Melawan Stigma Vandalisme

Dhaifurrakhman Abas    •    13 November 2018 19:55 WIB
Melawan Stigma Vandalisme
Beken, salah seorang anggota kelompok vandalisme sedang menggambar grafiti di Tangerang. (Dhaifurrakhman Abas).

“It’s like a drug, bro. Bikin candu,”.



Demikian seniman grafiti yang karib disapa Beken menggambarkan kecintaanya pada dunia vandalisme-grafiti. Beken mengaku rutin menggambar di fasilitas publik tiap akhir pekan. Mulai dari mural, grafiti maupun tagging-graffiti. Tiap kali beraksi, dia tak sendirian. Ia bergabung bersama Only-one, sebuah geng vandalisme yang digadang-gadang paling disegani di kota Tangerang. Buktinya, kelompok ini memiliki pengikut di instagram yang cukup banyak, belasan ribu.

Sambil menunjukan jumlah pengikut, Beken juga memamerkan hasil karya grafifiti yang sudah mereka gambar, kepada Medcom Files. Hasil karya yang diunggah dalam instagram mendapat banyak acungan jempol dari netizen. Tak sedikit pula terselip komentar negatif.

“Ini karena tagging (coretan) kita di ruang publik. Jadi banyak followers,” ujar Beken saat berbincang kepada kami di Tangerang, Sabtu 27 Oktober 2018.

Pemanfaatan teknologi rupanya membuat untung. Kelompok ini sering dipanggil pengusaha cafe buat mendesain ruang. Rupiah pun terkumpul. Selain itu, kelompok ini juga mendirikan toko dan menjual perlengkapan grafiti, jaket berlogo grafiti, masker, juga baju kaos.

“Lumayan, dua setengah juta per-bulan,” kata Beken malu-malu.



Beken, salah seorang anggota vandalisme Only-one mencoret dinding di Tangerang. (Dhaifurrakhman Abas).

 

Melawan paradigma

Mulanya, Beken hanya seorang bocah yang suka menggambar. Hasil karya semasa di sekolah dasar kerap dipuji teman-temannya. Dia juga sering diminta menggambar huruf alfabet untuk teman sekolah, dari mulai gratis hingga berbayar jika permintaan tersebut dianggap sulit.

“Kadang dijual seribu lima ratus, kadang dua ribu,” ujarnya.

Tak puas berkreasi di kertas, lantas dia coba-coba mempreteli dinding dan tembok rumahnya sendiri menggunakan spidol hingga cat semprot. Aksi itu pun dilakukan diam-diam.

“Kalau ketahuan orang tua bisa gawat,” kisahnya.

Memasuki masa SMP, Beken makin menggila. Dia mulai menekuni dunia grafiti, tetapi dia akui, berorientasi pada vandalisme. Dari situ, Beken mulai berkenalan kawan-kawan baru, dengan hobi yang sama dan membuat jaringan. Mereka rutin menggambar grafiti di rumah warga hingga fasilitas publik.



Beken hobi menggambar sejak kecil. (Dhaifurrakhman Abas).


Sampai-sampai, hobi menggambar grafiti memengaruhi pelajaran di sekolah. Ia kerap bolos dan berujung pada penurunan nilai akademis. Sepandai-pandainya tupai meloncat, pasti jatuh jua. Gambar-gambar grafiti di dinding rumah satu per satu mulai terendus. Pula kebiasannya membolos sekolah. Alasannya, karena ada warga yang mengadu. Hal ini membuat orangtuanya geram.

“Di situ orangtua marah besar. Warga juga pada komplain ke bokap karena rumahnya di coret-coret,” ungkap Beken.


Negosiasi

Beken sadar betul hobinya itu mendapat respon negatif dari warga. Wajar saja, dia berkreasi tanpa izin. Dia juga tak menampik apa yang dilakukan melanggar aturan.

Misalnya saja, Polisi menggunakan sejumlah pasal untuk mempidanakan pelaku vandalisme di rangkaian kereta Moda Raya Terpadu (MRT) di Depo MRT Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Kepala Kepolisian Sektor Cilandak Komisaris Prayitno mengatakan pelaku vandalisme bisa dikenakan pasal 406 KUHP subsider Pasal 489 KUHP dengan ancaman hukuman penjara 2,8 tahun.



Gerbong kereta MRT menjadi korban vandalisme di Depo MRT Lebak Bulus, Jakarta Selatan. (ANTARA).


Sedangkan pasal 489 KUHP adalah tentang kenakalan terhadap orang atau barang yang dapat menimbulkan bahaya, kerugian atau kesusahan, diancam diancam penjara tiga hari atau denda Rp 200 ribu.

Polisi juga siap memburu pelaku vandalisme. Pada kasus vandalisme kereta MRT, Polda Metro Jaya bahkan sampai membentuk tim khusus di bawah Direktur Kriminal Umum (Dirkrimum).

"Sudah saya bentuk tim langsung di bawah Direktur Kriminal Umum (Dirkrimum) Kombes Nico Afinta dan Kapolres Jakarta Selatan Kombes Indra Jafar. Secepatnya (kita tangkap)," kata Kapolda Metro Jaya Irjen Idham Azis di Mapolda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Senin, 24 September 2018.

Tapi, Beken murung jika dilarang menggambar grafiti. Anggapannya setiap orang punya hak untuk berekspresi. Toh aksi vandal melalui grafiti tidak “merusak fasilitas”, hanya mengubah struktur warna.

Tapi tetap saja, Dia mengaku mesti tahu diri. Sebab wadah berekspresi bukan milik pribadi melainkan punya publik. Sesekali dia memberanikan diri meminta izin kepada warga setempat.

“Awalnya hanya satu dua yang kasih izin, asalkan gambar harus bagus, kalau dekat masjid atau musala, temanya islami,” katanya



Mural bertema islami karya Beken. (Dhaifurrakhman Abas).


Singkat cerita, Beken mendapatkan restu dari warga sekitar. Tembok-tembok rumah di sekitar rumahnya saat ini dipenuhi grafiti. Bisa dilihat ketika kami mengunjungi salah satu perumahan warga di kawasan Alam Sutra, Tangerang Selatan.

Tak jauh dari bibir gang, beberapa pemuda bergaya hip-hop hilir mudik. Mereka terlihat sedang nongkrong di suatu toko yang menjual barang berbau grafiti. Ya, selain mengaku sering melanggar aturan, Beken bersama teman-temannya pula ikut andil dalam kegitan legal, dengan membangun toko bernama Only-one tersebut.     
 

Solusi

Mengenai kasus vandalisme yang terjadi belakang ini, mendapat tanggapan dari Sosiolog Universitas Ibnu Chaldun Jakarta Timur, Musni Umar. Menurut Musni yang kami sambangi siang itu, sebaiknya pelaku vandalisme yang melakukan aksi mencoret di ruang publik tidak langsung dihukum. Apalagi tidak semua aksi vandalisme mengakibatkan “kerusakan” pada objek yang dituju.

Misalnya hanya berupa coretan grafiti yang notabene bisa dihapus. Untuk itu, kata Musni, jalan tengah mencegah aksi vandalisme yakni dengan cara musyawarah.

“Pelaku dikumpulkan dan diajak berunding,” kata Musni Umar saat berbincang dengan Medcom Files di kantornya, Jumat 2 November 2018.

Pasalnya ada hal-hal melatarbelakangi seseorang melakukan aksi vandalisme. Sehingga hasil musyawarah tersebut bisa dicarikan solusi yang terbaik bagi pelaku vandal, masyarakat maupun pemerintah.

“Mereka ini ingin diakui. Atau mungkin marah dan melampiaskan keresahannya lewat vandalisme,” tutur Musni.



Sosiolog Universitas Ibnu Chaldun Jakarta Timur, Musni Umar di Jakarta Timur. (Dhaifurrakhman Abas).


Misalnya saja, dari hasil diskusi, pelaku menginginkan wadah berekspresi. Maka stakeholder terkait harus siap memberikan wadah-wadah yang bisa menaungi permintaan pelaku. Semisal memberikan tempat pelaku vandalisme dalam membangun tata kota.

Tapi, jika aksi vandalisme tetap terjadi, barulah ranah hukum bertindak. Musni yakin, hukum merupakan jalan terakhir yang dapat mengurangi aksi vandalisme.

“Tapi ini upaya terakhir,” tutup Musni.
 

Gagal?

Meski begitu, banyak aksi vandalisme tetap terjadi meskipun pemerintah sudah berupaya memberikan solusi semacam wadah-wadah mengekspresikan seni. Ambil misal yang terjadi di kota Bogor, Jawa Barat Agustus lalu di kawasan pedestrian di Jalan Jalak Harupat, Bogor Tengah.

Padahal Kota Bogor sudah memiliki wadah berupa Taman Corat-Coret. Tempat ini difungsikan sebagai tempat bagi anak muda untuk menuangkan kreatifitasnya.

Tapi, fungsi Taman Corat-Coret praktis belum berjalan sepenuhnya mengurangi aksi vandalisme. Wali kota Bogor beranggapan, taman tersebut kurang luas. Sehingga pihaknya akan memperbanyak titik yang bisa digunakan sebagai sarana.



Walikota Bogor Bima Arya membangun Taman Corat-Coret di jalan Adnan Wijaya, Kota Bogor, Jawa Barat. (ANTARA /Arif Firmansyah).


"Kita akan carikan titik lain untuk mereka coret-coret," kata Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto, tempo hari.

Adalah Popo, seniman mural dan grafiti turut memberikan komentar. Menurutnya. Pemerintah belum berhasil mencegah aksi vandalisme karena tak mengerti mental pelaku.

“Pemerintah taunya hanya membangun sesuatu yang monumental. Seharusnya (selain itu) juga membangun mental pelaku ke arah yang lebih baik,” ungkap Popo saat kami temui di Tebet, Jakarta Selatan.
 


(WAN)