Arogansi Raksasa Asuransi

Coki Lubis    •    13 Oktober 2017 19:23 WIB
Arogansi Raksasa Asuransi
ILUSTRASI: investasi. (MTVN/Mohammad Rizal)

Metrotvnews.com, Jakarta: Rasa waswas muncul dalam benak Alvin Lim. Pengacara muda itu sadar bahwa dirinya sedang berhadapan dengan raksasa perusahaan asuransi asal Jerman, Allianz.
 
"Saya membongkarnya. Ke depan mungkin saya dikriminalisasi, dipenjara, atau hal lain yang bisa menghentikan saya," tuturnya saat berbincang dengan Metrotvnews.com, Senin, 2 Oktober 2017.
 
Alvin bertindak sebagai kuasa hukum dari 11 nasabah Allianz. Kasusnya, penolakan pencairan klaim asuransi oleh pihak Allianz Indonesia.
 
Dari seluruh sengketa klaim yang ditangani, dua kasus dibawanya ke ranah pidana. Yaitu kasus penolakan klaim yang dialami Ifranius Algadri (23) dan Indah Goena Nanda (37). Dalam kasus tersebut, menurut Alvin, Allianz diduga melanggar Undang-undang Perlindungan Konsumen.
 
Setelah dilakukan penyelidikan, kepolisan akhirnya menetapkan Direktur Utama PT Asuransi Allianz Life Indonesia Joachim Wessling dan Manajer Klaim perusahaan tersebut, Yuliana Firmansyah ditetapkan sebagai tersangka perkara klaim yang tak dibayarkan ke nasabah.
 
Baca: Geger Klaim Asuransi
 
Lantas, apa yang membuat Alvin gugup? Ternyata bukan hanya besarnya Allianz sebagai salah satu pelaku bisnis asuransi di kancah internasional. Namun juga terkait posisi perusahaan asuransi, sebagai salahsatu "anak emas" perekonomian Indonesia.
 
Peran besar
 
Kontribusi perasuransian terhadap pertumbuhan ekonomi nasional tergolong signifikan. Laporan penelitan Badan Kebijakan Fiskal (BKF) yang diterbitkan Kementerian Keuangan pada tahun 2016 bertajuk Akselerasi dan Inklusivitas Sektor Keuangan menunjukkan pertumbuhan jumlah polis asuransi memberikan pengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi.
 
Sebaliknya, pertumbuhan ekonomi merangsang perkembangan kegiatan asuransi di Indonesia. Khusus asuransi jiwa, sumbangan terbesarnya terhadap pertumbuhan ekonomi terjadi pada tahun 2008, sekitar 5,35 persen.
 
Secara teknis, asuransi diandalkan sebagai sarana pengumpulan dana dari masyarakat. Melalui dana yang dihimpun dari pembayaran premi, perusahaan asuransi bisa melakukan investasi kembali untuk usahanya sendiri. Juga investasi dalam bentuk lain di luar jasa asuransi.
 
Belakangan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sendiri mendorong industri asuransi jiwa untuk melakukan investasi pada obligasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN), khususnya yang melakukan pengembangan proyek infrastruktur nasional. Dengan begitu, efisiensi perekonomian bisa tercapai, karena tidak tergantung dari pendanaan pemerintah.
 
Maka, mahfum bila penelitian BKF merekomendasikan agar pemerintah memberikan dukungan serius kepada kegiatan asuransi. Caranya, menciptakan iklim bisnis yang kondusif dan mendorong peningkatan investasi di bidang asuransi.
 

 
Jelas, satu-satunya kekhawatiran terbesar dari skema hubungan ini adalah, jumlah polis asuransi menurun, alias pemasukan dari premi mengecil. Salah satu faktor yang bisa menurunkan jumlah polis asuransi adalah hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap perusahaan asuransi.  
 
Bila kepercayaan masyarakat terhadap Allianz menurun, boleh jadi pandangan yang sama muncul kepada perusahaan asuransi lain. Saat itu terjadi, jumlah polis asuransi dimungkinkah merosot, pendapatan premi mengecil, lantas investasi di ranah asuransi ikut melemah.
 
Dalam suatu kesempatan diskusi di Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu 30 September 2017, Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi menyatakan kekhawatiran semacam inilah yang muncul dalam kasus pidana Allianz.
 
“Fenomena (kasus Alliaz) ini memberi image bahwa klaim terhadap perusahaan asuransi selalu dipersulit, dan akhirnya ditolak,” ujarnya.
 
Baca: Kejanggalan Besar Asuransi
 
Itulah sebabnya Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mewanti-wanti kepolisian dalam menangani kasus Allianz. "Jangan salah langkah. Karena ini kan industri asuransi bukan hanya Allianz saja yang mungkin kena," ujar Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non Bank OJK, Riswinandi. saat kami temui di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu 27 September 2017.
 
Gagal damai
 
Efek domino tadi juga ditekankan kepada Alvin. Penyidik kepolisian yang menangani kasus Allianz meminta Alvin dan kliennya untuk mempertimbangkan kembali laporannya. Alasannya, demi kepentingan ekonomi nasional.
 
Menurut Alvin, bujukan itu disampaikan kepadanya di Jakarta pada Jumat 29 September 2017. "Saat itu di Polda Metro Jaya, komunikasi dijalin antara saya dengan pengacara Allianz," kata Alvin.
 
Dengan kata lain, Alvin dan kliennya diajak berdamai dengan pihak Allianz. Pilihan lainnya, diselesaikan secara perdata melalui lembaga penyelesaian sengketa, seperti Badan Mediasi dan Arbitrase Asuransi Indonesia (BMAI).
 
Berdasarkan pengakuan Alvin, dalam kesepakatan damai itu, pihak Allianz bersedia membayar klaim kliennya yang ditolak, yakni Rp16,5 juta, dan 20 persen dari tuntutan kerugian immateril yang diajukan pelapor. Namun, Alvin enggan menyebutkan nilai tuntutan kerugian immateril itu kepada kami.
 
"Saya dan klien mau menerima tawaran tadi. Ini itikad baik kami setelah diminta pertimbangan soal dampak perekonomiman nasional," kata Alvin.
 
Selain itu, Alvin juga beralasan bahwa dirinya sudah termakan lelah atas intimidasi yang kerap muncul kepada dirinya. "Sejak menangani pidana ini, persoalan keluarga saya, kasus perceraian saya dulu, ada yang mengangkatnya di sosial media. Saksi-saksi saya juga didatangi orang-orang tak dikenal, disodori informasi macam-macam," papar Alvin.
 
Tapi, beberapa jam setelah kesepakatan itu diwacanakan, tiba-tiba pihak pengacara Allianz membatalkannya. "Dengar-dengar, ada keputusan lain dari pihak Allianz Asia Pasifik, yang sekarang menangani langsung Allianz Indonesia," ucapnya.
 
Pihak Allianz, kata Alvin, tampaknya berkeras ingin membuktikan bahwa keputusan penolakan klaim yang dilakukan adalah benar. Sementara klaim yang diajukan nasabah dalam kasus ini, diisyaratkan sebuah tindakan kecurangan. "Saya dan klien di mata Allianz adalah mafia asuransi."
 
Kini, kasus pidana Allianz pun berlanjut. Gagal damai.
 
Tudingan
 
Dalam dunia asuransi, perusahaan lazim menyematkan istilah mafia kepada nasabah yang melakukan kecurangan. Bila terbukti, perusahaan asuransi pun menolak klaim yang diajukan si nasabah.
 
Kecurangan yang dimaksud adalah, sorang nasabah bermain mata dengan oknum tenaga medis atau pihak rumah sakit. Kemudian, dirancang sebuah kondisi seolah-olah si nasabah sakit dan dirawat, lantas mengajukan klaim atas biayanya. Padahal, si nasabah tidak sakit.
 
Tudingan semacam itu pun mendera Alvin. Belakangan, dirinya kerap diisukan sebagai komplotan mafia asuransi. Sementara klien-klien yang ditanganinya, adalah nasabah nakal pengeruk keuntungan klaim asuransi.
 
"Tapi, bila nasabah dikatakan mau mencari untung dari klaim asuransi, bukankah itu yang mereka janjikan saat menawarkan polis kepada calon nasabahnya? Segala manfaat, keuntungan, santunan, dan lain-lain," kata Alvin.
 
Lagi pula, lanjut Alvin, bila perusahaan asuransi menduga ada kecurangan, perusahaan tersebut berhak menyelidikinya. Bila terbukti, dipersilakan melaporkan ke pihak berwajib, berhak pula menolak pembayaran klaim.
 
"Dalam kasus yang saya tangani, bila mereka (Allianz) menduga ada kecurangan atau mafia, kenapa tidak dilaporkan ke polisi? Kenapa harus dipersulit persyaratan klaimnya sampai (pengajuannya) ditolak? Sekarang, saya dan klien malah dapat fitnah sebagai mafia," ujar Alvin bernada kesal.
 
Dia pun merasa aneh bila dirinya dituduh komplotan mafia asuransi. Menurutnya, sebagai seorang pengacara, dia bisa memberikan pendampingan kepada siapapun yang memintanya sebagai kuasa hukum.
 
Namun, dia mayakinkan bahwa klien yang didampinginya bukan mafia asuransi. "Ini murni kekecewaan karena tidak diperlakukan secara fair oleh pihak Allianz," katanya.
 
Tujuan pemidanaan Allianz itu, kata Alvin, bukan persoalan ingin dibayarkan klaimnya, lantas memperoleh uang tuntutan immateril dari keputusan damai.
 
"Klien saya semata-mata ingin memberi efek jera kepada Allianz. Dia merasa diperlakukan tidak fair, begitu pula nasabah lain yang kini saya dampingi," tegas advokat yang baru satu tahun beracara itu.
 
Rawan kalah
 
Dari selentingan kabar yang beredar, setelah Allianz menolak kesepakatan damai yang nyaris terjadi, Allianz akan merombak kembali tim pengacaranya.
 
Sebelumnya, Allianz telah melakukan pergantian pengacara sebanyak dua kali. Pertama, tim pengacara dari Atmajaya Salim & CO diganti dengan tim pengacara dari Adnan Kelana Lawfirm. Lantas diganti lagi dengan tim pengacara dari Lucas SH & Partners.
 
Namun, hingga saat ini, kami masih kesulitan mendapatkan konfirmasi dari pihak Allianz Indonesia.
 
Yang pasti, menurut catatan Ketua BMAI Frans Lamury, hingga saat ini, sebagian besar perkara sengketa klaim cenderung dimenangkan pihak perusahaan asuransi.
 
"Saran saya, pihak pelapor mempersiapkan semua bukti di pengadilan," ucap Frans dalam sebuah diskusi di Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu, 30 September 2017.
 
Ya. Apalagi penantang Allianz, yakni pengacara Alvin Lim masih terbilang belum punya reputasi besar dalam beracara. Pula baru kali pertama mendapat serangan psikologis bertubi-tubi.

Alhasil, mahfum bila banyak kalangan menganggap kasus pidana Allianz bak legenda israiliat tentang David versus Goliath.
 
Namun, yang membedakan kasus Allianz dengan legenda tersebut adalah belum diketahui siapa yang akan menang.
 
(ADM)