Pengabdian Diaspora Tionghoa dan India untuk Tanah Leluhurnya

Wanda Indana    •    14 Juli 2017 16:48 WIB
Pengabdian Diaspora Tionghoa dan India untuk Tanah Leluhurnya
Siluet buruh India saat mereka bekerja di sebuah lokasi konstruksi di Mumbai, India. (AFP/Rafiq Maqbool)

Metrotvnews.com, Jakarta:  Pada tahun 2006, sebuah laporan dari International Organization for Migration (IOM) memaparkan hasil penelitian yang ditujukan untuk membantu pemerintah negara berkembang mengidentifikasi kelemahan kebijakan diasporanya. Termasuk menunjukkan bahwa pemerintah Indonesia cenderung mengalami kesulitan untuk memahami siapa diaspora mereka.
 
Apakah faktor ini yang menjadi sebab pasifnya pemerintah dalam menghadapi tuntutan diasporanya?
 
Perlu diketahui, definisi diaspora telah mengalami pergeseran makna. Semula, selama beberapa dekade, diaspora hanya dipahami sebagai fenomena tersebarnya manusia dari tempat asalnya akibat kejadian traumatis. Istilah diaspora banyak dipakai untuk menjelaskan fenomena menyebarnya kaum Yahudi dari Eropa Timur ke berbagai penjuru dunia.
 
Namun, makna diaspora kemudian menjadi lebih luas seiring berkembangnya kajian-kajian dari berbagai cabang ilmu pengetahuan. Pengertian diaspora menjadi secara umum meliputi seluruh manusia, individu maupun kelompok, yang berpindah dari tanah airnya namun tetap mempertahankan ikatan dengan tanah air tersebut.
 
Penggunaan istilah diaspora mulai populer pada paruh pertama abad ke-20. Saat itu, terjadi krisis pengungsi akibat peperangan. Ratusan juta orang terpaksa mengungsi untuk mencari tempat aman.
 
Nah, di Indonesia istilah diaspora bergeser menjadi orang yang merantau atau meninggalkan tanah air untuk mencari kehidupan yang lebih layak. Namun, pemahaman terhadapnya justru menyempit kepada kelompok tertentu. Baca: Kesan Elite Diaspora Indonesia dan Pengucilan TKI.
 



Dalam hal ini, tanpa bermaksud menjatuhkan pergerakan diaspora Indonesia, pemerintah kelihatannya perlu mengkaji ulang langkah kerja sama dengan jaringan diasporanya. Hal ini penting mengingat beberapa negara sudah membuktikan bahwa dukungan penuh pemerintah terhadap diasporanya dapat memberikan keuntungan besar bagi bangsa.
 
Antara lain seperti yang terjadi di Tiongkok dan India. Data dari IOM menyebut, Tiongkok menjadi negara penyumbang imigran terbesar di dunia, disusul India di posisi kedua. Dari  200 juta imigran yang ada di dunia, imigran dari Tiongkok mengambil porsi 39,5 juta orang yang tersebar di 130 negara. Tiongkok dan India menyumbang angka sekitar 35 persen atau lebih dari 70 juta orang.
 
Orang-orang Tionghoa terkenal sebagai perantau ulung di dunia. Hampir di setiap negara ada landmark khas kawasan komunitas penduduk etnis Tionghoa yang biasa disebut pecinan atau china town. Kawasan ini pun umumnya jadi tempat pelesiran yang tak pernah sepi pengunjung dan kerap berperan sebagai salah satu pusat perdagangan, destinasi wisata budaya, bahkan sentra bisnis kuliner.
 

FOTO: Pangeran Inggris, Pangeran Andrew yang bergelar Duke of York,  tampak hadir bersama duta besar China untuk Inggris, Liu Xiaoming, saat peresmian gerbang replika dari Dinasti Qing di London's China Town. (AFP/Justin Tallis)

Pada abad ke-19, para imigran asal Tiongkok sering disebut dengan istilah Chinese diaspora atau perantau Tionghoa.  Sejarah mencatat penjelajahan mereka menyebar ke berbagai benua. Sehingga tak heran jika sekarang ditemukan kelompok masyarakat etnis Tionghoa di mana-mana. Tak hanya di Asia. Tapi juga di Eropa, Amerika, Afrika, hingga Oseania.
 
Mayoritas dari perantau Tionghoa menetap di negara tujuan dan  menjadi warga negara di tempatnya yang baru. Hanya sedikit di antara mereka yang mempertahankan status kewarganegaraannya.
 
Min Ye dalam bukunya pun menyatakan diaspora Tiongkok dan India memberikan banyak kontribusi pada pembangunan negera asal. “Diaspora ikut membangun Tiongkok menjadi kekuatan ekonomi terbedar di dunia. Sementara itu, diaspora India ikut membangun kota Mumbai menjadi pusat industri teknologi informasi dunia,” ujar Min Ye dalam Diaspora and FDI in China and India (2014).
 
Masa penghujung abad ke-20, tepatnya dekade 90-an, ekonomi Tiongkok sempat terpuruk akibat kebangkrutan sejumlah perusahaan milik negara. Saat itu, pihak pemerintah di Beijing menyerukan kepada sekitar 40 juta diaspora Tionghoa sejagat raya untuk memberikan kontribusi bagi pemulihan kondisi ekonomi negara.
 
Merasa terpanggil, para diaspora Tionghoa yang merupakan pengusaha di luar negeri segera melarikan modalnya ke Tiongkok. Mereka menyuntikkan dana investasi ke hampir semua perusahaan pemerintah, skala BUMN maupun BUMD. Aliran modal dari kaum diaspora ini berlanjut selama 25 tahun.
 
Walhasil, grafik pertumbuhan industri Tiongkok pun terus menanjak. Hal ini ditunjang oleh gesitnya laju pembangunan ekonomi di Negeri Tirai Bambu itu berkat prestasi pemerintah dalam meningkatkan penanaman modal asing (PMA). Data empiris memperlihatkan porsi PMA di Tiongkok melonjak hingga 70 persen (1995), kemudian 45 persen (2007), dan 66 persen (2010).
 


Menurut Ahmad Syaifuddin Zuhri dalam Relasi Tradisi Tionghoa dan Diaspora di Dunia (2015), diaspora Tionghoa memiliki peranan dalam dalam kemajuan pertumbuhan ekonomi Tiongkok. Mereka mengontrol aset likuid sekitar US$1,5-2 miliar.
 
Pemerintah Tiongkok memanfaatkan diaspora Tionghoa sebagai fasilitator untuk lobi-lobi bisnis, dan hubungan diplomatik.
 
Bamboo Network adalah salah satu komunitas pebisnis diaspora Tionghoa di Asia Tenggara. Jaringan pebisnis yang dikontrol pemerintah Tiongkok ini memiliki kekuatan ekonomi terbesar di Asia Tenggara di luar Jepang. Jeringan binsis ini sanggup menjalin dan mengumpulkan pengusaha Tionghoa di kawasan Asia Tenggara untuk pengembangan bisnis.
 
Di Tiongkok, di setiap level pemerintahan mulai dari tingkat kota sampai nasional mempunyai kantor khusus yang menangani jejaring diaspora yang disebut “waishi bangongshi atau Foreign Affair Office.
 
Direktur Eksekutif Migrant CARE, Wahyu Susilo, menyatakan keberhasilan pemerintah Tiongkok mengelola potensi diaspora dikarenakan ada koordinasi yang erat antara pemerintah dan kaum diaspora. Selain itu, kuatnya jaringan diaspora Tionghjoa lantaran ada kecintaan akan tanah leluhur. Ini yang menyebabkan Tiongkok kini menjadi negara dengan tingkat kemajuan ekonomi paling pesat di dunia.
 
Menurut Wahyu, diaspora Tionghoa banyak melakukan transfer pengetahuan dan teknologi buat menghidupkan industri manufaktur di Tiongkok. Bahkan ada isu tentang rencana pemerintah Tiongkok untuk mengajak diaspora Tionghoa yang punya pengalaman panjang bekerja di perusahaan multinasional agar turut berkontribusi kepada negeri leluhurnya.
 
“Jadi diaspora Tionghoa yang bekerja di perusahan mana saja, setelah mereka mendapat ilmunya akan diminta untuk membangun industri di negeri asalnya. Jadi, dengan begitu jika  negara lain bisa buat produk tertentu, maka Tiongkok juga pasti bisa menirunya,” kata Wahyu kepada Metrotvnews.com saat ditemui di Depok, Jawa Barat, Selasa 4 Juli 2017.

 
FOTO: Seorang pria yang menggunakan telepon berjalan melewati logo lima perusahaan smartphone, termasuk produsen smartphone di Tiongkok: Oppo, di luar sebuah toko di Shenzhen. (AFP/Nicolas Asfouri)

Sementara itu, diaspora India berhasil membangun kota Mumbai menjadi pusat teknologi informasi dengan berbagai infrastruktur kota yang mapan. Mumbai kini menjadi rumah bagi perusahaan-perusahaan global. Lima perusahaan papan atas versi Fortune Global 500 juga berbasis di ibu kota negara bagian Maharashtra ini.
 
Pada awal tahun 1990, Perdana Menteri India kala itu Rajiv Ratna Gandhi yang memulai langkah reformasi ekonomi besar-besaran. Rajiv memanggil diaspora India berpendidikan tinggi, alumnus universitas terkenal luar negeri, dan yang bekerja di perusahaan multinasional besar dengan banyak pengalaman. Para diaspora India ini dimintai keahliannya untuk membangun kota Mumbai dengan jaminan hidup layak. Visi Rajiv adalah Mumbai berkembang sebagai kota pusat bisnis.
 
Tak hanya itu, agar diaspora semakin aktif berkontribusi membangun negera asal, pemerintah India memberikan fasilitas tax holiday bagi diaspora yang ingin berinvestasi di India. Upaya ini ampuh menarik modal dari ke dalam negeri.
 
Sebagaimana diketahui, tax holiday merupakan salah satu instrumen dalam intervensi kebijakan investasi. Langkah ini biasanya ditempuh pemerintah untuk mendorong penanaman modal asing dan penanaman modal dalam negeri di industri yang memiliki keterkaitan luas, memberi nilai tambah dan eksternalitas yang tinggi, memperkenalkan teknologi baru, dan memiliki nilai strategis bagi perekonomian nasional. Upaya ini sekaligus memperkuat komitmen pemerintah untuk tetap berupaya menjaga iklim investasi dunia usaha di tengah langkah-langkah untuk mengoptimalisasi penerimaan perpajakan.
 
“Pemerintah India berhasil memanfaatkan potensi diasporanya. Mumbai adalah kota yang dibangun oleh para diaspora. Setiap keluarga India yang berada di luar negeri memiliki channel ke India jika ingin berinvestasi. Ini patut ditiru. ” kata Wahyu.
 
Bahkan, India memiliki Kementerian khusus yang bertugas menangani diaspora. Menurut Wahyu, pemerintah India sudah sadar bahwa diaspora memiliki potensi yang bisa digunakan untuk pembangunan negeri.
 
Wahyu berharap Pemerintah Indonesia bisa belajar dari India. Menurut dia, pemerintah perlu lebih aktif menyatukan diaspora global melalui kedutaan. Bukan sekadar ramai di berbagai kongres dengan mengundang toko dunia dan orang-orang besar saja, tapi juga meminta kontribusi diaspora bagi negara.
 
“Mereka sadar betul kalau diaspora adalah sebuah potensi. Pemerintah Indonesia harus dapat belajar dari India, belum terlambat” kata Wahyu.
 

FOTO: Para penumpang India menunggu komuter di stasiun kereta di Mumbai, India. (AFP/Rafiq Maqbool
)


(ADM)