Gaung Sunyi Prestasi Pesilat

Surya Perkasa    •    07 Maret 2016 23:42 WIB
Gaung Sunyi Prestasi Pesilat
Pesilat Indonesia Mohamad Adhan (merah) bertarung dengan pesilat Myanmar Ye Kyaw Thu pada Final Pencak Silat SEA Games XXVII di Stadion Indoor Zayar Thiri, Naypyidaw, Myanmar. (foto: MI/Rommy Pujianto)

Metrotvnews.com, Jakarta: Pencak silat mulai dilirik dan diminati di berbagai negara. Setelah diperkenalkan sebagai bagian program pertunjukan di Asian Games di Busan, Korea Selatan pada 2002 lalu, tampaknya pencak silat menjadi barang baru yang mulai diburu.
 
Tradisi bela diri yang sudah berkembang di Nusantara sejak abad ketujuh masehi ini mulai diajarkan di negeri-negeri Barat. Sebut saja antara lain Amerika Serikat, Australia, Jerman dan Inggris, merupakan negara-negara yang kerap datang ke Indonesia hanya untuk mendalami Cingkrik, Cimande, Cikalong dan ragam aliran lainnya. Mereka tampak begitu gigih, serius, ulet dan tekun sehingga tampak fasih dalam menampilkan jurus dan gerakan.
 
Namun, bagaimana dengan perkembangan pencak silat di kandang sendiri, Indonesia? Meski prestasi atlet pencak silat di ajang kompetisi Asia Tenggara tergolong gemilang, namun ternyata gaung pemberitaannya terbilang sepi.
 
Metrotvnews.com berkesempatan berbincang dengan Sekretaris Jenderal Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Erizal Chaniago. Berikut petikannya saat wawancara di Jakarta pada Kamis, 3 Maret 2016.
 
 
Bisakah Anda jelaskan apa itu IPSI?
Organisisasi ini didirikan sebagai satu wadah tunggal untuk menaungi seluruh perguruan silat di Indonesia. Didirikan 18 Mei 1948, kemudian di beri nama IPSI, atau Ikatan Pencak Silat Indonesia.
 
Kemudian untuk membina perguruan, dibagi-bagi tugasnya. Selain mengurus 34 IPSI Provinsi, IPSI juga membina Pengurus Besar mengurus seluruh perguruan historis. Yaitu, sepuluh perguruan yang membangun IPSI sejak masa awal berdiri.
 
Apa saja sepuluh perguruan historis IPSI itu?
Persaudaraan Setia Hati, Persaudaraan Setia Hati Terate, Kelatnas Indonesia Perisai Diri, PSN Perisai Putih, Tapak Suci Putera Muhammadiyah, Phasadja Matara, Perpi Harimurti, Persatuan Pencak Silat Indonesia, PPS Putra Betawi, KPS Nusantara.
 
Bagaimana dengan perguruan silat lain yang di luar sepuluh itu?
Kami juga membina perguruan besar yang menjadi anggota biasa. Syarat perguruan yang dibina oleh pengurus besar yaitu perguruan yang ada di setengah plus satu provinsi Indonesia. Jumlahnya ada 6 enam.
 
Jadi totalnya itu 34 provinsi dan 16 perguruan. Untuk perguruan selain itu, pepanjangannya adalah Pengurus IPSI Provinsi. yang mengurusi perguruan yang sudah ada di setengah kabupaten kota. Dan perpanjangan tangan Pemprov, yaitu pengurus IPSI kabupaten kota. Jadi yang paling banyak berurusan dengan perguruan yaitu pengurus kabupaten kota.
 
Benarkah jumlah perguruan silat di Indonesia mencapai ribuan?
Kalau kita bicara data jumlah perguruan yang ada di Indonesia, belum ada data ilmiah yang bisa dipegang. Baru di taraf asumsi, yang jumlahnya sekitar 800 sampai 1.000 perguruan. Bisa lebih.
 
Kita tidak bisa mendata secara detail, karena data yang ada di Kabupaten Kota itu baru data perguruan yang populer dan baru bertanding di pertandingan dan festival. Sementara, silat itu kan tidak cuma sekedar bertanding dan ikut festival. Silat Cimande contohnya, yang lebih fokus ke pengobatan. Ada pula silat kampung di Minang yang jumlah muridnya hanya lima sampai sepuluh orang dan tidak memiliki nama perguruan.
 
Pelaku pencak silat itu jumlahnya jutaan. Satu perguruan besar itu jumlah pelakunya bisa sampai jutaan orang. Satria Muda Indonesia yang cikal bakalnya dari Beringin Sakti yang memakai silat minangkabau, itu berkembang di 34 provinsi dan bahkan luar negeri pesilatnya sudah sampai jutaan orang. Kemudian Satu Hati Terate yang selalu dibawa oleh orang ke daerah-daerah mereka bertransmigrasi.
 
Bagaimana dengan data jumlah pesilat?
Kalau bicara pelaku, bukan pecinta, kita bisa klaim pesilat bisa jadi yang terbanyak. Kalau 800 perguruan saja. Kita ambil saja yang perguruan besar dan historis itu minimum satu juta, sudah 16 juta. Tapi tidak mungkin. SHT saja sudah hampir 10 juta. SMI saja sudah 5 juta. Belum Tapak Suci di bawah Muhammadiyah, belum pagar nusa di bawah Nahdlatul ulama. Belum lagi perguruan lagi.
 
Tapi data itu belum akurat. Sudah kita coba data dan rancang.
 
Karena di daerah itu sulit untuk di data. Di kawasan Danau di Atas, Sumbar saja contohnya. Ada sepuluh perguruan. Ketika kita coba data, gurunya tidak ingat. Cuma bisa jawab, “murid saya merantau sudah kesana kemari”. Di Gunung Kidul, jawabnya “Sejak era tahun 20an sudah banyak muridnya. Sekarang sih cuma sekitar 50 orang”.
 
Cuma perguruan yang telah modern ada datanya. Tak bisa perguruan tradisional itu menghitung. Yang bisa dihitung cuma perguruan yang besar dan perguruan di kota besar.
 
Saya yakin ada sekitar 25 juta pelaku. Prakiraan.
 
Ada anggapan silat kalah populer dibanding bela diri impor. Bagaimana pandangan Anda tentang hal ini?
Ada empat aspek filosofi silat yang dimiliki setiap perguruan. Pertama, aspek mental spiritual, ini pengembangannnya luas. Aspek ini bicara tentang tata tertib, etika, doa, dan berbagai aspek lain yang dimiliki oleh masing-masing perguruan. Contohnya di Silek Minang ada pengangkatan murid atau putuih kaji. Jarang diuraikan.
 
Kedua, aspek beladiri, yang pasti dipelajari oleh setiap pesilat. Tapi aspek ini tidak bisa diekspos. Bagaimana mau ekspos beladiri? Ini aspek yang dipelajari seorang pesilat untuk beladirinya. Dan ini tidak bisa dimasuki karena miliknya perguruan.
 
Ketiga, aspek seni, ini terkait dengan adat istiadat tempat perguruan berada. Misalnya di minang ada randai, tari gelombang, dan bunga silat lainnya. Ini yang disebut festival oleh beberapa kelompok. Dan ini juga miliknya perguruan. Paling-paling yang bisa masuk ke dalam sini Dinas Kebudayaan, Dinas Pariwisata.
 
Keempat, aspek olahraga, inilah aspek yang baru bisa dimasuki KONI. Dan aspek ini yang selalu paling populer karena ada prestasi dan dikejar pemberitaan. Mental Spiritual siapa yang mengejar, beladiri siapa yang tahu, aspek Seni juga terbatas.
 
Aspek olahraga yang baru dikelola oleh pemerintah lewat Kemenpora, sementara itu PB IPSI mengelola keempatnya. Memberikan fasilitas, tapi tidak bisa masuk. Kalau seni diberi panggung, dan olahraga baru kita latih.
 
Sementara itu kan silat berkembang keempat aspek ini di seluruh dunia. Ada yang fokus ke salah satu aspek saja, dan itu jurusannya masing-masing. Itulah kelebihan silat.
 
Pesilat itu tidak perlu masalah populer atau tidak, karena sebelum kemerdekaan. Kan populer itu ukurannya banyak keluar di TV. Tapi silat tetap berkembang karena terus dikembangkan oleh pesilat itu sendiri. Dengan atau tanpa campur tangan media dan pemerintah.
 
Masalah populer itu kan bicara prestasi. Beladiri asing punya prestasi, silat juga prestasi. Siapa bilang Silat tidak ada prestasi? Cuma tidak ada yang ekspos.
 
Tiap event kita dapat medali. Coba misalnya olahraga lain dapat emas ekposnya. Kita dapat emas sampai empat, bahkan di SEA Games sampai sembilan emas, tidak ada yang bangga. Ada tidak kebanggaan bila pencak silat mendapat emas?
 
Apakah ketiadaan publikasi yang besar-besaran soal prestasi silat di kompetisi Asia Tenggara itu membuat para pesilat iri pada atlet cabang olahraga lain?
Kami para pesilat tidak ada masalah ekpos prestasi, karena pesilat itu sudah bangga bisa memperkenalkan kebudayaan Indonesia ke seluruh dunia.
 
Silat saat ini sudah ada di 57 negara. Indonesia harusnya bisa bertepuk tangan dengan ekspor silat, sisanya kan kita impor. Tiap bulan IPSI kirim pelatih ke luar negeri.
 
Kita tidak perlu dipuji. Karena sejarah perjuangan itu banyak diisi oleh tokoh-tokoh silat. Kalau kembali bicara soal beladiri asing, apakah silat punah dengan masuknya beladiri asing. Tidak kan?
 
Apakah ada beladiri asing di Gunung Merapi, Gunung Singgalang atau Sungai Pua? Tidak kan. Yang ada yang di sana dan pelosok daerah Indonesia itu Silat. Beladiri asing adanya kan di kota-kota. Mereka diekspos media. Tapi apakah silat bersaing disitu?
 
Apa yang dilakukan beladiri asing itu juga dilakukan silat di negara lain. Karena ini kan sama-sama beladiri. Saat ini silat sedang getol berkembang di India, minggu besok kita kiri pelatih. Kemudian April kita kirim Iran kita kirim guru silat. Apalah itu diketahui media apa yang kita lakukan untuk silat?
 
Kejuaraan silat dunia di Vietnam kemarin, betapa bangganya kita silat mendapat perhatian dari banyak negara. Jadi kembali soal populer atau tidak. itu masalah bagaimana media mengekspos saja, jadi seakan-akan populer.
 
Mungkin di situ kelemahan silat yang tidak fokus memberitakan keberhasilan ini, tidak pandai mempromosikan lewat media. Harus kita akui, kita tidak pintar bagaimana melakukan itu.
 
Soal peran pemerintah dalam pengembangan dan pelestarian silat selama ini, apa komentar Anda?
Belum dirasakan. Tapi belakangan ini, kita mencoba melakukan terobosan untuk mempromosikan silat bukan di Indonesia. Mudah-mudahan negara ikut membantu mensyiarkan silat dengan target pencak silat masuk ke dalam Olimpiade.
 
Kalau pemerintah ikut campur tangan, tidak perlu sampai dua tahun kerja keras. Apalagi perkembangan silat pesat.
 
Kita berharap kerjasama lembaga seperti KONI, Kemenpora, Kemenlu. Kita sudah ada MoU prmosi pencak silat lewat KBRI yang ada di seluruh dunia. Fokus ke negara yang belum ada organisasi silat.
 
Kompetisi silat banyak dilakukan di seluruh penjuru dunia. Yang tingkat internasional 2 minggu lalu baru selesai di Malaysia. Kemudian 26 Maret ada Belanda Open, kemudian ada England Open, kemudian ada Vietnam. Kejuaraan dunia ada hampir tiap bulan. Tingkat regional dan dunia.
 
Kenapa tidak diekspos kalau sudah sedemikian rupa?
Kita sebagai pesilat tidak malu mengatakan, kita tidak pandai tentang hal itu. Tapi kita berpikir bagaimana Indonesia memperkenalkan budayanya lewat pencak silat ke negara-negara lain. Hal ini menjadi cita-cita Ketua Umum IPSI Prabowo Subianto.
 
Silat itu adalah beladiri, dan ahli beladiri itu tidak perlu dipuji. Kita perkenalkan silat dengan mengirim pelatih. Pengiriman pelatih ke Iran besok kita dibantu Kemenpora. Sebelumnya juga pernah ke Johannesburg Afrika Selatan, tapi itu semasa Menpora Adhyaksa Dault.
 
Kita berharap ke depannya akan kembangkan silat di Amerika Selatan dengan KONI pusat.
 
Jadi, silat baru diperhatikan?
Memang baru.
 
Selama ini berarti IPSI bergerak sendiri?
Sendiri. Tapi itu bersamaan dengan keinginan individu dan perguruan.
 
Jadi ada peran sifat merantau yang dibawa oleh orang Indonesia yang mempelajari silat. Orang-orang merantau yang mengembangkan silat di negara tujuannya.
 
Jadi ada 3 hal yang mengembangkan silat selama ini di negara lain.
Pertama, individu yang merantau. Di banyak negara yang tempat orang Indonesia merantau, ada  tempat orang mengajarkan silat di sela kesibukannya. Kemudian berkembang dari mulut ke mulut. Bila ingin mendalami, mereka mendatangi Indonesia dan belajar di perguruan yang menjadi ujung tombak. Baru kemudian organisasi membantu.
 
Tenaga pelatih silat kita banyak. Jadi tak perlu takut kendala bahasa, karena sudah banyak terbukti. Bahasa tarzan pun bisa jadi cara berkomunikasi untuk mengajarkan silat, kasarnya begitu.
 
Pelatih yang kita kirim itu ada yang tidak bisa bahasa Inggris, tapi bisa bertahan hidup kan karena kelebihan yang mereka punya.
 
Mudah-mudahan, pemerintah semakin peduli. Menpora dan Menlu perintahkan kembangkan silat di KBRI, jadi tu barang.
 
Pemerintah juga harus terus berusaha agar silat tetap dipertandingkan di SEA Games, dipertandingkan di Asian Games, agar bisa pula nantinya masuk olimpiade. Jangan hanya IPSI saja karena yang pergi mendorong itu kan negara. Begitu juga agar bisa dipertandingkan
 
Ada Kemenpora, KONI, ada Komite Olimpiade Indonesia. Jangan karena ini budaya bangsa, jadi tidak dianggap prestasi bila kita ahli. Justru karena produk bangsa kita harus cintai. Jika tidak, siapa lagi?
 
Bulan Desember nanti kita adakan pertandingan dunia di Bali. Kita lihat gairah internasional akan silat.
 
Apa yang buat silat sulit dipelajari generasi muda? Karena rumitnya tradisi atau banyak perguruan menutup diri kepada khalayak ramai?
Kalau kita lihat justru tidak sulit. Buktinya kan selama ini banyak sekolah mengajarkan silat. Di kompetisi-kompetisi pelajar pun banyak yang mengikuti.
 
Kita akui kelemahan cuma satu. Pemberitaannya saja. Sesuatu yang kecil, diberitakan berulang-ulang akan jadi populer. Apalagi dengan keberadaan media sosial sekarang ini. Suatu klub yang kecil bila diberitakan berulang pun bisa seakan-akan besar, bahkan seperti menguasai dunia.
 
Nah sebagai kritik ke dalam sebagai PB IPSI, tidak canggihnya kita memanfaatkan teknologi jadi persoalan.
 
Jadi IPSI berkomitmen akan tetap terus kembangkan empat aspek silat itu?
Yang banyak akan dikembangkan itu pertama prestasi, atau silat sebagai olahraga. Kemudian silat sebagai seni.
 
Kalau beladiri itu hanya untuk perguruan atau pribadi. Termasuk di dalamnya yang melatih tenaga dalam dan aspek spiritual. Dan ini bisa juga untuk melatih beladiri pasukan khusus.
 
Kita ada melatih silat untuk militer asing?
Ada kita melatih. Bahkan banyak permintaan.
 
Salah satunya saja, contohnya Kongo. Nanti kalau mau tahu, bisa wawancara atlet-atlet dari negara yang aneh, siapa pelakunya. Baru kelihatan. Ahaha.
 
Tapi sekarang ini cukup bahagia, apalagi jika nanti dibantu negara. Kalau tidak akan lama, karena hanya bergantung ke peran pribadi dan perguruan.
 
Selama ini bagaimana silat berkembang?
Dimulai dengan orang merantau tadi memperkenalkan silat. Lalu mereka ingin belajar silat lebih dalam, datanglah ke kota-kota yang ada guru silatnya.
 
Contohnya di Bukittinggi. Kan tidak hanya di Bukittinggi yang ada silatnya. Namun karena Bukittinggi adalah kota pariwisata dan ada guru silatnya, datanglah mereka melihat untuk belajar sedikit. Kemudian saat mereka kembali ke tempat asalnya, diceritakanlah ke temannya. Kemudian semakin banyak yang datang.
 
Sekarang silat juga semakin terorganisir dengan keberadaan IPSI sebagai organisasi. Kemudian sudah ada media di media sosial dan teknologi lain. Mereka tinggal cari dan bisa datangi perguruannya langsung.
 
Tapi selama ini memang dari mulut ke mulut.
 
Belajar dari beladiri asing, mereka selalu menempel ke budaya pop yang mereka ekspor. Bagaimana Silat?
 
Disitulah peran negara. Kalau tidak ada peran negara, dananya dari mana biayanya dari mana untuk memasukkan beladiri mereka ke negara lain.
 
Dengan film itu salah satu cara.
 
Perkembangan silat itu pesat dengan banyaknya perguruan silat di luar negeri. Tapi itu pribadi. Jadi selama ini kan perkembangan silat itu karena kecintaan individu terhadap silat. Tapi kalau dibantu oleh negara, kita bisa dengan cepat mendorong perkembangan silat.
 
Ada tidak keinginan IPSI, agar silat dipopulerkan lewat industri kreatif selayaknya kungfu yang dipopulerkan industri film Hong Kong?
Dulu tahun 60-80an banyak film silat. Tapi itu kan individu. Jadi ada pelaku silat, kebetulan di sutradara, dibawa cerita silat. Merantau, The Raid, Si Midun, kita lihat dulu siapa pelaku belakang layarnya.
 
Kan memang orang silat atau kedekatan dengan dunia silat. Kalau tidak, kan tidak mungkin. Tahun 60-80an pun karena Ratno Timoer pelaku silat.
 
(Ratno dikenal dengan film Si Buta dari Gua Hantu, Gundala Putra Petir, Golok Setan dan banyak lagi film yang memasukkan unsur silat)
 
Merantau dan The Raid juga karena Gareth Evans dekat dengan silat.
 
Kalau keinginan seperti itu, dari lembaga IPSI sendiri kan tidak punya kemampuan untuk memulai. Tapi kalau semisalnya ada yang memulai, kita buka pintu untuk membantu.
 
Selama ini juga banyak yang mencoba membuat film dokumenter, dari berbagai penjuru dunia. Seperti Jepang, Australia dan Belanda. Kita bantu lewat arahan dan rekomendasi. Contohnya, saya baru beri sampai 3 bulan tinggal di Sungai Patai, Batusangkar. Kita tunjukkan Silek Minang itu begini begitu, saya kasih contoh sampai tinggal di mushalla. Dari Australian lebih banyak ke Cimande dan tempat lain.
 
Mereka riset dan buat film untuk tesis S2 perfilman. Tapi itu kan karena mereka pelaku silat di negaranya, dan kuliah di sinematografi. Jadi karena cintanya itu.
 
Kita kan ingin ada yang paham ada unsur bisnis mengangkat silat. Semata-mata mengangkat silat dari aspek kreativitas dan bisnis, itu pasti bisa lebih dashyat. Kita orang silat kan tidak semuanya mengerti itu, karena itu kemampuan komunikasi modern. Guru-guru silat kan banyak yang tidak tahu cara ini untuk mengembangkan silat secara massal. Soal kehumasan.
 
Beberapa negara, itu pemerintah berperan aktif. Taekwondo misalnya, mereka memperkenalkan secara masif dengan promosi ke daerah-daerah. Beberapa beladiri itu melekat industri negaranya. Nah, industri apa yang bisa melekatkan diri dengan silat?
 
Jadi karena silat itu diajarkan ikhlas dan memaklumi, yang kita tidak cemburu dengan negara lain dan coba kembangkan sendiri. Perguruan silat pun ajarannya tidak jauh berbeda, ajarkan ilmu yang telah melekat kepada yang berhak jika sudah mampu.
 
Jadi tidak benar bila dibilang perguruan menutup diri?
Tidak ada. Sebelum kemerdekaan Malaysia, silat-silat dari Minang kan berkembang di negara tersebut. Bagaimana mereka belajar dari kita sebagai orang Minang. Begitu juga Spanyol dan Belanda. Lalu Suriname yang belajar tentang silat dari Jawa Timur.
 
Di zaman kemerdekaan, Belanda kan mengembangkan silat di negaranya. Rata-rata yang tokoh perguruan di Belanda pun masih ada keturunan Indonesia, tapi sudah warga negara sana. Wajahnya sudah tidak ada orang Indonesia.
 
Di Rusia pun seperti itu, karena yang mengembangkan itu kan pelajar Indonesia.
 
Harapan IPSI kepada dunia persilatan?
Kita bahagia. Silat itu di dunia, kalau istilah Minangnya bak samuik tapangkua (bak sarang semut tercangkul), berserakan dan menyebar di dunia.
 
Kompetisi untuk pelajar sudah menjamur. Peserta pencak silat di Pekan Olahraga dan Seni Siswa dari Kemendikdas sudah semakin banyak. Kemepora juga sudah ada pusat pelatihan silat pelajar.
 
Mudah-mudahan ke depan negara kita semakin baik.
 
Kita kedepannya juga berharap pencak silat ditetapkan menjadi budaya bangsa. Caranya menjadi budaya bangsa, pertama-tama harus diakui lewat undang-undang.
 
Kalau masuk undang-undang, pemerintah wajib menjalankan undang-undang. Itu kerucut akhirnya. Karena selama ini pemerintah sulit untuk serius karena aturannya tidak ada, mengeluarkan anggaran khusus pun sulit. Selama ini kan hanya insidentil. Jika ada kompetisi atau program tahunan, atau lewat anggaran prestasi. Kalau ada undang-undang tentu akan berbeda.
 


(ADM)