Kalijodo di Balik Sisi Gelap

Sobih AW Adnan    •    22 Februari 2016 21:57 WIB
Kalijodo di Balik Sisi Gelap
Warga melintasi komplek hiburan malam di kawasan Kalijodo, Jakarta Utara.

Metrotvnews.com, Jakarta: Akibat nila setitik, rusak susu sebelanga. Pameo ini mendadak masyhur di tengah warga Kalijodo di Kelurahan Pejagalan, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara beberapa pekan terakhir. Pasalnya, kebijakan Pemda DKI Jakarta untuk melakukan penertiban kawasan ini terkait ketentuan ruang terbuka hijau (RTH) dipicu pemberitaan mengenai pengemudi mobil Toyota Fortuner yang mengaku kelelahan usai semalaman bersenang-senang di Kalijodo, kemudian mengalami kecelakaan di Daan Mogot dan menewaskan empat orang dalam perjalanannya pulang. Kecelakaan itu terjadi pada waktu subuh sekitar pukul 05.00 WIB, Senin 8 Februari 2016. Kebetulan Senin itu bertepatan dengan libur untuk perayaan Tahun Baru Imlek.



Pemberitaan kecelakaan di hari libur Imlek ini sontak menyedot perhatian lantaran si pengemudi sebelumnya menghabiskan waktu di Kalijodo, salah satu kawasan yang punya reputasi sebagai pelacuran kelas menengah ke bawah di Jakarta. Citra buruk Kalijodo selama puluhan tahun ini amat merugikan warga masyarakat di sana yang selama ini tak terlibat dengan pekerjaan haram tersebut. "Tidak semua dari kami di sini masuk dunia hitam. Lihat saja sendiri, masih banyak hal baik di Kalijodo," ujar Sumiyati seorang warga Kalijodo, kepada metrotvnews.com, Rabu (17/2/2016).

Sumiyati merupakan wanita paruh baya, kesehariannya disibukkan dengan kegiatan sebagai ibu rumah tangga, menyatakan bahwa para pekerja seks komersial yang bergiat di Kalijodo sebenarnya adalah para pendatang yang telah mencoreng nama kawasan ini.

Menyusuri gang demi gang di Kalijodo cukup memberikan gambaran tentang perasaan cemas yang sedang menghinggapi benak warga setempat. Hampir di setiap tikungan, beberapa warga berkumpul, berbincang, dan mengeluh tentang rencana penggusuran yang sudah bisa dipastikan menimpa tempat di mana mereka tinggal.

Jelang Maghrib, matahari sudah tidak tampak. Keadaan temaram disempurnakan langit yang sedang menyandang mendung cukup tebal. Sekira 200 meter belok ke arah kiri dari tempat yang konon hendak dimanfaatkan tetua Kalijodo, Daeng Azis dan kuasa hukumnya untuk konferensi pers mengenai penolakan penggusuran, puluhan anak-anak berusia enam sampai sembilan tahun tetap ceria bermain air sambil berwudlu, mereka bersiap mengaji, menimba ilmu agama.

Di wilayah yang selama dua pekan terakhir disorot publik ini terdapat ruangan seluas kurang lebih 48 meter persegi. Papan berlatar belakang warna hijau tertempel di kanan atas pintu masuk bertuliskan Majlis Ta'lim Al-Muttaqin dan Bina Keluarga Balita Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Seruni Indah. Di sinilah ada sekira 30 anak belajar membaca Al-Quran di setiap sore, sesudah Maghrib hingga jelang azan salat Isya dikumandangkan.

“Kami menitipkan anak-anak ya di majelis ini. Tentu tujuannya agar masa depan mereka terjaga,” kata Sumiyati.

Tak hanya anak-anak, secara rutin lembaga pengajian ini juga menggelar pengajian bagi orang-orang dewasa. Bahkan, para pekerja prostitusi juga kerap turut terlibat dalam kegiatan tersebut.

 “Ya, mereka (PSK) kadang ada beberapa yang ikut. Setelah itu tak jarang memutuskan untuk berhenti menggeluti dunia ‘gelap’ tersebut,” kata dia.

Keberadaan majelis pengajian yang dikelilingi oleh kafe dan wisma ini diibaratkan warga sebagai secercah cahaya yang sebenarnya mampu menumbuhkan harapan baik tentang masa depan Kalijodo. Untuk itu, kata rekan Sumiati, Husni, 40, Kalijodo tidak hanya melulu bisa dikaitkan dengan dunia prostitusi.

“Tidak adil rasanya jika Kalijodo hanya dikaitkan dengan tempat maksiat. Kami di sini sedang berjuang di jalan Allah, menjaga anak-anak agar tidak terjerumus ke dunia pelacuran,” kata Husni.

Terkait interaksi warga dengan para pengelola kafe, wisma dan para PSK sendiri, Husni mengatakan selama ini tidak ada masalah. Yang penting, kata Husni, satu sama lain di antara mereka tidak saling mengganggu dan merugikan.

“Kita hidup masing-masing saja, selama tidak mengganggu,” ujar Husni.

Keberadaan bangunan majelis yang didirikan akhir tahun 1990an ini ternyata tak lepas dari uluran tangan sosok yang kerap disebut seiring nama Kalijodo mencuat. Daeng Azis, selain menjamin keamanan warga dan kegiatan majelis, ia juga kerap menyumbang uang untuk pembangunan tempat menimba ilmu agama tersebut.

“Ya. Daeng juga mendukung kegiatan ini. Dia juga yang kerap hadir dan menyumbang untuk pembangunan,” kata perempuan guru pengajian tersebut yang enggan disebut namanya.

 Kehidupan yang tampak kontras antara warga dan aktivitas kafe, wisma, dan para PSK di Kalijodo bukan satu-satunya potret  keberagaman di lokalisasi yang sudah ada sejak masa lampau tersebut. Tak jauh dari majelis taklim selepas memasuki sebuah gang yang diapit dua kafe paling depan, terdapat Gereja Bethel Indonesia (GBI) Kepanduan II. Dalam gereja yang didirikan sejak 1968 ini, puluhan umat Kristen menjalankan peribadatannya secara rutin dalam setiap pekan.

“Di sini kami beribadah. Soal penggusuran yang akan dilakukan, belum ada informasi akan pindah kemana,” kata salah seorang Jemaat asal Tangerang, Agus Budi.

Menurut Agus, GBI Kepanduan II sudah berbaur dengan lingkungan yang beragam di Kalijodo sejak 48 tahun silam. Dirinya yang bukan warga setempat mengaku tidak pernah sekalipun mendapat gangguan dari warga sekitar setiap menjalankan ibadah.

 “Kami di sini rukun-rukun saja, tidak ada masalah. Malahan pas jelang penggusuran nanti, sudah ada beberapa warga yang siap membantu pembongkaran bangunan,” kata Agus.

Selain dari Tangerang, peribadatan juga banyak diikuti oleh umat Kristen yang berada di lingkungan Kalijodo. Indra, salah satu warga setempat mengatakan perbandingan jumlah jemaat dari dalam dan luar Kalijodo cukup berimbang.

“Sekitar 50 banding 50. Kami berharap pemerintah Pemprov DKI memikirkan solusi agar kegiatan beribadah kami tidak terputus,” kata dia.

Selain majelis taklim dan GBI yang masih melaksanakan kegiatan rutinnya. Kerlap-kerlip lampu dan dentuman dangdut koplo khas kafe Kalijodo yang berderet cukup panjang juga dilengkapi dengan Masjid Al-Mubarokah yang terletak di mulut jalan Kepanduan II. Konon, pengurus masjid sudah pasrah untuk direlokasi, namun pertanyaan berikutnya adalah kemanakah cahaya-cahaya yang menerangi “kegelapan” ini akan berpindah?


(ADM)