaga medis, termasuk dokter, untuk pandai-pandai "berdagang".

"Ada kesalahan besar bahwa kesehatan yang merupakan layanan dasar negara kepada rakyat malah diperjual-belikan. Ini mau melayani atau berdagang?" kata Hasbullah saat berbincang dengan metrotvnews.com di kediamannya di kawasan Condet, Jakarta Selatan, Kamis (21/7/2016).

Ia mengakui, banyak dokter yang tidak memperlakukan pasien sebagai subjek yang mesti dilayani, namun justru objek yang bisa dimanfaatkan dalam "bisnis". Pengertian bisnis di sini merujuk pada upaya meningkatkan kesejahteraan dokter.

Hasbullah yang juga Anggota Dewan Pakar Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) ini tak menutup mata dengan fakta permasalahan pelayanan kesehatan masyarakat sebagai masalah klasik yg tak kunjung terselesaikan di Indonesia. Salah satu faktor yang sangat dirasakan masyarakat adalah tingginya biaya obat.

Menurut Hasbullah, dalam biaya kesehatan masyarakat, biaya obat (39 persen) merupakan komponen terbesar dalam pembiayaan kesehatan di Indonesia. Salah saru faktor yang berkontribusi terhadap harga obat di Indonesia adalah  biaya promosi. Terkait hal ini, sudah menjadi rahasia umum bahwa ada hubungan mesra dokter dengan perusahaan farmasi.

Hubungan dokter dan perusahaan farmasi adalah simbiosis mutualisme, saling menguntungkan kedua belah pihak. Perusahaan farmasi butuh dokter meresepkan obat, di sisi lain dokter juga membutuhkan  berbagai dukungan dari perusahaan obat baik dalam hal informasi obat-obatan baru maupun support dalam bentuk yang lain. Sayangnya, hubungan mutualisme ini ujung-ujungnya membebankan biaya promosi obat kepada komponen harga obat yang nantinya akan dibayar oleh pasien.

Permainan dokter dengan farmasi, seharusnya bukan sekadar diatur etika. Menurut Hasbullah, ini seharusnya diatur hukum. "Haram menerima komisi dari obat. Bila anda jual mobil, rumah, atau barang apapun kepada konsumen, yang menentukan beli atau tidaknya adalah konsumen. Kalau obat, yang menentukan beli atau tidak beli adalah dokter," kata Hasbullah.

Kongkalikong dokter dengan perusahaan farmasi dalam memasarkan obat ini jelas tidak dapat dibenarkan. Karena ditinjau dari kode etik kedokteran jelas-jelas melanggar. Dari segi kode etik perusahaan farmasi walaupun masih menunjukkan keragu-raguan namun secara tersirat dapat disimpulkan kerjasama antara dokter dan perusahaan farmasi adalah tidak diperkenankan kecuali pemberian sponsor dalam bentuk acara-acara ilmiah dalam rangka peningkatan keilmuan para dokter. Namun dalam kode etiknya terdapat larangan untuk mewajibkan secara tegas kepada para dokter yang disponsori untuk menuliskan resep obat produk perusahaan mereka.

Selain itu, hubungan gelap kedua pihak ini merugikan pasien karena biaya promosi yang melambung dibebankan kepada harga obat yang ditagihkan kepada pasien. "Sementara pasien tidak mengerti soal obat, tetapi yang bayar pasien. Itu harusnya bukan pelanggaran etik, melainkan dibuat aturan kalau itu mencuri uang pasien, sanksinya hukum," kata Hasbullah.

Konsekuensi kegiatan "dagang" ketimbang "melayani" di dunia medis ini dampaknya fatal. Secara umum, ini yang menjadi alasan tidak sedikit warga Indonesia, terutama masyarakat menengah ke atas, memilih untuk melakukan perjalanan ke negara tetangga. Karena tidak percaya kepada layanan medis di dalam negeri.
 


(ADM)